Just Us

Just Us
Chap 28



"Daejung!!" Pekik Karina


"Mwo?" Kaget seorang dokter yang berdiri disamping Karina


Karina mendekat pada ranjang yang Daejung tempati


"Biar aku yang melakukannya" ujar Karina


Tanpa aba-aba, gadis itu naik keatas ranjang dan mulai memompa dada Daejung sekuat tenaga, gadis itu menekan dada Daejung berulang-ulang


"Daejung-ah jeball" gumam gadis itu disela kegiatannya melakukan prosedur CPR. Sesaat gadis itu berhenti lalu memeriksa denyut nadi Daejung. Nafasnya terengah-engah tapi dia tetap melanjutkannya, menekan dada Daejung dengan irama sama seperti yang profesornya ajarkan


"Karina songsaenim! Cukup" ujar dokter tadi


Karina tidak menggubrisnya, gadis itu terus memompa dada Daejung. Butiran keringat mulai membasahi keningnya, begitu pun dengan air matanya yang perlahan mulai membanjiri pipi putihnya


"Andwae Daejung-ah..... andwae" lirih Karina


Beberapa dokter dan perawat disana membujuk Karina untuk menghentikan tindakannya itu. Tapi memang dasarnya Karina seorang gadis yang keras kepala, dia tetap melakukan prosedur CPR meski sudah terlihat jelas kalau gadis itu sudah mulai kelelahan.


Chunghee dan Mina berlari memasuki IGD setelah mendengar kabar bahwa Daejung menjadi salah satu korban,dan Karina yang sedari tadi terus mencoba mengembalikan Daejung.


Tadi Chunghee dan Mina, harus pergi meninggalkan IGD sebelum pasien kecelakaan datang, mereka harus memeriksa salah satu pasien yang mengalami sedikit masalah setelah melakukan prosedur pemasangan ring pada jantungnya


Chunghee menghampiri Karina, Laki-laki itu mengangkat tubuh Karina dan menurunkan gadis itu meski Karina mencoba memberontak


"Biar aku yang menggantikanmu Karina!" Ujar Chunghee


laki-laki itu lalu mengganti tugas Karina untuk menekan dada Daejung. Chunghee terus memompa dada Daejung, dalam hati laki-laki itu meminta pada Tuhan agar DIA mau berbaik hati menyelamatkan Daejung


"Daejung-ah!" panggil Chunghee


Karina terduduk dilantai, gadis itu menangis sejadi-jadinya. Dia sangat terkejut dengan semua ini, padahal tadi baru saja mereka bertukar pesan dan mengatakan akan makan malam bersama, tapi kini semuanya musnah seketika saat dia melihat Daejung terbujur diatas brankar dengan pakaian bersimbah darah


"Dia kembali!" Seru seorang perawat yang memeriksa nadi Daejung


Mendengar hal tersebut, Karina berdiri dia gapai tangan Daejung


"Daejung-ah" panggilnya


Chunghee turun dari ranjang tersebut dan berdiri disamping Karina, dia peluk gadis itu


"Chunghee-ah...." gumam Karina gadis itu menyembunyikan wajahnya pada dada Chunghee


"Gweanchana Karina-ya Daejung pasti selamat, dia laki-laki yang kuat. Aku yakin dia pasti bisa bertahan. Dia tidak akan mungkin meninggalkan kita secepat ini" ujar Chunghee, laki-laki itu masih setia mengusap punggung Karina


.


.


.


Daejung baru saja dipindahkan keruang rawatnya. Sedari tadi Karina selalu menemani laki-laki itu. Berbagai alat untuk menunjang kehidupan Daejung sudah terpasang, beberapa luka ditubuh laki-laki itu juga sudah di perban.


Karina berdiri disamping ranjang, disebelahnya Chunghee masih setia mendampingi Karina. Tangan laki-laki itu merangkul bahu sempit Karina, sesekali laki-laki itu juga mengusap lengan Karina mencoba memberi kekuatan pada sahabatnya itu.


"Chunghee-ah.... dia pasti kesakitan" gumam Karina, airmata gadis itu kembali mengalir dari mata indahnya yang kini sudah mulai membengkak


Chunghee menghapus airmata Karina, dia rengkuh tubuh Karina kedalam dekapannya. Dia ulurkan tangannya untuk mengusap rambut Karina. Sekali lagi dia biarkan Karina menumpahkan kesediaannya di dalam dekapannya


"Uljima Karina-ya..." ujar Chunghee berusaha menenangkan Karina


"Daejung-ah!" Pekik Chinsun begitu dia memasuki ruangan sang adik


Karina melepas pelukannya pada Chunghee, gadis itu lalu menghampiri Chinsun. Dia peluk dari belakang kakak Daejung itu


"Eonni" lirih Karina


Chinsun memutar tubuhnya, wanita itu kemudian memeluk tubuh Karina. Kedua wanita itu larut dalam tangisan. Mereka tak menghiraukan ketiga laki-laki yang berdiri tak jauh dari mereka. Ketiganya hanya dapat menatap sedih Chinsun dan Karina


"Selamat malam" sapa seorang dokter yang baru saja masuk kedalam ruangan tersebut bersama dua orang yang mengikutinya


"Eoh Kang gyosungnim" jawab Chunghee


"Selamat malam Tuan Park" sapa Dokter tersebut pada ayah Daejung


"Selamat malam Gyosungnim. Bagaimana keadaan putra saya?" Tanya laki-laki yang sudah tidak muda lagi itu


"Daejung-ssi mengalami cedera pada otaknya, dan dengan berat hati kami sampaikan bahwa dia mengalami koma" jelas Kang gyosungnim


Tuan Park terduduk laki-laki itu memegang kepalanya yang tiba-tiba berdenyut nyeri setelah mendengar apa yang terjadi pada putranya itu. Baekhoo menghampiri ayah mertuanya itu, laki-laki tersebut mencoba memberikan kata-kata penenang pada ayah dari istrinya itu


Sedangkan Karina dan Chinsun mereka semakin terisak mendengar kabar yang memilukan itu. Chunghee menghampiri Karina, laki-laki itu kembali mengusap punggung Karina.


"Berapa lama Daejung akan mengalami koma ini gyosungnim?" Tanya Chunghee


"Kita belum bisa memastikannya, tapi kita akan memantau terus perkembangan dan respons yang diberikan Daejung-ssi. Kita harus terus berharap agar dia bisa melewati masa kritisnya ini. Kami berjanji akan melakukan yang terbaik untuk putra anda Tuan Park" ujar Dokter Kang


"Em gomawo gyosungnim" balas Tuan Park


Setelah selesai memberikan penjelasan pada keluarga Daejung, Kang gyosungnim dan rombongannya keluar dari ruangan tersebut.


Suasana hening masih menyelimuti ruangan Daejung, kelima orang disana masih engan untuk mengeluarkan suara. Hanya suara dari mesin pendeteksi jantung milik Daejung saja yang terdengar.


Chunghee menghela nafas berat, laki-laki itu menghadap Karina dan berujar


"Karina-ya, kau harus makan. Sedari tadi kau belum makan" ujar Chunghee


"Aniyo, aku tidak lapar Chunghee-ah" balas Karina dengan suara paraunya


"Meski tidak lapar kau harus tetap makan. Bagaimana kalau kau sakit? Siapa yang akan menjaga Daejung nanti. Apa kau mau Daejung marah pada kita eoh? Kau tau bukan, dia paling tidak suka kalau kau melewatkan makanmu" ujar Chunghee berusaha membujuk Karina


Karina menoleh pada Chunghee dengan mata basahnya. Chunghee sungguh membenci wajah Karina yang seperti ini, mata bengkak, hidung memerah dan jejak air mata yang masih jelas di pipinya. Hati Chunghee berdenyut nyeri melihat Karina yang seperti ini. Laki-laki itu mengarahkan tangannya untuk menangkup pipi Karina dan ibu jarinya ia gunakan untuk mengusap airmata Karina yang kembali leleh


Chunghee juga merasa sedih dan syok setelah mendengar tentang keadaan Daejung. Tapi dia harus berusaha menjadi kuat untuk Karina. Kini dia seorang yang harus menjaga Karina sampai Daejung terbangun dari komanya.


"Makan ya..." ujar Chunghee dengan nada yang begitu lembut


Dengan nafas yang masih tersengal, Karina mengangguk. Chunghee tersenyum, laki-laki itu membelai rambut Karina lalu berdiri untuk membeli makanan untuk Karina dan keluarga Daejung


"Ahjussi, saya akan keluar sebentar untuk membeli makanan" pamit Chunghee pada ayah Daejung


"Gomawo Chunghee-ah" balas Tuan Park dengan senyuman


Chunghee mengangguk lalu berjalan keluar ruangan, menyisakan keempat orang tersebut yang masih diselimuti kesedihan


.


.


.


TBC


See you next chapture....😊