Just Us

Just Us
Chap 35



Pagi ini ruangan Daejung terasa berbeda dari dua bulan lalu, kalau biasanya hanya ada kesedihan dan kecemasan, kini ruangan tersebut terasa lebih hangat dan kali ini yang terdengar hanya canda tawa. Mereka berbincang ringan tentang apa saja yang terjadi selama Daejung koma, bagaimana keadaan perusahaan selama dia koma, dan yang paling membahagiakan adalah tentang kehamilan Chinsun.


Setelah Daejung tersadar dari koma nya, Karina terus berada disamping Daejung. Gadis itu bahkan engan untuk meninggalkan Daejung bahkan hanya untuk mandi, kalau bukan paksaan dari ibunya, gadis itu pasti tidak akan mandi.


"Chunghee-ah Eodiga?" Tanya Daejung


"Sepertinya dia belum datang, seingatku hari ini dia shift pagi" jelas Karina


"Semalam saat aku sadar aku tidak melihatnya, apa dia begitu sibuk?" Tanya Daejung lagi


"Molla, semalam aku menelfonnya. Tapi ponselnya tidak aktif, mungkin dia pulang semalam dan belum sempat menyalakan ponselnya" ujar Karina, gadis itu sibuk dengan ponselnya. Sedari tadi dia berusaha menghubungi Chunghee, tapi sampai sekarang ponsel laki-laki itu belum tersambung juga


Daejung hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Kini Karina dan Daejung hanya berdua di ruangan tersebut. Tadi setelah menemui Daejung, keluarga Daejung memutuskan untuk pulang. Tuan Park harus segera kembali ke Jepang untuk kembali mengurus perusahaan yang Daejung tinggalkan, sedangkan Baekho mengantar Chinsun untuk kembali ke apartemen, tadinya wanita itu menolak dan bersikeras untuk terus menunggu Daejung. Tapi mengingat kehamilannya, Chinsun pun mau untuk pulang dan kembali lagi esok hari


"Aish, kemana laki-laki menyebalkan itu. Awas saja kalau dia datang aku akan memukulnya" ujar Karina dengan melempar ponselnya keatas nakas. Dia dibuat kesal dengan Chunghee yang sampai sekarang belum juga memberinya kabar.


"Karina-ya, apa selama dua bulan ini kau terus menangis?" tanya Daejung


"Wae?" Balas Karina


"Kau tampak berbeda, pipimu tidak secuby dulu, dan sekarang kau juga punya kantung mata. Hah... mianhe Karina-ya, karena kecerobohanku kau menjadi seperti ini" sesal Daejung


Karina tersenyum begitu teduh, gadis itu lalu genggam tangan Daejung


"Gweanchana, ini bukan salahmu. Chunghee bilang Tuhan sedang memberikan waktu untukmu beristirahat. Jadi ini bukan salahmu ataupun karena kecerobohanmu. Kau tau dua bulan ini kau membuat kami mengalami senam jantung, kau selalu anfal dan lagi, tidak ada kemajuan darimu. Aku sungguh takut saat itu, pernah sekali waktu aku ingin menyerah, tapi aku tidak bisa. Aku harus terus berdoa dan terus percaya bahwa kau akan kembali, kau tidak boleh pergi meninggalkanku sebelum aku mengijinkannya. Dan ternyata Tuhan mendengar doa ku Dia mengabulkan doa ku dan mengembalikanmu padaku" balas Karina dengan senyum manisnya


Daejung tersenyum, laki-laki itu lalu mengulurkan tangannya untuk mengusap lembut pipi Karina. Dia bersyukur pada Tuhan karena telah begitu baiknya memberinya kesempatan kedua untuk kembali berada disamping gadis yang ia cintai itu


"Pada siapa saja kau tunjukkan senyum manis ini selama aku terbaring?" Tanya Daejung


"Chunghee, Maina Eonni, Kang Gyosungnim, pasien, Baekhwang..."


Ucapan Karina terhenti karena Daejung menyelanya


"Tinggu dulu Baekhwang? Kau tersenyum padanya? Apa aku melewatkan sesuatu?" Tanya Daejung penasaran


Karina memukul pelan keningnya


"Ah, aku lupa mengatakan kalau aku dan Baekhwang sudah saling memaafkan. Kau tau tadinya aku ragu ketika dia mengajakku untuk bicara berdua tapi, ucapanmu tiba-tiba terlintas, tidak ada salahnya kan mencoba. Dan kau tau sekarang dia sudah kembali ke Canada" jelas Karina


"Ne? Lalu bagaimana dengan masa residennya?" Tanya Daejung


"Dia bilang dia tidak masalah kalau harus mengulangnya lagi" jawab Karina


"Ah, sepertinya dia ingin memulai lembaran baru. Chukae Karina-ya, kau sudah berdamai dengan masa lalumu. Aku yakin kau pasti belum sepenuhnya bisa menerima ini, tapi percayalah seiring berjalannya waktu rasa sakit itu pasti akan memudar dan hilang dengan sendirinya" ujar Daejung


Karina tersenyum lalu gadis itu raih tangan Daejung dan dia letakkan pada pipinya


"Gomawo kau sudah kembali. Kau tau aku menyayangimu" ujar Karina


"Nado, kau pun tau bagaimana perasaanku padamu Bee" balas Daejung


Mereka pun kembali berbincang dan bercanda untuk saling melepas rindu.


Laki-laki itu menunduk lalu menarik nafas dalam sebelum membuka pintu kamar rawat Daejung. Laki-laki itu berusaha menampilkan senyuman, meski sudut hatinya berdenyut nyeri.


"Annyeoung...yeorobun" sapa Chunghee begitu dia memasuki ruangan tersebut


"Chunghee-ah" pekik Karina, gadis itu beranjak dari duduknya lalu menghampiri Chunghee


"Wa-wae?" Tanya Chunghee tergugup. Laki-laki itu bingung kenapa Karina terlihat sangat marah padanya


Begitu sudah berada didepan Chunghee, gadis itu memukul lengan Chunghee secara brutal


"Yak, yak, yak! Kenapa kau memukulku eoh?" Tanya Chunghee dengan mencoba menghindar dari Karina


"Kau menyebalkan... hiks" ujar Karina setelah lelah memukuli lengan Chunghee


Chunghee tersenyum, laki-laki itu lalu merengkuh Karina kedalam dekapannya. Dan seperti biasa dia akan usap punggung Karina ketika gadis itu menangis


"Uljima Karina-ya" ujar Chunghee


"Ka-kau menyebalkan hiks kau membuatku takut... kau dari mana saja? Aku mencarimu semalam, A-aku juga menelfonmu tapi ponselmu mati hiks ak-aku takut terjadi sesuatu padamu" ujar Karina disela isakannya


Hati Chunghee menghangat mendengar kekhawatiran Karina. Semalam setelah berbincang dengan Mina dia langsung pulang, laki-laki itu juga dengan sengaja mematikan ponselnya, niatnya semalam dia ingin menghindar dari Karina, entahlah setelah menlihat kekhawatiran Karina pada Daejung membuatnya engan untuk bertemu dan berbicara dengan Karina. Tapi sekarang dia menyesal setelah melihat kekhawatiran Karina, tidak seharusnya dia melakukan itu pada Karina yang tidak tau apa-apa. Dan saat seperti ini membuat salah satu sudut hatinya urung untuk melepaskan Karina.


"Mianhe Karina-ya. Semalam setelah bertemu Mina Nonna aku langsung pulang dan ponselku kehabisan batere, jadi aku mengisinya dan lupa menyalakannya" bohong Chunghee pada Karina


"Lain kali jangan lakukan lagi, aku khawatir" ujar Karina, gadis itu mendongak lalu menatap Wajah Chunghee


"Em, aku janji ini yang terakhir. Sudah sekarang berhenti menangis, kau tau wajahmu itu begitu jelek saat menangis" ujar Chunghee


Karina melepas pelukannya pada Chunghee, gadis itu mengusap air matanya kasar lalu memicing pada Chunghee


"Yak! mana ada wanita yang cantik saat menangis kau ini ternyata memang benar-benar menyebalkan. Daejung-ah kau lihatkan seberapa menyebalkannya dia. Ck aku menyesal telah mengkhawatirkannya" sungut Karina sambil berjalan menghampiri Daejung dengan kaki yang ia hentakkan keras


Daejung dan Chunghee melihat tingkah Karina. Gadis itu mempoutkan bibirnya dan bersidakep


"Bagaiman keadaanmu Daejung-ah? Apa kau merasa sesuatu?" Tanya Chunghee


"Aku merasa sudah lebih baik, gomawo Chunghee-ah sudah merawatku dan sudah mau menjaga Karina. Apa dia merepotkanmu?" Tanya Daejung


"Kau tidak perlu berterimakasih, itu sudah menjadi kewajibanku sebagai sahabatmu. Dan untuk urusan Karina, kau tau sendiri bukan seperti apa rewelnya dia ketika sedang bosan ataupun bersedih. Kau tau dia pernah membuatku berkeliling Seoul hanya untuk mencari makanan yang ternyata hanya ada di Indonesia. Ck, benar-benar gadis itu" balas Chunghee dengan pandangan mata yang tertuju pada Karina


Karina mencibir atas apa yang Chunghee katakan, sedangkan Daejung terkekeh melihat kedua sahabatnya itu, ia yakin pasti setelah ini akan ada perdebatan panjang, dan berakhir dengan Karina yang menangis dan Chunghee yang akan membujuk Karina


.


.


.


TBC


See you next chapture...😊