Just Us

Just Us
Chap 70



Karina dan Eunso masih disana, mereka masih betah berada disalah satu restoran yang sedari tadi mereka kunjungi. Mereka masih asik berbagi cerita, sesekali akan terdengar tawa dari kedua gadis itu. Panggilan masuk dari ponsel Karina menghentikan obrolan mereka. Karina mengambil ponselnya untuk melihat siapa yang menelfon, saat tahu siapa yang menelfonya, senyuman yang begitu manis terbit diwajah gadis cantik itu, hingga membuat Eunso mengernyit penasaran akan hal tersebut


"Yeobseyo" sapa Karina


"Eodiga?"


"Aku di salah satu pusat perbelanjaan"


"Dengan siapa?"


"Sendiri, tapi sekarang aku sedang bersama teman baruku"


Chunghee mengernyit mendengar Karina mengatakan teman baru


"Nuguya? Laki-laki atau perempuan?"


Karina terkiki geli mendengar pertanyaan dari Chunghee, tiba-tiba ia terpikir sebuah ide untuk menjahili kekasihnya itu


"Eemmm.... berjanjilah kau tidak akan marah kalau aku mengatakannya" ujar Karina


"Katakan"


"Berjanji dulu baru aku akan mengatakannya"


Menghela nafas Chunghee pun menjawabnya dengan sebuah gumaman


"Dia laki-laki dan... aku rasa aku menyukainya" ujar Karina


Chunghee terdiam beberapa saat "geurae, kalau kau memang menyukainya, maka aku akan merelakanmu untuknya. Apapun akan aku lakukan untuk kebahagiaanmu"


Karina merasa tersentuh dengan ucapan Chunghee, laki-laki itu bahkan rela melakukan apapun untuk kebahagiannya. Ia semakin jatuh cinta pada kekasihnya itu


Karina tersenyum, dan hal tersebut mengundang kernyitan pada dahi Eunso


"Wae?" Tanya Chunghee penasaran


"Changiya, aku rasa aku semakin jatuh cinta padamu, eottoke?" Rengek Karina


"Ssshhh kenapa juga kau rela melepasku untuk laki-laki lain? Apa kau sudah tidak mencintaiku lagi eoh?" Tanya Karina


"Kau bilang kau menyukai laki-laki itu, jadi aku merelakanmu untuknya. Karina-ya bukankah sudah kukatakan, kalau apapun yang membuatmu senang maka aku akan melakukannya, termasuk melepasmu untuk laki-laki yang kau cintai itu" jelas Chunghee


Karina semakin merona mendengar ucapan Chunghee "aku rasa pembicaraan kita cukup sampai disini dulu Tuan Park. Kau harus cepat sampai agar aku bisa segera mengenalkan teman baruku padamu"


Cunghee teesenyum di seberang sana, laki-laki itu membayangkan pasti sekarang wajah Karina sedang memerah seperti kepiting rebus


"Baiklah tunggu aku, sebentar lagi aku akan sampai" ujar Chunghee


"Eoh hati-hatilah mengemudi, aku menunggumu disini. Saranghae Changiya" balas Karina


Setelahnya panggilan tersebut terputus. Karina kembali meletakkan ponselnya, kening gadis tersebut berkerut ketika mendapati Eunso yang menatapnya dengan senyuman manis yang terpatri disana


"Wae?" Tanya Karina


"Ani, aku hanya merasa iri padamu. Mendengar percakapanmu tadi benar-benar membuatku iri akan hubungan kalian, sepertinya kekasihmu itu sangat mencintaimu" ujar Eunso


Karina tersenyum, dalam hati ia membenarkan ucapan Eunso tentang seberapa besar Chunghee mencintainya


"Aku benar-benar beruntung mendapatkan dia sebagai kekasihku" lanjut Karina


"Aku berharap semoga kelak, calon suamiku juga akan mencintaiku seperti kekasihmu mencintaimu Karina" harap Eunso


"Kau.. sudah mempunyai calon suami?" Tanya Karina dengan ekspresi terkejutnya yang sungguh mengemaskan


Eunso terkekeh, gadis itu menyesap kopinya sebentar "ya, Appa menjodohkanku dengan anak dari rekan bisnisnya. Sebenarnya dulu kami berteman akrab, karena memang Appa kami bersahabat sejak lama. Sejujurnya sejak dulu aku sudah menyukainya, saat itu sebenarnya aku baru saja akan mengungkapkan perasaanku padanya, tapi hal itu urung aku katakan karena keluarga kami pindah ke Jepang, jadi sampai sekarang dia belum tahu tentang perasaanku padanya" jelas Eunso


"Apa sekarang kau masih mencintainya?" Tanya Karina


" Tentu saja, saat Appa mengatakan kalau dia akan menjodohkanku dengannya, aku sangat bahagia, aku sungguh tidak sabar untuk kembali bertemu dengannya. Aku penasaran seperti apa dia sekarang? Apakah dia masih sehangat dan seperhatian dulu? Apakah tubuhnya masih berisi seperti dulu? Hah...aku tidak sabar untuk bertemu dengannya" jelas Eunso dengan binar kebahagian di matanya


"Bagaimana kalau dia sudah mempunyai kekasih?" Pertanyaan itu muncul begitu saja dari bibir Karina. Melihat perubahan dari ekspresi Eunso, Karina merutuki dirinya sendiri, bagaimana bisa ia keceplosan seperti itu


"Gweanchana, aku mengerti maksudmu Karina. Kalau hal itu terjadi, maka aku rela kalau harus menjadi nomor dua dalam hidupnya aku.."


Kini giliran Karina yang menyela ucapan Eunso " yak! Mana boleh seperti itu. Dengar Eunso-ya, kau harus memperjuangakan perasaanmu itu, kalau kau benar-benar mencintainya, maka kau harus menjadi satu-satunya milik laki-laki itu. Kau tidak boleh berbagi dengan wanita lain, kau mengerti itu"


Eunso lagi-lagi terkekeh, dia sungguh bersyukur karena bertemu dengan gadis seperti Karina "Karina-ya, asalkan dia selalu berada di sisiku, aku tidak masalah dan tidak keberatan kalau memang nanti aku harus berbagi dengan wanita lain"


Karina berdecih "dasar gadis gila, mau-maunya dia diduakan" gumam Karina, setelahny gadis itu menyesap kopinya


Eunso terkekeh mendengar umpatan Karina, gadis itu tidak keberatan dengan umpatan Karina. Mungkin menurut teman barunya itu, dia gila karena mau berbagi hati dengan wanita lain, tapi baginya, itu tak masalah asalkan dimata hukum dan agama laki-laki itu adalah suami sahnya.


.


.


.


Chunghee dan Karina baru saja memasuki apartemen Karina, gadis itu kini sudah membeli sebuah apartemen baru, tentu saja hal itu atas bujukan Chunghee dan Daejung, jadi dengan berat hati ia meninggalkan 'rumah atap gedung' nya dan kembali tinggal di apartemen.


Apartemen tersebut satu gedung dengan Chunghee, hanya saja unit mereka beda lantai.


Karina medudukkan diri di pantry, gadis itu baru saja membersihkan diri. Gadis itu menatap Chunghee yang sedang berkutat dengan masakannya


"Apa kau benar-benar lapar?" Tanya Karina


Chunghee menoleh sebentar untuk tersenyum pada Karina, setelahnya ia kembali sibuk membuat spagetinya


"Aku belum sempat makan siang tadi, dan saat aku menjemputmu aku berencana mengajakmu makan, tapi kau lebih dulu mengajakku pulang jadi, ya..." jelas Chunghee mengangkat kedua bahunya


Sebenarnya Karina berencana memperkenalkan Chunghee dengan  Eunso, tapi belum sempat hal tersebut terjadi Eunso lebih dulu pergi karena mobil yang menjemputnya sudah sampai. Sebelum pergi, gadis itu berjanji kalau lain waktu ia pasti akan menemui Karina dan kekasihnya itu


Karina berdiri dari duduknya, gadis itu memasuki pantry lalu ia peluk tubuh Chunghee dari belakang, kepalanya ia miringkan lalu mengintip Chunghee dari samping


"Mianhe Chunghee-ah kau pasti kelaparan" sesal Karina


Chunghee tersenyum "gwenchana, sekarang mari kita makan"


Karina menganguk, gadis itu kemudian duduk ditempat semula, ia tersenyum menyaksikan Chunghee yang menyiapkan makanan mereka. Setelah selesai, laki-laki tersebut kemudian duduk di sebelah Karina.


Disela acara makan malam tersebut, Karina menceritakan bagaimana ia bertemu dengan  Eunso, dan apa saja yang mereka obrolkan


"...itu gila bukan, bagaimana ia bisa berbagi hati dengan wanita lain. Ck, aku sungguh tidak habis pikir dengan apa yang gadis itu pikirkan" ujar Karina panjang lebar


Chunghee meletakkan alat makannya, laki-laki itu menatap lekat Karina, entah mengapa perasaanya tidak nyaman ketika mendengar cerita Karina


"Karina-ya, apa yang akan kau lakukan  kalau ada di posisi gadis itu?" Tanya Chunghee


"Tentu saja aku tidak akan membiarkannya, kau tahu bukan aku tidak suka berbagi. Apa yang sudah menjadi miliku, maka aku akan mempertahankannya apapun yang terjadi." Jelas Karina dengan menatap serius Chunghee


Chunghee terkekeh, ia usap lembut rambut kekasihnya itu "bagaimana kalau laki-laki yang gadis itu ceritakan itu adalah aku?"


Karina menghentikan kunyahannya, gadis itu kemudian mentap tajam pada Chunghee "apa maksudmu? Kenapa kau bertanya seperti itu? Apa kau laki-laki itu?"


"Aniyo, aku hanya ingini mengetahui jawabanmu saja, bagaimana kalau tiba-tiba aku dijodohkan dan aku harus menikah denga  gadis lain" sungguh hati Chunghee berdebar saat mengatakan hal tersebut, dadanya berdetak lebih cepat dari biasanya saat menantikan jawaban dari Karina. Bukan tanpa alasan dia menanyakan hal tersebut, ia mengatakannya karena ia harus tahu langkah apa yang harus ia ambil ketika suatu saat nati Karina tahu kalau dia sudah dijodohkan dengan gadis lain


Karina menatap dalam mata Chunghee "kalau hal tersebut terjadi, maka saat kau melangkah ke altar, maka saat itu juga terakhir kali kau melihatku"


jantung Chunghee seperti berhenti berdetak, nafasnya tercekat mendengar jawaban Karina


.


.


.


TBC


See you next chapture😊