
Chunghee baru saja memasuki mansion ayahnya, tanpa bertanya pun ia tahu dimana laki-laki yang berstatus sebagai Ayahnya itu berada. Dengan langkah lebar ia menuju ruang kerja sang ayah, Tanpa mengetuk pintu ia membuka begitu saja ruangan tersebut, membuat sang empunya ruangan mengalihkan pandangnnya dari berkas yang ada ditangannya. Chunghee berjalan mendekat dan berdiri tepat di depan meja kerja ayahnya. Dengan nafas memburu ia menatap nyalang pada pria paruh baya itu
“eoh kau datang? Apa kau merinduka Appa hingga malam-malam begini kau mendatangiku” Ujar Yoo Joon saat medapati putranya itu
Chunghee berdecih “simpan saja semua angan-anganmu itu, aku tidak akan pernah sudi merindukan seorang sepertimu.”
“jaga ucapanmu Park Chunghee, dimana kau letakkan sopan santumu saat berbicara dengan Ayahmu sendiri” desis Yoo Joon
Chunghee tertawa kecil “kau memintaku untuk menunjukkan sopan santuku, sedangkan kau sendiri tidak pernah mengajarkan itu semua padaku. Dan harus berapa kali aku katakan untuk jangan pernah menemui apalagi menganggu kekasihku. Apa begitu sulit bagimu untuk mengabulkan satu permintaan sederhanaku ini Tuan Park”
Yoo Joon meradang mendengar putranya sendiri mengatakan hal tersebut, belum lagi Chunghee memanggilnya dengan sebuatan Tuan. Tapi semua itu ia tutupi dengan baik, dengan ekspersi yang menurut Chunghee sangat menyebalkan
“dan apakah sesulit itu juga kau mengiyakan perjodohan ini. Aku tidak akan mengganggu kekasihmu itu kalau kau mau mengikuti apa yang aku perintahkan untuk menerima perjodohan ini PARK Chunghee” ujar Yoo Joon dengan menekankan kata Park, seolah dia sedang menunjukkan kalau Chunghee masihlah menyandang marga Park sama seperti dirinya, bahkan darahnya mengalir dalam tubuh putranya itu
“harus berapa kali aku katakan kalau aku tidak bisa menerima perjodohan ini. Aku sudah memiliki kekasih dan aku sangat mencintainya, apa itu kurang jelas?” ujar Chunghee
“dan harus berapa kali lagi aku katakana padamu kalau kalian tidak berada dalam kelas yang sama. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah merestui hubungan kalian. Dan perjodohan itu akan tetap terjadi dengan ataupun tanpa persetujuanmu” tukas Yoo Joon
“aku tidak mencintainya Appa. Tidakkah kau memikirkan bagaimana hubungan kami ke depannya Appa? Hubungan ini hanya akan menyiksa kami ke depannya. Jadi tolong hentikan semua ini sekarang juga Appa” ujar Chunghee dengan begitu nelangsa di akhir kalimatnya
“Chunghee-ah dengarkan aku, cinta tidak akan menjadikanmu bahagia. Di dunia yang keras ini cinta bukan segalanya, kau harus berpikir realistis. Kau tidak akan dihargai jika hanya memiliki cinta, kau akan terlihat dan dihargai hanya saat kau memiliki harta dan kekuasaan dalam gengamanmu. Lupakan gadis itu dan menikahlah dengan Eunso” ujar Yoo Joon
Chunghee kembali meradang, ternyata Ayahnya memang benar-benar hanya memikirkan harta, tahta dan kekuasaan saja. Ia terkekeh untuk kemudian menatap lekat wajah ayahnya itu.
“benar kita memang harus realistis, tapi aku bukan Appa. Aku tidak akan pernah menukar kebahagiaanku, cintaku,masa depanku dan keluargaku hanya demi semua kekuasaan dan penghormatan itu. Percuma aku memliki segalanya tapi sengsara tanpa cinta. Akan lebih baik jika aku hidup sengsara asalkan aku memiliki cinta dan kebahagiaan yang aku buat bersama pasanganku. Cukup Appa yang mengalami kesengsaraan dalam hidup, jangan kau libatkan aku dan samakan aku dengan dirimu.” Ujar Chunghee
Yoo Joon terdiam mendengar penuturan Chunghee yang jujur saja itu tepat mengenai ulu hatinya. Tapi lagi-lagi keegoisan menutupi segalanya, laki-laki paruh baya itu terkekeh dan kembali berucap “kau boleh saja begitu sekarang, tapi kita lihat saja nanti apa yang akan terjadi ”
Chunghee mengepalkan tangannya, akan percuma saja dia bernegosiasi dengan Ayahnya yang memang benar-benar keras kepala. Tak ingin terlalu lama berada satu ruangan dengan ayahnya, Chunghee segera keluar dari ruangan tersebut, sebelum ia meraih gagang pintu tersebut, Yoo Joon kembali mengentikannya
“pertunangan kalian akan diadakan stu minggu lagi, jadi bersiaplah” ujarnya
Chunghee memjamkan matanya erat-erat, tanpa berucap apapun laki-laki yang berstatus sebagai dokter itu melengang pergi dari ruangan Ayahnya.
Sesampainya di dalam mobil Chunghee memukul stir kemudinya “sial, sial, sial” umpatnya
Setelah beberapa kali mencoba dan Karina tidak menjawabnya, kini ia mencoba untuk menghubungi Daejung. Pada dering kelima baru sahabatnya itu mengangkat panggilan tersebut
“Yeobseyo” sapa Daejung
“Daejung-ah apa Karina ada bersamamu sekarang?” Tanya Chunghee to the poin
“Ani, aku kira kau bersamanya. Tadi aku sempat mampir ke apartemennya, tapi aku tidak mendapati siapapun disana. Jadi aku kira mungkin dia pergi bersamamu” jelas Daejung
“kosong? Apa maksutmu? Karina tidak ada di apartemen? Apa kau mengecek barang-barangnya? Apa kau melihat ada yang aneh di apartemennya?” cerca Chunghee
“em, sebenarnya ada yang aneh tadi. Hye In dan aku sempat mencarinya di kamar, tapi saat kami memasukinya kamar tersebut juga kosong dengan lemari pakaian yang terbuka, dan ya sudah tidak ada apapun disana. Aku kira kalian pergi berlibur” jelas Daejung sekali lagi
Tubuh Chunghee menegang, pikirannya kembali berputar pada saat ia meninggalkan Karina.
“Geurae, kalau begitu pergilah dan kau tidak akan pernah melihatku lagi setelah ini” itulah kata-kata yang Karina ucapkan sebelum dia keluar dari apartemen gadis itu. Nafasnya memburu, kini pikiran-pikiran negative menghantuinya, bagaimana jika Karina ternyata memang benar-benar meninggalkannya? Tidak, hal tersebut tidak boleh terjadi. Cukup sekali dia berpisah dengan Karina, sekarang hal tersebut tidak boleh terjadi lagi
“Chunghee-ah kau maih disana?” Tanya Daejung dari seberang sana
Chunghee bejingkat kaget, ia tersadar dari lamunannya “Ye, gomawo Daejung-ah. Aku akan pergi ke apartemen sekarang” tenpa menunggu jawaban dar Deajung, Chunghee mematikan panggilan tersebut dan menjalankan mobilnya seperti orang kesetanan, ia tidak memperdulikan lagi umpatan dari pengendara lain, ia bahkan tidak memperdulikan dengan keselamatannya. Yang ia pikirkan sekaranga adalah bagaimana dia bisa segera sampai di apartemen Karina
Fousnya terbagi antara jalanan dan ponsel yang ada digengamannya, ia masih terus mencoba menghubungi Karina. Chunghee masih melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi sampai saat dimana dia mendapati sebuah truk di depannya, dengan segera ia memutar kemudi hingga mobilnya harus menabrak pembatas jalan. Kepalanya membentur stir kemudi hingga mengakibatkan kepalanya berdarah
“Karina kau dimana Changiya? Kumohon jangan lagi” gumamnya disela menahan sakit dikepalanya. Bahkan bukan hanya fisiknya yang merasa sakit, tapi juga hatinya., ia tidak siap dengan apa yang akan ia dapati saat sampai di apartemen kekasihnya nanti
.
.
.
TBC
See you next Chapture🥰