
Karina dan Chunghee baru saja selesai memeriksa pasien, mereka duduk berdua di ruangan tersebut. Malam ini mereka mendapat jadwal jaga malam bersama.
Dalam keheningan tersebut, tiba-tiba saja Karina teringat sesuatu. Gadis itu menyimpan ponselnya lalu menatap Chunghee yang masih asik dengan ponselnya
"Chunghee-ah" panggil Karina
Chunghee menoleh pada Karina, laki-laki itu lalu meletakkan ponselnya diatas meja
"Wae?" Jawab Chunghee
"Apa.... terjadi sesuatu pada hubunganmu dan Mijin?" Tanya Karina dengan penuh kehati-hatian
"Hubungan kami sudah berakhir" jawab Chunghee
"Ye? Bagaimana bisa?" Karina sungguh terkejut mendengar jawaban Chunghee. Gadis itu lalu mendekatkan kursinya pada Chunghee
"Apa nya yang bagaimana? Ya begitu, aku dan Mijin putus" ujar Chunghee
"Maksudku bagaimana kalian bisa sampai putus? Bukankah selama ini hubungan kalian baik-baik saja. Lalu kenapa tiba-tiba kalian putus?" Tanya Karina
Chunghee menghela nafas berat
"Mijin dijodohkan dengan anak salah satu teman ayahnya" jawab Chunghee
"Mwo? Kenapa kau diam saja? Yak Chunghee-ah kalau kau mencintainya seharusnya kau bisa mempertahankannya. Bukan malah pergi ke Bar sampai mabuk seperti itu. Aish kau ini" cerca Karina dengan emosinya
"Aku memang mencintainya. Tapi mau bagaimana lagi, aku sudah tidak bisa melakukan apa-apa lagi sekarang, mereka akan menikah esok hari. Inginnya aku pergi kesana dan mencegah pernikahan itu. Tapi kalau aku melakukan itu, bagaimana dengan Mijin dan keluarganya. Aku memang mencintainya tapi aku juga tidak bisa egois dan membuatnya menjadi seorang anak yang durhaka, aku juga tidak mau membuat masalah untuk keluarga Mijin hanya karena keegoisan kami. Ini memang berat tapi mau bagaimana lagi, ini adalah takdir yang sudah Tuhan gariskan untuk kami" ujar Chunghee
Mata Karina berkaca-kaca mendengar ketegaran Chunghee. Dia tidak menyangka kalau sahabatnya itu bisa berpikir sedewasa itu, gadis itu berdiri lalu memeluk tubuh Chunghee. Awalnya Chunghee terkejut dengan tindakan Karina tapi setelahnya laki-laki itu berdiri dan membalas pelukan Karina
"Chunghee-ah... kau memang laki-laki yang baik. Aku bangga padamu, aku akan berdoa pada Tuhan agar Dia memberikan seorang gadis yang baik juga untukmu" ujar Karina disela tangisannya
Chunghee tersenyum, lalu dia usap punggung Karina
"Gomawo Karina-ya" jawabannya
'Perasaan sialan' umpat Chunghee dalam hati. Laki-laki itu mengumpati dirinya sendiri setelah dadanya kembali berdebar saat berpelukan dengan Karina seperti ini
Dering ponsel Karina, membuat pelukan Karina dan Chunghee terlepas. Dengan masih sesenggukan Karina mengambil ponselnya, gadis itu mengusap sisa airmata yang masih ada dipipinya. Setelah merasa nafasnya kembali normal Karina mengangkat panggilan telepon tersebut
"Ye-yeobseyo Daejung-ah" sapa Karina
"Wae? Kenapa kau menangis Karina? Apa ada yang menyakitimu? Katakan Karina kenapa kau menangis?" Tanya Daejung beruntun
"Ak-aku menangis karena Chunghee, di-dia baru saja putus dengan Mijin" jelas Karina dengan suaranya yang masih parau khas orang menangis
"Ye?" Tanya Daejung
Chunghee memutar malas bola matanya, mendengar Karina mengadu pada Daejung
"Karina nyalakan kameranya aku akan alihkan pada panggilan video" pinta Daejung
Karina pun mengangguk meski pun Daejung tidak dapat melihatnya. Setelahnya gadis itu menerima panggilan video dari Daejung. Gadis itu lalu meletakkan ponselnya pada meja, gadis itu menyangga ponselnya dengan botol minum yang ada disana
"Chunghee-ah eoddiga?" Tanya Daejung ketika tidak mendapati sahabatnya itu tidak ada disana
"Aku disini. Aku tidak mau didekat Karina, kau tau bukan kalau dia menangis pasti dia akan menjadikan pakaian kita sebagai usap ingusnya" jawab Chunghee
"Yak!" Pekik Karina
Daejung terkekeh diseberang sana.
Selama ini Chunghee lah yang menjadi penyambung lidah untuknya dan Karina. Ketika Karina mengabaikannya, maka Chunghee lah yang akan memberikan informasi pada Daejung tentang apa saja yang Karina lakukan. Dan selama itu pula hubungannya dan Chunghee menjadi semakin dekat, mereka sering berbagi cerita tentang pekerjaan mau pun tentang asmara,tapi untuk masalah putusnya Chunghee dan Mijin, dia baru mengetahuinya
"Bagaimana bisa hubungan kalian bisa berakhir?" Tanya Daejung
"Mijin dijodohkan oleh kedua orang tau nya. Dan tadi Chunghee bilang dia akan merelakannya, dia tidak ingin karena keegoisannya, keluarga Mijin mendapat masalah" jelas Karina
"Kau memang laki-laki hebat Chunghee-ah. Aku yakin pasti Tuhan sudah mempersiapkan seseorang yang spesial untukmu" ujar Daejung
"Aku harap juga begitu" balas Chunghee
"Daejung-ah" panggil Karina
"Em, wae?" Tanya Daejung
"Baekhwa kemarin meminta maaf lagi padaku" adu Karina pada Daejung
"Lalu bagaimana tanggapanmu?" Tanya Daejung
"Ak-aku belum menjawabnya" jawab Karina, gadis itu menunduk
"Tadi siang aku sudah mengatakan pada Karina untuk memaafkan Baekhwa. Kejadian itu sudah lama berlalu, aku tau dan melihat sendiri bagaimana penyesalan Baekhwa atas tindakannya pada Karina saat itu. Bukan maksudku ikut campur atau pun membela Baekhwa, tapi aku hanya ingin Karina melupakan semuanya. Aku tidak ingin dia terlarut dalam masa lalu yang menyakitkan itu" ujar Chunghee, laki-laki itu lalu mendekat dan duduk disamping Karina
"Benar apa yang dikatakan Chunghee, kau harus memaafkannya, dan lagi akan Sampai kapan kau terjebak dengan masa lalu itu Karina. Kalau kau belum bisa memaafkannya , kau bisa mencobanya dari sedikit Karina. Kau juga jangan selalu menghindari Baekhwa, sulit memang dan aku yakin hal itu pasti butuh waktu, tapi karina-ya aku yakin kau pasti bisa melakukannya" ujar Daejung
"Geurae, aku akan mencobanya" putus Karina
Daejung dan Chunghee tersenyum
"Kau pasti bisa Karina-ya, Hwaithing!" Ujar Chunghee memberi semangat
Karina tersenyum begitu pun dengan Daejung
"Ah Daejung-ah, apa kau jadi pulang besok?" Tanya Chunghee
"Tentu saja. Aku sudah tidak sabar untuk pulang, aku sangat merindukan kampung halamanku" jawab Daejung
"Aku yakin kepulanganmu itu bukan karena merindukan kampung halaman, kau pasti merindukan gadis menyebalkan ini kan. Dengar ya Daejung, setiap hari Karina selalu saja murung, dia mengatakan kalau dia sangat merindukanmu" ujar Chunghee
"Yak! Kau membuatku malu" pekik Karina. Gadis itu memukul lengan Chunghee
"Yak, yak kenapa kau memukulku. Aku kan hanya mengatakan yang sebenarnya" ujar Chunghee
"Aish dasar menyebalkan. Ah Daejung jam berapa kau akan sampai?" Tanya Karina setelah selesai melampiaskan kekesalannya pada Chunghee
"Aku mendapat penerbangan siang, jadi mungkin sekitar pukul dua aku sampai disana" jelas Daejung
Wajah karina berubah murung mendengar jawaban Daejung
"Wae? Kenapa wajahmu murung begitu?" Tanya Daejung
"Aku tidak bisa menjemputmu di bandara. Besok aku dan Chunghee mendapat shift siang" sesal Karina
"Gweanchana, aku bisa pulang sendiri. Setelah dari bandara, aku akan langsung menemui kalian. Kita makan bersama Eotte?" Bujuk Daejung pada Karina
"Tidak usah memaksakan diri Daejung-ah, kau pasti lelah. Beristirahatlah, besok setelah shift kami selesai, kami yang akan mendatangimu. Kita makan malam bersama" balas Chunghee
"Betul apa yang Chunghee katakan, kami yang akan datang ke apartemenmu, kita bisa makan malam bersama" ujar Karina
"Aniyo, aku tidak lelah. Aku baik-baik saja, dan lagi aku sudah sangat merindukan kalian. Aku yakin setelah kita bertemu pasti lelahku akan hilang" sanggah Daejung
"Terserah kau sajalah kalau begitu" putus Chunghee
Setelahnya mereka kembali berbincang ringan dengan berbagai candaan, kedua laki-laki itu juga terus menggoda Karina hingga gadis itu memekik kesal. Bahkan Karina hampir menangis karena saking kesalnya
.
.
Karina dan Chunghee, baru saja selesai makan dari kantin rumah sakit.
"Apa Daejung mengatakan dia sudah sampai mana?" Tanya Chunghee
"Tadi dia mengatakan sudah berada dibandara, dan dia mengatakan sedang menuju kemari" jawab Karina
"Laki-laki itu sangat bersemangat untuk bertemu denganmu. Sepertinya dia benar-benar merindukanmu Karina-ya" ujar Chunghee
Karina terkekeh, dan setelahnya terjadi obrolan ringan diantara mereka selama perjalanan menuju ke ruangan divisi mereka.
Baru saja mereka duduk di ruangannya, tiba-tiba saja pintu itu dibuka sedikit kasar hingga membuat kedua orang tersebut terlonjak kaget
BRAK!
"Eonni, Nunna" panggil Karina dan Chunghee bersamaan
"Kalian cepat ke IGD, sebentar lagi pasien kecelakaan akan datang. Palli!" Perintah Mina
"Nde" jawab Karina dan Chunghee bersamaan, mereka berdiri kemudian mengikuti Mina menuju IGD
Lima belas menit kemudian beberapa pasien yang mereka tunggu datang, suasana IGD yang tadinya sepi pun berubah menjadi gaduh ketika beberapa pasien masuk ke ruangan tersebut
"Kami sudah melakukan CPR, tapi masih belum ada respon dari pasien!" Ujar salah satu dokter yang menanganinya
Karina yang sedari tadi menunggu pun mendekati pasien tersebut, jantungnya berdebar begitu cepat, dadanya seperti dihantam palu begitu besar, begitu sakit setelah melihat siapa pasien tersebut. Bahkan lantai yang dipijaknya seperti runtuh seketika
"Daejung-ah" gumamnya
.
.
.
TBC
See you next chapture....😊