Just Us

Just Us
Chap 67



Chunghee berajalan memasuki salah satu gedung bertingkat tinggi yang berada di pusat Seoul. Langkahnya ia ayun dengan pasti, tanpa bertanya dimana lantai dari sang pemilik gedung itu, ia sudah tahu pasti dimana tempat ayahnya mengendalikan perusahaan itu.


Begitu sampai dilantai yang ia tuju segera ia berjalan menuju pintu yang berada diujung ruangan tersebut. Tanpa menghiraukan panggilan dari sekertaris ayahnya, Chunghee membuka kasar pintu hitam tersebut hingga membuat tiga orang yang berada disana menoleh pada sumber suara


Yoo Joon berdiri begitu mendapati Chunghee berdiri disana


"Eoh Chunghee-ah.." ujarnya


Chunghee tidak menjawab, laki-laki itu berjalan mendekai ayahnya. Ia tidak memperdulikan dua orang lainnya


"Ah kebetulan sekali kau datang, duduklah dan lihat ada siapa disini. Eunso sahabatmu sejak kecil, kau ingat bukan?" Ujar Yoo Joon


Chunghee menatap dua orang disana, dapat ia lihat seorang laki-laki baru baya dan seorang gadis


"Chunghee-ah lama tidak berjumpa. Lihatlah dirimu, kau sangat tampan dan aku dengar kau  sudah menjadi dokter sekarang, aku ikut bangga mendengarnya Chunghee-ah. Eoh Eunso kau tidak menyapa Chunghee? Kau bilang kau merindukannya bukan" ujar Won hee


"Aanyeoung Chunghee-ah, lama tidak bertemu" sapa seorang gadis yang tak lain asalah Eunso, dengan senyum yang begitu manis


Chunghee menatap mereka berdua lalu membungkuk sopan, laki-laki itu tidak berniat sedikit pun untuk membalas sapaan ataupun pertanyaan dari dua orang tadi. Ia kemudian kembali menghadap ayahnya


"Aboji, ada yang ingin aku bicarakan berdua" ujar Chunghee


Merasa sesuatu yang tidak beres, Won hee pun mengajak Eunso untuk pamit pergi


"Ah Eunso-ya kurasa kita harus segera pergi, sebelum jam makan siang datang. Yoo Joon-ah, aku pamit pulang. Senang kau kembali lagi ke Seoul, aku harap setelah ini kita bisa menjalin kerjasama dengan baik" ujar Won Hee


"Kalian akan pergi sekarang? Kenapa terburu-buru, kita bisa makan siang bersama. Sudah lama sekali kita tidak makan bersama bukan Won Hee-ah" ujar Yoo Joon


"Kita bisa makan bersama lain waktu, sepertinya Chunghee ingin membicarakan sesuatu yang penting padamu, jadi lain waktu saja kita makan bersama, kau katakan saja kapan punya waktu luang maka aku akan dengan senang hati mengundang kalian untuk makan malam di rumahku" ujar Won Hee


"Ah, baiklah. Aku akan segera memberimu kabar baik tentang yang kita bicarakan tadi" ujar Yoo Joon


"Aku sangat menantikan kabar baik itu, bukankah begitu Eunso-ya. Kalau begitu kami pergi dulu, sampai bertemu lagi Chunghee-ah" ujar won Hee


Dan lagi-lagi Chunghee hanya menjawabnya dengan sebuah bungkukan badan.


Setelah dua orang itu pergi, Yoo Joon kembali duduk kemudian ia menyesap kopi yang ada didepannya


"Apa yang Aboji lakukan? Bukankah sudah aku katakan untuk tidak mengganggu Karina" ujar Chunghee dengan begitu dingin


Yoo Joon, meletakkan cangkir kopinya lalu ia tatap wajah putranya yang kini diliputi oleh kemarahan yang begitu ketara


"Dan bukankah sudah Aboji katakan kalau Aboji akan mengunjunginya?" Jawab Yoo Joon


"Kenapa Aboji melakukan ini? Tidak bisakah Aboji membiarkan aku bahagia walau hanya sebentar? Haruskah Aboji selalu mengangguku?" Ujar Chunghee dengan nafas memburu


"Dan haruskah Aboji bertindak dulu agar kau datang menemui Aboji tanpa Aboji minta? Aboji tidak akan melakukan ini kalau kau mau melakukan apa yang Aboji katakan. Jujur saja aku tidak suka melakukan hal semacam ini, tapi untuk menghadapimu, aku rasa tidak ada cara lain selain memaksamu dengam cara seperti ini. Semua keputusan ada ditanganmu Chunghee-ah, kalau kau mau meninggalkan gadis itu, maka Aboji akan berhenti mengganggunya. Tapi kalau kau masih mempertahankan gadis itu, maka lihatlah apa yang bisa Aboji lakukan untuk memisahkan kalian berdua. Kau tahu bukan seperti apa sifat Aboji" ujar Yoo Joon


Rahang Chunghee mengeras, emosinya kembali dipermainkan oleh ayahnya. Kali ini dia tidak akan menyerah begitu saja, dia tidak akan melepaskan Karina apapun yang terjadi. Dia akan melindungi Karina dari kegilaan ayahnya


"Aboji juga tahu bukan kalau kita memiliki sifat yang sama? Keputusanku tetap sama, aku tidak akan meninggalkan Karina apapun yang terjadi. Jadi lakukan saja apa yang ingin Aboji lakukan, karena sampai kapan pun aku tidak akan pernah melepas Karina. Kalau Aboji bisa mengancamku, maka aku juga bisa melakukan hal yang sama. Aku tidak akan segan-segan membongkar pernikah Aboji dengan wanita itu. Dan aku tidak pernah main-main dengan ucapanku" jawab Chunghee


Yoo Joon tersenyum sarkas, laki-laki itu lalu berdiri tepat didepan putranya "Lakukan, kau pikir Aboji akan takut dengan ancaman semacam itu? Kau tidak usah repot-repot memberi tahu semua orang, karena Aboji sendiri yang akan memberitahu mereka begitu Eomma mu datang kemari"


Kedua alis Chunghee menukik tajam "Dia bukan Eomma ku, sampai kapan pun aku tidak akan pernah menganggapnya. Sekali lagi aku tegaskan, jangan mengganggu kekasihku. Sedikit saja Aboji menyentuhnya, maka saat itu juga aku akan bertindak. Aboji ingat bukan kalau aku juga memiliki warisan dari Halmoni, aku bisa menghancurkan apa yang Aboji bangun selama ini" ujar Chunghee dengan smirk yang dapat membuat orang berpikir dua kali untuk menganggunya


Dulu sebelum meninggal ibu dari ayahnya itu mengatakan kalau semua warisan yang dia punya, semuanya ia wariskan pada cucu kesayangannya yaitu Chunghee. Tapi karena Chunghee pernah mengatakan kalau dia tidak akan pernah lagi berhubungan dengan keluarga dari ayahnya itu, maka semua warisan yang neneknya berikan tidak pernah dia sentuh sedikit pun, semuanya ia biarkan mengendap dalam tabungan dan mempercayakan semuanya pada salah satu orang kepercayaan neneknya. Sampai detik ini pun dia tidak pernah tahu berapa yang neneknya itu berikan padanya. Biarlah, dia tidak tahu dan tidak ingin mencari tahu, dia hanya akan menggunakannya untuk mengancam ayahnya saja.


Setelah Chungkee keluar, Yoo Joon duduk dikursi kebesarannya, laki-laki paruh baya itu memijit pelipisnya yang berdenyut nyeri menghadapi putra nya itu. Tangannya terulur untuk membuka salah satu laci yang ada disana, kemudian ia raih sebuah foto yang selama ini selalu ia simpan disana, foto seorang wanita yag sedang duduk memangku seorang anak laki-laki berusia sekitar tiga tahunan. Dalam foto tersebut terlihat jelas senyum bahagia dari wanita itu


"Eun Hee-ya bagaimana kabarmu? Aku.... merindukanmu. Mianhe sudah menjadi laki-laki yang egois, Mian sudah membuatmu kecewa" ujarnya dengan ibu jari yang mengusap foto tersebut.


Sementara itu dilain tempat, Karina duduk di ruangannya. Ia sandarkan tubuhnya pada sandaran kursi, matanya menatap rekaman CCTV yang ada di caffe nya, dapat ia lihat betapa brutalnya orang-orang itu menghancurkan Caffe nya. Gadis itu sesekali meringis menyaksikan hal tersebut


Ddddrrrrrtttt Dddddrrrtttt


Getaran ponsel mengalihkan perhatian Karina, dengan mata yang masih menyaksikan rekaman tersebut, Karina mengangkat panggilan tersebut yang ternyata dari Daejung


"Yeobseyo" sapanya


"Karina-ya gweanchana?" Tanya Daejung begitu dia mendengar suara Karina


"Ne nan gweanchana, wae?" Tanya Karina


"Jobin memberitahuku kalau caffe mengalami kerusakan, dan aku juga sudah melihatnya. Apa yang terjadi? Kau menangis" Tanya Daejung, ia hafal betul bagaimana Karina. Gadis itu pasti akan menangis ketika mendapati suatu masalah menimpa apa yang ia sayangi. Dan caffe adalah salah satu yang ia sayangi dan ia jaga


"Molla aku juga tidak tahu, pagi tadi saat kami datang caffe sudah berantakan. Aku tidak menangis sungguh, aku hanya terkejut saja mendapati caffe ku seperti itu" jelas Karina


"Kau sudah memeriksa rekaman CCTV?" lanjut Daejung


"Em, aku sedang menyaksikannya. Sssshhhh aku merinding melihatnya, mereka begitu brutal menghancurkan barang-barangku" jelas Karina


"Kalau begitu simpan itu. Aku dan Hye in akan segera pulang. Begitu sampai aku akan langsung pergi ke caffe, lalu kita akan pergi ke kantor polisi untuk melaporkan kejadian tersebut" ujar Daejung


"Tidak perlu Daejung-ah, kau tetaplah disana dan nikmati saja honeymoon kalian. Aku baik-baik saja sungguh, Chunghee sudah mengurus semuanya jadi kau tidak perlu khawatir. Aku tidak ingin masalah ini berkepanjangan, jadi aku akan menganggap ini sebagai renovasi. Aku akan memperbaiki temboknya, dan untuk barang yang rusak aku akan menggantinya dengan yang baru" ujar Karina


"Yak! Mana bisa begitu, Karina-ya kau harus mengurus masalah ini. Kalau kau membiarkannya bagaimana kalau lain waktu mereka melakukan hal semacam itu lagi pada caffe mu" ujar Daejung


"Yak Daejung-ah dalam kita berbisnis, yang namanya persaingan itu pasti ada, dan hal semacam ini wajar terjadi, apalagi melihat dari ulasan tentang caffe ku, jadi pasti diluaran sana ada beberapa orang yang tidak suka. Sudahlah percaya saja padaku, hal semacam ini tidak akan terjadi lagi" ujar Karina


"Tapi Karina-ya kau tetap...." ucapan Daejung terpotong oleh Karina


"Sudahnya Daejung-ah, aku sibuk. Dan kau tidak usah mengkhawatirkanku, kau fokuslah pada kegiatamu agar permintaanku untuk mendapat keponakan kembar segera terkabul" ujar Karina


"Yak dasar gadis nakal, aku mengkhawatirkan mu tapi kau malah meminta yang tidak-tidak yak Karina-ya..." pekik Daejung dari seberang sana


Karina hanya terkekeh "Bye Daejung-ah..." setelahnya dia matikan panggilan tersebut tanpa menghiraukan Daejung yang sedang kesal padanya


"Baiklah sekarang mari kita lihat beberapa furnitur untuk caffe ku" gumam Karina yang mulai berselancar mencari perabotan baru untuk caffe nya


.


.


.


TBC


See you next Chapture...😊