
Karina bergerak gusar diatas ranjangnya. Setelah pembicaraannya dengan Chinsun tadi siang, gadis itu terus memikirkan bagaimana harus memulai pembicaraan dengan Daejung. Dia mengetik sebuah pesan pada Daejung, lalu dia menghapusnya lagi karena ragu. Dan hal itu terus saja dia lakukan, gadis itu duduk ketika mendengar pintu kamarnya terbuka
"Eonni..." sapa Karina begitu melihat Chinsun memasuki kamarnya
"Kau belum tidur sayang?" Tanya Chinsun lembut, wanita itu berjalan menuju ranjang Karina dan duduk ditepi ranjang
"Aku belum mengantuk Eonni. Eonni sendiri kenapa belum tidur?" Tanya Karina
"Eonni keluar untuk mengambil minum, tapi sebelum itu Eonni kesini ingin memastikan apa kau sudah tidur atau belum. Daejung mengatakan kalau kadang kau susah tidur, dan ternyata benar. Apa ada yang sedang kau pikirkan Karina-ya?" Tanya Chinsun dengan tangan yang ia ulurkan untuk membelai lembut rambut Karina
Karina menunduk, gadis itu tersenyum kemudian. Daejung begitu hafal kebiasaannya. Ia ingat laki-laki itu selalu membuatkannya teh herbal agar dia bisa tidur dengan pulas. Tiba-tiba saja rasa bersalah menghampiri hatinya, sungguh dia menyesal Karena hampir satu tahun ini dia bersikap acuh pada laki-laki itu.
"Karina-ya Gwaenchana?" Tanya Chinsun
"Eoh nan Gwaenchana" balas Karina dengan senyuman
"Jadi kenapa kau belum tidur? Apa kau masih memikirkan apa yang kita bicarakan tadi siang?" Tanya Chinsun lagi
"Ne Eonni, aku masih bingung bagaimana cara menghubungi Daejung. Maksudku, apa yang harus aku katakan padanya. Aku sungguh takut Eonni. Jujur saja aku merasa bersalah padanya Eonni, bagai-bagaimana kalau dia tidak membalas pesanku, dan dia mengabaikan pesanku Eonni" ujar Karina mencurahkan kegelisahannya
Chinsun tersenyum, lalu dia gengam tangan Karina
"Kenapa kau takut sayang? Daejung tidak akan marah padamu, dia juga tidak mungkin mengabaikan pesanmu, kau tau bukan kalau selama ini hanya pesan dari dirimu lah yang selalu dia tunggu. Dan untuk rasa bersalahmu, Eonni yakin Daejung memahaminya, dia pasti paham apa yang kau rasakan. Jadi kenapa kau tidak mulai saja dengan menyapanya?" Ujar Chinsun
Mendengar penuturan, sebuah senyuman terbit dari bibir Karina
"Kau benar Eonni, Daejung pasti akan memahamiku. Sekarang yang harus aku lakukan adalah mencoba dan memulainya dari awal" ujar Karina penuh keyakinan
"Bagus kalau begitu, sekarang kirimlah sebuah pesan padanya, sebelum dia menunggu semakin lama" ujar Chinsun
Karina menangguk, Chinsun terkekeh melihat tingkah Karina. Wanita itu berdiri lalu melayangkan sebuah kecupan pada pucuk kepala Karina. Setelahnya dia keluar dari kamar Karina.
Sepeninggal Chinsun, Karina meraih ponselnya yang berada diatas nakas, gadis itu lalu mengetikkan sebuah pesan pada Daejung
To : My Beloved Daejung
Daejung-ah... Annyeoung
Setelah pesannya terkirim Karina melemparkan ponselnya, gadis itu lalu menutupi tubuhnya dengan selimut. Sungguh dadanya berdebar begitu cepat, dia begitu gugup menunggu balasan dari Daejung
Sementara itu, di lain tempat dalam waktu yang hampir bersamaan, Daejung masih berkutat dengan berkasnya. Semenjak hubungannya dengan Karina merenggang, laki-laki itu lebih memilih menyibukkan diri dengan berkas-berkas kantornya, hal itu dia lakukan untuk mengusir bayangan Karina dari pikirannya. Jujur saja dia sangat merindukan gadis itu.
Daejung meletakkan berkas yang beberapa saat lalu dia baca, kepalanya berdenyut nyeri memperhatikan semua laporan yang harus ia periksa. Laki-laki itu melonggarkan dasinya, dasi itu serasa mencekiknya. Dia lalu memejamkan matanya sambil memijit pangkal hidungnya, dia merindukan Karina, ingin rasanya dia kembali ke Korea, menghampiri gadis itu lalu memeluknya erat. Tapi apa daya, gadis yang dia rindukan sedang mendiamkannya, bahkan hingga waktu satu tahun terlewati.
Daejung menegakkan punggungnya, lalu ia raih foto dirinya dan Karina yang terletak di atas meja. Laki-laki itu usap foto tersebut, ingatannya kembali terlempar pada saat dirinya dan Karina mengambil foto tersebut. Foto tersebut diambil saat mereka sedang pergi bersama ke Paris. Saat itu Karina berulang tahun, dan gadis itu meminta Daejung pergi bersamanya ke Paris sebagai hadiahnya. Dan tentu saja Daejung menyangupinya, dalam foto tersebut mereka berfoto didepan menara Eiffel, wajah Karina tampak begitu bahagia dalam foto tersebut
"Karina-ya nan bogoshipo" lirih Daejung
Ddddrrrtttr......
Ponselnya bergetar, tanda sebuah pesan masuk. Dengan sedikit malas laki-laki itu membuka pesan tersebut, tanpa melihat dulu siapa si pengirim pesan. Lalu ketika dia membaca isi pesan tersebut, mata Daejung membulat. Dia tidak percaya akan apa yang dia lihat ini, Karina mengirimkannya pesan, laki-laki itu berdiri dari duduknya lalu kembali dia baca isi pesan tersebut, laki-laki itu mencubit lengannya, lalu dia memekik karena merasakan sakit. Laki-laki itu tersenyum lalu kembali duduk dan membalas pesan Karina
To : Bee
Karina-ya... ap-apa ini benar-benar dirimu?
Karina bergegas menyibak selimutnya begitu terdengar nada sebuah pesan masuk, segera dia buka pesan tersebut. Gadis itu mencabik kesal membaca pesan Daejung
Menurutmu? Ah... apa kau melupaknaku? Atau jangan-jangan kau sudah menghapus nomorku Eoh?"
Daejung terkekeh membaca balasan dari Karina, gadis itu belum berubah ternyata
To : Bee
Aniyo... mana mungkin aku melupakanmu, kau tau bahkan dalam tidur pun hanya dirimu yang selalu aku ingat. Karina-ya aku sangat merindukanmu gadis nakal
Karina berdecih membaca jawaban dari Daejung
To : My Beloved Daejung
Ck, pembual. Kalau kau merindukanmu, kau seharusnya pulang dan menemuiku. Atau jangan-jangan kau betah tinggal disana eoh? karena dari yang aku dengar, gadis disana cantik-cantik dan mereka juga memiliki tubuh yang bagus
Daejung terkekeh membaca pesan dari Karina. Dia yakin pasti Chunghee yang mengatakan hal itu pada Karina
To : Bee
Siapa yang mengatakannya padamu?
From : Bee
Chunghee, jadi benar apa yang dia bilang?
Benar bukan dugaannya, pasti Chunghee yang mengatakan hal-hal seperti itu pada Karina
To : Bee
Kalau boleh aku jujur gadis-gadis disini memang cantik Bee, tapi kalau dibilang aku betah tingal disini kau salah, memang mereka cantik, tapi bagiku tidak ada yang lebih cantik dari dirimu Bee. Bagiku kaulah gadis paling cantik. Kau tau aku benar-benar ingin kembali ke Korea. Aku merindukan kampung halamanku, aku merindukan Sungai Han, aku merindukan apartemenku, Chunghee.... dan yang paling aku rindukan adalah dirimu Bee, ingin rasanya aku terbang ke Korea, menghampirimu dan memelukmu. Tapi hal itu tidak bisa aku lakukan karena kau yang sedang mendiamiku
Membaca balasan pesan dari Daejung, hati Karina terasa seperti tercubit, dia merasa sudah keterlaluan selama ini kepada Daejung. Padahal laki-laki itu tidak bersalah, Daejung hanya mencintai Karina. Dan hal itu wajar bukan, apalagi selama ini mereka sering menghabiskan waktu bersama, jadi wajar kalau hal itu tumbuh dihati Daejung
To : My Beloved Daejung
Daejung-ah Mianhe, selama ini aku sudah keterlaluan padamu. Tidak seharusnya aku bersikap seperti itu padamu. Seharusnya aku bisa lebih dewasa menghadapinya, seharusnya aku juga tidak perlu marah padamu hanya karena hal itu. Mencintai itu bukan sebuah kesalahan, seharusnya aku bersyukur karena dicintai oleh laki-laki seperti dirimu. Daejung-ah Mianhe
Membaca pesan dari Karina, Daejung tersenyum. Laki-laki itu bahagianya karena Karina sudah bisa menyadari semuanya, walaupun dia yakin gadis itu belum seratus persen menerimanya. Tapi setidaknya dia masih bisa kembali bersama Karina
To : Bee
Gweanchana Karina-ya semuanya memang butuh proses, dan waktu satu tahun ini ternyata dapat membuatmu menjadi lebih dewasa. Aku bangga padamu Bee
Karina tersenyum disela tangisannya, kini gadis itu benar-benar bersyukur karena Tuhan dengan begitu baiknya mengirimkan laki-laki sebaik Daejung untuknya.
Obrolan mereka masih berlanjut hingga Karina tertidur karena gadis itu merasa lelah setelah seharian bekerja
.
.
.
TBC
See you next chapture....😊