
Merasa dipanggil, Yoo Joon pun menoleh pada mantan kakak iparnya itu
"Hee Young-ssi" lirihnya
.
.
.
Kini Yoo Joon dan Hee Young berada disalah satu restoran terdekat. Cukup lama mereka diam, belum ada satu pun diantara mereka yang berianisiatif untuk membuka obrolan. Merasa jenuh dengan suasana tersebut, Hee Young akhirnya buka suara
"Berhenti dan pergilah" ujarnya
"Ye?" Tanya Yoo Joon
"Chunghee sudah menceritakan semuanya. Jadi berhenti mengganggu kebahagiaannya dan pergilah dari kehidupannya" jelas Hee Young
"Aku ayahnya, jadi aku berhak untuk melakukan hal tersebut pada putraku" sangah Yoo Joon
Hee Young tertawa sinis "perlu aku garis bawahi Yoo Joon-ssi. Dia bukan putramu lagi, hubungan kalian terputus sejak kau memutuskan untuk menceraikan adikku dan mengatakan kalau Chunghee bukan lagi putramu. Jadi kau tidak ada hak lagi untuk menganggunya"
"Darahku mengalir padanya, dan selama darah itu masih mengalir ditubuh Chunghee maka selama itu pula dia adalah putraku" ujar Yoo Jhoon
"Cih, menyedihkan. Apa kau sangat membutuhkan harta hingga kau rela menjual kehagaiaan putramu eoh? Dengar Yoo Jhoon-ssi, seumur hidupku aku tidak pernah menyesali setiap keputusan yang aku ambil. Tapi dihari itu, hari dimana kau menceraikan Eun Hee, saat itu aku merasakan penyesalan yang teramat sangat, bahkan aku masih menyesali keputusanku untuk mengijinkamu menikahi Eun Hee. Ingin rasanya aku putar lagi waktu, dan aku tidak akan pernah menyerahkan adikku padamu. Saat itu seharusnya aku membawa Eun Hee pergi jauh, seharusnya aku biarkan orang lain berkata apapun pada kami, seharusnya aku biarkan Chunghee lahir tanpa ikatan pernikahan dari kedua orang tuannya, dari pada aku harus menyaksikan kehancuran hidup dari adik serta keponakkanku. Seharusnya saat itu aku sadar bahwa kalian berbeda, kau dan keluargamu dengan segala keserakahan kalian akan harta, dan aku serta adikku yang hanya seorang yatim piatu tak pantas untuk masuk kedalam kehidupanmu" ujar Hee Young dengan penuh emosi
Yoo Joon terdiam mendengar penuturan Hee Young, laki-laki itu biarkan Hee Young mengeluarkan segala emosi serta kekesalannya selama ini. Ia hanya akan mendengarkan segala yang mantan kakak iparnya itu katakan
"Cukup sekali kau menghancurkan kehidupan Chunghee, sekarang tidak akan aku biarkan kau menghancurkan kembali kehidupannya. Kalau kau berani mengganggunya sekali lagi, maka... mari kita lihat apa yang bisa aku lakukan pada keluargamu Yoo Joon-ssi" lanjut Hee Young dengan nada dingin
Baru saja Yoo Joon akan angkat bicara, suara getaran dari ponsel Hee Young lebih dulu menghentikannya
Dddrrrtttt Ddrrrttt
Hee Young meraih ponselnya, begitu mendapati nama Chunghee tertera disana, wanita itu menarik nafas dalam dan mengeluarkannya dengan pelan. Mencoba untuk bersikap sebiasa mungkin
"Youbseyo Chunghee-ah" sapanya
"Imo eodiga?" Tanya Chunghee
"Imo masih diperjalanan, apa kau sudah sampai?"
"Em, aku sudah didepan. Apa Imo masih lama?"
"Aniya sebentar lagi Imo akan sampai, jadi tunggu Imo sebentar Ne"
"Nde"
"Kalau begitu Imo tutup telfonnya"
"Nde, hati-hato dijalan Imo"
Dan panggilan tersebut pun terputus. Hee Young memasukkan kembali ponselnya kedalam tas, kemudian ia raih kacama hitam miliknya dan kembali memakainya, ia beranjak dari duduknya, sebelum pergi ia kembali menatap Yoo Joon
"Ingat apa yang aku katakan tadi Yoo Joon-ssi, aku tidak pernah main-main dengan apa yang aku ucapkan. Aku bukanlah Eun Hee yang hanya akan diam dan menerima semua yang orang lain lakukan padanya. Aku akan melakukan apapun untuk melindungi keponakanku, bahkan nyawa rela aku tukar untuk kebahagiaannya, ingat itu" ujar Hee Young
Setelah Mengatakan hal tersebut, Hee Young pergi dari tempat tersebut tanpa memperdulikan Yoo Joon yang masih duduk terdiam disana
.
.
.
Setelah insiden yang menimpa caffe nya, Karina memutuskan untuk menutup caffe dan merenovasi tempat tersebut. Dan selama Caffe nya tutup, gadis itu memutuskan untuk menghabiskan waktunya dengan bersenang-senang.
Salah satunya hari ini, gadis itu pergi ke salah satu pusat perbelanjaan untuk membeli sebuah sepatu. Gadis itu memasuki salah satu toko dengan brand mewah ternama, gadis itu berkeliling untuk mencari sepatu yang dia inginkan.
Dan ketika dia mendapatkannya, segera ia ulurkan tangannya untuk mengambil sepatu tersebut, tapi selain dirinya, ada sebuah tangan yang juga meraih sepatu tersebut, dan tentu saja hal tersebut membuat Karina menoleh
"Eoh kau menginginkan sepatu ini?" Tanya Karina pada wanita didepannya
"Em ne, aku suka warna dan modelnya. Dan aku rasa ukurannya pas denganku" jawab wanita tersebut
"Ah.... kalau begitu, kau bisa mengambilnya" ujar Karina, gadis itu membungkuk sebentar sebelum pergi
Tentu saja hal tersebut membuat Karina menopeh padanya
"Ye?" Tanya Karina
"Bagaimana denganmu?" Tanya wanita tadi
"Ah, aku bisa memilih model lain. Jangan khawatir, ambillah kau sepertinya sangat menyukai sepatu itu" jawab Karina dengan senyuman
"Gomawo" ujar wanita tadi
Karina tersenyum, gadis itu kemudian kembali mencari sepatu lain yang menurutnya menarik. Setelah memilih beberapa sepatu, gadis itu akhirnya memutuskan mengambil sebuah sepatu kets berwarna putih. Setelahnya dia membawa sepatu tersebut ke kasir, ketika mendekati meja kasir, ia mendengar kasir tersebut memarahi seorang pembeli. Merasa penasaran, Karina pun mendekati wanita tersebut, ia sedikit terkejut melihat siapa wanita yang sedang mendapat makian dari kasir tersebut
Karina mendekat, gadis itu mengeluarkan blackcard yang Daejung berikan padanya lalu dia berikan kartu tersebut pada kasir yang sedari tadi terus memarahi bahkan merendahkan wanita tadi
"Ini, bayar yang dia ambil. Kau tidak berhak merendahkannya seperti itu, bukankah dia sudah mengatakan kalau dia lupa membawa dompetnya. Lalu kenapa kau sampai merendahkannya sampai seperti itu eoh? Siapa kau hingga berhak mengatakan bahkan merendahkan siapa dia. Dengar, apa kau tahu siapa dia? Apa kau tahu latar belakangnya? Tidak bukan, ku beritahu padamu. Dia mampu bahkan sangat mampu untuk membeli tempat ini beserta isinya. Dari mana aku tahu? Aku adalah temannya, dan aku tahu seperti apa dia. Kalau dia tidak membawannya itu berarti dia memang benar-benar tidak membawanya" ujar Karina
Kasir tadi menunduk kemudian meminta maaf pada wanita yang ia maki tadi. Setelah selesai melakukan pembayaran, Karina dan gadis tadi keluar dari toko tersebut. Kini mereka duduk disalah satu caffe yang berada didalam pusat perbelanjaan tersebut. Keduannya sama-sama menikmati es krim yang ada didepan mereka
"Gomawo untuk yang tadi dan untuk es krim ini" ujar gadis yang duduk didepan Karina itu
"Em? Ah gweanchana, anggap saja ini sebagai hadiah untuk perkenalan kita" jawab Karina dengan senyum yang begitu hangat
"Ah sekali lagi gomawo..." ujar wanita itu
"Karina, namaku Karina Lim. Kau bisa memanggilku Karina" jawab Karina
"Ah Annyeoung Karina, senang berkenalan denganku naenun Choi Eunso, kau bisa memanggilku Eunso" jawab wanita tadi yang tak lain adalah Eunso
"Annyeoung Eunso-ya, jadi apa sekarang kita resmi berteman?" Tanya Karina
"Ne aku senang bisa mendapatkan teman baru setelah sekian lama. Gomawo Karina-ya sudah mau berteman denganku" ujar Eunso
"Eoh, apa selama ini kau tidak tinggal disini?" Tanya Karina penasaran
"Tentu saja aku tinggal disini, hanya saja Appa tidak pernah membiarkanku keluar dengan teman-temanku. Selama ini Appa yang memilihkan teman untukku, jadi... aku tidak penah benar-benar punya teman yang aku inginkan" jelas Eunso
"Tunggu dulu, apa kau berasal dari keluarga chaebol negara ini?" Tanya Karina
"Ssstttt ini rahasia kita" jawab Eunso berbisik dengan anggukan kepala diakhir kalimatnya
"Wah daebak, jadi apa yang aku katakan tadi benar adanya, kau bisa membeli toko tersebut benar bukan" ujar Karina
Eunso terkekeh "Aniyo, aku tidak akan melakukannya. Untuk apa aku membeli toko tersebut"
"Ah benar juga. Tapi tunggu dulu, kenapa kau tidak melawan saat kasir tadi memakimu bahkan merendahkanmu" tanya Karina
"Karena aku sangat gugup dan takut tadi. Jujur saja selama ini aku belum pernah dibentak ataupun mendengar makian seperti itu" jelas Eunso
"Ck seharusnya kau bisa melawan, kalau kau diam mereka akan semakin merendahkanmu. Aku akan memberimu saran sebagai seorang teman, lain kali kau harus melawan, jangan hanya diam ketika harga dirimu direndahkan seperti tadi arrachi?" Ujar Karina
Eunso terkekeh "Ne arraseo. Em, Karina kalau boleh tahu kau bekerja dimana?" Tanya Eunso
"Aku mengelola Caffe milikku sendiri. Dulu sebelum mengelola caffe aku seorang dokter residen disalah satu rumah sakit. Tapi karena satu dan lain hal akhirnya aku memutuskan untuk keluar" jawab Karina
"Jinjja? Bolehkan aku mempir ke caffe mu? Kau tahu sejak dulu aku ingin memiliki caffe sendiri, tapi... Appa selalu melarangku melakukannya" ujar Eunso
Karina mengeluarkan kartu namanya, ia kemudian memberikannya pada Eunso
"Kapanpun kau mau, kau boleh datang ke caffe ku. Dan kalau kau tak keberatan kau bisa membantuku di caffe kalau kau ada waktu" lanjut Karina
Eunso menerima kartu tersebut, matanya berbinar, gadis itu tersenyum bahagia. Akhirnya dia mendapatkan teman yang benar-benar baik padanya dari hati, bukan karena ada embel-embel dibelakangnya. Ia harap ini adalah awal yang baik untuknya dan Karina, ia juga berpikir sepertinya ia dan Karina akan berteman dengan baik setelah ini.
Eunso mungkin memang bisa berpikir bahwa hubungan pertemanannya dengan Karina akan baik-baik saja, dan mungkin mereka juga akan menjadi teman dekat. Tapi siapa yang mengerti akan takdir seseorang? Mungkin Eunso bisa berpikir demikian, tapi bagaimana kalau Tuhan mempunyai rencana lain untuk perjalanan persahabatan mereka nantinya?
.
.
.
TBC
See you next chapture....😊