
Karina, Chunghee dan Eunso pun memulai makan malam mereka setelah tadi sedikit drama dari Karina, gadis itu merajuk karena Chunghee terus menggodanya sampai gadis itu hampir menangis dibuatnya. Mereka bertiga makan malam dengan tenang, hanya sesekali terjadi obrolan antara Karina dan Eunso, Chunghee tentu saja tidak mengikuti obrolan tersebut, ia enggan untuk terlibat obrolan dengan Eunso
"Karina-ya, apa kau masih ingat dengan apa yang kau katakan saat pertama kali kita bertemu?" Tanya Enso
"Eoh tentu saja. Wae Eunso-ya?" Tanya Karina
"Aku akan melakukannya, aku akan mempertahankan apa yang seharusnya menjadi milikku. Aku akan tetap menerima perjodohan itu, aku tidak peduli pada status laki-laki itu" ujar Eunso
Chunghee tersedak mendengar pernyataan Eunso, laki-laki itu begitu terkejut mendengar penuturan Eunso
"Yak Chunghee-ah, hati-hati aku tidak akan memintanya" omel Karina gadis itu berdiri dari duduknya, ia memberikan minum pada Chunghee setelahnya ia menepuk pelan punggung kekasihnya itu
"Eotte? Jauh lebih baik?" Tanya Karina setelah Chunghee berhenti terbatuk
"Ne, gomawo changiya" ujarnya dengan senyuman yang ia berikan untuk Karina
"Lain kali pelan saja, tidak ada yang ingin mengambil makananmu" ujar Karina
"Siapa bilang? Bukannya kau yang selalu meminta aku menyuapimu, walaupun kita memesan makanan yang sama" Chunghee kembali menggida Karina
"Yak, kau benar-benar menyebalkan. Kau berniat membuatku cepat tua eoh? Kenapa senang sekali membuatku kesal" omel Karina
Chunghee terkekeh "aniyo, tapi walaupun kau tua nanti aku akan tetap mencintaimu. Dan kau tau, saat kau marah wajahmu begitu menggemaskan dan aku suka" ujar Chunghee dengan mencuri satu kecupan dari bibir tipis Karina
Eunso memalilingkan wajahnya, melihat apa yang Chunghee lakukan pasa Karina. Bagaimana bisa laki-laki itu melakukan hal tersebut padanya, padahal jelas-jelas Chunghee mengetahui bagaimana perasaan Eunso padanya.
"Aish, dasar yoda jelek" ujar Karina, sebenarnya ia malu, bagaimana bisa kekasihnya itu mencium bibirnya disaat ada Eunso bersama mereka. 'Dasar laki-laki gila' batin Karina
"Ehem, jadi bagaimana menurutmu Karina?" Tanya Eunso memecah keheningan
"Eoh?" Tanya Karina tidak mengerti
Eunso tersenyum "tentang pernyataanku tadi, bagaimana menurutmu?"
"Aaaa apa kau benar-benar mencintai laki-laki itu?" Tanya Karina
"Tentu, aku sangat-sangat mencintainya. Akan aku lakukan apapun agar aku bisa mendapatkannya, termasuk menyakiti gadis yang ia cintai" ujar Eunso dengan tegas, serta sorot mata yang menatap pada Chunghee, seolah-olah ia sedang berbicara pada laki-laki tersebut
Chunghee mengeraskan rahangnya, tangannya terkepal, ia juga menatap Eunso tak kalah sengit. Tapi sayangnya Karina tidak memperhatikan perubahan pada kedua expresi Chunghee dan Eunso
"Yak, apa-apaan itu eoh, kau tidak boleh menyakiti gadis tersebut. Ingat Eunso-ya dia tidak tahu apa-apa tentang permasalahan kalian berdua" tegur Karina
"Tapi dia mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku Karina, aku tidak suka melihat laki-laki itu bermesraan dengan kekasihnya tepat di hadapanku, itu membuatku muak. Aku akan menjauhkannya dari orang yang aku cintai" ujar Eunso, gadis itu kini menatap Karina dengan begitu tajam, seperti seorang predator yang sedang menandai mangsanya
"Wa.. wae? Kenapa kau menatapku seperti itu Eunso-ya? Aku kan hanya sedang mengingatkanmu, aku tidak ingin kau berbuat jahat pada orang yang tidak bersalah" ujar Karina dengan sedikit gugup, jujur saja ia merasa terintimidasi dengan tatapan tersebut
Eunso mengangat satu sudut bibirnya "kau salah Karina, aku tidak suka..." belum sempat Eunso menyelesaikan ucapannya Chunghee lebih dulu berucap
"Kau tidak berhak berkata dan menatap KEKASIHKU seperti itu, aku tidak bisa menerima atas apa yang kau lakukan. Sedari tadi aku diam atas semua yang kau lakukan Eunso-ssi, kau hanyalah seorang teman baru bagi Karina. Tapi kau sudah berbuat Di Luar Batasan. Dari yang aku dengar kau adalah putri dari seorang pengusaha sukses, kau berasal dari keluarga terhormat, tapi dari apa yang kau sampaikan tadi, itu sama sekali tidak mencerminkan seseorang dari kalangan terhormat. Kau bahkan berencana merebut seorang laki-laki dari gadis yang sangat dicintainya, kau bahkan berencana mencelakai seseorang yang tidak bersalah. DIMANA KAU LETAKKAN OTAKMU HAH?" Lanjut Chunghee dengan nafas yang terengah, ia sudah benar-benar tidak bisa menahan emosinya setelah mendengar semua pernyataan yang terlontar dari bibir Eunso, belum lagi tatapan yang wanita itu layangkan pada kekasihnya. Sungguh emosi Chunghee benar-benar diubun-ubun sekarang
Kedua wanita yang berada disana menegang mendengar nada tinggi yang Chunghee katakan diakhir kalimatnya. Eunso merasa tersakiti mendengar bentakan yang Chunghee layangkan padanya, sedangkan Karina, gadis itu belum pernah melihat Chunghee yang begitu emosi seperti saat ini.ia sebenarnya merasa heran, mengapa Chunghee bisa semarah itu, padahal Eunso hanya sedang mengungkapkan apa yang ada dipikirannya.
Mengikuti kata hatinya, Karina menghampiri Chunghee ia lalu memeluk kekasihnya itu denganĀ begitu erat, mencoba menenagkan laki-laki yang masih emosi tersebut.
"Hey, hey, hey tenang Changiya. Ada apa eum? Kenapa kau begitu marah, Eunso tidak salah dia hanya menyampaikan pendapatnya. Aku yang bersalah disini, tidak seharusnya aku berkata sefrontal itu ketika menyampaikan pendapatku" ujar Karina dengan mendongakkan wajahnya untuk menatap wajah Chunghee
Chunghee menarik nafas dalam kemudian mengembuskannya dengan pelan, berusaha untuk kembali mengais sisa kesabarannya. Setelahnya ia membalas pelukan Karina dengan tak kalah erat, tak lupa ia juga mencium dalam kening Karina
"Mianhae Changiya tidak seharusnya aku meninggikan suaraku, kau pasti terkejut tadi, sungguh aku tidak bermaksut membuatmu takut, aku hanya terbawa emosi" sesal Chunghee
Karina menggeleng, gadis itu menyandarkan kepalanya pada dada bidang Chunghee "kau menakutkan tadi, aku tidak ingin kau mengulanginya lagi, itu tidak baik Changi"
Chunghee terkekeh, ia menghirup dalam aroma strowberi yang menguar dari shampo yang gadis itu gunakan "mianhae, aku tidak akan mengulangi lagi"
Karina mengangguk, sedangkan dilain tempat di ruangan yang sama Eunso semakin terbakar emosi, bagaimana bisa dia malah meminta maaf pada Karina bukan padanya. Sedangkan Chunghee jelas-jelas tadi membentaknya bahkan menudingnya, hal yang sampai seumur hidup baru ia alami pertama kali. Sungguh harga dirinya seperti dijatuhkan oleh laki-laki yang ia cintai. Dengan emosi yang masih menyelimuti, gadis itu berjalan meninggalkan tempatnya, ia keluar dari apartemen Karina dengan debuman pintu yang begitu memekikkan telinga.
Karina baru saja ingin mengejar Eunso, tapi hal itu dicegah oleh Chunghee
"Biarkan dia pergi, dia harus tahu kesalahannya" ujar Chunghee dengan tegas
"Tapi dia pasti sakit hati Chunghee-ah" ujar Karina
"Kalau dia gadis baik-baik, dia tidak akan marah ketika aku mengatakan hal tersebut, harusnya apa yang aku katakan itu menjadi saran dan masukan untuknya. Bukan malah marah dan pergi dengan dengan membanting pintu seperti itu" jelas Chunghee
Dalam hati karina membenarkan apa yang Chunghee katakan, dengan ragu ia mengangguk, mungkin besok ketika kembali bertemu Eunso dia akan meminta maaf atas nama Chunghee
"Geurae, sekarang pergilah ke kamar, ini sudah terlalu larut. Aku akan membereskan ini kemudian pulang" ujar Chunghee
"Aniyo, kita makan bersama jadi ayo kita bereskan bersama" sanggah Karina
Chunghee terkekeh, ia usak rambut Karina "Saranghae Changiya" ujarnya dengan begitu tulus
Karina tersenyum "Nado Changi" balasnya
.
.
.
TBC
See you next chaptureš