Just Us

Just Us
Chap 73



Chunghee menepikan mobilnya di pinggiran Sungai Han, ia keluar dari mobil dan duduk dengan sebatang rokok yang ia apit antara jari tengah dan telunjuknya  pikirannya kembali berputar pada kejadian dimana ia kembali bersitegang dengan Ayahnya tadi. Apa sebegitu bencinya sang Ayah padanya hingga laki-laki itu harus berucap dan melakukan tindakan sejauh itu? Bagaimana bisa Ibunya meminta dia untuk tidak membenci Ayahnya, sedangkan laki-laki yang ia panggil Ayah itu justru kembali bahkan sering menorehkan luka pada hatinya.


Cuku lama Chunghee menenagkan pikirannya, setelah dirasa cukup, ia kemudian melajukan mobilnya menuju sebuah tampat yang kini menjadi tempat peristirahatan terakhir Ibunya.


Setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan dari Seoul ke Ulsa , Chunghee akhirnya sampai di tempat penyimpanan abu jenasah sang Ibu. Chunghee bersimpuh di depan tempat penyimpanan abu tersebut, kepalanya ia tundukkan


"Eomma Annyeong, Eomma pasti terkejut mrlihat kedatanganku malam-malam begini. Mianhae Eomma aku datang selarut ini. Eomma, apa Eomma marah padaku? Eomma pasti sangat kecewa melihat aku yang berlaku tidak sopan pada Aboji, aku tahu aku salah karena sudah berkata kurang ajar pada Aboji. Tapi Eomma aku tidak bisa diam saja ketika dia sudah menghina Karina, aku tidak bisa terima ketika Aboji terus mengganggu Karina. Aku.." Chunghee menjeda ucapannya


"Eomma bolehkah sekali ini saja aku melanggar janjiku? Eomma aku tidak bisa, aku tidak bisa untuk tidak membenci Aboji, sudah terlalu banyak luka yang dia torehkan padaku, aku sudah muak Eomma. Aku selalu mencoba berpikir, Adakah satu alasan yang bisa aku jadikan untuk tidak membencinya? Tapi selama aku berpikir, aku tidak pernah menemukan alasan itu, terlalu banyak dia menyakitiku dan menyakiti Eomma. Sebenarnya apa yang membuat Eomma mencintai laki-laki itu? Dia bukan laki-laki yang baik Eomma, dari segimana Eomma bisa mencintai laki-laki tidak bertenggung jawab itu? Eomma aku membencinya, amat sangat membencinya, tapi.. tapi kenapa aku tidak boleh membencinya? Aku benci mengakui kalau darahnya mengalir dalam darahku, aku benci mengakui bahwa...bahwa sebebarnya aku ...." Chunghee tidak sangup lagi melanjutkan ucapannya, dadanya terasa sangat sesak ketika membicarakan tentang keluarga, apa lagi itu tentang Ayahnya


"Hah sudahlah, percuma bukan Eomma aku melakukan semuanya? Percuma aku membencinya selama kami masih memiliki darah yang sama. Hah.. aku pulang Eomma, lain kali aku akan datang kemari bersama Karina. Annyeong Eomma" setelah berpamitan Chunghee berdiri dan membungkuk sebentar. Setelahnya laki-laki itu segera kembali ke Seoul, tujuannya adalah Karina, dalam keadaan seperti ini biasanya dengan melihat senyum karina hatinya akan kembali tenang.


Tanpa Chunghee sadari, seseorang bersembunyi dibalik tembok, mendengarkan semua keluh kesah yang Chunghee sampaikan. Setelah memastikan Chunghee benar-benar pergi, seseorang itu duduk di depan abu Ibu Chunghee


"Eun Hee-ya kau sudah mendidiknya dengan sangat baik. Gomawo, telah menepati janjimu. Mianhae kalau aku belum bisa menepati janjiku untuk membahagiakannya, Minhae karena telah mengecewakanmu" ujarnya


...****...


Bagitu sampai di Seoul, Chunghee langsung menuju unit Apartemen Karina. Waktu menunjukkan pukul sepuluh ketika memasuki apartemen Karina. Dahinya berkerut ketika mendapati lampu ruang tengah yang masih menyala


"Karina-ya Eodiga?" Tanyanya


Kakinya ia langkahkan menuju ruang tengah, disana ia mendapati sesosok wanita yang sedang duduk membelakanginya, wanita itu sepertinya sangat fokus pada acara drama yang sedang diputar. Dengan perasaan sedikit ragu, Chunghee menghampiri wanita tersebur


"Nuguya?" Tanyanya


Tubuh Chunghee menegang ketika mendapati siapa wanita tersebut, lantai yang dipijaknnya seolah runtuh bersamaan dengan berbagai pikiran negatif yang tiba-tiba menyerangnya.


Tak hanya Chunghee, wanita tersebut juga sama terkejutnya dengan Chunghee, dengan suara terbata wanita itu berucap "Chung..Chunghee-ya"


"Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Chunghee begitu dia kembali dari keterkejutannya.


"Seharusnya aku yang bertanya apa yang kau lakukan disini?" Jawab Eunso


"Kau tidak perlu tahu apa yang aku lakukan disini. Hanya jawab saja pertanyaanku" ujar Chunghee dengan rahang yang mengeras


"Aku sedang mengunjungi temanku Chunghee-ah. Apa kau juga mengenal Karina?" Tanya Eunso dengan suara yang sebisa mungkin ia normalkan, sejujurnya ia merasa sedikit takut mendengar nada tegas dari Chunghee


"Pulanglah dan jangan pernah kembali kemari" ujar Chunghee


Dahi Eunso berkerut, merasa tidak mengerti mengapa laki-laki itu mengusirnya "wae?" Tanyanya


"Eunso-ssi kau tidak seharusnya berada disini, jadi pulanglah sekarang selagi aku masih bicara baik-baik" jelas Chunghee


Eunso semakin binggung dengan situasi ini, mengapa Chunghee mengatakn seperti itu, ada apa sebenarnya


"Tapi kenapa Chunghee-ah? Aku hanya sedang berkunjung" kekeh Eunso


"Aku akan menjelaskannya, tapi tidak sekarang. Jadi aku minta pulanglah"


"Tapi.." ucapan Eunso terpotong oleh suara lain, suara yang begitu Chunghee kenali


"Eoh, kau sudah pulang Chunghee-ah" ujar Karina begitu gadis itu memasuki apartemen. Gadis itu tadi keluar untuk membuang sampah


Chunghee memejamkan matanya, sedangkan Eunso semakin penasaran, bagaimana bisa Karina mengenal Chunghee? Apa mereka berteman? Atau jangan-jangan mereka...


"Eoh kau sudah bertemu Eunso Changiya? Kau kemarin bertanya siapa yang menelfonku bukan? Nah dia Eunso, gadis yang aku ceritakan beberapa waktu lalu" jelas Karina, sembari menghampiri Chunghee dan Eunso


Penjelasan Karina membuat dua orang lainnya merasa kelu, mereka merasa terkejut dengan keadaan yang terjadi. Chunghee merasa terkejut jadi selama ini yang Karina ceritakan tentang teman barunya adalah Eunso, sedangka Eunso sendiri terkejut karena kekasih Chunghee adalah Karina. Oh Tuhan semua ini benar-benar sebuah kejutan bagi mereka


"Jadi teman yang selama ini kau ceritakan adalah dia?" Ujar Chunghee masih dengan keterkejutannya


Chunghee mendekati Karina ia rengkuh bahu sempit itu, lalu ia layangkan sebuah kecupan pada kening Karin "aniyo aku tidak mengenalnya"


Dan jawaban serta perlakuan Chunghee pada Karina membuat hati Eunso seolah diremat oleh tangan tak kasat masa, begitu sakit dan menyesakkan ketika melihat laki-laki yang dicintainya bermesraan dengan wanita lain, walaupun wanita itu adalah kekasih si laki-laki itu sendiri


"Yak, jangan menciumku sembarangan Chunghee-ah" kesal Karina, karena kekasihnya itu menciumnya di depan Eunso


"Wae?" Tanya Chunghee


"Apa kau tidak malu eoh, kau tidak lihat disini juga ada Eunso"


"Aniyo, kenapa aku harus malu mencium kekasihku sendiri. Aku hanya ingin menunjukkan seberapa besar aku mencintaimu" jelas Chunghee tanpa rasa bersalah


"Yak dasar Yoda, kau benar-benar menyebalkan" ujar Karina


Chunghee terkekeh "tapi kau cinta kan" lanjutnya dengan tangan mengusak pucuk kepala Karina, hingga rambut gadis itu berantakan


"Yak rambutku, Aish benar-benar menyebalkan" pekik Karina dengan kesal


Melihat keksalan Karina Chunghee pergi menjauh agar tidak terkena amukan dari kekasihnya itu, atau lebih tepatnya ia juga menghindar dari situasi canggungnya dengan Eunso


"Aish dasar tiang menyebalkan. Ah, mianhae Eunso-ya, kau jadi harus melihatku kesal. Tolong maafkan kelakuan kekasihku, dia memang sedikit menyebalkan" ujar Karina


Eunso tersenyum "gweanchana, sepertinya dia sangat mencintaimu. Apa kalian sudah lama bersama?"


"Eoh kami sudah bersama sejak kami menjadi dokter magang dulu. Tapi kami menjadi sepasang kekasih selama beberpa bulan ini" jelas Karina


Eunso hanya mengangguk sebagai jawaban "Karina-ya bolehkan aku makan malam disini? Aku rasa, aku sedikit lapar" ujar Eunso


"Eoh tentu saja kenapa tidak, duduklah aku juga akan membuatkan makan malam untuk yoda itu"


"Nde Gomawo" ujar Eunso. Sebenarnya itu hanyalah alasan saja agar ia bisa melihat Chunghee lebih lama.


Karina baru saja selesai menata makanan yang ia buat saat Chunghee turun


"Eoh kau memasak? Kau belum makan malam? Yak Changiya berapa kali harus aku bilang, jangan pernah terlambat makan atau perutmu akan sakit lagi" omel Chunghee panjang lebar


"Aku tidak terlambat makan aku hanya ingin makan bersamamu itu saja" jawab Karina tanpa rasa bersalah


"Ck, dasar gadis bebal. Untung cinta, kalau tidak..."


"Kalau tidak apa?" Sela Karina


"Aku pasti akan memakanmu" lanjut Chunghee dengan tawa lebarnya


"Yak..." pekik Karina


Mereka berdua sepertinya begitu menikmati waktu saling menggoda, hingga tidak menyadari satu atensi lain, yang sedari tadi memperhatikan mereka dengan tatapan yang sulit diartikan, tangan gadis itu mengepal, menyalurkan perasaan yang ada dihatinya. Eunso begitu bingung dan masih terkejut dengan situasi yang baru saja ia dapati


"Tuhan apa yang harus aku lakukan" batinya meraung


.


.


.


**TBC


See you next chapture😊**