Just Us

Just Us
Chap 18



Karina masih menangis, gadis itu masih belum bisa menerima jawaban Daejung tadi, dadanya terasa sesak luar biasa. Dia tidak bisa terus berada disini, berada satu tempat dengan Daejung.


Karina menyeka airmatanya, gadis itu lalu bangkit dari kursinya dan berlalu begitu saja tanpa memperdulikan Daejung yang memanggilnya.


Karina berjalan begitu cepat keluar dari caffe, hingga langkahnya terhenti karena Daejung menahan lengannya


"Karina dengarkan aku dulu, Jeball..." pinta Daejung


"Lepas Daejung, lepas....aku mohon lepaskan aku" Karina meronta mencoba melepaskan lengannya dari tangan Daejung


"Tidak, aku tidak akan melepaskanmu, sampai kau mendengarkan penjelasanku Karina" Daejung masih kekeh untuk tidak melepas tangan Karina


"Kau menyakitiku Daejung" pekik Karina


Daejung melepas tangan Karina, laki-laki itu mencoba mendekati Karina, tapi respon yang Karina berikan membuatnya merasa terluka. Gadis itu menjauhinya, semakin Daejung mendekat, maka Karina juga akan semakin mundur


"Berhenti Daejung, jangan mendekat lagi. A-aku tidak ingin kau mendekatiku" pinta Karina, gadis itu memberhentikan sebuah taxi, dan beruntung taxi itu berhenti didepannya, dengan segera gadis itu memasuki taxi. Sebelum benar-benar masuk gadis itu menoleh pada Daejung


"Aku memerlukan wantu untuk menerima semua ini, jadi tolong...untuk sementara waktu jangan muncul dihadapanku dulu Daejung-ah"


Daejung mengetuk kaca pintu taxi tersebut, tapi Karina masih saja tidak memperdulikannya, taxi itu berjalan meninggalkan Daejung, laki-laki itu berlari menuju mobilnya untuk mengejar taxi yang Karina kendarai, Daejung bergegas berlari menuju mobilnya, ketika dia baru saja duduk di kursi kemudi ponselnya berdering dan nama sang sekretaris terpampang disana, segera Daejung mengangkat panggilan itu dan laki-laki itu segera menjalankan mobilnya, sebelum dia kehilangan jejak Karina


"Yeobseyo ada apa sekertaris Im?"


"Sajangnim maaf menganggu waktu anda, saya ingin menyampaikan kalau Tuan besar Park menunggu ada" jelas sekertaris Im dari seberang sana


Alis Daejung terangkat satu, untuk apa ayahnya datang ke kantor? bahkan tanpa mengabarinya terlebih dahulu


"Apa Appa sudah lama menunggu?"


"Tuan besar Park baru saja datang sajagnim" jawab sekertaris Im dengan lugas


"Apa ada hal yang penting yang ingin Appa sampaikan sampai dia datang ke kantor tanpa memberitahuku?" Tanya Daejung sekali lagi


"Tuan Besar Park mengatakan kalau ada hal penting yang ingin beliau sampaikan pada anda sajangnim. Beliau juga mengatakan kalau ingin menyampaikannya langsung pada anda"


Rasa penasara Daejung semakin besar, tapi dia juga tidak bisa membiarkan Karina pergi begitu saja. Setelah bergelut dengan segala pertimbangan akhirnya Daejung memutuskan untuk berputar arah dan kembali ke kantornya. Untuk masalahnya dengan Karina, nanti dia akan menyusul kemana gadis itu pergi, Daejung tau tempat-tempat mana saja yang biasa Karina kunjungi kalau gadis itu sedang marah. Jadi dia memutuskan untuk bertemu ayahnya dulu


"Sekertaris Im katakan pada Appa kalau aku akan sampai dalam lima belas menit lagi"


"Nde Sajangnim"


Setelahnya Daejung mematikan sambungan telefon tersebut.


.


.


.


Daejung mengeram frustasi, tadi setelah bertemu dengan ayahnya pikiran Daejung semakin kacau, ayahnya mengatakan kalau ia akan ditugaskan untuk memegang perusahaan mereka yang ada di jepang selama 2 tahun kedepan. Sebenarnya perusahaan tersebut dipegang Baekhoo, tapi ayahnya mengatakan kalau selama dua tahun kedepan Baekhoo dan Chinsun akan fokus untuk melakukan program hamil, setelah hampir tiga tahun menikah akhirnya mereka memutuskan untuk melakukan program kehamilan, dan dengan alasan itu pula Baekhoo dan Chinsun memutuskan untuk menetap di Seoul dan bertukar posisi dengan Daejung. Jadi mau tidak mau dalam dua tahun kedepan Daejung harus menetap di Jepang, tadi laki-laki itu meminta waktu satu minggu pada ayahnya untuk menyelesaikan masalahnya dengan Karina, dan setelahnya dia akan terbang ke Jepang, tapi ayahnya menolak dengan alasan tidak baik kalau kursi kepemimpinan ditinggalkan terlalu lama, jadi ayahnya itu memberikan waktu tiga hari bagi Daejung untuk menyelesaikan semuanya.


.


.


.


Daejung memasuki apartemen Karina, dan hal pertama yang ia dapati adalah keadaan apartemen yang masih gelap dan kosong, sepertinya Karina belum pulang. Daejung bertanya-tanya kemana Karina pergi, sesore tadi dia sudah mendatangi tempat-tempat dimana biasanya Karina menenangkan diri, tapi semuanya nihil Karina tidak ada di semua tempat itu


"Karina kau dimana..." Gumam Daejung dengan memijit pangkal hidungnya.


Getaran ponselnya membuyarkan segala pikiran Daejung tentang keberadaan Karina, dengan tidak minatnya dia ambil ponsel dari dalam saku jasnya, matanya berbinar ketika mendapati nama Karina tertera disana, segera dia geser lingkaran hijau itu


"Yeobseyo..." Sapa seorang laki-laki dari seberang sana


Daejung menjauhkan ponselnya, lalu ia pastikan lagi kalau yang menelfonnya adalah Karina, dan itu memang nomor Karina tapi kenapa seorang laki-laki yang menyapanya? Daejung semakin dibuat ketar ketir berbagai pikiran buruk menghinggapinya


"Nuguseyo?" tanya Daejung


"Saya salah satu pegawai dari Bar. Apa benar ini dengan Daejung-ssi?"


"Nde aku Daejung, apa terjadi sesuatu?"


"Ah syukurlah, saya hanya ingin menyampaikan kalau teman anda, pemilik ponsel ini tidak sadarkan diri karena mabuk berat, dan sedari tadi dia terus memanggil nama anda" jelas laki-laki tersebut


Daejung memejamkan matanya, emosinya memuncak setelah mendengar kabar tersebut, laki-laki itu mematikan telefon lalu segera bergegas menyususl Karina


.


.


.


Daejung memacu mobilnya seperti orang tidak waras, dia bahkan mendapatkan berbagai macam umpatan dari pengguna jalan lainnya, tapi ia sama sekali tidak memperdulikan itu, yang terpenting sekarang adalah Karina, dia harus segera kesana untuk membawa Karina pulang


Setelah kurang lebih lima belas menit perjalanan akhirnya Daejung sampai juga, laki-laki itu bergegas memasuki bar tersebut, lalu ia edarkan pandangannya mencari gadis yang sangat dia cintai. Lalu ketika netranya menemukan sosok Karina, hati Daejung berdenyut nyeri menyaksikan bagaimana Karina duduk disana dengan kepala yang ia telungkupkan diatas kedua lengannya. Dengan langkah berat dia dekati tubuh Karina, lalu ia usap kepala Karina


"Karina-ya...irreona kajja kita pulang" ajak Daejung dengan penuh kelembutan


"Lima menit lagi Eomma...." ujar Karina dengan mata yang masih tertutup


Daejung menghela nafas panjang lalu ia menemui salah satu pegawai disana yang ternyata adalah laki-laki yang menghubunginya tadi, setelah mengucapkan terimakasih dan membayar tagihan Daejung membopong Karina dengan bridal style dan membawanya pulang


Keadaan dalam mobil Daejung begitu sunyi, biasanya Karina akan banyak bercerita ketika mereka sedang didalam mobil, tapi kali ini sungguh berbeda, Karina tidak sadarkan diri karena efek alkohol yang ia konsumsi, dalam hati Daejung tidak berhenti mengumpati dirinya sendiri, bagaimana cerobohnya dia hingga bisa membuat Karina seperti ini


.


.


Daejung menidurkan Karina pada ranjangnya, lalu dengan telaten dia melepas sepatu Karina, dia selimuti tubuh Karina sebatas dada, dia tatap wajah damai Karina, lalu ia kecup dalam dahi Karina


"Mianhe Karina-ya...Jeongmal Mianhe"


Setelahnya Daejung beranjak dari kamar Karina, Dia memutuskan malam ini akan menginap di apartemen Karina, takut-takut kalau Karina terbangun malam hari dan membutuhkan sesuatu.


Setelah pintu tertutup, Karina membuka matanya, lalu airmata mengalir dari mata bulan sabit gadis cantik itu, sebenarnya Karina sudah terbangun sejak mereka sampai di Apartemen, tapi gadis itu sengaja untuk tidak membuka mata, karena jujur saja dia belum siap untuk menatap Daejung


"Daejung-ah..." gumam Karina, lalu setelahnya gadis itu menangis dan membekap mulutnya agar tangisnya tidak terdengar oleh Daejung


.


.


.


TBC


See you next chapture...😊