Just Us

Just Us
Chap 72



Chunghee kembali ke apartemen Karina ditangannya ia membawa sebuah paperbag berisi makanan yang Karina pesan


"Karina-ya, aku sudah sampai"  ujar Chunghee, beberapa saat tidak mendapat jawaban laki-laki itu meletakkan paperbag tersebut kemudian mencari dimana keberadaan kekasihnya


Tujuan pertamanya adalah kamar gadis cantik itu tentu saja, ia membuka pintu kamar dengan perlahan, ia edarkan pandangannya, dan saat mendapati sosok Karina sedang berdiri di balkon Kamar, dengan segera ia menghampirinya


"Changiya, apa yang kau lakukan disini? Disini..." ucapan Chunghee terhenti ketika ia mendapat perintah dari Karina untuk diam, laki-laki itu mengangguk kemudian  berjalan menghampiri Karina. Ia layangkan sebuah kecupan pada kening gadis yang sangat ia cintai itu. Setelahnya ia menuju dapur untuk menyiapkan makan malam


Beberapa saat kemudian Karina menyusul Chunghee menuju Dapur, begitu sampai ia peluk tubuh kekasihnya itu dari belakang


"Apa yang sedang kau lakukan?" Tanya Karina


"Aku sedang menghangatkan makanan yang kau pesan tadi" ujar Chunghee


Karina menganggukkan kepala dan berdehem untuk menjawab Chunghee


"Siapa yang menelfon?" Tanya Chunghee dengan tangan yang sibuk memindahkan makanan ke piring


Karina menghela nafas, gadis itu kemudian melepas pelukan pada Chunghee, ia duduk pada meja makan. Di belakangnya Chunghee menyusul dengan membawa dua piring berisi makan malam mereka


"Kau tahu..." ucapan Karina dipotong oleh Chunghee


"Makanlah dulu, baru setelahnya aku akan mendengarkan ceritamu" ujar Chunghee


Karina mengangguk pasrah, mereka kemudian menikmati makan malam itu dengan hikmat.


Setelah selesai makan malam, kini mereka duduk di ruang tengah untuk menyaksikan drama yang Karina mau


"Jadi siapa tadi?" Tanya Chunghee memulai obrolan


"Eoh?" Tanya Karina tidak mengerti


Chunghee terkekeh gemas mendapati expresi Karina, "yang menelfonmu tadi, siapa dia?"


Karina menegakkan punggungnya, ia kemudian menghadap Chunghee, begitupun dengan Chunghee laki-laki itu juga menghadap Karina, ia siap untuk mendengarkan cerita dari Karina


"Dia temanku, teman baru lebih tepatnya. Kau ingatkan beberapa waktu yang lalu aku sempat ingin mengenalkannya padamu?" Tanya Karina


Chunghee mengangguk menjawab pertanyaan tersebut "Wae?" Lanjutnya


"Tadi dia menangis sambil menelfonku, dia bilang baru saja ditolak oleh laki-laki yang dijodohkan dengannya. Dia mengatakan kalau laki-laki itu sudah mempunyai kekasih dan dia tidak bisa meninggalkan kekasihnya. Gila bukan" ujar Karina


Chunghee mengernyit mendengar cerita Karina, ia merasa dejavu, ini seperti kejadian yang ia dan Eunso alami tadi. Tapi tidak mungkin bukan kalau teman baru yang Karina maksud adalah Eunso. Sepertinya ia harus memastikan sesuatu pada Karina


"Lalu bagaimana dia sekarang?" Tanya Chunghee penasaran


"Mungkin masih di restoran, beruntung ruangan yang disewa VIP jadi tidak terlalu banyak orang" jelas Karina


Chunghee semakin merasa penasaran, ia kembali bertanya pada Karina "Siapa nama gadis itu Changiya?"


"Dia...."


Dddddrrrrtttt  Dddddrrrtttt


Getaran ponsel Chunghee menghentikan ucapan Karina. Chunghee mengambil ponselnya, begitu mendapati nama Mina disana, segera ia mengangkatnya


"Yeobseyo"


"Nde, aku akan segera kesana, tunggu sebentar" Setelahnya panggilan terputus


Karina mengernyitkan dahi, ia merasa ada yang tidak beres sedang terjadi "apa yang terjadi?" Tanyanya


"Ada pasien darurat, dan Mina Nunna memintaku untuk membantunya. Apa kau tidak apa aku tinggal sendiri?"


Karina tersenyum "aku sudah terbiasa sendiri, jadi itu tidak masalah. Yang terpenting sekarang adalah, segeralah pergi sebelum pasien tersebut semakin parah"


Chunghee mengangguk, ia kemudian berdiri yang diikuti oleh Karina. Ia layangkan kecupan sayang pasa kening Karina sebelum pergi


...*** ...


Beberapa hari telah terlewati setelah pertemuannya dengan Eunso, dan selama itu pula Ayahnya tidak lagi menghubunginya. Ia merasa aneh sebenarnya dengan hal tersebut, tapi sudahlah mungkin Ayahnya sudah menyerah untuk menjodohkannya, atau jangan-jangan Eunso sudah mengatakan pada Ayahnya? Entahlah yang jelas sekarang ia merasa lebih tenang


Sebenarnya ia enggan pergi tapi, ia juga merasa penasaran dengan apa yang ingin Ayahnya sampaikan. Akhirnya dengan berat hati ia mengiyakan permintaan tersebut.


Chunghee memarkirkan mobilnya di halaman mansion, sebelum keluar dia mengambil nafas dalam meyakinkan dirinya bahwa semua akan baik-baik saja. Setelah dirasa cukup dia keluar dari mobil dan melangkah memasuki mansion mewah itu


Bungkukan sopan ia dapat dari maid dan guard dari Ayahnya. Ia dibimbing menuju ruang makan, dimana disana sudah ada Ayahnya dengan dua orang lainnya, ia tahu siapa mereka. Wanita paruh baya itu adalah istri Ayahnya, dan laki-laki yang paling muda disana adalah anak dari Ayahnya atau secara harfiah dia adalah adik tirinya


Hatinya mencibir, bagaimana bisa Ayahnya melakukan ini padanya? Apa laki-laki yang berusia lebih dari setengah abad itu berniat memamerkan keluarganya? Cih, menyedihkan batin Chunghee


"Aboji" sapanya


Suara Chunghee mengalihkan atensi ketiga orang disana


"Eoh kau sudah datang, duduklah kita makan bersama" ujar Yoo Joon


"Nde" dengan terpaksa Chunghee melangah menuju meja makan


"Bagaimana Kabarmu, apa pekerjaan di rumah sakit begitu menyita waktumu?"  Tanya satu-satunya wanita disana


"Nde" hanya itu yang Chunghee katakan, dia bahkan tidak menatap wanita tersebut


Acara makan malam pun dimulai, dengan enggan Chunghee menyendok makan malamnya. Belum sempat makanan itu masuk kemulutnya, Tuan Park lebih dulu berujar


"Aku dengar kau meminta Eunso membatalkan pernihakan kalian" ujar Yoo Joon


Chunghee urung menyuapkan makanannya, ia meletakkan kembali sendoknya, "nde Aboji"


"Wae? Apa karena gadis itu?" Tanya Yoo Joon


"Nde" jawab Chunghee dengan mantap dan tegas


Yoo Joon terkekeh "jadi benar karena gadis murahan itu. Apa bagusnya dia? Dia hanyalah seorang gadis dari keluarga biasa yang beruntung berteman dengan pengusaha muda di negeri ini, gadis kurang kasih sayang yang hanya menjadi benalu bagi sekitarnya. Mantan Dokter residen yang lebih memilih membuka cafe dari pada menjadi seorang dokter. Ck benar-benar gadis bodoh"


"Aboji cukup" ujar Chunghee dengan nada dingin


"Wae? aku benar bukan, ah aku dengar dia juga berada disatu gedung yang sama denganmu. Apa kau sering menginap disana? Apa kalian sering melakukannya? Apa dia senik..."


"CUKUP, aku bilang cukup. Jangan pernah mengatakan hal buruk tentang kekasihku, kau tidak mengenal dia dan kau tidak tahu apa-apa tentang dia. Berhenti mengatakan kebohongan tentang dirinya. Urusanmu denganku bukan dengannya, jadi berhenti memata-matainya. Kau tidak berhak ikut campur urusanku. Siap kau hingga berani ikut campur urusan pribadiku" ujar Chunghee dengan mata yang menyorot begitu tajam pada Ayahnya


"Kau sadar apa yang baru kau katakan Park Chunghee? KAU BARU SAJA MELEWATI BATASAN PADA AYAHMU SENDIRI. Dimana sopan santumu hah. Apa begini hasil didikan dari Eommamu?" Ujar Yoo Joon sama tegasnya


"Jangan pernah melibatkan Eomma dalam pembicaraan kita. Kau tak berhak untuk menyebut MANTAN ISTRIMU itu disaat ada wanita lain yang kau sebut sebagai istri. Kau bilang batasan? Batasan mana yang kau maksut? Batasan kesopanan antara anak dan ayah? Cih, lucu sekali... aku ingatkan jika anda lupa Tuan Park, setelah kau menceraikan Eommaku, kau mengatakan bahwa kau tidak memiliki hubungan apapun lagi dengan kami, kau bilang aku bukan lagi anakmu. Sedari dulu aku selalu bertanya-tanya, kenapa Aboji meninggalkan kami? Kenapa dia lebih memilih wanita lain? Apa kesalahan kami? Lalu sebuah kenyataan aku dapatkan, saat itu aku melihat sendiri Ayahku mendaftarkan PUTRA nya di sekolah yang sama denganku. Dia terlihat begitu menyayangi PUTRA nya itu, dia juga terlihat begitu mencintai ISTRI nya. Lalu semakin hari aku semakin melihat pemberitaan tentang bagaimana bahagianya keluarga AYAHKU, mereka selalu berlibur ke luar negeri, menghadiri event ternama, bahkan wartawan menyorot harta kekayaan mereka. Dari situ aku dapat mengambil satu kesimpulan bahwa, pantas saja Aboji meninggalkan Eomma. Eomma hanyalah wanita biasa yang tidak berpendidikan, Eomma hanyalah wanita yang terlahir dari keluarga sederhana, Eomma hanyalah seorang wanita lugu yang dengan bodohnya mencintai seorang laki-laki berengsek hingga akhir hayatnya, Eomma han..." ucapan Chunghee terhenti ketika sebuah tamparan mendarat dipipinya. Laki-laki yang menjabat sebagai Dokter itu terkekeh


"Wae? Kenapa kau menamparku? Aku benar bukan, lalu kenapa kau marah" lanjut Chunghee


"Kau.. kau benar-benar anak tidak tahu diri, seharusnya kau merasa beruntung lahir dengan marga PARK di depanmu, kau seharusnya berterima kasih aku masih mau mengakuimu sebagai anakku" ujar Yoo Joon


"AKU TIDAK MEMINTANYA. Aku tidak pernah meminta terlahir sebagai anakmu, aku tidak pernah berharap terlahir dari laki-laki gila harta sepertimu. Kalau bisa aku bahkan tidak sudi memiliki darah yang sama denganmu, dan satu yang perlu kau ingat namaku SON CHUNGHEE." Balas Chunghee dengan nafas terenggah


"Kurang ajar" Yoo Joon baru saja akan menyerang putranya itu dengan pukulan sebelum istrinya mencegah, tapi tentu saja tenaga wanita itu tidak bisa menahannya, hingga akhirnya Kwon Sun yang tak lain adalah adik tiri Chunghee mencegah dan memeluk tubuh Ayahnya


"Hyung pulanglah, sebelum semuanya menjadi semakin keruh. Aku akan mencoba menenangkan Aboji" ujar Kwon Sun


Chunghee berdecak "aku bukan Hyungmu, berhenti memanggilku seperti itu. Aku tidak sudi memiliki ikatan apapun dengan keluarga ini" setelah mengatakan hal tersebut Chunghee berjalan keluar meninggalakan Mansion


"Anak kurang ajar" ujar Yoo Joon, laki-laki itu melepas pelukan dari anak keduannya. Tanpa mengatakan apapun dia berjalan memasuki ruang kerjanya, meninggalkan istri serta anaknya


"Kwon Sun..." lirih Yuri, yang tak lain adalah istri Yoo Joon


"Aku pergi ke kamar, Eomma lanjutkan makan malamnya" ujar Kwon Sun, ia berjalan begitu saja meninggalkan ibunya yang mulai terisak


"Mianhae.." gumam Yuri disela isakannya


.


.


.


TBC