Just Us

Just Us
Chap 49



Karina baru saja menginjakkan kakinya di Narita airport, gadis itu baru saja mendarat dari penerbangannya. Mata gadis itu berbinar ketika sampai di tujuan dengan selamat, ia berbangga diri karena bisa sampai di negeri matahari terbit itu seorang diri.


Gadis itu mengenakan celana jeans yang dipaduakan dengan sebuah sweater dengan dilengkapi bucket hat yang menutupi rambutnya yang tergerai, dan jangan lupa sebuah ransel dipunggungnya, dia berjalan keluar dari bandara internasional warga jepang itu. Sembari menunggu taxi dia ambil ponsel dari saku celananya, dia tempelkan ponsel tersebut pada telinga kirinya


"Yeobseyo" sapa seseorang dari seberang sana


"Chunghee-ah..." panggil Karina


"Em.. kau sudah sampai?"


"Aku baru saja sampai, aku sedang menunggu taxi. Eoddiga?"


"Aku baru keluar dari rumah sakit, kau sudah makan?"


"Belum, aku akan makan nanti setelah bertemu Daejung. Kau sendiri sudah makan?"


"Belum, setelah sampai apartemen aku akan segera makan"


"Em, ah Chunghee-ah aku sudah mendapatkan taxi. Aku tutup dulu panggilannya eoh"


"Em, hati-hati dijalan. Begitu bertemu dengan Daejung, segera hubungi aku"


"Ne, aku pergi dulu. Bye Chunghee-ah aku menyayagimu"


"Aku tidak"


Karina mendengus kesal "Ais, kau masih tidak mau membalasnya eoh?"


"Aku tidak berniat membalasnya" jawab Chunghee datar


"Ck dasar laki-laki dengan gengsi setinggi langit. Sudahlah kau memang menyebalkan, aku pergi dulu bye"


Karina mengantongi kembali ponselnya kedalam saku celana, gadis itu kemudia memasuki taxi dan mengatakan alamat tujuannya. Beruntung dia bisa berbahasa jepang walau pun tidak terlalu fasih


Sementara dibenua lain, Chungher menatap ponselnya dan mengusap fotonya dan kedua sahabatnya yang dia jadikan lockscreen. Laki-laki itu berbohong pada Karina, karena nyatanya kini dia sedang berada di apartemen milik Mina. Dia datang untuk membahas sesuatu yang penting pada wanita itu


"Saranghae Karina-ya" gumamnya


"Kenapa kau tidak mengatakannya langsung, kau bahkan tidak membalas ungkapan sayangnya padamu" ujar Mina yang kini duduk didepan Chunghee


"Aku taku Nonna, aku takut merusak persahabatan kami. Aku tidak bisa setegar dan segigih Daejung, aku tidak bisa mengungkapkan perasaanku dan menerima penolakan darinya. Kau tahu dari semua itu yang paling aku takutkan adalah menerima keterdiaman Karina. Aku tidak bisa Nonna" jelas Chunghee


"Dari mana kau tahu kalau Karina akan menolakmu?" Tanya wanita yang kini sedang mengandung itu


"Entahlah, aku hanya merasa kalau penolakan yang terjadi pada Daejung akan terjadi juga padaku" jelas Chunghee dengan menyuapkan satu telur gulung kemulutnya


"Ck setidaknya coba saja dulu. Kalau dia menolakmu dan menjauhimu, setidaknya kau sudah mengatakan apa yang kau rasakan. Dan kalau dia menerima mu itu berarti kau harus mentraktirku satu minggu penuh" ujar Mina


"Yak mana bisa begitu. Mudah memang ketika mengatakannya, tapi coba saja kau yang melakukannya langsung Nonna" sangah Chunghee


"Ck apa susahnya mengatakan hal itu, aku yakin kau sudah berpengalaman untuk hal semacam ini. Aku bahkan selalu mendengar kau selalu merayu para perawat serta dokter baru" ujar Mina


"Yak, ini berbeda Nonna"


"Apanya yang berbeda, kau hanya cukup katakan 'Karina-ya saranghae' mudah bukan. Dari apa yang aku amati selama ini, aku rasa Karina menyukaimu. Kau mengatakan kalau dia tidak menolak saat kau cium, kau juga mengatakan kalau dia menolak saat Daejung akan menciumnya. Jadi dari semuanya dapat aku simpukan bahwa dia lebih mencintaimu dari pada Daejung" jelas Mina


Chunghee terdiam, lalu ingatannya berputra pada tiga bulan lalu. Dimana dia dan Karina berciuman untuk pertama kalinya, dia juga mengingat sejak saat itu pula Karina lebih sering bahkan setiap hari gadis itu akan mengungkapkan rasa sayang nya pada dirinya. Dia tidak bodoh untuk mengartikan semua tingkah Karina padanya, tapi laki-laki itu berusaha menampik semua pikiran itu


"Setidaknya cobalah untuk mengatakannya Chunghee-ah, jangan kau pikirkan hasilnya nanti. Yang harus kau lakukan adalah mengungkapkan apa yang ada dalam hatimu. Kalau aku boleh memberi saran, sebaiknya kau ungkapkan perasaanmu itu saat ulang tahun Karina satu minggu lagi. Ajak dia untuk makan bersama, dan ungkapkan perasaanmu. Setidaknya coba lah walau hanya sekali. Lebih baik kau ditolak dari pada tidak mencobanya sama sekali" ujar Mina


Chunghee terdiam memikirkan apa yang Mina sarankan padanya. Setelah menimang cukup lama akhirnya laki-laki itu mengangguk dan mengiyakan saran dari seniornya itu. Benar apa yang dikatakan Mina, lebih baik ditolak dari pada tidak mengatakannya sama sekali.


.


.


.


"Dae..... Hye in" ujar Karina dengan kernyitan yang tergambar jelas dikeningnya.


Gadis itu meraih ponselnya dan membaca kembali alamat yang Daejung berikan padanya, ia lalu menatap nomor yang tertera pada pintu itu. Dan yang ia dapati adalah nomor yang sama dengan yang ada pada ponselnya. Tapi yang membuatnya bingung adalah kenapa Hye in yang membuka pintu tersebut? Apa Daejung salah memberinya alamat?


Hye in tersenyum melihat tingkah Karina, ia yakin pasti gadis itu dilanda kebingungan sekarang. Ia berdeham sebentar untuk menarik perhatian Karina


"Karina-ya... silahkan masuk" ujarnya lembut


Karina mendongak, ia semakin dibuat terkejut ketika mendapati sikap lembut Hye in, seingatnya wanita itu tidak pernah berkata selembut itu padanya. Karina mengerjapkan matanya beberapa kali ia masih mencerna situasi saat ini


"Kau tidak mau masuk? Aku akan menjelaskannya didalam" ujar Hye in


Karina mengangguk kaku lalu mengikuti Hye in memasuki apartemen tersebut. Karina duduk di kursi yang terdapat pada ruang makan apartemen tersebut. Matanya berpendar mengamati setiap sudut tempat tersebut, ia masih belum percaya kalau tempat ini adalah tempat yang ia tuju. Tapi ketika netranya menangkap sebuah foto yang berisi gambaran dirinya, Daejung serta Chunghee, yang terpajang di salah satu sudut ruangan, ia yakin bahwa ini adalah apartemen Daejung. Tapi kenapa Hye in ada disini? Dan kenapa di salah satu sudut tempat itu ada banyak sekali mainan? dan kenapa juga terdapat box bayi di sudut tersebut? Terlalu berlarut dalam pikirannya, gadis itu sampai tidak menyadari kehadiran Hye in yang kini sudah duduk di depannya


"Minum lah Karina, selagi tehnya masih panas" ujar Hye in


Karina tersadar kembali dari lamunannya, gadis itu menatap teh yang Hye in suguhkan untuknya. Dia tersenyum pada Hye in lalu mulai menyeruput teh tersebut


"Kau pasti bertanya-tanya kenapa bukan Daejung yang membukakan pintu, dan kenapa justru aku yang membukakan pintu bukan?" Tanya Hye in


Karina meletakkan cangkirnya lalu tersenyum canggung


"Ah, itu aku... em..." gadis itu bingung dengan apa yang harus dia katakan. Pikirannya sekarang sedang mencoba memecahkan pertanyaan-pertanyaan yang sedari tadi mengganggunya


Hye in tersenyum, wanita itu menunduk. Mengambil nafas dalam lalu kembali membuangnya.


"Kau mungkin akan terkejut dengan apa yang akan aku katakan ini. Jadi aku akan meminta maaf terlebih dulu sebelum mengatakannya. Karina aku dan Daejung, kami tinggal satu atap" jelas Hye in


Karina melebarkan matanya, gadis itu mengerjap beberapa kali.


"Ye?" Ujar gadis itu dengan kepala yang ia miringkan


"Kami tinggal satu atap sudah sejak tiga bulan terakhir. Ta-tapi Karina jangan salah paham dulu, ini tidak seperti apa yang kau pikirkan. Kami tidak..." ucapan Hye in terpotong karena gebrakan tangan Karina pada Meja. Bahkan ibu satu anak itu sampai berjengkit saking terkejutnya


"Bedebah sialan, jadi selama ini dia tinggal satu atap denganmu tapi dia sama sekali tidak memberitahuku. Awas saja dia, akan aku gunduli rambutnya" ujar Karina penuh emosi, nafas gadis itu bahkan sampai memburu


"Karina tenanglah, ini tidak seperti apa yang kau bayangkan. Kami memang tinggal satu atap tapi kami..." lagi-lagi ucapannya terpotong karena Karina memberi isyarat pada Hye in untuk diam


"Apa disini ada bayi?" Tanya Karina


"Ne?"


"Itu. Bukankah itu box bayi?" Jawab Karina dengan mata yang melirik pada box bayi yang terdapat pada sudut ruangan


"Ah itu, box itu milik putri..."


"Yak! Jadi hubungan kalian sudah sejauh itu? Jadi ini alasan kenapa laki-laki sialan itu ingin segera kembali kesini ,setelah sadar dari koma nya. Ck benar-benar dimana ponselku aku harus memberi laki-laki itu pelajaran" ujar Karina


"Karina-ya, ku mohon tenanglah ini tidak sama seperti apa yang kau pikirkan. Bayi itu memang putriku tapi dia bukan...." dan untuk yang kesekian kalinya penjelasan Hye in harus terpotong


"Cukup Hye in-ah. Kau memang memcintainya, tapi kau tidak harus membelanya terus menerus. Kau cukup diam dan lihat bagaimana aku memberi pelajaran pada laki-laki sialan itu" ujar Karina


Hye in akhirnya pasrah juga, wanita itu hanya mengangguk lesu. Ia yakin pasti setelah ini apartemen ini akan gaduh oleh pekikan dari Karina. Dia membuang nafas lelah, dalam hati dia merapalkan kata maaf pada Daejung atas apa yang akan terjadi setelah ini.


.


.


.


TBC


See you next chapture....😊