
Karina berlari seperti orang kesetanan, dia berlari tanpa perduli tatapan orang ataupun cacian yang dia dapat dari orang yang dia tabrak. Tujuannya saat ini adalah ruang inap Daejung.
Tadi gadis itu baru saja keluar dari ruang operasi setelah membantu Kang gyosungnim melakukan operasi, saat berjalan di koridor, dia mendengar dua orang perawat yang mengatakan kalau alat penunjang hidup Daejung akan dilepas. Mendengar kabar tersebut buru-buru dia memutar arah dan berlari menuju ruang inap Daejung.
Chunghee sedang berbincang dengan perawatan Jung, mereka hanya membicarakan hal-hal ringan, sesekali mereka juga tertawa bersama. Chunghee terkejut ketika Karina menabrak bahunya hingga membuat gadis itu terjatuh. Reflek, Chunghee berjongkok dan membantu Karina untuk berdiri
"Gweanchana?" Tanya Chunghee
Karina mentap Chunghee dengan tatapan sulit diartikan, kekhawatiran dan ketakutan tergambar jelas disana. Tanpa menjawab pertanyaan Chunghee, Karina berdiri dan kembali berlari menuju ruangan Daejung. Chunghee merasakan sesuatu tidak baik sepertinya terjadi, laki-laki itu kemudian berlari menyusul Karian.
.
.
.
Gadis itu membuka pintu ruangan tersebut dengan kasar, hingga membuat orang-orang yang ada dalam ruangan tersebut menoleh kearahnya. Dengan langkah lebar Karina mendorong tubuh perawat yang sedang melepas alat bantu yang menempel pada tubuh Daejung
"IGE MWOYA!" Pekik Karina dengan nafas memburu, gadis itu merentangkan tangannya berusaha menutupi ranjang tempat Daejung terbaring .
Gadis itu mengambil pisau buah yang ada di nakas, lalu mengarahkannya pada orang-orang disana
"Karina" panggil Ji eun berusaha mendekati putrinya
"Berhenti, jangan bergerak. Jangan mendekat" ujar Karina
Ji eun berhenti melangkah, airmata wanita itu menetes melihat sang putri. Begitu pun dengan Chinsun yang semakin terisak melihat keadaan Karina saat ini.
Chunghee yang baru saja datang berusaha menetralkan nafasnya, laki-laki itu berjalan mendekati Karina. Laki-laki itu berusaha tersenyum untuk menenangkan Karina
"Karina-ya, Gweanchana. Kita bicarakan ini baik-baik eoh" ujar Chunghee
"Aniyo, mereka akan melepas Daejung, mereka akan membiarakan Daejung pergi dariku. Andwae.... Andwae" ujar Karina dengan Pekikan di akhir kalimatnya
"Aniyo. Mereka tidak akan melakukannya Aku berjanji. Sekarang lepaskan pisau itu, dan ayo kita pasang kembali alat-alat itu em" ujar Chunghee yang semakin mendekat pada Karina
Karina menapat lekat manik Chunghee, mencoba mencari sebuah kepercayaan disana. Setelah merasa yakin gadis itu mengangguk kaku lalu meletakkan pisau yang ia pegang tadi. Melihat respon Karina Chunghee tersenyum, laki-laki itu lalu mengusap kepala Karina
"Ayo kita bawa Daejung kembali" ujar Chunghee
Lalu beberapa detik kemudian Karina dan Chunghee dibantu beberapa tenaga medis kembali memasang alat bantu yang tadi terlepas dari tubuh Daejung. Setelah selesai, tubuh Karina meluruh dan terduduk dilantai, ia gengam erat tangan Daejung, airmatanya menganak sungai, bahunya bergetar hebat, dadanya terasa sesak luar biasa, dia takut sangat takut akan kehilangan Daejung
"Andwae..." lirih Karina disela isakannya
Chunghee ikut berjongkok dan mengusap punggung Karina. Laki-laki itu juga terus membisikkan kata-kata penguat untuk Karina.
"Tadi Daejung kembali anfal. Aku memberikan saran pada keluarga pansien untuk melepas alat bantunya, akan lebih baik kalau kita melepas....." ucapan Choi Gyosungnim terputus
"Siapa kau? Siapa kau hingga dengan beraninya memutuskan untuk melepas Daejung" ujar Karina dengan nada yang begitu dingin
"Karina songsaenim kita tidak bisa terus membiarakan Daejung-ssi berada diantara hidup dan matinya seperti ini. Dua bulan kami rasa sudah cukup untuk memberinya kesempatan, apa kau tega terus membiarkannya seperti ini? Dia kesakitan, sering kali dia menyerah bukan. Mengertilah aku hanya ingin yang terbaik untuk pasien" lanjut Choi Gyosungnim
Karina memejamkan matanya, dadanya semakin terasa sesak mengingat kondisi Daejung dua bulan ini. Waktu berjalan begitu cepat dan tak terasa dua bulan sudah Daejung terbaring dalam keadaan koma, selama dua bulan itu tidak ada kemajuan yang signifikan dari kondisi Daejung. Beberapa minggu terakhir ini keadaanya justru semakin menurun, laki-laki itu sering anfal.
Karina menoleh pada keluarga Daejung, gadis itu mendekat lalu berujar dengan airmata yang menganak sungai
"Ahjussi, apa kau menyerah? Apa kalian menyerah dengan Daejung? Apa hanya sebatas dua bulan perjuangan kalian untuk Daejung?"
Gadis itu kemudian mendekat pada Chinsun
"Karina-ya...." jawab Chinsun, wanita itu menggeleng pada Karina
Karina mundur beberapa langkah, gadis itu lalu menghampiri ibunya. Kembali dia genggam tangan ibunya itu
"Eomma, Daejung sangat mematuhi Eomma bukan. Sekarang Eomma marahi dia, dan katakan padanya untuk bangun, dia tidak boleh seperti ini padaku, dia sudah berjanji untuk terus bersamaku, dia berjanji akan mengajakku berkeliling dunia, dia berjanji akan selalu ada disampingku, dia berjanji untuk... untuk" Karina tidak sanggup lagi melanjutkan ucapannya, gadis itu kembali terduduk dilantai
Ji eun berjongkok dan memeluk sang putri, hantinya menjerit melihat Karina yang seperti ini. Sejujurnya dia juga tidak rela kalau Daejung harus pergi meninggalkan mereka, tapi mau bagaimana lagi dia juga tidak tega terus melihat Daejung seperti itu
Karina melepas pelukan sang ibu, gadis itu menghapus airmatanya lalu kembali dia dekati ayah Daejung. Gadis itu bersimpuh didepan Tuan Park, kepalanya menunduk dengan tangan yang ia satukan. Orang-orang disana terkejut melihat tindakan Karina, Chunghee segera mendekati Karina dan memintanya untuk berdiri, tapi Karina menolaknya dengan tegas
"Ahjussi, Jeball jangan biarkan Daejung pergi secepat ini. Ahjussi, Daejung adalah segalanya untukku, dia adalah tumpuan hidupku dia... dia..." ujar Karina
Tuan Park berjongkok, dia pegang kedua bahu Karina. Karina menatap laki-laki paruh baya itu dengan mata basahnya. Tuan Park merasa tidak tega melihat Karina yang sudah dia anggap putrinya sendiri, harus bersimpuh seperti ini. Laki-laki itu tersenyum kemudian mengusap airmata Karina
"Uljima uri-ttal, Daejung tidak akan suka melihatmu menangis seperti ini. Apalagi kalau dia sampai melihatmu yang bersimpuh seperti ini, dia pasti akan memarahiku nanti. Kajja kita berdiri" ujar Tuan Park
Karina menggelang "Aku tidak akan berdiri sebelum Ahjussi mengabulkan permintaanku"
"Apa Ahjussi pernah menolak permintaan putri kecilku ini?" Jawab Tuan Park
Karina tersenyum, lalu memeluk laki-laki yang sudah dia anggap seperti ayahnya sendiri itu
"Gomawo Ahjussi" ujar Karina
Tuan Park mengangguk "Ayo kita berjuang bersama untuk Daejung. Sekarang berdirilah" pinta Tuan Park
" Gyosungnim detak jantung pasien menurun" ujar salah satu perawat disana
Sontak saja hal itu mengejutkan mereka yang berada disana,
"Mohon kalian untuk keluar kami harus menangani pasien" pinta Choi Gyosungnim
Karina menggeleng, gadis itu berniat mendekati ranjang Daejung. Tapi Chunghee lebih dulu mencegah Karina
"Lepaskan aku Chunghee-ah, lepaskan aku... aku harus menemui Daejung" ronta Karina
"Tidak Karina, kita harus keluar dan biarkan Choi Gyosungnim menangani Daejung" ujar Chunghee
" Gyosungnim, denyut nadinya juga semakin melemah" ujar parawat tadi
"Saya mohon kaluarlah" pinta Choi Gyosungnim, dokter wanita itu lalu mulai menangani Daejung
Keluarga Daejung dan ibu Karina keluar dari ruangan tersebut, sedangkan Chunghee dengan terpaksa mengangkat tubuh Karina untuk keluar ruangan
"Aniyo, Andwae... Daejung-ah Andwae..." pekik Karina yang meronta dalam pelukan Chunghee
.
.
.
TBC
See you next chapture...😊