
Daejung terbangun dari tidurnya, dahi laki-laki itu berkerut mendengar suara bel pintu yang ditekan secara brutal. Pandangannya ia arahkan untuk melihat jam dinding yang ada didepannya, siapa yang bertamu selarut ini? Batin Daejung. Laki-laki itu turun dari ranjang ketika suara bel tersebut kembali berbunyi. Ketika keluar dari kamarnya, saat itu juga dia melihat Hye in yang juga ikut keluar
"Kau memerlukan sesuatu?" Tanya Daejung
"Ani, aku akan melihat siapa yang bertamu selarut ini. Kau sendiri apa kau memerlukan sesuatu?" jelas Hye in
"Sama sepertimu, aku juga ingin melihat siapa yang datang. Apa Hana juga terbangun?" Tanya Daejung
"Tadi sempat merengek tapi itu hanya sebentar" jelas Hye in
Daejung pun mengangguk, mereka kemudian berjalan menuruni tangga dan bergegas membuka pintu sebelum orang tersebut menekan kembali bel pintunya dengan brutal.
"Annyeong Daejung-ah" sapa Chunghee begitu Daejung membuka pintu
Daejung mengernyit mendapat penampilan Chunghee yang bisa dikatakan cukup berantakan, belum lagi aroma alkohol yang begitu menyengat ketika sahabatnya itu buka suara.
"Apa yang terjadi padamu Chunghee-ah?" Tanya Daejung dengan memapah tubuh Chunghee untuk masuk
"Hye in-ah tolong penuhi bathupku dengan air" pinta Daejung
Hye in mengangguk, wanita itu kemudian menaiki tangga dan melakukan apa yang Daejung minta.
Begitu dia berhasil mendudukkan Chunghee pada sofa, laki-laki itu kemudian melepas mantel dan sepatu yang melakat pada tubuh Chunghee.
"Daejung-ah....apa kau tahu, tadi ketika aku menemui Karina gadis itu ketakutan saat melihatku. Hahahah.... Daejung-ah apa wajahku semenakutkan itu sampai dia seperti itu? Apa dia begitu membenciku sampai-sampai dia tidak mau melihat wajahku? Apa aku terlalu dalam menorehkan luka pada hatinya sampai dia seperti ini?" Rancu Chunghee
Daejung menghela nafasnya, dia tahu kalau semua ini akan terjadi. Dia sudah dapat menebak kalau Karina pasti akan berreaksi seperti itu. Sebenarnya dia tidak tega melihat kedua sahabatnya itu terluka, tapi mau bagaimana lagi mereka harus bertemu dan mereka juga harus menyelesaikan masalah ini.
Dua tahun sudah dia berjuang mati-matian untuk mengembalikan Karina seperti dulu. Dua tahun ini dia lalui dengan begitu berat, dia harus menyaksikan Karina yang kembali terpuruk, dia juga harus berusaha keras untuk menghapus perasaannya pada Karina demi kebahagian gadis tersebut.
Lalu ketika semua beban itu tertancap dipundaknya, sepasang tangan akan selalu terulur untuk menggengamnya dengan kelembutan dan kehangatan, serta memberikan pelukan dan untaian kata penenang serta penyemengat untuk Daejung, dan pemilik tangan hangat tersebut adalah Hye in.
Hye in selalu mendengakan semua keluh kesah yang Daejung ceritakan padanya, wanita itu menjadi pendengar yang baik bagi Daejung. Dan berkat Hye in pula, beban yang Daejung tanggung terasa sedikit berkurang. Sejak enam bulan yang lalu Daejung memutuskan untuk membuka hatinya lagi untuk Hye in, memberi kesempatan kedua pada wanita yang dulu pernah singgah dihatinya itu.
Benar kata papatah bahwa cinta akan datang karena terbiasa. Hal itu terjadi pada Daejung, Semakin berjalanya waktu laki-laki itu mulai terbiasa dengan kehadiran Hye in dihatinya. Perlahan tapi pasti dia kembali merasakan debaran itu pada Hye in, meski tak dapat ia pungkiri juga kalau salah satu sudut hatinya masih mencintai Karina. Lalu tepat dua bulan lalu Daejung melamar Hye in, dan tentu saja Hye in menerimanya. Mereka akan melangsungkan pernikahan satu bulan lagi tepat saat ulang tahun putri Hye in yang sebentar lagi juga akan menjadi putri Daejung yaitu Hana.
"Yak Daejung-ah.. kenapa kau tidak menjawab eoh" ujar Chunghee
Daejung tersadar dari ingatannya tentang masa lalu. Laki-laki itu kemudian menatap Chunghee, wajah sahabatnya itu merah padam karena pengaruh alkohol
"Daejung-ah airnya sudah siap" ujar Hye in
Daejung mengangguk, ia bangkit dari duduknya lalu kembali memapah Chunghee untuk ia bawa ke kamarnya. Begitu sampai di kamar mandi yang terletak pada kamarnya, Daejung menenggelamkan sebentar wajah Chunghee ke bathup yang sudah terisi air, dia melakukannya bebera kali. Hal ini dia lakukan agar Chunghee segera sadar dari mabuknya
"Yak! Apa kau berniat membunuhku eoh" pekik Chunghee dengan nafas tersengal, dia sandarkan punggungnya pada bathup dan mencoba mengatur nafas
"Mianhe aku harus melakukannya agar pengarmu hilang. Sekarang mandilah, setelah itu turun dan kita akan bicarakan masalahmu dengan karina secara baik-baik" perintah Daejung laki-laki itu kemudian keluar dari kamar mandi
.
.
.
"Makanlah, baru setelah itu kita bicara" ujar Daejung dengan menggeser mangkuk yang berisi ramyeon pada Chunghee
Tanpa banyak bicara Chunghee langsung menyantap ramyeon tersebut. Selang beberapa menit kemudian Chunghee menyelesaikan makannya.
"Apa yang kau bicarakan pada Karina tadi?" Tanya Daejung membuka obrolan
"Aku bahkan belum mengatakan apapun padanya. Begitu melihatku tubuhnya langsung berreaksi, salah satu karyawan disana sudah memperingatkanku untuk pergi tapi aku tidak mengindahkannya. Hah..... aku merasa bahwa aku ini laki-laki yang benar-benar kejam dan tidak berperasaan, tapi... gweanchana aku tidak akan menyerah begitu saja hanya karena hal itu. Besok pagi aku akan kembali ke apartemen Karina dan kembali menunggunnya keluar dari sana" ujar Chunghee dengan menganggukkan kepalanya
Satu alis Daejung terangkat mendengar penuturan terakhir Chunghee, laki-laki itu membenarkan duduknya kemudian menatap sahabatnya itu
"Kau menunggu Karina? Kau sudah mengetahui apartemen Karina?" Tanya Daejung
"Em, setelah dari caffenya aku pergi club lalu setelahnya aku pergi kesini dan terus menekan bell apartemen Karina, tapi karena dia tidak kunjung membukakan pintu jadi aku berbelok kesini" jelas Chunghee
"Ck, sampai jarimu bengkong pun pintu itu tidak akan pernah terbuka karena Karina sudah pindah sejak satu tahun yang lalu" jelas Daejung
Chunghee menyemburkan air yang baru saja dia minum
"Yak!! Kenapa kau begitu jorok eoh" kesal Daejung, laki-laki itu kemudian memberikan tisu pada Chunghee
"Wae? Kenapa Karina pindah dari sana?" Tanya Chunghee
"Tentu saja karenamu, memangnya apa lagi. Dia memutuskan pindah karena dia ingin melupakanmu, dia bilang kalau apartemen itu menyimpan banyak kenangan tentang kalian jadi dia memutuskan untuk pindah" jelas Daejung
Chunghee menghela nafas berat, sebegitu kejamkah dia pada Karina hingga gadis itu begitu tersiksa dan memutuskan untuk melupakan semuanya?
"Kalau begitu beritahu aku dimana Karina tinggal sekarang Daejung-ah" pinta Chunghee
"Mianhe Chunghee-ah, tapi aku tidak bisa memberitahumu. Aku sudah berjanji pada Karina untuk merahasiakan alamatnya darimu, jadi lebih baik kau caritahu sendiri atau kau bertanya langsung pada Karina"
Chunghee memejamkan matanya, laki-laki itu mengacak rambutnya dan menggeram frustasi. Bagaimana dia bisa bertanya pada Karina, baru melihat dirinya berada di caffe saja sudah membuat Karina bergetar. Lalu apa jadinya kalau dia tiba-tiba meminta alamat pada Karina...
"Apa kau sudah kehilangan akalmu Daejung-ah? Baru melihatku berdiri didepannya saja Karina sudah bergetar, bagaimana kalau aku tiba-tiba menanyakan alamatnya. Yang benar saja Daejung-ah" sungut Chunghee
Daejung berdecih "Ck, aku rasa kau yang kehilangan akal cerdasmu itu Chunghee-ah. Dengarkan ini baik-baik, kau tidak boleh menanyakannya langsung pada Karina. Kau harus dekati dia secara perlahan, buat dia terbiasa dengan kehadiranmu disekitarnya. Aku yakin ketika dia sudah terbiasa dengan kehadiranmu maka dengan perlahan tremornya akan mereda dan mungkin juga akan sembuh. Tapi ingat Chunghee-ah lakukan dengan perlahan dan jangan paksa dia untuk menerima kehadiranmu. Dan yang terakhir untuk mendapat alamat Karina kau bisa mengikutinya secara diam-diam, ini mungkin terdengar seperti kau sedang menguntitnya, tapi tak masalah asalkan orang-orang tidak tahu"
Chunghee nampak memikirkan saran dari sahabatnya itu, setelah cukup menimang akhirnya dia menerima saran dari Daejung tersebut. Tak masalah kalau dia harus menjadi 'penguntit' asalkan dia bisa mengetahui alamat Karina.
.
.
.
TBC
See you next chapture...😊