
Setelah mengantar Karina ke caffe, Chunghee memutar kemudinya untuk menuju rumah sakit. Setelah sekitar dua puluh menit menempuh perjalanan, laki-laki itu akhirnya sampai di basment rumah sakit. Pagi ini laki-laki itu terlihat lebih segar dari pada biasanya, ia layangkan senyuman pada siapa saja yang berpapasan dengannya
"Selamat pagi Chunghee Euisa" sapa perawat Jung
Chunghee menoleh pada si pemanggil, lalu sebuah senyuman terbit di bibirnya
"Eoh perawat Jung" balasnya
"Apa kabarmu Euisa, lama kita tidak bertemu" tanya Perawat Jung
"Seperti yang kau lihat, aku sehat dan baik. Bagaimana denganmu?" Tanya Chunghee
"Ya aku dapat melihatnya, sepertinya musim semi sedang bermekaran dihatimu" jawab Perawat tersebut
Chunghee terkekeh, mereka kemudian memasuki lift yang sudah terbuka
"Ah bagaimana hubunganmu dengan kekasihmu? Apa sudah ada kemajuan?" Tanya Chunghee
Perawat Jung mengangkat tangannya, dimana disana tersemat sebuah cincin dijari manisnya. Mata Chunghee melebar, lalu beberapa detik kemudian laki-laki itu menepuk punda perawat Jung
"Selamat untukmu perawat Jung, aku turut bahagia. Kapan kalian akan menikah?" Tanya Chunghee
"Segera sebelum perutnya membesar" jawaban perawat tersebut
Lagi-lagi mata Chunghee membola mendengar jawaban dari teman dekatnya itu, ia sungguh tak habis pikir dengan apa yang terjadi pada perawat Jung dan kekasihnya. Tapi kalau diingat lagi, hal itu wajar terjadi di zaman sekarang ini, apa lagi kalau mengingat pergaulan anak muda jaman sekarang yang semakin bebas
"Wah kau memang sesuatu perawat Jung" ujar Chunghee
Keduannya kemudian tertawa bersama, mereka kemudia berpisah setelah keluar dari lift.
.
.
.
Chunghee baru saja selesai dengan operasinnya, laki-laki itu berjalan untuk menuju ruangannya. Ia membuka ponselnya berharap ada pesan dari sang kekasih. Ia menghentikan langkahnya ketika mendapati sebuah pesan dari orang yang selama ini jujur saja selalu ia hindari. Menghembuskan nafas kasar laki-laki itu membuka pesan dari ayahnya
From : Aboji
Aboji ada di Seoul. Ayo kita bertemu, ada hal yang harus kita bicarakan
Chunghee menghela nafasnya kasar setelah membaca pesan tersebut
Selama ini Chunghee memang selalu menghindari ayahnya. Hubungannya dengan sang ayah memang memburuk setelah ayahnya meceraikan ibunya demi untuk menikahi wanita lain yang dipilihkan keluargannya. Hanya untuk perluasan kerajaan bisnis mereka, ayahnya rela meninggalkan istri serta anaknya. Setelah menikah kembali, ayah dan istri barunya menetap di Jepang. Dan semenjak perceraian itu kesehatan ibu Chunghee semakin menurun dan akhirnya wanita itu terbaring di rumah sakit beberapa bulan sebelum akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya. Dan semenjak itu Chunghee tinggal dan besar bersama kakak dari ibu nya yaitu Son Gyosunim. Sejak saat itu pula ia menjauh dari keluarga ayahnya, ia berikrar dalam hati untuk tidak akan berhubungan lagi dengan keluarga ayahnya itu
Ddrrrttttt Ddddrrrrtttt
Getaran pada ponselnya mengalihkan perhatian Chunghee. Laki-laki itu tersenyum ketika mendapati siapa si pemanggil. Dengan segera ia angkat panggilan tersebut
"Yeobseyo Changiya" sapanya
"Eodiga?" Tanya Karina
"Aku masih di rumah sakit, baru saja selesai operasi. Kau sudah makan?" Tanya Chunghee
"Aku sedang makan, lalu aku teringat dirimu. Hah.... kau tahu aku kesepian makan sendiri"
Chunghee terkekeh "bukankah disana ada Jobin dan Jhony"
"Em, tapi mereka makan di meja lain. Mereka begitu berisik tadi jadi aku menjauh" jelas Karina
"Kalau begitu makan lah, aku akan menemanimu sampai selesai makan"
"Jinjja? Kau tidak makan?" Tanya Karina
"Em, aku makan nanti. Sekarang aku belum lapar"
"Yak! Kenapa kau menunda makanmu eoh? Kau selalu memaksa ku untuk selalu makan tepat waktu, tapi sekarang kau sendiri justru mengabaikannya. Aku tahu kau pasti berbohongkan, yak Chunghee-ah aku tahu bagaimana sibuk nya rumah sakit, dan aku juga tahu jam makan disana. Chunghee-ah walau kau tidak lapar kau juga harus tetap makan, ingat sekarang ada aku yang harus kau jaga. Jadi jangan sakit, aku tidak mau melihatmu sakit karena kau mengabaikan pola makanmu"
Hati Chunghee menghangat mendengar kekhawatiran Karina padanya. Karina benar, sekarang dia harus menjaga Karina seorang diri, kalau dulu ada Daejung yang membantunya kali ini hanya dia seorang yang melakukannya.
"Chunghee-ah, kau mendengarku? Yak Chunghee"
Chunghee tersadar dari lamunannya
"Nde, ah mianhe. Geurae setelah ini aku akan makan" jawab Chunghee
"Bagus lah, awas saja kalau kau bohong aku tidak akan membukakan pintu untukmu" ancam Karina
Chunghee terkekeh "aku tidak akan berbohong, mana mungkin aku akan membohongi kekasihku sendiri. Sekarang lanjutkan makan mu dan aku akan berjalan ke kantin"
"Molla, bukankah semalam kau meminta anak kembar dari mereka? Jadi aku pikir mungkin sekarang mereka sedang berusaha mengabulkannya" jawab kekehan diakhir kalimatnya
"Ah kau benar juga, aku harap mereka segera mendapatkannya"
Chunghee mengamini apa yang Karina harapkan. Obrolan mereka berlangsung sampai jam istirahat Chunghee usai
.
.
.
Chunghee baru saja memasuki mobilnya, laki-laku itu memasang sabuk pengaman. Ketika dia akan menekan pedal gas nya, laki-laki urung melakukannya karena sebuah panggilan yang masuk
Aboji
Dengan perasaan engan laki-laki itu mengangkat panggilan tersebut
"Yeobseyo"
"Kau dimana?"
"Mobil, aku dalam perjalana pulang"
"Kenapa kau mengabikan pesan Aboji?"
"Aku sibuk"
"Sibuk dengan gadis itu? Siapa namanya Aboji lupa"
Chunghee menegang mendengar penuturan ayahnya, tangannya meremat kemudi dengan kuat
"Jangan mengganggunya" ujar Chunghee dingin
Terdengar kekehan dari seberang sana
"Ah...Karina benar bukan?"
"Apa yang Aboji inginkan?" Tanya Chunghee to the point
Laki-laki paruh baya diseberang sana tersenyum penuh kemenangan
"Temui Aboji sekarang. Aku akan mengirimkan alamat nya"
Setelah itu panggilan terputus, Chunghee memejamkan matanya. Laki-laki itu membenturkan kepalanya pada kemudi, pikirannya melalang buana, membayangkan apa yang kali ini akan ayahnya lakukan padanya. Masih segar dalam ingatannya ketika ia mendapati fakta bahwa ayah nya lah dalang dibalik perjodohan yang terjadi dengan Mijin, orang suruhannya memberitahu bahwa ayah Chunghee sendirilah yang menekan dan mengancam Mijin dan keluarga gadis itu agar Mijin mau mengakhiri hubungannya dengan Chunghee, dan menerima perjodohan tersebut
Getaran dari ponselnya, menarik kembali Chunghee dari ingatan tentang masa lalunya. Ia buka pesan tersebut yang berisikan alamat yang dikirimkan ayahnya. Dengan perasaan marah, laki-laki itu memacu mobilnya dengan cepat agar bisa segera sampai
Begitu sampai tujuan, Chunghee langsung menuju ruang VIP dimana disana ayahnya menunggu. Dengan nafas memburu, Chunghee menghampiri ayahnya yang duduk membelakangi dirinya
"Aboji" panggilnya
Laki-laki paruh baya itu menoleh pada putranya, ia bangkit lalu memeluk tubuh putra semata wayangnya itu. Chunghee tidak membalas pelukan tersebut, hatinya terlalu marah dan engan untuk membalas pelukan tersebut. Yoo joon yang tak lain adalah ayah dari Chunghee tertawa hambar, laki-laki paru baya itu kemudian melepas pelukannya
"Bagaimana kabarmu, lama kita tidak bertemu" tanya Yoo Joon
"Langsung ke intinya saja, aku tidak punya banyak waktu Aboji" jawab Chunghee
Yoo Joon kembali terkekeh mendengar jawaban dari putranya
"Duduklah dulu baru aku akan mengatakannya" perintah Yoo Joon
Dengan mata yang masih menatap ayahnya, Chunghee duduk pada kursi yang berada didepan ayahnya
"Tinggalkan gadis itu, dan menikahlah denga gadis yang sudah Aboji pilihkan" ujar Yoo Joon dengan tangan memotong daging steak yang ada didepannya
Tangan Chunghee terkepal erat mendengar ucapan sang ayah, darahnya mendidih mendengar ucapan sang ayah
.
.
.
TBC
See you next chapture...😊