Just Us

Just Us
Chap 89



Setelah menemui Kwon Sun, Chunghee memutuskan untuk menunggu Karina di apartemennya. Ia akan membicarakan masalah in dengan Karina secara baik-baik nati, mungkin saat ini Karina masih memerlukan waktu untuk menenangkan diri.


Sementara itu Kwon Sun yang baru saja kembali setelah menemui Chunghee, ia kembali menemani Karina. Tapi sebelumnya laki-laki itu lebih dulu mampir ke restoran untuk membelikan makanan untuk Karina.


“Eoh kau kambali?” sapa Karina begitu ia mendapati Kwon Sun memasuki ruangannya


“Ne, Mianhe lama menunggalkan Nunna. Apa Dokter sudah memeriksamu lagi?” Tanya Kwon Sun sembari duduk di samping ranjang Karina 


“Em tadi gyosunim datang untuk memeriksa keadaanku, dan sayangnya dia mengatakan kalau aku baru bisa pulang esok hari” ujar Karina dengan lesu di akhir kalimatnya


Kwon Sun tersenyum, laki-laki itu kemudian mengusap punggung tangan Karina “Gweanchana Nunna, aku akan disini menunggumu. Apa kau sudah makan?” Tanya Kwon Sun mengalihkan pembicaraan


Karina menggeleng “Aku tidak suka makanan Rumah sakit, rasanya hambar” jelasnya


 Kwon Sun terkekeh, ia kemudian mengeluarkan satu kotak sushi yang ia beli tadi, ia mengambil satu lalu menyaupaknnya pada Karina


“Makanlah, kau pasti lapar, begitupun dengan Aegi dia pasti juga lapar” ujar Kwon Sundengan menyodorkan sushi tersebut pada Karina


Karina terdiam, matanya berkaca-kaca, ia merasa tersentuh dengan perlakukan Kwon Sun, ia membayangkan pasti Chunghee akan sangat perhatian padanya setetelah mengetahui bahwa dirinya kini telah mengandung buah cinta mereka. Gadis itu juga membawangkan pasti Chunghee akan sangat overprotektif padanya, tapi ia sadar bahwa semua itu hanya angannya semata karena sampai kapanpun laki-laki itu tidak akan pernah tahu kalau kini dia sedang mengandung anak mereka. 


Air mata Karina jatuh tanpa ia minta, gadis itu semkain tergugu dalm tangisnya, mengapa Tuhan begitu berat dan terus bertubi memberiakn cobaan pada hubungannya dan Chunghee, belum cukupkah cobaan yang mereka alami dulu? Atau mungkinkah ini cara Tuhan mengatakan bahwa mereka tidak akan pernah bersatu, dan mungkin sampai nanti hubungan mereka hanya akan sebatas teman? Entahlah, Karina hanya dapat berdoa dan berharap semoga saja Tuhan tetap memberinya kesabaran dan kekuatan untuk menghadapi semuanya


Kwon Sun terdiam, ia hanya mampu memberikan usapan pada tangan Karina, ia membiarkan Karina menangis, buka berarti dia tidak merasa iba pada gadis itu, tapi ia berpikir mungkin saja ini cara Karina menumpahkan segal sesak dalam hatinya. Setelah dirasa tangis Karina berkurang, laki-laki itu memberikan segelas air pada Karina


“Nunna aku tau ini semua pasti berat. Tapi percayalah Nunna, Tuhan tidak akan pernah memberikan cobaan pada hambanya di luar kemampuan orang tersebut. Kalau Tuhan memberikan cobaan ini padamu, Tuhan pasti percaya kalau kau mampu melalui ini semua. Jadi Nunna, tetaplah kuat dan  jadilah Mommy yang kuat dan hebat untuk Aegi kelak.  Kalau kau memerlukan bahu untuk bersandar, aku akan selalu siap ada disisimu” ujar Kwon Sun dengan penuh keulusan


Karina kembali menangis, lagi-lagi ia merasa beruntung karena Tuhan mengirimnya orang-orang yang begitu tulus menyayanginya, menerimanya apa adanya, mendukungnya dalam keadaan apapun. Dan sekali lagi Tuhan mengirimkan orang baik seperti Kwon Sun padanya.


“Gomawo Kwon Sun-ah, aku tahu kita baru saling mengenal, tapi aku benar-benar sudah menganggapmu seperti adik kandungku sendiri. Untuk saat dan entah sampai kapan aku mohon jangan pernah kau merasa bosan untuk terus berada disampingku. Sekali lagi Gomawo” ujar Karina


Kwon Sun tersenyum “Ne, jadi jangan pernah sungkan untuk meminta bantuanku Nunna. Bahkan dalam hal sekecil apapun jangan pernah sungkan untuk memintanya padaku”


Karina mengangguk dengan senyuan yang begitu tulus, Kwon Sun mengusap air mata Karina dengan tisu yang ada di meja


“Nunna apa rencanamu setelah ini?” Tanya Kwon Sun setelah keadaan hening untuk beberapa saat


“Sepertinya setelah ini aku akan menepi Kwon Sun-ah, aku ingin membsarkan anakku jauh dari kota, aku ingin hidup di Desa” ujar Karina


“Aku ingin menikmati semua hasil panen yang dihasilkan dari kebunku sendiri. Aku ingin anakku tumbuh dengan lingkungan yang baik, aku ingin anakku tumbuh dengan pergaulan yang baik Kwon Sun-ah. Buakn maksutku pergaulan di kota itu tidak baik, aku hanya tidak ingin apa yang aku rasakan ini dialami juga oleh anakku kelak” jelas Karina


“Ne aku yakin keputusan apapun yang kau ambil itu adalah hal yang terbaik untukmu dan juga anakmu kelak. Tapi Nunna, apa hanya itu alasanmu untuk hidup di Desa?” Tanya Kon Sun kembali


Karina terdiam, ia tau maksud dari pertanyaan Kwon Sun, hanhya saja ia engan untuk mengatakan alasan tersebut.


Mendapat keterdiaman Karina, Kwon Sun menghembuskan nafas dalam, ia yakin ini semua pasti begitu berat bagi Karina


“Nunna, aku tahu kau melakukan semu ini pasti untuk melindungi perasaan kalian. Aku yakin kau melakukan ini pasti karena kau berpikir bahwa ini yang terbaik untuk hubunganmu dan Chunghee Hyung. Aku tidak melarangmu untuk pergi Nunna, tapi tidakkah kau meikirkan kami? Apa dengan kau pergi begitu saja semua masalah akan selesai? Nunna kau tidak sendiri, kau punya Imo, kau punya Daejung Hyung, kau punya Hye In Nunna, kau punya Hana, kau punya aku, jobin, dan Jhony Hyung disini. Kami disini Nunna, kamu akan selalu mendukungmu apapn yang terjadi, kalau pergi sendiri bagaiaman kalau kau disana mengalami kesulitan? Siapa yang akan menolongmu? Nunna aku tidak melarangmu untuk pergi itu hakmu, tapi tolong pikirkan lagi tentang segalanya, bkan hanya tentangmu tapi tentang Aegi juga. Kau jangan egois Nunna, mungkin kau bisa merasa aman dan tenang meninggalkan kota, tapi bagaimana dengan Aegi nanti? Bagaimana kalau dia tumbuh tanpa adanya sosok Daddy disampingnya. Kalau kau memutuskan untuk tetap pergi silahkan, tapi Nunna selesaikan lah urusanmu denga Chunghee Hyung sebelum kau pergi” Ujar Kwon Sun panjang lebar


Karina kembali menangis, ucapan Kwon, benar apa yang dikatakn laki-laki itu, dia tidak boleh egois dia harus memikirkan orang di sekitarnya juga, terutama Anaknya. Jika dia memang memilih untuk pergi, maka setidaknya ia harus menyelesaikan masalahnya dulu dengan Chunghee


“Nunna” panggil Kwon Sun saat mendapati Karina melamun


“Ye?” jawab Karina denga sedikit terkejut


“Gweanchana?” Tanya Kwon Sun memastikan


Karina tersenyum “ne, nan gweanchana. Gomawo Kwon Sun-ah, aku akan mengikuti saranmu. Aku akan bicarakan ini baik-baik dengan Chunghee. Dan untuk keputusanku, aku akan tetap meninggalkan kota ini, aku akan tetap membesarkan Anakku di Desa, dan kalau pun nanti aku pergi, aku akan mengajak satuorang untuk menemaniku”


Kwon Sun mengangguk “Arraseo, aku mengerti dan aku menghargai keptusanmu Nunna. Kalaupun kau ingin pergi maka pergilah, dan ingatlah bahwa akau akan selalu ada disini disampingmu untuk mendukungmu”


Karina kembali tersenyum,ia kemudian memeuk Kwon Sun sembari berbisik “Gomawo Kwon Sun-ah, Gomawo”


.


.


.


Tbc


See you next Chapture😊