Just Us

Just Us
Chap 59



Sudah hampir satu setengah jam Chunghee duduk didalam mobilnya. Ia masih menimang apa yang Daejung sarankan padanya semalam. Akhirnya setelah memikirkan banyak hal dia bangkit dan keluar dari mobil dan berjalan untuk masuk ke Caffe yang ia yakini adalah milik Karina. Setiap langkah yang ia ayunkan, dalam hati ia selalu mencoba meyakinkan diri bahwa semua akan baik-baik saja, dia akan menerima semua yang Karina lakukan padanya, dia akan menerima semua konsekuensi atas kebodohan yang dia lakukan.


Dia menarik nafas berulang kali sebelum membuka pintu Caffe tersebut, ia tahu kalau caffe ini sudah tutup tapi dia tetap memasukinya karena ia yakin pasti Karina masih berada didalam.


"Annyeounghaseyo...." sapanya


"Annyeoung, maaf kami sudah tu...." ucapan Jobin terputus ketika mendapati siapa yang datang.


Ia tahu siapa laki-laki itu, laki-laki yang telah membuat atasannya menderita selama ini. Tersadar dari keterkejutannya, Jobin berdehem sebentar


"Maaf Tuan kami sudah tutup, silahkan lembali lagi esok hari" ujarnya dengan nada sedatar mungkin


"Ah Nde aku tahu, tapi aku kesini untuk menemui Karina. Apa.... dia masih ada disini?" Tanya Chunghee


"Eonni sudah pulang, jadi tolong keluar dari sini" jawab Jobin, gadis itu berbohong. Ia hanya tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada Karina setelah wanita itu melihat Chunghee ada disana


"Tapi aku melihat mobilnya ada disana" uajra Chunghee yang masih belum menyerah


"Itu bukan mobilnya, mungkin itu milik orang lain. Jadi sekali lagi tolong keluar dan jangan pernah kembali lagi" ujar Jobin dengan nada dingin


"Aniyo aku harus bertemu Karina, ada hal penting yang harus aku katakan padanya" jawab Chunghee


Sifat keras kepalanya kembali. Dan kali ini dia tidak akan menyerah, dia harus bertemu Karina. Tekatnya sudah bulat, dia akan membuat Karina kembali seperti Karina yang dulu.


"Wae? Apa yang ingin kau katakan padanya? Kau ingin mengores kembali luka padanya? Kau ingin meminta maaf padanya untuk semua yang telah kau lakukan? Dengar Chunghee-ssi, itu semua tidak perlu dan tidak ada gunanya. Jadi selagi aku meminta dengan baik-baik sebaiknya kau keluar dari sini" ujar Jobin


Kesabaran gadis itu sudah habis. Dia tahu betul hal apa yang terjadi antara laki-laki didepannya itu dengan Karina, selama ini selain dengan Daejung, Karina sering menceritakan semua keluh kesahnya pada Jobin, gadis yang selama ini sudah dia anggap sebagai adiknya sendiri.


"Aku memang membuat luka padanya, dan aku sadar kalau kesalahanku itu begitu fatal dan mungkin tidak bisa dimaafkan. Tapi aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk memperbaiki semuanya" ujar Chunghee


Jobin terkekeh sinis "kau mungkin bisa menyusun kembali sebuah cangkir yang kau pecahkan. Tapi ingat bentuknya tidak akan sama seperti semula, dan kau mungkin juga akan terluka ketika menyusunnya. Aku rasa semua itu akan sia-sia saja, jadi sebelum kau terluka dan semua perjuanganmu sia-sia lebih baik kau mundur, tetap ditempatmu berdiri dan jangan pernah mencoba menyentuhnya apa lagi memperbaikinya. Jadi pergi sekarang sebelum kau semakin menyesal, PERGI" ujar gadis itu dengan nada sedikit meninggi


"Aku sudah siap untuk itu, aku siap dengan semua resikonya. Mungkin aku akan terluka saat menyusunnya dan mungkin bentukknya juga tidak akan sama dari sebelumnya. Tapi tak apa, aku akan terus menyusunnya sampai dia bisa kembali sama seperti dulu. Aku rela terluka bahkan kalau perlu aku akan terus bersimpuh didepannya agar dia memaafkanku" jawab Chunghee dengan penuh ketegasan dan kayakinan


Jobin berdecih "Cih kata-katamu begitu manis tapi mengandung racun. Pergi sebelum aku menyeretmu keluar. PERGI!!" ujar Jobin, gadis itu sudah tak menghiraukan lagi tentang sopan santun yang sela ini ia junjung tinggi


Mendengar pekikan dari Jobin. Karina dan Jony yang sedari tadi sibuk menulis daftar bahan belanjaan untuk esok hari pun keluar karena pekikan tersebut.


"Jobin-ah.. apa terjadi sesu....." ucapan Karina terhenti ketika melihat seseorang yang selama ini dia rindukan berdiri disana. Gadis itu membeku ditempatnya, lidahnya kelu melihat Chunghee kembali.


Senyum Chunghee terkembang begitu mendapati Karina berdiri disana. Pandangannya jatuh pada sepatu yang Karina kenakan saat ini, gadis itu memakai sepatu yang dirinya berikan. Laki-laki itu berjalan mendekati Karina bersiap untuk memeluk gadis kesayangannya itu, namun langkahnya terhenti ketika ia mendapati Karina yang berjalan mundur saat dia akan menghampiri gadis itu


"Karina-ya..." panggilnya


Mata Karina bergerak gusar, gadis itu mulai cemas. Keringat dingin mulai bermunculan, gadis itu semakin bergetar ketika Chunghee mendekat padanya. Lidahnya terasa kelu untuk menyampikan penolakkannya agar Chunghee menjauh darinya


"Be-berhenti..." ujar Karina terbata


"Aniyo, kita harus bicara Karina. Ak-aku akan menjelaskan semuanya padamu. Ak-aku minta maaf untuk segalanya, ak-aku..." Chunghee tidak sanggup melanjutkan ucapannya.


Tenggorokannya terasa tersumbat batu yang begitu besar ketika melihat Reaksi Karina yang seperti ini. Hatinya berdenyut nyeri ketika melihat Karina ketakutan seperti sekarang ini. Ia teringat ucapan Imo nya kalau gangguan tremor akan terluhat jelas kalau penderita tersebut mengalami tekanan.


"Pe-pergi..ja-jangan mendekat...PERGI" pekik Karina diakhir kalimatnya


Tidak menghiraukan Karina, Chunghee semakin mendekat. Sedikit lagi tubuh ringkih itu pasti bisa ia raih kalau saja Karina tidak terjatuh karena kakinya yang mulai melepas.


"Eonni..." pekik Jobin gadis itu mendekati Karina lalu memeluk tubuh atasannya itu.


"Ka-karina" panggil Chunghee sekali lagi


"Andwae... ANDWAE..." pekik Karina sekali lagi


Chunghee membeku ditempatnya, ia tidak menyangka kalau reaksi Karina padanya akan sedemikian rupa. Sungguh hatinya terasa begitu sakit, mendapati Karina yang seperti ini. Dalam hati lagi-lagi dia menyumpahi dirinya sendiri atas apa yang terjadi pada Karina


Jobin terus menggumamkan kata penenang pada Karina yang masih bergetar,  lalu tatapan tajam ia layangkan pada Chunghee


"Sudah aku bilang bukan, apa sekarang kau puas? Kau puas sudah membuat Eonni seperti ini? Apa ini yang ingin kau lihat eoh? Kau ingin melihat Eonni menderita seperti ini?" Ujar Jobin dengan nada begitu dingin


"An-aniyo bukan seperti ini yang ingin aku lihat, a-aku hanya ingin menje..." ucapan Chunghee terputus karena Jobin lagi-lagi mengusirnya


"Pergi sekarang juga. Pergi aku bilang" ujar Jobin


Jhony yang sedari tadi masih binggung dengan apa yang dia lihat akhirnya turun tangan untuk membawa Chunghee keluar dari caffe sebelum semuanya semakin kacau. Chunghee hanya bisa pasrah ketika Jhony membawanya keluar Caffe


"Tuan, aku tidak tahu apa yang terjadi dengan kalian. Tapi kalau kau ingin menjelaskan sesuatu, datanglah lain waktu. Mereka tidak akan mendengarkan anda kalau kalian sama-sama dibawah pengaruh emosi dan kalian masih bersikeras dengan keegoisan kalian. Datanglah lain waktu ketika suasana sudah membaik" ujar Jhony, pemuda itu membungkuk sebentar sebelum akhirnya masuk kembali


Chunghee terdiam, pandangannya masih fokus pada Karina yang masih bergetar didalam sana. Laki-laki itu membenarkan ucapan Jhony, dia harus menjelaskan semuanya lain waktu kalau keadaan sudah membaik.


.


.


.


TBC


See you next chapture....😊