Just Us

Just Us
Chap 79



Waktu terus berjalan, dua minggu sudah terlewati begitu saja, Kwon Sun dan Karina semakin dekat, dekat dalam artian atasan dan karyawan, tidak ada lagi percakapan canggung yang terjadi. Setiap Harinya Kwon Sun akan pulang dan berangkat menggunakan transportasi umum, hal itu ia lakukan untuk mendukung perannya sebagai seorang anak dari Maid. Karena hal tersebut adik dari Chunghee itu harus pulang larut karena harus menunggu bus. Seperti malam ini, pukul sembilan dia baru saja memasuki rumah


"Dari mana saja kau?" Tanya Tuan Park


Kwon Sun berhenti, laki-laki itu menatap Ayahnya lalu membungkuk hormat


"Aku baru pulang bekerja" jawabanya


"Sebagai pelayan Caffe? Apa kau berniat untuk mempermalukan keluarga ini? Kau berniat membuatku malu" Ujar Tuan Park


"Aniyo Aboji"


"Lalu kenapa kau bekerja di caffe itu? Keluar dari Caffe itu sebelum orang lain mengetahuinya" perintah Tuan Park


Kwon Sun mendongak "aku tidak bisa Aboji"


"Wae?" Tanya Tuan Park


Kwon Sun terdiam, dia tidak bisa memberikan jawaban atas pertanyaan itu


"Kau diam, jawab saat aku bertanya Park Kwon Sun" titah Tuan Park dengan nada mulai meninggi


"Aku tidak bisa keluar dari pekerjaanku. Dan soal orang lain yang akan mengetahuinya, akan aku pastikan mereka tidak mengetahui siapa diriku, akan aku pastikan mereka tidakĀ  mengetahui kalau aku ini anak dari Park Yoo Joon, sama seperti yang selama ini aku lakukan" ujar Kwon Sun, setelahnya laki-laki itu membungkuk sebentar dan berjalan menaiki tangga untuk sampai di kamarnya


Tuan Park menoleh pada Istrinya yang sedari tadi diam menyaksikan dia dan putranya


"Katakan padanya untuk keluar dari Caffe tersebut, jika dia memang tidak mau keluar maka keluarlah dari rumah ini" ujar Tuan Park, setelahnya laki-laki itu pergi menuju ruang kerjanya


Kwon Sun masih disana, ia masih berdiri di ujung anak tangga, ia jelas mendengar apa yang Ayahnya katakan. Ia memejamkan matanya, rasa sesak itu kembali hadir.


"Kwon Sun-ah" panggil Nyonya Park


Kwon Sun tak bergeming, bahkan saat Ibunya itu mengusap lengannya ia tetap diam


"Aku akan pergi Eomma, aku akan keluar dari rumah ini" putus Kwon Sun


Nyonya Park menggeleng ribut "andwae, andwae Kwon Sun-ah jangan lakukan itu. Jebal Eomma mohon"


"Mianhae Eomma keputusanku sudah bulat. Benar apa yang dikatakan Aboji, sebelum orang lain tahu bahwa aku ini adalah anak Park Yoo Joon lebih baik aku pergi, aku tidak ingin kalian malu memiliki anak sepertiku, jadi mari kita akhiri ini semua sekarang Eomma. Aku akan pergi dari rumah ini, aku akan menjalani hidupku sama seperti dulu, hidup sebagai anak yang tidak pernah mendapat pengakuan dari Ayahnya" ujar Kwon Sun


Nyonya Park tergugu dalam tangisnya, hatinya begitu hancur, Ibu mana yang tak hancur dan sakit mendengar putra kandungnya berkata demikian. Bahkan ucapan Kwon Sun seolah seperti garam yang sengaja ditaburkan pada luka yang menganggah, begitu perih dan menyakitkan. Selama ini Nyonya Park sudah cukup memendam rasa sakitnya akibat perlakuan Yoo Joon pada putranya, suaminya itu tidak pernah mengikut sertakan Kwon Sun pada setiap acara perusahaan ataupun acara lainnya, laki-laki itu tidak pernah mengenalkan Kwon Sun sebagai putranya. Orang-orang hanya mengenal Chunghee sebagai putra Yoo joon. Jika pun Kwon Sun ikut, dia tidak akan pernah memperkenalkannya sebagai putra, dia akan bersikap seolah-olah mereka adalah orang asing. Kwon Sun tidak pernah berbuat salah pada Yoo Joon, seharusnya kalau laki-laki itu ingin membenci, maka seharusnya yang patut dibenci disini adalah dirinya bukan putranya yang tak tahu apa-apa


Kwon sun meninggalkan Ibunya yang kini masih tergugu dalam tangis, laki-laki itu sudah bertekat untuk tetap pergi dari rumah tersebut. Kalau Ayahnya saja tidak menginginkannya maka untuk apa dia masih berada di tempat tersebut. Kalau Ayahnya tidak pernah mengakuinya maka akan lebih baik jika mereka juga tidak lagi saling mengenal.


Beberapa saat kemudian Kwon Sun turun dengan membawa sebuah koper, melihat hal tersebut Yuri semakin menangis, wanita paruh baya itu berjalan mengikuti Kwon Sun


"Kwon Sun-ah jebal, jebal jangan tinggalkan Eomma. Kita bisa bicarakan ini baik-baik sayang, Eomma akan membujuk Aboji em, Eomma akan mengatakan kalau kau sudah keluar dari Caffe itu. Kwon Sun-ah jebal jangan tinggalkan Eomma" pinta Nyonya Park dengan suara yang begitu nelangsa


"Berhenti disitu" Suara Tuan Park mengintrupsi


Nyonya Park dan Kwon Sun berhenti, mendapati suaminya berada disana, Yuri segera mendekati Yoo Joon "Yeobo, tolong hentikan Kwon Sun, katakan padanya untuk tidak meninggalakn Eommanya ini" pinta Yuri


"Kau pikir kau bisa bertahan hidup di luar sana tanpa bauntuanku? Kau pikir kau bisa bertahan hidup tanya embel-embel Park di depan namamu? Pikirkan dua kali sebelum bertindak, jangan bertindak seolah kau bisa melakukannya sendiri PARK Kwon Sun. Di luar sana kau bukanlah siapa-siapa tanpa adanya campur tangan dariku PARK Kwon Sun" ujar Tuan Park dengan menekankan kata Park di akhir kalimatnya


Perkataan Yoo Joon itu bukannya menjadi peredam emosi Kwon Sun, namun justru semakin menyulut api emosi yang kini sedang menguasai Kwon Sun


"Aku bisa, dan bukannya selama ini aku hidup seleperti itu? Hidup tanpa merga di depan namaku. Apa Aboji lupa bahwa, Aboji tidak pernah mengakuiku sebagai putra? Aku selalu ingin bertanya satu hal pada Aboji sejak dulu..." Kwon Sun menjeda ucapannya, laki-laki itu mencoba untuk mengatakan kenyataan pahit yang selama ini ia pendam


"Apa karen aku ini anak haram yang terlahir dari istri Aboji? Apa Aboji malu memiliki akan sepertiku? Aboji mau mengakuiku sebagai putra hanya sampai usiaku memasuki sekolah dasar, lalu selebihnya Aboji tidak pernah lagi mau mengakuiku, Aboji selalu bersikap seolah kita adalah orang asing yang tidak pernah saling mengenal. Selama ini aku diam karena aku sadar siapa diriku, aku selalu diam ketika mengetahui bahwa Aboji lebih menyayangi Hyung dari pada diriku. Aboji tahu, aku selalu meras iri pada Hyung, bagaimana bisa Aboji lebih menyayanginya dari pada aku?padahal jelas aku yang selalu ada di samping Aboji. Lalu aku sadar bahwa.....aku hanyalah anak haram dari istri Aboji, aku tidak berhak menuntut apapun dari Aboji. Tapi kali ini tidak lagi. Aku akan pergi, aku akan bersikap sebagaimana mestinya, aku akan berpura-pura bahwa kita tidak saling mengenal dan aku akan meninggalkan marga Park mulai saat ini" Kwon Sun akhirnya meluapkan apa yang selama ini ia pendam


Darah Yoo Joon mendidih, emosinya tersulut, dengan langkah tegas laki-laki itu menghampiri Kwon Sun dan melayangkan satu pukulan tepat di pipi putra keduannya itu. Yuri menjerit histeris melihat hal tersebut, baru saja ia mengetahui bahwa putranya ternyata mengetahui rahasia yang selama ini ia simpan, kini ia kembali dikejutkan dengan apa yang suaminya lakukan. Wanita paruh baya itu segera berlari menghampiri putranya yang kini tersungkur, ia peluk tubuh putranya


"Anak kurang ajar. Beginikah caramu membalas kebaikanku? Kau seharusnya berterima kasih atas semua yang telah kau dapatkan Park Kwon Sun, aku memberikan semua yang terbaik untukmu, rumah mewah, fasilitas mewah, pendidikan terbaik telah aku berikan padamu. Kau bahkan selalu mendapatkan apa yang kau inginkan, aku selalu memberikan fasilitas yang terbaik padamu, hal yang bahkan aku tidak pernah memberikannya pada Chunghee. Lalu sekarang beginikah balasanmu, beginikah kau membalasku? Dimana kau letakkan otakmu hah?" Ujar Yoo Joon dengan suara meninggi di akhir kalimatnya


Kwon Sun terdiam, laki-laki itu sebenarnya ingin menjawab tetapi, bisikan dari Ibunya menghentikan semuannya


"Jangan menjawab Kwon Sun-ah jebal, jangan sulut lagi emosi Abojimu" bisik Yuri disela tangisnya


"Kalau kau memang ingin pergi, pergilah dari rumah ini tanpa membawa apapun selain yang kau pakai. Yuri masuk sekarang, biarkan dia pergi, dia merasa sudah hebat dengan pergi dari rumah ini" ujar Yoo Joon, setelahnya dia pergi meninggalkan anak dan istrinya


"Andwae Yeobo" ujar Yuri wanita itu menoleh pada suaminya, kemudian kembali menatap Kwon Sun


"Andwae Kwon Sun-ah, jebal jangan pergi jangan tinggalkan Eomma. Kau pasti sangat membenci Eomma,Kwon Sun-ah bencilah Eomma, tapi tolong jangan tinggalkan Eomma, Minhae, karena kesalahan Eomma kau harus menerima semua ini, mianhae Kwon Sun-ah" ujar Yuri dengan penuh penyesalan


"Any Eomma, uljima aku tidak pernah membenci Eomma, aku sangat menyayangi Eomma. Tapi kali ini aku harus pergi Eomma, aku sudah tidak bisa lagi berada disini, anggap saja ini yang terbaik untukku. Eomma tenang saja kita masih bisa bertemu, Eomma dapat mengunjungiku saat aku bekerja. Jadi aku mohon biarkan aku pergi kali ini em" ujar Kwon Sun dengan mengusap air mata Ibunya


"Berjanjilah kau akan baik-baik saja, berjanjilah kalau kau akan selalu menghungungi Eomma, berjanjilah kalau kau akan selalu menemui Eomma" ujar Yuri, wanita itu masih belum bisa menerima, tapi mungkin yang Kwon Sun lakukan ada benarnya, mungkin putranya itu akan lebih bahagia kalau dia keluar dari rumah ini


"Aku berjanji Eomma, aku akan kembali saat aku bisa membuktikan pada Aboji bahwa aku bisa tanpa bantuannya. Jadi sekarang Eomma tenang saja, doakan yang terbaik untukku em"


Yuri mengangguk "Eomma akan selalu mendoakanmu Kwon Sun-ah. Saranghae nomu nomu saranghae uri Kwon Sun"


Yuri memeluk putranya dengan begitu erat, ia masih terisak dalam tangis, ia juga terus menggumamkan perasaan sayangnya pada sang putra.


.


.


.


TBC


See you next chapture😊