
Kedua belah bibir itu pasti akan menyatu kalau saja Chunghee tidak mendorong kening Karina dengan telunjuknya. Dan sontak saja hal tersebut membuat mata Karina terbuka dan melebar seketika, gadis itu lalu memundurkan wajahnya dan kembali duduk. Gadis itu menatap tajam Chunghee dengan bibir yang ia poutkan
"Wae?" Tanya Chunghee dengan nada sedatar mungkin
"Aniyo" jawab Karina ketus
"Kau marah?" Tanya Chunghee
"Menurutmu" jawab Karina dengan mata yang melirik tajam pada Chunghee
"Kau marah karena aku tidak jadi menciummu. Betulkan" ujar Chunghee dengan begitu santainya
"Wae? Kau juga tidak mau menciumku? Wae? Wae?" Tanya Karina dengan nada tinggi
"Kenapa kau marah? Kau ini kenapa eoh? Apa kau sedang kedatangan tamu bulanan?" Tanya Chunghee
"Aniyo. Ck sudahlah tidak usah dibahas, kalian sama saja" ujar Karina
"Nugu?" Tanya Chunghee
"Ne?" Tanya Karina tidak mengerti siapa yang dimaksud Chunghee
"Yang sama. Siapa yang kau maksud kalian" jelas Chunghee
"Kau, Baekhwa dan Daejung. Kalian sama saja, selalu menghindar ketika aku meminta kalian untuk menciumku. Wae? Apa aku tidak menarik? Apa aku tidak cantik hingga kalian tidak mau melakukannya denganku? Kau tau, dokter dan para perawat wanita di rumah sakit selalu mengatakan kalau mereka selalu melakukan hal itu. Mereka mengatakan kalau... kalau kekasih mereka akan mengecup bibir mereka ketika sedang berkencan. Sedangkan aku, dulu saat aku berkencan dengan Baekhwa dia tidak pernah melakukan lebih selain mengecup keningku" jelas Karina dengan nafas tersengal, pertanda bahwa gadis itu terbawa emosi
"Waktu itu ketika di pantai kau dan Daejung hampir melakukannya, tapi kenapa kau menghindar eoh? Kau bilang kau penasaran dan menginginkannya, tapi kenapa waktu itu kau menolaknya dan justru menghampiriku?" Tanya Chungher
"It-itu ka-karena aku..." Karina menjeda ucapannya.
Dia tidak bisa melanjutkannya, dia tidak bisa mengungkapkan pada Chunghee tentang alasan kenapa dia menolak hal itu dan lebih memilih menghampiri Chunghee. Gadis itu menatap Chunghee yang kini juga menatapnya
"Wae?" Tanya Chunghee
"Aniyo" balas Karina
"Apa kau menyukai ku hingga kau menolaknya?" Tanya Chunghee
"Ck percaya diri sekali kau, bukankah sudah ku bilang kalau aku harus memilih diantara kalian pasti aku akan lebih memilih Daejung" jawab Karina
"Ck pembohong" gumam Chunghee
"Yak! Aku tidak berbohong" pekik Karina
"Ya... terserah kau sajalah" putus Chunghee
Karina mencibir, gadis itu akan beranjak dari duduknya. Tapi sebelum hal itu terjadi Chunghee lebih dulu menahan tangannya, Karina menoleh pada Chunghee lalu pandangannya jatuh pada pergelangan tangannya yang Chunghee tahan
"Wae?" Tanya Karina ketus
"Apa kau begitu penasaran?" Tanya Chunghee
"Ne?" Tanya Karina
"Tentang hal tadi" jawab Chunghee
"Aniyo. Aku hanya..."
Ucapan Karina terhenti ketika tiba-tiba saja bibir Chunghee menempel pada bibirnya. Matanya membola, dadanya berdebar dengan begitu cepat, seolah dia baru saja berlari beberapa meter. Dan sedetik kemudia gadis itu memejamkan matanya. Merasa tidak mendapat penolakan dari Karina, Chunghee pun dengan perlahan mengerakkan bibirnya diatas bibir Karina. Dan malam ini pun Karina mengerti kenapa teman-temannya begitu menyukai hal seperti ini, ia baru tahu kalau ternyata rasanya semenyenangkan ini. Ia merasakan seolah beribu kupu-kupu berterbangan diperutnya dan itu sangat menyenangkan.
Beberapa menit kemudian Chunghee menyudahinya, dia satukan keningnya pada kening gadis yang baru saja dia cium. Ibu jarinya bergerak untuk mengusap bibir Karina.
"Masih penasaran?" Tanya Chunghee
Karina yang masih mengatur nafasnya menggelengkan kepala sebagai jawaban. Chunghee tersenyum lalu ia raih kedua bahu gadis itu
"Setelah ini jangan pernah lagi meminta hal itu pada laki-laki diluaran sana, bahkan dengan aku atau pun dengan Daejung sekali pun" ujar Chunghee
"Sekarang tidur lah aku akan berangkat ke rumah sakit" ujar Chunghee
"Istirahatlah kalau ada waktu" ujar Karina
"Eemm" jawab Chunghee
Karina pergi menuju kamarnya, meninggalkan Chunghee yang masih berdiri ditempatnya. Laki-laki itu menatap punggung sempit Karina yang kini sudah menghilang tertelan oleh pintu, laki-laki itu menunduk kemudian menarik nafas panjang
"Mianhe Daejung-ah" gumamnya
.
.
.
Kembali pada Daejung dan Hye in. Kini Daejung sedang duduk di ruang makan, laki-laki itu sedang memeriksa beberapa pesan yang masuk ke emailnya.
"Daejung-ah" panggil Hye in
Daejung menoleh dan tersenyum pada Hye in yang masih berdiri dengan tangan yang memilin ujung piyama yang ia kenakan
"Ap-apa kau mau kopi? Ka-kalau kau mau, ak-aku akan membuat kan nya untukmu" Tanya Hye in dengan tergugup
"Aniyo, duduklah" jawab Daejung
Dengan gerakan kaku Hye in duduk berhadapan dengan Daejung
"Apa Hana tidur dengan nyaman?" Tanya Daejung
"Em, sepertinya dia kelelahan. Sekali lagi gomawo Daejung-ah
"Apa kau tidak lelah terus berterimakasih seperti itu Hye in-ah" ujar Daejung
"Aniyo, aku akan terus berterimakasih untuk membalas semua kebaikanmu" jawab Hye in
"Hah, sikap keras kepalamu itu memang tidak pernah berubah" ujar Daejung
Keduanya lalu terkekeh kemudian,
"Ah Hye in-ah mulai besok berhentilah bekerja" ujar Daejung
"Ye?" Ujar Hye in
"Berhentilah bekerja disana, dan fokuslah merawat dan membesarkan Hana" jelas Daejung
"Aku tidak bisa Daejung-ah, kalau aku berhenti bekerja bagaiman dengan biaya hidup ku dan Hana, bagaimana aku bisa memenuhi kebutuhan Hana" jawab Hye in
"Bekerjalah disini. Kau bisa membereskan rumah ini, memasak untukku, menjaga apartemen ini. Kau bisa bekerja sembari mengawasi Hana. Aku hanya ingin kau lebih fokus pada perkembangan Hana. Hye in-ah apa kau tidak merasa kasihan pada Hana kalau kau terus bekerja disana? Dan apa kau tidak lelah kalau terus menggendong Hana ketika sedang bekerja? Hye in-ah bukan maksudku untuk mengekangmu, maaf kalau aku melukaimu, bukan maksudku untuk..." ucapan Daejung terpotong
"Gweanchana Daejung-ah, aku tahu kekhawatiranmu itu. Aku tahu kalau kau melakukan itu untuk kebaikan kami. Geurae, besok aku akan mengundurkan diri dari restoran. Aku tidak tahu harus berkata apa lagi untuk semua kebaikanmu ini Daejung-ah. Tapi aku berjanji, aku akan menepati janjiku padamu untuk menjaga dan merawat Hana dengan baik" jawab Hye in
Setelahnya mereka pun saling berbagi cerita tentang apa saja yang mereka lewati selama ini.
.
.
.
TBC
See you next Chapture....😊