Just Us

Just Us
Chap 34



Choi gyosungnim dan rombongan keluar dari ruang inap Daejung.


"Bagaimana kondisi putraku Gyosungnim?" Tanya Tuan Park


"Kami bisa menyelamatkannya, tapi... Untuk kedepannya kami tidak bisa memastikannya" jelas Choi Gyosungnim


Tuan Park kembali terduduk, laki-laki itu menunduk dan memejamkan matanya. Ji eun memeluk Chinsun yang masih tergugu sedari tadi.


"Gomawo Gyosungnim" ujar Baekhoo


Tubuh Karina serasa lemas, tulang-tulangnya serasa dicabut dari badan. Apa yang terjadi dengan Daejung? Haruskan dia tetap egois dan mempertahankan Daejung dalam keadaan seperti ini? Ataukah dia harus merelakan Daejung untuk pergi selamanya?


Dengan langkah gontai Karina berjalan memasuki ruang inap, dia usap airmatanya lalu semakin mendekati ranjang Daejung. Dia duduk di kursi samping ranjang tersebut


Karina genggam tangan Daejung, lalu dia tempelkan tangan tersebut pada pipinya. Lagi-lagi airmatanya kembali mengalir


"Apa yang harus aku lakukan Daejung-ah. Jeball jangan tinggalkan aku. Ka-kau boleh pergi tapi setidaknya tunggu sebentar lagi, tunggu sampai aku bisa mengurus diriku dengan baik Daejung-ah,  aku mohon bertahanlah demi aku, Karina mu ini" gumamnya.


Chunghee hanya dapat menyaksikan Karina dari kaca yang ada di pintu tersebut, hatinya merasa sakit ketika melihat Karina yang lagi-lagi terpuruk seperti itu. Inginnya dia peluk gadis yang ia cintai itu, tapi melihat Karina yang sepertinya memerlukan waktu berdua dengan Daejung, akhirnya laki-laki itu pergi meninggalkan koridor tempat Daejung dirawat.


Sementara itu dilain tempat, diwaktu yang bersamaan. Daejung merasakan tubuhnya begitu ringan, laki-laki itu tengah berdiri di bawah pohon yang begitu asri. Tempat itu begitu indah dan begitu menyejukkan. Laki-laki itu edarkan pandangannya keseluruhan tempat, dia merasa bingun dimanakah tempat ini? Dia belum pernah berada di tempat seindah ini


"Daejung-ah" panggil seorang wanita


Daejung mencari sumber suara, matanya membola melihat siapa yang memanggilnya


"Eomma" panggilnya, dengan langkah lebar dia hampiri wanita yang sangat dia rindukan itu


"Eomma nan bogoshipo" ujar Daejung, laki-laki itu memeluk ibunya begitu erat


"Nado... Eomma juga sangat merindukanmu Daejung-ah" jawab Daejung


"Eomma, bagaimana kau bisa ada disini?" Tanya Daejung


Wanita itu tersenyum, lalu ia usap kepala anak laki-lakinya itu


"Eomma yang seharusnya bertanya padamu, apa yang kau lakukan disini?" Tanya ibu Daejung


"Aku.... tidak tau Eomma. Seingatku aku pulang dari Jepang, aku bertukar kabar dengan Karina lalu saat aku membuka mata, tiba-tiba saja aku sudah berada disini Eomma" jelas Daejung


"Kalau begitu kembalilah nak, disini bukan tempatmu. Belum saatnya kau berada disini" jelas wanita itu


"Shireo, aku ingin berada disini bersamamu Eomma. Aku merindukanmu  dan kali ini aku tidak akan pergi meninggalkan Eomma lagi" jawab Daejung


"Kau harus kembali Daejung-ah, mereka menunggumu. Karina menunggumu, jangan biarkan dia berlarut dalam kesedihan ini. Apa kau tidak merindukannya?"


Mendengar nama Karina disebut Daejung membelakkan matanya, gadis itu menoleh kesana-sini, mencari dimana Karina berada


"Ak-aku merindukannya Eomma. Tapi aku juga merindukanmu Eomma, aku masih ingin bersamamu" jawab Daejung


Wanita itu tersenyum, lalu dia genggam tangan Karina


"Changiya, Eomma tau kau merindukan Eomma, begitu pun dengan Eomma. Tapi sayang, belum saatnya kita bersama, kau harus kembali, Karina membutuhkanmu, Appa masih membutuhkanmu, dan apa kau tidak ingin bertemu dengan calon keponakanmu? Daejung-ah kalau sudah waktunya nanti kita pasti akan bersama lagi seperti dulu. Kalau kau merindukan Eomma, ingatlah Eomma akan selalu berada disini, dihatimu. Mungkin kau tidak bisa melihat Eomma, tapi percayalah Eomma akan selalu menjagamu dan Chinsun Eonni dari ini. Sekarang kembalilah, dan temui Karina, buat gadis kecil Eomma itu tersenyum kembali" ujar wanita itu


Daejung tersenyum, dia kemudian membalas genggam tangan sang ibu


"Tutup matamu, lalu setela kau merasa melihat sembuah cahaya ikutilah cahaya tersebut" jawab ibu Daejung


Daejung melakukan apa yang ibunya perintahkan, lalu beberapa saat kemudian dia melihat cahaya begitu terang berada didepannya, laki-laki itu mulai melangkah kakinya semakin memdekati cahaya tersebut.


Setelah berjalan beberapa saat, laki-laki itu perlahan matanya terbuka. Dan hal pertama yang dia dapati setelah matanya benar-benar terbuka ialah wajah Karina yang begitu kacau mata sembab, hidung memerah dan air mata yang masih mengalir dipipi putih gadis itu. Perlahan dia coba gerakkan jarinya, lalu dengan susah payah dia mencoba untuk buka suara


"Ka-karina" gumamnya


Merasa pergerakan dari jari Daejung, Karina mendongak mentap laki-laki itu, mendapati Daejung membuka matanya, tangis Karina tidak dapat dibendung lagi. Gadis itu berdiri lalu dia peluk tubuh laki-laki itu


"Daejung-ah" pekik Karina, dan hal tersebut membuat keluarga Daejung yang berada diluar ruangan, memasuki kamar tersebut dengan tergesa


"Karina-ya wae?" tanya Tuan Park


"Daejung-ah, dia... dia" ujar Karina


Tuan Park semakin mendekat, senyum kelegaan tergambar di wajah laki-laki paru baya itu. Hatinya terasa lega melihat putranya terbangun dari tidur panjangnya


"Daejung-ah, kau sudah sadar nak" ujar Tuan Park


"Ap-appa" ujar Daejung


Mereka yang berada disana tersenyum dan bersyukur kepada Tuhan karena telah mengijinkan Daejung untuk kembali bersama mereka lagi. Ji eun memeluk Karina, wanita itu bahagia sekaligus bangga terhadap putrinya yang masih terus percaya dan terus berjuang untuk Daejung.


"Tunggu sebentar akan aku panggilkaan Gyosungnim kemari" ujar Baekho meninggalkan ruang tersebut


Sementara itu di Smoking area Chunghee duduk seorang diri berteman sebatang rokok yang tersemat diantar jarinya, laki-laki itu membuang asap tersebut dari hidung.


Pikirannya melalang buana, berbagai macam hal melintas dipikirkannya, mulai dari kisah cintanya dengan Mijin yang kandas, lalu persahabatan yang terjalin antara dirinya, Daejung dan Karina, dan yang paling membebaninya adalah perasaannya yang muncul untuk Karina. Sementara dia tau dan bahkan sangat tau bagaimana perasaan Daejung pada Karina. Begitu pun dengan Karina, meski gadis itu tidak mengatakannya tapi dapat dia lihat kalau ada perasaan lebih dari gadis itu untuk Daejung. Satu sisi hatinya mengatakan kalau dia harus menyerah dan merelakan Karina untuk Daejung, tapi sisi hatinya yang lain mengatakan untuk bertahan dan terus memperjuangkan Karina, sampai gadis itu yang mengatakan sendiri bahwa dia mencintai Daejung.


Laki-laki itu menunduk lalu tertawa miris, dia menertawakan dirinya sendiri. Bagaimana lucunya alam sedang bercanda dengannya melalui kisah cintanya yang begitu pelik itu. Disisi lain dia ingin memiliki Karina, tapi disis lain dia juga tidak ingin persahabatannya dengan Daejung dan Karina hancur begitu saja.


Chunghee mematikan batang rokoknya lalu berjalan keluar dari ruangan tersebut untuk menuju ruangannya, dia rasa dia membutuhkan saran Mina untuk masalahnya ini


.


.


.


TBC


See you next Chapture...😊


**Hallo teman-teman semua, terimakasih sudah mampir ke ceritaku ini. Hari ini aku ada sedikit info ni... Sebelumnya aku mau minta maaf soalnya nama tokoh dari cerita aku ini bakal aku ganti, karena satu dan lain hal... tapi tenang aja untuk alurnya akan tetap seperti rencana awal aku buat. Semoga hal ini tidak akan mengurangi feel dari cerita ini ya.... Sekali lagi maaf dan terimakasih ya...


Daehyun \=> Daejung


Yejin \=> Hye in


Mark \=> Hwang


Jiwon \=> Baekho**