Just Us

Just Us
Chap 63



Karina tidak henti-hentinya mengerutu kesal, gadis itu berjalan dengan cepat dan menghentakkan kakinya dengan keras pertanda bahwa ia sedang dilanda kekesalan. Sedangkan Chunghee, laki-laki itu berusaha mensejajari langkah Karina, laki-laki itu juga terus meminta maaf pada Karina


"Karina-ya aku sungguh minta maaf, ini semua terjadi karena keteledoranku, yang tidak pernah memperhatikan kondisi mobilku sendiri" ujar Chunghee setelah Karina menghentikan langkahnya dan menatap laki-laki itu dengan kekesalan yang tergambar jelas diwajahnya


"Yak bagaimana kau bisa seteledor itu eoh? Selama ini apa saja yang kau lakukan hingga tidak memperhatikan kondisi mobilmu sendiri, gara-gara mobilmu mogok, kita jadi harus berjalan sejauh itu karenanya" cerca Karina yang merasa kesal


"Bagaimana aku bisa memperhatikan mobilku kalau sedari pulang, aku hanya memikirkanmu dan terus mencari cara bagaimana untuk menemuimu dan mendapatkan maaf darimu" jawab Chunghee


Karina berkacak pinggang, gadis itu berjalan mendekati Chunghee


"Oohh... jadi maksudmu ini semua salahku begitu, karena kau terus berusaha menemuiku sehingga kau tidak memperhatikan mobil hingga mobil itu menjadi mogok seperti itu. Jadi kau menuduhku sebagai penyebab mogoknya mobilmu itu eoh" ujar Karina


Chunghee menelan ludahnya susah payah, laki-laki itu merutuki ucapannya tadi. Kenapa bisa-bisanya dia menjawab seperti itu, bagaimana kalau Karina kembali marah padanya dan kembali mendiaminya? Tidak, dia baru saja mendapat maaf dan baru saja menjalin hubungan dengan Karina.


Laki-laki itu tidak ingin hubungannya berakhir secepat ini. Chunghee menggelengkan kepalanya dan berjalan mendekati pada Karina


"An-anniyo bukan begitu maksudku Karina-ya. Tentu semua ini tidak ada sangkutpautnya denganmu, ini semua murni kesalahanku" ujar Chunghee gugup melihat tatapan tajam yang Karina layangkan padanya


"Gendong aku" ujar Karina


"Ye?" Tanya Chunghee heran


"Gendong aku sampai rumah, itu sebagai hukumanmu karena telah membuatku harus berjalan sejauh ini" ujar Karina


Chunghee terkekeh geli, ia acak pelan rambut Karina. Laki-laki itu kemudian berjongkok membelakangi Karina, ia kemudian meminta Karina untuk naik kepunggungnya. Karina melepas sepatunya lalu dengan senang hati gadis itu naik kepunggung Chunghee.


"Apa aku berat?" Tanya Karina begitu Chunghee mulai berjalan


"Aniyo, kau sangat ringan masih sama seperti dulu. Apa selama ini kau makan dengan baik?" Tanya Chunghee


"Haruskah aku menjawab jujur?" Karina balik bertanya


"Aniyo, tanpa kau jawab pun aku sudah tahu jawabannya. Mianhe.... semua itu salahku, aku berjanji mulai saat ini aku akan membuatmu bahagia dan akan mengabulkan semua keinginanmu" jawab Chunghee


Karina tersenyum, gadis itu memeluk leher Chunghee, lalu ia bisikkan kata terimakasih pada kekasihnya itu.


.


.


.


Chunghee baru saja selesai memasak beberapa makanan untuk dirinya dan Karina, laki-laki itu kemudian menata makanan tersebut pada meja yang berada di teras depan rumah Karina.


Awalnya Chunghee sedikit terkejut saat dia sampai didepan rumah baru Karina. Bagaimana bisa gadis itu meninggalkan apartemen mewahnya hanya untuk tinggal di sebuah apartemen sederhana yang berada diatas sebuah gedung berlantai tiga. Tempat itu cukup luas dan rapi, didepan apartemen tersebut terdapat sebuah meja dan dua kursi panjang yang mengapit meja tersebut, selain itu dari tempat tinggal Karina dia dapat menikmati gemerlapnya kota Seoul di malam hari. Lalu ketika dia memasuki apartemen Karina, ia dibuat nyaman dengan penataan dan kerapian dari tempat tersebut. Apartemen itu memang tidak terlalu luas, tapi berkat penataannya, tempat tersebut terasa begitu nyaman untuk ditinggali.


"Wah daebak, apa semua ini kau yang membuatnya?" Tanya Karina begitu gadi itu mendudukkan diri


"Aku hanya menemukan beberapa bahan masakan saja di dapurmu, jadi aku hanya membuat ini" ujar Chunghee


"Gwaenchana Aku memang belum berbelanja. Hanya dengan bahan masakan yang minim sekali pun kau bisa membuat masakan sebanyak ini, bagaimana kalau aku memiliki banyak bahan" ujar Karina


Chunghee tersenyum, laki-laki itu kemudian menyajikan makanan untuk Karina. Gadis itu tersenyum manis lalu mulai menikmati makanannya


"Karina-ya... kenapa kau memilih tempat ini untuk kau tinggali?" Tanya Chunghee


"Karena aku ingin, dan aku sangat menyukai tempat ini. Kau tahu dulu setelah kau meninggalkanku, ingin rasanya aku menyusulmu. Tapi karena penyakit itu aku harus meninggalkan pekerjaanku dan juga meninggalkan harapanku untuk menyusulmu. Lalu disetiap malam, aku selalu berjalan menyusuri setiap tempat yang bisa aku jangkau dengan harapan semoga saja rasa rinduku padamu bisa berkurang. Dan ketika aku mengunjungi tempat ini, entah mengapa aku sangat menyukainya. Jadi aku memutuskan untuk membeli tempat ini meski awalnya aku tidak mendapat ijin dari Oppa dan Daejung, tapi dengan sedikit rengekan akhirnya aku mendapat tempat ini. Sebenarnya aku memilih tempat ini karena setiap malamnya aku bisa memandang langit, dan saat aku menatap langit ataupun memandang bintang, aku merasa bahwa kau juga sedang memandang langit yang sama denganku. Kau tahu hal itu membuatku yakin jika memang kita ditakdirkan untuk bersama maka suatu saat kita pasti akan bertemu lagi. Dan benar bukan Tuhan mengembalikanmu padaku, Tuhan telah mengembalikan belahan jiwaku" ujar Karina


Chunghee tersenyum begitu tampan, laki-laki itu mengusap sayang kepala Karina


"Saranghae Karina-ya, terimakasih sudah menungguku. Mulai saat ini aku berjanji akan selalu ada disampingmu, sampai nanti hanya Tuhan yang memisahkan kita" ujar Chunghee tepat didepan wajah Karina


Karina tersenyum begitu manis, dan beberapa saat kemudian kedua belah bibir itu menyatu, saling mengungkapkan perasaan mereka lewat ciuman yang begitu manis tersebut.


.


.


.


Daejung mengangkat tubuh Hana, lalu ia dan Hye in mencium kedua pipi gadis kecil itu secara bersamaan. Daejung tidak menyangka bahwa akhirnya dia akan menikah dengan Hye in, seorang wanita yang dulu pernah mewarnai hidupnya dengan berbagai warna. Hye in wanita yang dulu pernah ia cintai, juga seorang wanita yang pernah ia benci, sampai akhirnya Tuhan mempertemukan kembali dirinya dengan Hye in dan menumbuhkan kembali rasa cinta itu pada hatinya untuk Hye in yang saat ini sudah resmi menjadi istrinya.


Malam hari pun datang dimana acar resepsi dari pernikahan Daejung dan Hye in, senyuman tak pernah luntur dari wajah pasangan baru tersebut ketika menyapa para tamu undangan yang datang.


"Chukae Daejung-ah, Hye in-ah... akhirnya kalian resmi menjadi sepasang suami istri" ujar Karina dengan antusias, gadis itu memeluk erat tubuh Hye in


"Gomawo Karina-ya, aku harap kalian segera menyusul kami" balas Hye in


"Ck, harusnya kau mengatakannya pada si menyebalkan itu" cibir Karina dengan melirik Chunghee yang berdiri disampingnya


"Kau ingin menikah sekarang? Geurae, aku akan menikahimu malam ini juga kajja" ujar Chunghee menarik tangan Karina


"Yak, yak, yak.. kau memang laki-laki yang menyebalkan..." ujar Karina dengan tangan mencubit pinggang kekasihnya


Chunghee mengaduh kesakitan, sedangkan Daejung dan Hye in hanya terkekeh melihat tingkah mereka


"Daejung-ah, lihat dia begitu menyebalkan" adu Karina pada Daejung dengan bibir yang ia poutkan


"Ck tapi kau mencintainyakan" balas Daejung


"Yak kau sama menyebalkannya dengan dia. Kajja Hye in-ah kita pergi dari sini, aku tidak tahan terus berada diantara dua orang menyebalkan ini" ujar Karina sembari menarik lengan Hye in untuk menjauh


"Yak dasar gadis nakal" ujar Daejung dan Chunghee bersamaan


"Gomawo Daejung-ah" ujar Chunghee


"Ye?" Tanya Daejung


"Gomawo sudah mengijinkanku untuk mencintainya, gomawo sudah mengalah dan merelakannya untukku. Aku tidak bisa menjanjikan apapun padamu tentang Karina. Tapi Daejung-ah, selama aku masih bernafas aku akan selalu membahagiakan Karina, akan aku pastikan senyuman selalu hadir diwajahnya, aku pastikan dia tidak akan merasakan kekurangan selama bersamaku, baik itu materi ataupun cinta dan kasih sayang. Kau bisa pegang kata-kataku ini Daejung-ah" ujar Chunghee


"Apa yang kau jaminankan untuk semua itu?" Tanya Daejung


"Nyawaku, jika suatu saat nanti kau melihat airmata Karina menetes karenaku, maka datangilah aku dan kau bisa menikamku saat itu juga" jawab Chunghee dengan penuh keyakinan


"Aku pegang ucapanmu. Tolong jaga Karina untukku, pastikan kebahagiaannya dan juga pastikan kalau kau akan menjaganya dengan nyawamu sendiri seperti yang kau ucapkan" ujar Daejung


Chunghee mengangguk yakin, mereka berjabat tangan lalu saling berpelukan.


...***...


Karina seorang gadis cantik yang akhirnya melabuhkan hati pada Chunghee yang dulunya ia anggap sebagai lelaki yang paling menyebalkan, tetapi justru laki-laki itulah yang akhirnya menjadi pelabuhan terakhir untuk hatinya.


Chunghee Laki-laki yang pada awal pertemannya merumpakan laki-laki yang sangat menyebalkan dan terlihat acuh padanya. Tapi siapa sangka dibalik semua itu dia adalah seorang laki-laki yang berhati lembut dan perhatian, laki-laki itu bahkan akan melakukan apapun untuk kebahagiaan Karina. Dan hal itulah yang membuat Karina jatuh cinta disetiap harinya pada laki-laki tampan yang berprofesi sebagai dokter tersebut.


Awalnya Tuhan memberikan cobaan begitu berat pada kisah cinta Karina dan dua sahabatnya. Sampai pada akhirnya Tuhan memberikan kebahagiaan yang tiada tara bagi dirinya dan kedua sahabatnya.


Gadis itu selalu percaya bahwa Tuhan tidak akan pernah memberi suatu cobaan pada seorang hamba diluar batas kemampuan orang tersebut, dan semua itu betul adanya....


.


.


.


TBC


See You Next Chapture...😊