Just Us

Just Us
Chap 54



Nafas Karina memburu, gadis itu berlari tanpa memperdulikan sekitar, bahkan ketika Kang Gyosungnim memanggilnya sekalipun gadis itu tetap tidak menggubrisnya. Sekarang yang terpenting baginya adalah bagaimana dia bisa segera sampai bandara.


Setelah Karina berlari keluar, Mina segera menghubungi Daejung, memberi tahu pada laki-laki itu untuk segera menyusul Karina ke bandara. Setelah panggilan selesai, wanita itu menghubungi Chunghee, berdoa semoga saja laki-laki itu mengangkat paggilannya. Namun ia harus menelan kekecewaan karena ponsel Chunghee tidak aktif. Dalam hati Mina berharap semoga saja Karina dapat menemui Chunghee tepat waktu.


Sementara itu dilain tempat, Chunghee menatap kebelakang berharap bisa melihat Karina walau hanya sebentar. Cukup lama Chunghee menunggu tapi, sampai saat ini Karina tidak datang juga, laki-laki itu kemudian menunduk, lalu lagi-lagi dia menertawai dirinya sendiri. Dia pikir Karina akan datang menemuinya setelah gadis itu membaca surat yang ia titipkan pada perawat Jung.


Lalu sampai pada saat dia mendapat panggilan untuk segera menaiki pesawat, laki-laki itu beranjak lalu berjalan menuju bagian informasi untuk menitipkan sebuah kotak beludru dan selembar foto Karina pada petugas disana. Dia mengatakan kalau ada seorang gadis yang menanyakan tentang pesawat yang ia tumpangi, dia meminta tolong untuk memberikan kotak tersebut pada gadis yang ada difoto tersebut. Entah mengapa Chunghee merasa kalau Karina akan datang mencarinya dan bertanya pada bagian informasi. Setelah petugas tersebut mengiyakan barulah Chunghee memasuki pesawat yang akan membawanya jauh atau bahkan membuatnya tidak kembali lagi pada Karina.


"Selamat tinggal Karina, kalau kita memang berjodoh maka Tuhan akan menunjukkan jalan bagi kita untuk bertemu lagi. Saranghae Karina-ya" gumam Chunghee sebelum laki-laki itu benar-benar memasuki pesawat.


.


.


.


Karina gelisah dalam duduknya, gadis itu terus menatap jam yang melingkar pada pergelangan tangannya. Gadis itu terkejut ketika tiba-tiba saja taxi yang ia tumpangi seperti kehilangan kendali, beruntung jalanan sepi hingga tidak terjadi sebuah kecelakaan. Sopir taxi tersebut keluar untuk memeriksa apa yang terjadi, Karina semakin gelisah karena sopir tersebut cukup lama berada diluar.


Merasa tidak sabar gadis itu akhirnya keluar, dan setelah mengetahui kalau ban taxi itu bocor gadis itu menggeram frustasi, ia gigit bibir bawahnya. Gadis itu memijit pelipisnya, kepalanya menoleh sekitar, dia semaki frustasi ketika tidak mendapati taxi yang lewat.


Mengetahui bahwa ia hanya punya waktu sepuluh menit, gadis itu akhirnya memutuskan untuk berlari menuju bandara, jaraknya memang lumayan jauh tapi gadis itu tidak akan menyerah dan menyia-nyiakan waktu hanya karena jarak yang tidak seberapa itu. Setelah membayar tarif taxi gadis itu segera berlari menuju bandara. Dalam hati, gadis itu berharap pesawat yang Chunghee tumpangi mengalami delay. Terdengar egois memang, tapi mau bagaimana lagi hanya itu yang bisa dia harapkan sekarang.


Karina terus berlari tanpa memperdulikan umpatan dari orang yang ia tabrak ataupun tatapan aneh yang dia dapati. Lalu ketika sebentar lagi ia akan mencapai tujuan, gadis itu terjatuh karena ikat sepatunya yang terlepas. Gadis itu terjatuh dengan tidak elitnya, dia meringis ketika mendapati telapak tangannya lecat bahkan, celana dibagian lututnya robek serta lututnya berdarah. Ketika dia akan bangkit, dia mendapati sebuah pesawat terbang diatasnya. Gadis itu kemudian melihat pada jam tangannya, dia menggeleng karena waktu menujukkan kalau ini lah saatnya pesawat Chunghee lepas landas. Karina segera bangkit, dengan berjalan terseok gadis itu tidak menyerah dan kembali melanjutkan langkahnya.


Begitu memasuki bandara, tujuan pertama gadis itu adalah bagian informasi. Setelah menanyakan tentang penerbangan yang Chunghee lakukan dan mendapati bahwa baru saja pesawat tersebut lepas landas dan setelah menerima kotak beludru titipan dari Chunghee, tubuh Karina luruh seperti tidak bertenaga. Tubuh gadis itu bergetar, tangisnya luruh dengan tangan yang meremas kotak tersebut.


Daejung baru saja memasuki bandara, ketika dia akan menuju bagian informasi dia lihat tubuh Karina yang terduduk, dengan air mata yang berderai. Daejung bergegas mendekati Karina, ia berjongkok didepan Karina. Lalu tanpa banyak bertanya laki-laki itu peluk tubuh Karina


"Dia pergi Daejung-ah.... dia meninggalkanku. Andwae, andwae" ujar Karina disela tangisannya.


Daejung mengangguk, tangan laki-laki itu dengan setia mengusap punggung Karina. Laki-laki itu dengan sabar terus mengusap punggung Karina. Karina terus menggumamkan kata-kata penyesalan, serta terus memanggil Chunghee. Tangis gadis itu terdengar sangat memilukan, hati Daejung merasa sakit melihat keadaan Karina yang seperti ini. Jujur saja dia sempat mengumpati Chunghee yang menggambil keputusan seperti ini, tapi setelah dia pikir lagi mungkin ini jalan terbaik yang Chunghee pilih. Sekarang tugas yang ia emban lebih berat, dia harus menjaga Karina dan mencoba mengembalikan senyum Karina setelah ditinggal pergi orang yang gadis itu cintai.


Daejung tahu segalanya, laki-laki itu tahu kalau selama ini Karina mencintai Chunghee.


.


.


.


Karina saat ini sedang mendapat perawatan dari Mina. Sepulang dari bandara, Daejung membawa Karina kembali ke rumah sakit setelah melihat luka pada telapak tangan dan lutut Karina. Sedari bandara sampai di rumah sakit, gadis itu masih belum mengeluarkan suaranya. Karina memilih untuk dian seribu bahasa, gadis itu juga masih menggengam kotak beludru pemberian Chunghee, gadis itu sudah membuka kotak tersebut, tapi ketika mengetahui isinya tangis Karina semakin terdengar. Ditengah keheninggan yang melanda, pintu ruangan tersebut terbuka menampilkan sosok perawat Jung disana


Daejung berdiri dari duduknya, laki-laki itu menggeleng "Aniyo, ada yang bisa kami bantu?" Tanyanya


"Ah ini, saya hanya ingin memberikan surat titipan dari Chunghee. Tadi saya sempat mencari Karina untuk memberikannya, tapi ketika saya mencarinya saya tidak menemukannya. Dan ketika saya melihatnya, dia seperti sedang terburu-buru keluar dari rumah sakit, jadi saya baru sempat memberikannya sekarang" ujarnya degan menyerahkan surat tersebut


Daejung menerimanya, "Ah, gomawo perawat Jung" ujarnya


"Nde sama-sama, kalau begitu saya permisi" pamit laki-laki itu


Daejung memberikan surat tersebut pada Karina. Karina mendongak lalu menerimanya. Merasa kalau Karina memerlukan untuk sendiri, .


Mina dan Daejung memutuskan untuk keluar dengan alasan akan membeli makan malam.


Karina menarik nafas dalam sebelum membaca surat tersebut. Lalu perlahan ia membuka amplop bertuliskan 'untuk gadis menyebalkan' Karina tersenyum membaca tulisan tersebut.


Untuk gadis menyebalkan yang sayang nya aku sayangi...


Annyeoung Karina-ya....


Ah....aku tidak tahu harus memulainya dari mana, ini terlalu sulit untukku sampaikan. Karina-ya, kau tahu kan kalau aku tidak pandai berkata-kata. Sebenarnya terlalu banyak kata yang ingin aku sampaikan tapi, entah mengapa ini terlalu sulit.


Karina-ya, sejujurnya aku ingin mengatakan hal ini sejak lama tapi aku terlalu takut,, aku takut kau akan menolakku dan meninggalkanku. Kau tahu perasaan ini mencekikku, setiap hari saat bersamamu ingin rasanya aku mengatakan kalau aku mencintaimu. Sejak kapan perasaan ini tumbuh? Aku juga tidak tahu sejak kapan, tapi yang jelas perasaan ini sudah sejak lama tumbuh dan berkembang dengan begitu suburnya. Semakin lama aku rasa perasaan ini semakin tidak bisa aku bendung lagi Karina, dengan segala keberanian serta resiko yang akanku ambil, akhirnya aku memutuskan untuk mengungkapkannya padamu. Waktu itu, saat ulang tahunmu aku berencana untuk mengungkapkannya padamu. Sebelum berangkat aku membeli sebuket mawar dan sebuah cincin untukmu. Saat itu jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya, sepanjang perjalanan aku terus memikirkan kata yang tepat untuk aku ungkapkan padamu. Tapi saat aku memasuki ruangan tersebut yang aku dapati adalah Daejung yang sedang memasangkan cincin padamu.


Lucu bukan bagaimana alam mengingatkanku... seharusnya aku sadar sejak awal kalau kau hanya mencintai Daejung, dan seharusnya aku juga selalu ingat bahwa kau akan lebih memilih Daejung dari pada aku. Tapi tak apa Karina, aku akan bahagia kalau kau bahagia. Dan soal tempo hari aku benar-benar minta maaf Karina, bukan maksudku untuk melukai hatimu, aku melakukannya agar kau menjauh dan membenciku. Sekali lagi aku minta maaf Karina-ya. Ah ya, Karina-ya aku menerima tawaran dari Kang Gyosungnim untuk menjadi dokter relawan dan Em... hari ini aku berangkat, kalau kau ada waktu, bisakah kita bertemu sebelum aku berangkat? tapi kalau kau memang tidak sempat atau kau masih marah padaku tak apa, aku memakluminya. Jangan paksakan diri kalau kau tidak mau...


Mungkin hanya itu yang ingin aku sampaikan. Karina-ya nan jeongmal sranghae...


Karina kembali menangis, bahkan kini tangisnya terdengar begitu memilukan. Mina dan Daejung hanya dapat memejamkan mata dan ikut meratapi tangis gadis itu.


.


.


.


TBC


See you next Chapture...😊