
Yoo Joon bersmirk mendapati jawaban dari Daejung, laki-laki itu menyandarkan tubuhnya pada sofa, kakinya ia silangkan, ia membenarkan jasnya sebentar sebelum berujar
"Mudah saja Tuan Oh, hanya katakan saja pada gadis itu untuk mengakhiri hubungan mereka dan menjauhlah dari putraku. Katakan padanya kalau mereka tidak berada pada status sosial yang sama. Kau tahu bukan kalau bisnis itu harus terus berkembang, dan aku yakin kau pasti tahu bagaimana harus mengembangkan bisnis yang selama ini sudah dibangun dari nol. Bukan rahasia lagi kalau seorang pemimpin perusahaan akan melakukan apapun agar perusahaannya tetap berjalan dan berkembang sebagaimana mestinya. Kau tahu maksudku bukan Tuan Oh" ujar Yoo Joon
Daejung mengepalkan tangannya "Ternyata memang benar apa yang Chunghee katakan tentang anda Tuan Park. Aku tidak menyangka kalau anda adalah seorang pria yang rela melakukan apapun untuk terus menumpuk pundi-pundi uang anda. Anda bahkan rela menjual kebahagiaan putra anda hanya untuk sebuah bisnis yang nantinya tidak akan anda bawa mati. Perusahaan saya memang tidak sebesar perusahaan milik anda Tuan Park, tapi kalau pun nanti saya akan semakin mengembangkan perusahaan saya, saya tidak akan pernah memanfaatkan anak-anak saya hanya untuk bisnis, apa lagi dengan mempertaruhkan kebahagiaan dan masa depan mereka. Saya rasa tidak ada lagi yang perlu saya dibicarakan dengan anda, karena saya yakin sebanyak apapun saya menyampaikan pendapat, hal itu tidak akan berpengaruh pada anda. Kalau begitu saya permisi dan maaf telah mengganggu waktu anda yang berharga" ujar Daejung, laki-laki itu membungkuk sebentar lalu berjalan untuk keluar ruangan. Tangannya baru saja memegang knop pintu sebelum suara Tuan Park kembali terdengar
"Kau bisa berkata seperti itu karena kau tidak merasakan apa yang aku rasakan Tuan Oh. Aku melakukan hal ini untuk kebahagiaan putraku, aku tahu mana yang terbaik untuk untuk putraku. Kau hanyalah teman yang dia kenal dari gadia tersebut, jadi aku sarankan untuk tidak terlalu ikut campur dalam urusan keluargaku atau kau akan menyesal jika terus ikut campur" ujar Tuan Park dengan nada mengancam
Daejung tertawa kecil, laki-laki itu berbalik dan menatap Yoo Joon dengan tatapan menantang "lakukan Tuan Park, lakukan seperti apa yang biasa anda lakukan, berbuat anarki, lalu melempar kesalahan pada orang lain. Lakukanlah maka setelah itu aku pastikan media tahu tentang sifat buruk anda. Dan satu lagi Tuan Park, di dunia ini tidak ada satu orang tua pun yang ingin menukar kebahagiaan anak mereka dengan harta, sekalipun itu dengan dalih untuk kebahagiaan mereka di masa depan" setelahnya Daejung membungkuk dan keluar dari ruangan tersebut.
Daejung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, laki-laki itu melonggarkan dasinya. Tujuannya saat ini adalah untuk bertemu Chunghee.
Begitu sampai di rumah sakit, laki-laki itu langsung menuju Kantin dimana Chunghee menunggunya
"Bagaimana?" Tanya Chunghee begitu Daejung duduk di hadapannya
"Dia menolak kerja sama itu, dia mengatakan akan membatalkan perjodohan itu jika Karina mau memutuskan hubungan kalian, dia juga mengatakan kalau Karina harus menjauhimu" jelasnya
Chunghee memejamkan matanya, ayahnya benar-benar begitu getol untuk menjodohkannya
"Tidak ada yang bisa kita lakukan sekarang, satu-satunya hal yang bisa kita lakukan adalah memberi tahu Karina tentang perjodohan ini. Setidaknya dia harus tahu dan mempersiapkan diri kalau-kalau suatu saat nanti kalian..." ucapan Daejung dipotong oleh Chunghee
"Aniyo, aku akan membawa Karina pergi dari negara ini, aku akan menikahi Karina, aku akan membuat identitas palsu untuk kami agar Aboji tidak dapat menemukan kami,aku akan..." kali ini ucapan Chunghee yang Daejung potong
"Kau gila atau kehilangan akal sehat hah? Bukakah sudah kubilang kalau hal itu tidak akan berhasil"
"Lalu apa? Apa yang harus aku lakukan Daejung-ah. Aku tidak mungkin mengatakan hal tersebut pada Karina, aku...aku belum siap" tanya Chunghee frustasi
Daejung menghela nafas "aku belum menemukan cara lain selain itu"
...****************...
Sementara itu dilain tempat Karina sedang menikmati makan siangnya bersama ketiga rekannya, saat makan siang mereka biasanya akan menutup Caffe dan menyempatkan waktu untuk makan siang bersama
"Eoh Kwon Sun-ya kau tidak suka timun?" Tanya Karina ketika mendapati Kwon Sun menyingkirkan timun dari makanannya
"Em, aku kurang begitu menyukainya. Aku akan merasa mual ketika melihat mereka ada dimakananku" jelas Kwon Sun
"Baiklah kalau begitu, mulai besok aku tidak akan memasukkan timun dalam makananmu. Apa ada lagi makanan atau minuman yang kau hindari?" Tanya Karina
"Aniyo, aku hanya tidak suka timun"
Karina bergumam dan mengangguk sebagai jawaban
"Kwon Sun-ah dimana kau tinggal?" Tanya Jhony
"Aku tinggal di *****" jawab Kwon Sun
"Jinjja? Wah daebak, itu adalah kawasan elit dan kau tinggal disana. Itu berarti kau berasal dari kalangan atas bukan" tanya Jhony begitu penasaran. Dan ternyata hal tersebut juga membuat Karina dan Jobin penasaran. Mereka menunggu jawaban dari Kwon Sun dengan begitu penasaran
Kwon Sun terkekeh "tidak juga, aku hanyalah seorang anak dari salah satu maid di perumahan elit itu" bohong Kwon Sun
"Tapi kenapa kemarin saat kau kemari, kau menaiki mobil mewah?" Kini giliran Jobin yang bertanya
"Aku hanya meminjam dari majikan Eomma" bohongnya lagi
"ah, Kwon Sun-ah setelah ini tolong antar aku berbelanja" ujar Karina mengalihkan topik
"Nde Nunna" jawab Kwon Sun
Setelahnya mereka kembali menikmati makan siang tersebut denganĀ sesekali diselingi obrolan ringan.
Karina dan Kwon Sun baru saja selesai berbelanja mereka kini berada di taman, mereka duduk disalah satu bangku yang tersedia, mereka sedang menikmati es krim, sebenarnya Kwon Sun sudah menolak untuk makan es krim hanya saja Karina terus memaksanya, alhasil dia juga ikut menikmati makanan dingin tersebut
"Kwon Sun-ah apa kau memiliki saudara?" Tanya Karina
"Wae Nunna?" Tanya Kwon Sun
"Any, hanya ingin tahu saja" jawab Karina
"Aku anak tunggal. Kau sendiri Nunna?" Lagi-lagi Kwon Sun berbohong
"Aku memiliki dua Oppa, tapi aku jarang bertemu mereka karena kesibuka mereka hah...aku jadi merindukan mereka" ujar Karina
Kwon Sun terdiam dia tidak tahu harus berkata seperti apa. Disela keheningan tersebut mereka mendengar tangisan seorang anak, Karina menoleh dan mendapati seorang anak laki-laki terjatuh, dengan segera gadis cantik itu mendekatinya, membantu anak itu berdiri lalu membersihkan celana anak tersebut. Karina juga menempelkan sebuah plester pada lutut anak laki-laki berambut jamur itu, setelah selesai gadis itu mengajak anak tadi untuk duduk bersamanya dan Kwon Sun
"Nah sekarang kita tunggu disini dulu ne, nanti saat orang tuamu mencari aku akan melambaikan tangan dan mengantarkanmu pada mereka arachi?" Ujar Karina begitu mereka duduk
"Nde Imo" jawab anak itu begitu polos
"Ah lucunya, em kau mau es krim?" Tanya Karina
"Bolehkah?" Tanya anak itu
Karina terkekeh "Tentu, tunggu disini ne, Imo akan membelikannya untukmu" baru saja Karina akan beranjak, Kwon Sun lebih dulu berujar
"Biar aku saja Nunna" ujarnya
"Benarkah? Apa tidak apa?" Tanya Karina
"Eoh, aku rasa akan lebih baik seperti itu" jawab Kwon Sun
"Baiklah, tolong belikan satu es krim untuknya" ujar Karina
Kwon Sun mengangguk, laki-laki itu kemudian berjalan untuk membeli es krim yang diminta. Butuh beberapa saat untuk dia membeli es krim, saat hampir sampai langkah Kwon Sun terhenti begitu mendapati pemandangan di depan sana, dimana Karina sedang memangku anak laki-laki itu, mereka terlihat begitu akrab bahkan anak tersebut tertawa dengan riang, tawa dan senyum Karina pun tak lepas dari pandangan Kwon Sun. Paras cantik itu menghipnotis nya untuk beberapa saat
"Pantas saja Hyung begitu mencintaimu, kau begitu cantik, bukan hanya fisik tapi juga hati Karina"
.
.
.
TBC
See you next chapš