
Setelah selesai melakukan panggilan telefon dengan kedua sahabatnya, Daejung memejamkan matanya ingatannya berputar pada saat terakhir kali mereka pergi menghabiskan waktu bersama, ingatan tentang Chunghee yang mengakui perasaannya pada Karina serta ingatannya tentang dia dan Karina yang hampir saja berciuman. Saat itu adalah saat-saat dimana dia metasakan perasaannya bagaikan rolercosterr, dia bahagia sekaligus sakit secara bersamaan. Terlalu larut dalam pikirannya, laki-laki sampai tidak tersadar ketika seorang pelayan datang padanya dan memanggilnya
"Permisi..." sapa pelayan wanita itu
Daejung masih memejamkan matanya, hingga pada panggilan kesekian kalinya baru laki-laki itu kembali dari lamunannya
"Permisi..." sapa pelayan itu lagi
"Eoh ma..." ucapan Daejung terputus ketika mendapati siapa pelayan wanita itu
Bukan hanya Daejung, Hye in yang tak lain adalah pelayan wanita tersebut juga ikut terkejut mendapati sosok laki-laki yang dulu pernah menjadi kekasihnya itu kini duduk tepat didepannya
"Hye in" lirih Daejung
"Dae-Daejung" balas Hye in yang masih dalam keterkejutannya
Pandangan mereka masih terkunci satu sama lain, rasa terkejut itu terlihat jelas di wajah Daejung dan Hye in. Keterkejutan itu mungkin masih akan terjalin kalau saja suara rengekan dari seorang bayi diantara mereka tidak terdengar. Sontak kedua orang tersebut mengalihkan pandangannya pada sosok bayi yang berusia sekitar enam bulanan dalam gendongan Hye in itu. Segera Hye in menepuk tubuh bayi itu agar tenang kembali
"Maafkan saya atas ketidak nyamanan ini Tuan. Bisa saya mencatat pesanan anda sekarang Tuan?" Tanya Hye in, setelah menenangkan bayi dalam gendongannya
Daejung tersadar dari rasa keterkejutannya, laki-laki itu lalu berdehem sebentar
"Satu amiraco dan apa disini ada strowberry latte?" Tanya Daejung
"Ada Tuan, anda bisa memesannya"jawab Hye in
"Baiklah, tolong buatkan itu untukku" ujar Daejung
Hye in mengangguk, wanita itu lalu membacakan kembali apa yang dipesan Daejung. Setelahnya wanita itu meminta Daejung untuk menunggu pesanannya, wanita itu lalu kembali ke belakang untuk membuat pesanan Daejung
Sementara itu setelah Hye in membuat pesanannya, Daejung masih dilanda kebingunan dan berbagai pertanyaan muncul dalam pikirannya. Tentang bagaimana Hye in bisa menjadi seorang pelayan? Kenapa sikap Hye ini sekarang berubah, tidak seperti dulu lagi? Dan yang paling membuatnya bertanya-tanya adalah siap bayi yang berada dalam gendongan wanita itu?. Terlalu berlarut dengan berbagai pertanyaan dipikirannya, Daejung sampai tidak menyadari keberadaan Hye in yang sudah berada di samping mejanya
"Tuan...tuan ini pesanan anda" ujar Hye in
"Eoh, arigatou gozaimasu" ujar Daejung
"Douitashimashite" balas Hye in dengan sedikit membungkukkan badannya.
Wanita itu kemudian kembali melangkah untuk kembali ke dapur, tapi pergerakannya terhenti ketika tangannya ditahan oleh seseorang. Wanita itu menoleh lalu, yang dia dapati adalh Daejung yang sedang menatapnya. Hye in melepaskan tangannya lalu kembali menghadap Daejung
"Ada yang bisa saya bantu Tuan?" Tanya Hye in
"Bi-bisakah kau menemaniku disini? A-ada hal yang ingin aku bicarakan denganmu" pinta Daejung
Hye in menatap sekitar, dapat dia lihat restoran mulai sepi, hanya ada beberapa pengunjung yang datang. Mungkin karena hari sudah mulai malam jadi dengan kaku wanita itu mengangguk
Kini giliran Daejung yang mengangguk kaku karena penuturan Hye in, dia tidak menyangka kalau wanita itu kini bisa berubah begitu lembut dan tenang seperti sekarang ini. Setelah mendapat ijin dari atasannya Hye in lembali ke meja Daejung
"Permisi" ujarnya
Daejung mendongak lalu mempersilahkan Hye in untuk duduk. Atmosfir kecanggungan melingkupi kedua orang tersebut, belum ada yang berniat membuka suara sejak mina menit lalu. Sepertinya mereka masih begitu terlarut dalam kecangungan serta keterkejutan yang tercipta. Hye in yang merasa sudah tidak tahan dengan suasana itu, kini berinisiatif untuk bersuaran
"Maaf Tuan, kalau tidak ada yang ingin anda sampaikan saya akan pergi karena saya harus kembali bekerja" ujar Hye in
"Eoh maaf, ini minumlah aku sengaja memesannya untukmu Hye in-ah" ujar Hye in
Satu alis Hye in terangkat, wanita itu menatap srowberry latte yang Daejung angsurkan padanya. Wanita itu menunduk lalu tersenyum
"Gomawo" ujarnya
Daejung mengangguk "Bagaimana kabarmu selama ini Hye in-ah?" Tanya Daejung
"Aku baik, bagaimana denganmu? Aku dengar beberapa bulan lalu kau mengalami kecelakaan dan sempat koma"
"Seperti yang kau lihat saat ini aku baik-baik saja dan sehat seperti sedia kala. Karina dan Chinghee merawatku dengan baik"
Hye in tersenyum miris mendengar nama Karina, Daejung sebut. Mereka masih bersama sampai sekarang ternyata. Harusnya dia tahu kalau Daejung dan Karina tidak bisa dan tidak akan pernah berpisah
"Syukurlah, aku bahagia mendengarnya. Em...bagaimana kabar Karina? Apa dia masih seperti dulu"
"Dia baik, dan untuk sifatnya dia masih sama selalu menyebalkan dan masih selalu merengek. Tapi sekarang dia terlalu bergantung padaku karena kini Chunghee selalu bersama kami dan kami bertiga bersahabat sekarang" jelas Daejung
Hye in menganggukkan kepalanya, wanita itu sedikit menepuk tubuh bayi dalam gendongannya karena sedikit merengek, bibir wanita itu juga bersenandung lirih mencoba kembali menenangkan bayi tersebut. Dan tentu saja semua itu tidak luput dari pandangan Daejung. Setelah bayi tersebut kembali tenang, Daejung melemparkan pertanyaan yang sudah dia tahan sejak tadi pertama kali melihat Hye in
"Hye in-ah, kalau boleh aku tahu siapa bayi itu?"
Hye in mengangkat wajahnya yang tadi menunduk, wanita itu tersenyum dan menjawab pertanyaan Daejung
"Dia.... putriku. Putri kandungku"
.
.
.
TBC
See you next chapture...😊