
Waktu menunjukkan pukul sebelas malam, dan keadaan apartemen Daejung terasa begitu sunyi karena sebagian penghuninya sudah terbuai dalam alam mimpi, tapi tidak dengan Daejung. Laki-laki itu masih duduk di pantry dengan beberapa berkas yang ada ditangannya.
Hye in keluar dari kamarnya untuk mengambil air minum, netranya menangkap Daejung yang masih berkutat dengan pekerjaannya. Wanita itu lalu berjalan mendekati Daejung
"Kau masih mengerjakan pekerjaanmu?" Tanya Hye in
Daejung tersenyum "Em, aku harus segera menyelesaikannya agar bisa mengabulkan permintaan gadis nakal itu" ujarnya
Hye in tersenyum, sepertinya Daejung sangat menyayangi Karina, hingga apapun yang gadis itu inginkan pasti Daejung akan mengabulkannya
"Mau aku buatkan kopi?" Tawar Hye in
"Aniyo, aku hampir menyelesaikannya" balas Daejung
"Kalau begitu, apa kau keberatan aku duduk disini?" Tanya Hye in
Daejung menatap kursi didepannya, lalu menoleh pada Hye in dengan senyuman. Laki-laki itu menggeleng. Mendapat ijin dari Daejung, Hye in pun duduk di depan Daejung
"Daejung-ah, boleh aku bertanya sesuatu?" Tanya Hye in
"Tentu, tanyakan saja apa yang ingin kau tanyakan" jawab Daejung
"Em... apa kau masih mencintai Karina?" Tanya Hye in dengan ragu-ragu, dia takut pertanyaannya itu menganggu Daejung
Daejung berhenti memeriksa berkasnya, laki-laki itu menatap Hye in sekilas, kemudian kembali dia tekuri dokumen yang ada ditangannya
"Tanpa aku jawab pun kau pasti tahu jawabannya Hye in-ah" balas Daejung
Hye in tersenyum canggung, seharunya dia tidak perlu bertanya hal itu kalau sebenarnya dia sudah tahu sendiri jawabannya
"Apa kau sudah mengatakannya pada Karina?" Lanjut Hye in
"Aku sudah mengatakannya dulu" balas Daejung
"Lalu.. bagaimana tanggapan Karina?" Tanya Hye in penasaran
Daejung membuang nafas kasar, ingatannya berputar pada saat dimana dulu Karina mendiami nya
"Dia tidak menjawabnya dan dia mendiamiku selama satu tahun lamanya" Daejung terkekeh diakhir kalimatnya
Hye in terkejut mendengar jawaban Daejung, wanita itu lalu membuang nafasnya sedikit kasar
"Em, apa kau sudah mengatakannya lagi setelah itu?" Tanya Hye in kembali
Daejung menggelengkan kepalanya
"Wae?" Tanya Hye in
"Hah... aku masih belum bisa menerima penolakan Karina, aku takut ketika aku menyatakan kembali perasaanku padanya, aku takut dia kembali menolakku dan kembali mendiamiku" jelas Daejung
"Ck, apa kau akan menyerah hanya karena hal itu? Kenapa kau pesimis seperti ini Daejung-ah. Apa hanya sampai situ saja kau memperjuangkan perasaanmu untuk Karina? Dengar Daejung-ah, perasaan seseorang itu tidak ada yang tahu, dan kau tahu bukan kalau perasaan seseorang itu mudah berubah. Mungkin dulu dia menolakmu, tapi siapa tahu seiring berjalannya waktu perasaan Karina juga berubah padamu, bisa saja kan selama dia mendiamimu itu dia sedang berpikir dan berusaha membuka hati untukmu" ujar Hye in panjang lebar
Daejung diam sesaat, laki-laki itu memikirkan apa yang Hye in katakan. Wanita itu benar juga, bisa jadi sekarang perasaan Karina padanya telah berubah. Mendapat keterdiaman Daejung, Hye in kembali bertanya pada Daejung
"Apa kau mau Karina jatuh kepelukan laki-laki lain?"
Daejung menggelang kuat, dia tidak ingin Karina menjadi milik orang lain
"Maka dari itu, jangan menyia-nyiakan setiap kesempatan yang ada Daejung-ah" ujar Hye in
Daejung menimang perlukah dia mengatakannya lagi? Siapkah dia untuk kembali menerima penolakan Karina? Tapi benar juga apa yang dikatakan Hye in, dia tidak boleh menyia-nyiakan setiap kesempatan yang ada
"Kau benar Hye in-ah aku tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan. Aku akan kembali mengungkapkan perasaanku. Menurutmu kapan sebaiknya aku mengatakannya pada Karina?" Tanya Daejung
"Em bagaimana kalau saat ulang tahun Karina, aku rasa itu waktu yang tepat. Kau bisa mengajak Karina untuk makan berdua dan kau bisa mengungkapkan perasaanmu padanya" usul Hye in
Daejung tersenyum laki-laki itu menganggukkan kepalanya,
"Gomawo Hye in-ah"
"Em, aku akan berdoa pada Tuhan semoga kali ini Karina menerima perasaanmu" jawab Hye in
Daejung mengangguk, dalam hati laki-laki itu mengamini harapan Hye in
.
.
.
Hari ini adalah hari yang paling Karina tunggu, dimana hari ini usianya bertambah. Gadis itu berdandan begitu cantik, ia mengenakan dress selutut dengan lengan panjang, siang ini rambutnya ia ikat sebagian menggunakan pita. Dan bagian luar dia menggunakan coat karena hawa dingin yang mulai menusuk kulit. Siang ini dia akan makan bersama Daejung dan Chunghee, gadis itu menaiki taxi dan menyebutkan alamat tujuannya.
Sementara itu Daejung sedang berisap untuk berangkat, laki-laki itu menyiapkan sebuah cincin yang akan dia berikan pada Karina. Dia usap cincin tersebut lalu kembali ia tutup dan masukkan kedalam saku jasnya.
"Em, aku akan berangkat lebih awal untuk menyambut Karina" jawab Daejung
"Aigo, semangat sekali. Geurae aku selalu mendoa kan yang terbaik untukmu. Daejung-ah hwaiting" ujar Hye in
"Gowamo Hye in-ah. Baiklah aku berangkat dulu, kalau terjadi apa-apa segera hubungi aku arraseo" ujar Daejung
"Arra, ck cerewet sekali pergilah sebelum kau terlambat" jawab Hye in
Daejung terkekeh kemudian melangkahkan kakinya untuk keluar dari apartemen.
Dilain tempat diwaktu yang bersamaan Chunghee sedang berada di sebuah toko bunga, kemarin laki-laki itu sempat memesan sebuket mawar merah muda berjumlah sembilan puluh sembilan tangkai untuk dia berikan pada Karina sebagai perlambangan cintanya. Begitu bunga yang dipesan sudah dia bawa, laki-laki itu segera berjalan menuju mobilnya dengan senyuman yang tak pernah luntur.
.
.
.
Karina sudah sampai di restoran yang mereka janjikan, langkah kakinya ia ayunkan menuju ruang VIP yang sengaja Daejung dan Chunghee pesan untuk acara penting Karina hari ini.
Daejung berdiri begitu mendapati Karina yang sudah datang, Karina berlari kearahnya dan tentu saja Daejung merentangkan tangannya menyambut Karina dalam pelukannya. Karina memeluk erat tubuh Daejung, sedangkan laki-laki itu mengecup pucuk kepala Karina sayang
"Nan Boghosipoho" rengek Karin
Daejung terkekeh "Aku juga merindukanmu gadis kecil" balas Daejung
Daejung menarik kursi untuk Karina dan mempersilahkan gadis itu untuk duduk. Karina tersenyum kemudia mengucapkan terimakasih pada sahabatnya itu
"Kapan kau pulang?" Tanya Karina memulai obrolan
"Semalam, mianhe aku lupa mengabarimu. Semalam Hana rewel jadi aku membantu Hye in menenangkannya" jelas Daejung
"Hye in, bersedia ikut pulang?" Tanya Karina antusias
"Em, setelah aku memberikannya beberapa penjelasana, akhirnya dia mau ikut pulang denganku" jelas Daejung kembali
"Apa dia akan menetap?" Tanya Karina lagi
"Eoh, dia akan menetap"
"Yey, akhirnya aku bisa setiap hari bermain dengan Hana. Kau tahu setelah pulang dari jepang aku terus saja memikirkan Hana, aku sangat merindukannya" ujar Karina
"Sekarang kau bebas bermain bersamanya Karina-ya. Ah kau mau pesan dulu?" Tanya Daejung
"Aku pesan nanti saja aku masih menunggu Chunghee. Aish dimana laki-laki menyebalkan itu, kenapa belum datang juga" jawab Karina
Dejung tersenyum, laki-laki itu berpikir apakah sekarang waktu yang tepat untuknya mengungkapkan perasaannya? Ya, ini adalah waktu yang tepat selagi mereka masih duduk berdua
"Karina-ya" panggil Daejung pada Karina yang masih sibuk dengan ponselnya
"Ne?" Jawab Karina, gadis itu meletakkan ponselnya lalu menatap Daejung
"Karina, kau masih ingatkan kalau aku menyimpan perasaan lebih padamu, maksudku kau masih ingatkan kalau aku mencintamu" ujar Daejung
Karina mengangguk kaku sebagai jawaban, jantung gadis itu berdetak lebih kencang dari sebelumnya. Gadis itu berpikir apakah Daejung akan membahas hal itu lagi. Batin Karina
Daejung tersenyum "Karina-ya aku... aku masih mencintaimu. Perasaan itu masih tumbuh subur pada hatiku, aku sudah berusaha untuk membunuh perasaan itu. Tapi bukannya mati, perasaan itu justru semakin tumbuh subur. Karina-ya butuh keberanian untukku mengungkapkan semuanya kembali. Aku tidak ingin kehilanganmu, aku tidak ingin kau mendiamiku lagi. Jadi selama ini aku membiarkan perasaan itu, tapi setelah aku pikir kembali, aku tidak bisa diam saja seperti ini, aku tidak ingin menyia-nyiakan setiap kesempatan yang ada. Jadi dengan segenap keberanian dan keyakinan yang aku miliki, sekali lagi aku ingin bertanya padamu. Karina-ya... maukah kau menjadi kekasihku" ujar Daejung, laki-laki itu mengeluarkan kotak beludru yang berisi cincin yang akan dia berikan pada Karina
Karina membatu ditempatnya. Matanya berembun, bahkan kini air matanya sudah luruh membasahi pipi. Gadis itu menunduk, isak lirih terdengar dari bibirnya. Sekali lagi dia harus menolak Daejung, dia tidak bisa menerima perasaan sahabatnya itu karena selama ini hatinya sudah terisi oleh seseorang yang diam-diam ia cintai
"Mianhe Daejung-ah, aku tidak bisa membalas perasaanmu, aku... ak-aku...." ucapan Karina terpotong, gadis itu tidak sanggup melanjutkannya
Daejung tersenyum miris, laki-laki itu kembali menertawai dirinya sendiri yang lagi-lagi menerima penolakan dari Karina. Dia usap punggung tangan Karina, dan hal tersebut berhasil membuat Karina mendongak dan menatap Daejung yang berusaha memberikan senyum terbaiknya meski hatinya sakit bukan main. Hal itu Daejung lakukan agar Karina tidak merasa bersalah karena lagi-lagi harus menolaknya, sekaligus laki-laki mencoba memberikan keyakinan pada Karina kalau dia baik-baik saja
"Hey, nan gweanchana Karina-ya kau tidak perlu menangis em. Aku bisa menerimanya, aku tahu tidak seharusnya aku memaksakan perasaanku padamu. Aku yang bersalah, jadi Karina-ya uljima, aku tidak apa-apa sungguh, aku menerima semua ini. Aku akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu, aku juga akan bahagia kalau kau juga bahagia. Aku akan selalu mendukungmu dan akan selalu berada disisimu. Tapi Karina maukah kau menerima cincin ini? Anggap saja ini sebagai hadiah ulang tahunmu" ujar Daejung
Karina tersenyum disela tangisannya, gadis itu lalu mengangguk dan hal itu membuat Daejung tersenyum lalu laki-laki itu menyematkan cincin tersebut pada jari lentik Karina.
Dan bertepatan pada saat itu Chunghee memasuki ruangan tersebut dengan senyuman yang tidak pernah luntur sedikitpun sedari tadi. Langkahnya terhenti ketika melihat Daejung memasangkan cincin pada Karina dengan senyuman yang terkembang. Chunghee menunduk, laki-laki itu terkekeh lirih. Lalu ia angkat buket mawar yang akan dia berikan pada Karina
"Kau seharunya tahu dan menyadarinya sedari awal Chunghee-ah. Kau seharusnya ingat bahwa Karina akan lebih memilih Daejung dari pada dirimu" ujar Chunghee pada dirinya sendiri. Laki-laki itu berbalik lalu keluar dari ruangan tersebut membawa sesak pada hatinya.
.
.
.
TBC
See you next Chapture....😊