Just Us

Just Us
Chap 57



Chunghee memasuki rumah sakit dengan senyuman yang selalu dia layangkan pada orang-orang yang berpapasan dengannya. Langkahnya ia bawa ringan menuju ruang divisinya, jujur saja dia sudah sangat merindukan tempat tersebut. Semakin dia dekat dengan tempat tujuan, semakin berdebar pula jantungnya, dapat dia bayangkan wajah marah Karina dan mungkin beberapa umpatan serta pukulan yang akan dia dapatkan ketika pertama kali Karina melihat kedatangannya.


Sebenarnya dia bisa kembali ke Rumah sakit lusa, tapi karena hari ini adalah shift Karina, maka dengan semangat dia memutuskan untuk langsung kembali bekerja. Sebelum memasuki ruangan ia berusaha menampilkan senyum terbaiknya, ia buka pintu tersebut dengan penuh semangat


"Kari..." ucapannya terhenti ketika mendapati dua orang dokter muda yang berada di ruangan tersebut


Dua dokter tersebut segera bangkit dari duduknya ketika melihat kedatangan Chunghee. Sebelumnya mereka sudah diberitahu kalau mulai hari ini Chunghee akan kembali bekerja.


"Annyeounghaseyo..." sapa mereka dengan badan yang membungkuk


"Eoh annyeong, apa kalian dokter baru?" Tanya Chunghee dengan meletakkan tasnya pada kursi


"Nde, kami dokter magang disini" jawab salah satu dari dokter tersebut


Chunghee menganggukkan kepalanya


"Apa kalian lihat dimana Karina? Apa gadis itu sudah berangkat? Ah... pasti dia sedang berada di kantin untuk sarapan, bukan begitu?" Tanya Chunghee


Kedua dokter tersebut saling memandang dengan kernyitan terlihat jelas di dahi mereka.


"Wae? Kenapa kalian diam?" Tanya Chunghee ketika tidak mendapati jawaban dari kedua juniornya itu


"Itu kami...." jawaban tersebut terpotong ketika seseorang membuka pintu ruangan


"Nunna" Sapa Chunghee ketika mendapati Mina memasuki ruangan


Mina tersenyum lebar lalu dia peluk erat tubuh junior kesayangannya itu, Chunghee pun membalas pelukan tersebut tak kalah erat.


"Aku merindukanmu chunghee-ah...." ujar Mina


"Nado aku juga sangat merindukanmu Nunna" balas Chunghee


Mina melepaskan pekukannya, wanita itu menatap Chunghee dengan tatapan sendu, dan semua itu tak luput dari pandangan Chunghee


"Wae? Kenapa dengan pandangan itu?" Tanya Chunghee


Mina menggeleng, wanita itu usap lengan Chunghee


"Ah Nunna dimana Karina? Bukankah sekarang Shift nya?" Tanya Chunghee


Mina tersenyum hambar, dia tidak tahu harus menjawab seperti apa. Apakah dia harus mengatakan tentang keadaan Karina sekarang?


"Ah itu, aku akan menjelaskannya nanti. Sekarang lebih baik kau segera menemui Kang Gyosungnim, tadi dia berpesan kalau kau harus menemuinya setelah datang" jawab Mina mengalihkan pembicaraan


"Seperti itu, baiklah aku akan ke ruangan Kang Gyosungnim dulu" ujar Chunghee laki-laki itu kemudian melangkah meninggalkan ruangan.


.


.


.


Chunghee baru saja keluar dari ruangan profesornya, langkahnya ia bawa ringan untuk kembali ke ruangan. Ketika dia akan berbelok tanpa sengaja dia melihat Karina baru keluar dari ruangan Son Gyosungnim, laki-laki itu tersenyum dia berjalan mendekati Karina. Sebenarnya dia sedikit heran ketika mendapati penampilan Karina, kenapa gadis itu berpakaian santai hanya dengan celana jeans dan hoodie saja? Ah tapi sudahlah dia akan menanyakannya nanti. Saat langkahnya semakin dekat dengan Karina ia harus berhenti ketika seorang perawat berjalan mendekat dan memanggil Karina. Buru-buru Chunghee bersembunyi dibalik tembok


"Karina euisanim" panggil perawat tersebut


Karina berhenti lalu menoleh pada perawat tersebut "Ck, sudah berapa kali aku katakan jangan panggil aku seperti itu. Aish kau ini"


"Mana mungkin aku bekerja dengan kondisiku yang seperti ini In Ha-ya, aku tidak mau mengambil resiko dan membuat kesalahan hingga membuat nama baik rumah sakit ini buruk" jawab Karina


"Hah... sangat disayangkan, kenapa hal semacam ini bisa menimpamu Karina-ya. Aku harap kau bisa segera pulih dan bisa kembali menjadi dokter disini, bukankah menjadi dokter hebat adalah cita-citamu" ujar In Ha dengan memberikan beberapa bungkus obat pada Karina


Karina tersenyum dan menerima obat tersebut "Gomawo aku akan berusaha untuk sembuh, tapi untuk kembali kemari aku rasa aku tidak bisa. Mianhe In ha-ah"


"Gweanchana Karina-ya, yang terpenting kau jaga kesehatanmu dan ingat jangan pernah mangkir lagi dari terapimu oke" ujar In ha


Karina tersenyum dan mengangguk antusias "Aku janji ini yang terakhir"


Setelah obrolan selesai mereka berpisah, Karina yang berjalan untuk keluar dan In ha yang kembali ke ruangan perawat. Melihat Karina yang sudah melewatinya Chunghee membalikkan badan dan berjalan dengan tergesa menuju ruangan Son Gyosungnim, laki-laki itu penasaran sedari tadi tentang apa yang sebenarnya terjadi pada Karina.


Karina berhenti melangkah, gadis itu menoleh kebelakang. Indra penciuman gadis itu sempat mencium wangi parfum yang selama ini ia rindukan, itu adalah parfum Chunghee. Ia ingat betul aroma tersebut, parfum yang ia pilihkan untuk Chunghee. Gadis itu berbalik dan kembali menyusuri lorong tadi, tapi harapannya sirna ketika apa yang ia harapkan tidak dia dapatkan.


Karina tersenyum getir, gadis itu menunduk kemudian menggeleng "Tidak mungkin itu dia, kalau dia pulang pasti laki-laki menyebalkan itu akan langsung menemuiku atau Daejung" monolognya. Sebelum pulang Karina menyempatkan diri untuk ke rooftop rumah sakit tersebut, siang ini dia ingin menikmati segarnya musim semi.


Chunghee sudah berdiri di depan pintu ruangan Son Gyosungnim, laki-laki itu mengetuk pintu sebelum dipersilahkan masuk. Ketika sang empunya ruangan memperbolehkannya masuk barulah dia memasuki ruangan tersebut.


"Son Gyosungnim" sapanya


"Eoh Chunghee-ah, kapan kau kembali" tanya wanita paruh baya itu


"Saya baru kembali kemarin Gyosungnim" jawab Chunghee


"Ck bukankah sering aku katakan, ketika kita hanya berdua panggil aku Imo. Apa sesusah itu bagimu Chunghee-ah" sunggut dokter tersebut yang tak lain adalah kakak dari ibu Chunghee


"Nde, mianhe Imo" jawab Chunghee


"Kau ini benar-benar bebal sama persis seperti Eommamu. Ah ya, ada apa kau kemari? Apa kau mengalami masalah dengan sarafmu?" Tanya Son Gyosungnim


Chunghee terkekeh "Aniyo Imo, aku hanya ingin bertanya tentang...karina"


"Ah... jadi itu tujuanmu. Geurae katakan apa yang ingin kau tahu tentang gadis yang kau cintai itu"


"Imo apa aku melewatkan sesuatu selama aku pergi? Apa yang terjadi selama aku pergi Imo? Apa terjadi sesuatu pada Karina?" Cerca Chunghee


Son Gyosungnim menghela nafas, wanita itu kemudian meraih tangan Chunghee untuk dia beri usapan lembut sebelum dia menjawab pertanyaan keponakannya itu.


"Ceritanya panjang Chunghee-ah, aku harap setelah mendengarnya kau kan baik-baik saja dan aku mohon jangan salahkan dirimu sendiri setelah ini. Cukup kau dampingi dia, perbaiki semuanya, jaga dia dan jangan buat dia merasa tersakiti lagi arasseo?"


Alis Chunghee menukik tajam, laki-laki itu semakin penasaran. Tidak ingin semakin penasaran laki-laki itu akhirnya mengangguk. Son Gyosungnim menarik nafas panjang sebelum dia menceritakan apa yang terjadi pada Karina


"Enam bulan yang lalu setelah keberangkatanmu, Karina mengalami tremor saat mendampingi operasi. Dia sempat melakukan kesalahan, tapi beruntung itu hanya kesalahan kecil. Awalnya kami pikir hal itu terjadi hanya karena dia gugup, tapi ternyata dugaan kami salah. Setelah kejadian itu, Karina selalu saja mengalami tremor, bahkan hal itu terjadi ketika dia akan menyuntikkan vitamin pada pasien. Singkat cerita Kang Gyosu meminta Karina untuk melakukan pemeriksaan, dan hasil pemeriksaan itu menunjukkan kalau dia mengalami tremor psikogenik, dimana hal ini disebabkan oleh gangguan mental seperti depresi dan gangguan stress pascatrauma atau (PTSD). Tremor ini bisanya akan terlihat parah ketika si penderita sedang tertekan. Dan pada kasus Karina, dia mengalami tremor tersebut karena depressi. Kau tahu setelah keberangkatamu, Karina beberapa kali mengalami kecelakaan ketika berkendara, tapi beruntung dia hanya mendapat luka ringan. Daejung mengatakan setiap malam setelah kepergiamu, Karina selalu menangis, ***** makannya menurun bahkan dia lebih sering mengkonsumsi minuman beralkohol, dan puncaknya adalah ketika dia mengalami kecelakaan saat menendari mobil dalam kondisi mabuk. Daejung juga mengatakan kalau Karina selalu menyalahkan dirinya karena kesalah pahaman yang terjadi, gadis itu sering menghubungimu tapi kau tidak pernah membalas pesan serta telefonnya. Chunghee-ah, dia selalu menghawatirkanmu, tidak pernah dalam sehari pun dia tidak merindukanmu. Kau tahu bahkan ketika melakukan terapi pun hanya namamu yang selalu dia sebut"


Chunghee membeku ditempatnya, bak disambar petir disiang hari. Dia merasa terkejut dengan semua penuturan dari Imo nya, dia tidak menyangka kalau akan seperti ini jadinya. Dia tidak menyangka kalau niat awalnya untuk menjauhi Karina demi kebahagiaan gadis itu dengan Daejung justru berakhir dengan sesuat yang mengerikan seperti ini. Dalam hati dia mengutuk dirinya sendiri untuk apa yang telah terjadi pada Karina. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, laki-laki itu beranjak dari duduknya dan membungkukkan badannya sebelum keluar dari ruangan tersebut


.


.


.


TBC


See you next chapture....😊