Just Us

Just Us
Chap 76



"Siapa dia?" Tanya Son Gyosu begitu mereka sampai di ruangan profesor tersebut


"Dia Eunso, gadis yang Aboji jodohkan padaku" jawab Chunghee


"Apa kalian pernah bertemu?"


"Tadi pertemuan keempat kami"


"Ne? Apa maksutmu pertemuan keempat kalian? Apa kau menerima perjodohan tersebut?" Tanya son Gyosu memastikan


"Aniyo Imo, aku menolak keras perjodohan tersebut" jelas Chunghee


"Lalu?" Tuntut Son Gyosu


"Kami pertama kali bertemu di kantor Aboji, setelahnya aku menemuinya pada acara makan malam yang Aboji siapkan, saat itu aku mengatkan padanya kalau aku menolak perjodohan tersebut"


"Apa dia bisa menerima penolakanmu?" Tanya Son Gyosu


"Tentu saja dia menolaknya" ujar Chunghee dengan helaan nafas di akhir kalimatnya


"Lalu pertemuan ketiga kalian? Apa tua bangka itu juga yang merencanakannya?" Tanya Son Gyosu


"Any, aku bertemu dengannya di apartemen Karian"


Son Gyosu membulatkan matanya, wanita itu terkejut mendengar penuturan Chunghee "Ye?"


Menghela nafas, Chunghee akhirnya menceritakan kejadian kemarin malam pada Son Gyosu. Son Gyosu mengepalkan tangannya, ia merasa tidak terima dengan perlakuan gadis bernama Eunso itu pada Karina


"Jadi tua bangka itu masih saja memaksamu rupanya. Chunghee-ah dengarkan aku, apapun yang terjadi nanti jangan pernah menerima perjodohan ini. Selain itu kau juga harus lebih memperhatikan dan menjaga Karina jangan sampai gadis gila itu melakukan sesuatu yang buruk pada kekasihmu" ucap Son Gyosu memperingatkan


"Nde Imo, aku akan lebih menjaga Karina. Dan Imo tenang saja, aku tidak akan pernah menerima perjodohan itu" ujar Chunghee dengan penuh keyakinan


Son Gyosu tersenyum, ia tepuk pelan bahu tegap keponakannya itu "Imo yakin kau pasti bisa melewat semua ini, kalau kau mengalami kesulitan datanglah pada Imo, aku akan selalu ada di untukmu"


Chunghee tersenyum, ia merasa bersyukur memiliki Son Gyosu, meski ia telah kehilangan ibunya, tapi ia tidak pernah merasa kekurangan kasih sayang, karena wanita yang ia panggil Imo itu selalu melimpahinya dengan kasih sayang layaknya seorang ibu pada anaknya


"Gomawo Imo, aku sangat bersyukur memiliki Imo di sampingku"


Son Gyosu tersenyum, ia peluk keponakannya itu "Imo jauh lebih beruntung memilikimu Chunghee-ya".


...*** ...


Sore menjelang, Chunghee baru saja keluar dari rumah sakit, ia berencana menjemput Karina. Siang tadi kekasih cantiknya itu mengirimnya pesan bahwa ia sudah kembali membuka Caffe, jadi sore ini ia berencana menjemput Karina.


Chunghee menghabiskan waktu tiga puluh menit untuk sampai di caffe Karina, waktu menunjukkan pukul lima, tapi caffe kekasihnya itu masih cukup ramai oleh pengunjung.


Begitu memasuki Caffe ia langsung disambut oleh Jobin, gadis itu menyambutnya dengan senyuman begitu manis, berbeda sekali saat mereka pertama bertemu dulu


"Eoh Oppa, kau sudah datang. Kau pasti ingin menjemput Eonni kan" ujar gadis dengan mata kucing itu


Chunghee tertawa kecil "wah Jobin-ah, kau bisa membaca pikiran? Bagaimana bisa kau mengetahuinya padahal aku belum mengatakannya"


"Nde, mau aku coba ramal" ujar Jobin, gadis itu menaik turunkan kedua alisnya


"Shireo, terakhir kali kau meramalku Karina mendiamiku satu minggu hanya karena kau mengatakan kebohongan kalau aku memiliki kekasih lain, dasar gadis nakal" ujar Chunghee


Ia masih ingat betul saat dulu Jobin mengerjainya, hingga membuat Karina marah padanya selama satu minggu lamanya.


Jobin tertawa puas mengingat hal itu, gadis itu masih ingat bagaimana dulu Chunghee kelimpungan membujuk dan memberikan penjelasan pada Karina karena ulahnya


"Naiklah Oppa, Eonni sudah menunggumu" ujar Jobin setelah ia dapat meredakan tawanya


Chunghee hanya menggelengkan kepalanya, laki-laki itu kemudian naik menuju lantai dua untuk bertemu Karina


"Changiya" sapanya begitu memasuki ruangan sang kekasih


Karina mendongak, mengalihkan pandangannya dari laptop yang sedari tadi ia pandangi "eoh, kau sudah datang?"


"Em, apa kau sedang sibuk?" Tanya Chunghee sembari mendekati Karina


"Cukup melelahkan, tapi semua menguap begitu kau memelukku seperti ini" ujarnya


Karina mendongak "ck, sepertinya kau semakin pandai membual Tuan Park"


Chunghee terkekeh, ia kemudian mengecup pucuk hidung Karina "aku tidak pandai membual, aku hanya mengatakan apa yang aku rasakan saja changi"


"Ck dasar, ah sebelum pulang bisakah kita mampir ke apartemen Daejung? Aku sangat merindukan Hana" ujar Karina dengan rengekan di akhir kalimatnya


Chunghee tertawa kecil "tentu saja, apapun untukmu Changi"


Mereka kemudian terkekeh bersama. Setelah memerlukan waktu beberapa saat untuk berbenah, Karina dan Chunghee memutuskan untuk segera pergi ke apartemen Daejung sebelum hari semakin malam.


...****...


Karina dan  Chunghee baru saja sampai di apartemen Daejung, tadi sebelum sampai mereka sempat membeli beberapa cemilan untuk Hana dan untuk mereka. Malam ini mereka berencana menghabiskan waktu dengan Hye In dan Daejung untuk melepas rindu


"Hana-ya.... Imo datang" pekik Karina begitu Hye In membuka pintu, tanpa permisi gadis itu langsung masuk dan mencari keberadaan Hana


"Ada apa dengannya?" Tanya Hye In pada Chunghee


"Dia bilang sangat merindukan Hana tadi" ujar Chunghee


Hye In hanya mengangguk, wanita yang kini berstatus sebagai istri Daejung itu mempersilahkan Chunghee masuk


"Hana-ya... aigo Imo sangat merindukamu uri tall" ujar Karina begitu Hana berada dalam gendongannya


"Yak bisakah kau tidak berteriak ketika masuk rumah? Kau pikir ini hutan" sungut Daejung


Karina menghadiahi Daejung dengan lirikan mata yang begitu tajam,  gadis itu juga menatap Daejung dari atas ke bawah, dan sebaliknya, gadis itu mengerutu tidak jelas


"Wae?" tanya Daejung


"Apa yang baru saja kalian lakukan? Kenapa kau mandi di jam seperti ini? Dan kenapa Hye In memakai kemejamu? Apa kalian baru saja membuatkan adik untuk Hana?" Tanya Karina penuh selidik


Mata Daejung membulat mendengar penuturan Karina, bisa-bisannya gadis itu menanyakan hal tersebut disaat gadis itu menggendong Hana


"Yak, kata-katamu, aish...benar-benar. Wae? Kenapa kau ingin tahu? Kau penasaran? Ingin mencobanya? Aku yakin kau pasti akan ketagihan setelah mencobanya" ujar Daejung dengan smirknya


Kini giliran Mata Karina yang membulat "yak kau gila ya, mengatakan hal seperti di depan putrimu" sungut Karina


"Kenapa kau marah, bukannya kau yang memulai dulu. Aku hanya membalasnya" balas Daejung tak mau kalah


Dan perdebatan itu berlanjut hingga Hye In menengahi mereka, ibu satu anak itu mengambil Hana dari gendongan Karina


"Aku tidak akan mengijinkan kalian untuk menggendong Hana lagi" putus Hye In


"Wae?" Tanya Karina dan Daejung bersamaan


"Aku tidak ingin anakku, mendengar dan melihat hal-hal yang tidak baik dari kalian. Aku akan mengijinkan kalian kembali bermain bersama Hana setelah kalian sudah baikan dan berjanji untuk tidak mengulangi lagi. Kajja Hana-ya Eomma akan menyusuimu dulu" setelah mengatakan hal terebut Hye In meninggalkan kedua tamu dan suaminya di ruang tengah


"Ini semua salahmu, kalau sampai aku tidak diijinkan lagi untuk bermain bersama Hana, aku akan menggunduli rambutmu" ujar Karina dengan masih emosi


"Mwo? Yak mana bisa begitu kau yang memulai lebih dulu" bela Daejung


Dan begitulah mereka ketika bertemu, saling berdebat untuk hal-hal sepele. Jika dulu Daejung yang menjadi penengah antara Chunghee dan Karina, kini Chunghee lah yang menjadi penengah antara Karina dan Daejung. Begitulah persabahatan unik mereka


Hah..Chunghee menghela nafas lelah, setelah ini ia punya tugas berat untuk mendamaikan kembali kekasih dan sahabatnya itu, sepertinya malam ini akan berakhir panjang


.


.


.


TBC


See you next chapture😊