
Siang ini Karina habiskan istirahat siangnya diatas gedung rumah sakit, gadis itu menikmati hembusan angin yang membelai wajahnya. Matanya terpejam, genggaman tangannya pada besi pembatas semakin mengerat, ingatannya kembali berputar pada kejadian dua hari lalu dimana Chunghee mengatakan suatu hal yang sampai saat ini masih meninggalkan rasa sakit yang luar biasa pada hati Karina.
Sejak kejadian siang itu, Chunghee sampai saat ini belum mengabarinya sama sekali. Laki-laki itu bahkan tidak memberinya kabar apapun. Saat tanpa sengaja mereka bertemu di rumah sakit, laki-laki akan langsung menghindari Karina. Dan sungguh hal itu semakin membuat hati Karina berdenyut nyeri, ibarat luka sayatan pisau lalu diberi garam, begitulah perasaan Karina saat ini.
Nafasnya ia buang berat, ia ambil ponsel dari saku sneli yang ia pakai. Ia tatap foto mereka bertiga yang saat itu tertawa bahagia. Dia usap foto tersebut, lalu tanpa permisi air matanya lagi-lagi menetes. Gadis itu kembali menangis mengingat masa-masa indah mereka bertiga.
"Apa aku boleh bergabung?" Tanya Mina
Segera Karina menghapus air matanya. Gadis itu memasukkan kembali ponselnya lalu menoleh pada Mina dengan memberikan senyum terbaiknya. Gadis itu kemudian menghampiri Mina yang sudah duduk di bangku yang tersedia disana.
"Kau pandai memilih tempat, tidak kusangka ternyata disini sangat nyaman. Pantas saja Chunghee juga sering manghabiskan waktunya disini" ujar Mina, dengan memberikan satu cup kopi pada Karina
Karina mengangguk, gadis itu kembali tersenyum kemudian menerima kopi dari Mina
"Gomawo Eonni" ujarnya sembari menyesap kopi tersebut
"Kau tidak perlu tersenyum kalau sebenarnya hatimu menangis Karina" ujar Mina
Karina terkekeh, gadis itu kembali menyesap kopinya
"Cincin yang bagus, sejak kapan kau memakai aksesoris? Setahuku kau tidak pernah memakai aksesoris apapun" tanya Mina
Karina menunduk, lalu menatap cincin pemberian Daejung
"Ini pemberian Daejung, jadi aku memakainya" jelas Karina
Mina mengangguk, wanita itu kini tahu penyebab perubahan sikap Chunghee pada Karina. Lalu terbesit sebuah pertanyaan mengelitik yang keluar dari otaknya. Wanita itu akan mencari tahu lebih lanjut tentang hubungan Karina dengan Daejung, apakah sama seperti yang Chunghee pikirkan atau itu semua hanya salah sangka Chunghee pada kedua sahabatnya
"Wah, sudah sejauh itu kah hubungan kalian berdua? Kapan kalian menjadi sepasang kekasih?" Tanya Mina
Dahi Karina mengernyit, merasa tidak mengerti akan pertanyaan Mina. Apa seniornya itu mengira kalau dia menjalin sebuah buhungan lebih dengan Daejung hanya karena cincin yang melingkar di jarinya?
"Aniyo. kami masih sama seperti dulu, tidak ada hubungan lebih antara kami. Sebenarnya saat ulang tahunku kemarin, Daejung kembali memintaku untuk menjadi kekasihnya, tapi sekali lagi aku menolaknya. Jadi dia memberikan ini hanya sebagai hadiah ulang tahunku saja." Jelas Karina
Mina terkejut, jadi selama ini Chunghee salah paham akan apa yang dia lihat. Wanita itu berdecih dalam hati, bagaimana bisa Chunghee mengambil kesimpulan sendiri tanpa bertanya langsung pada Karina.
"Wae? Kenapa kau menolak Daejung untuk yang kedua kalinya?" Tanya Mina lagi
"Aku... aku sebenarnya menyukai orang lain" jawab Karina
Kedua alis Mina menukik tajam, wanita itu kemudian mengeser duduknya untuk lebih dekat pada Karina, kemudian ia tatap Karina dengan penuh keseriusan. Firasatnya mengatakan sesuatu yang tidak baik pada Chunghee
"Nugu?" Tanya Mina
"Ne?" Tanya Karina tidak mengerti
"Laki-laki itu, siapa dia yang kau cintai" jelas Mina
Karina menunduk, pandangannya jatuh pada sepasang sepatu putih yang ia kenakan. Ia ingat betul bagaimana dia mendapatkan sepatu tersebut,
Flashback on
Saat itu Karina dan Chunghee sedang berada di pesta pernikahan teman Chunghee. Sebelum pulang Chunghee mengajak Karina untuk pergi ke Hongdae, disana mereka menikmati beberapa jajanan yang ada. Sesekali terdengar tawa dari mereka, orang-orang yang melihat pasti akan mengira kalau mereka adalah sepasang kekasih.
Malam ini Mereka pergi menggunakan bis. Sebenarnya Chunghee ingin menggunakan mobilnya, tapi Karina merengak meminta ingin naik bis, gadis itu beralasan kalau dia sudah lama tidak naik bis dan alhasil Chunghee hanya bisa pasrah meninggalkan mobilnya di basment apartemen Karina.
Mereka baru saja turun dari dari bis, dan untuk sampai ke gedung apartemen Karina mereka harus berjalan beberapa saat sebelum sampai. Saat dalam perjalanan Chunghee dengan setia menggenggam tangan Karina, dan dalam diam Karina mengulam senyum manisnya. Dipertengahan jalan tiba-tiba saja hils Karina patah dan alhasil gadis itu tidak bisa memakainya kembali. Tapi tiba-tiba saja Chunghee berjongkok didepannya lalu meminta Karina untuk naik ke punggungnya, dan tentu saja Karina langsung melakukannya. Mereka kembali berjalan dengan Chunghee yang menggendong Karina dipunggungnya, tangan laki-laki itu membawa hils Karina yang patah.
"Chunghee-ah, apa... kau masih memikirkan Mijin?" Tanya Karina
"Aniyo, aku bahkan sudah melupakannya" jelas Chunghee
"Chunghee-ah, bagaimana kalau aku mencintamu? apa kau akan membalas perasaanku?" tanya Karina
Dan pertanyaan itu sukses membuat Chunghee menghentikan langkahnya.
"Wae?" Tanya Karina begitu Chunghee menghentikan langkahnya
"Aniyo, aku tidak akan membalasnya" jawab Chunghee, laki-laki itu kemudian kembali melanjutkan langkahnya
"Wae?" tanya Karina tidak terima
"Tidak ada alasan khusus. Aku hanya tidak percaya pada apa yang kau katakan. Sekarang kau mengatakan mencintaiku, lalu nanti ketika kau bertemu Daejung kau pasti juga akan mengatakan hal yang sama pada Daejung, kalau kau mencintainya" jelas Chunghee
"Yak! aish kau memang benar-benar menyebalkan" ujar Karina dengan tangan yang memukul punggung Chunghee.
Chunghee hanya terkekeh karena lagi-lagi dia bisa membuat gadis itu kesal. Mungkin diluar laki-laki itu terkekeh, tapi dalam hati dia berharap bahwa apa yang Karina ucapkan itu benar adanya.
Keesokan harinya seperti biasa Chunghee akan menjemput Karina. Setelah selesai memasangkan sabuk pengaman untuk Karina, laki-laki itu memberikan sebuah box berisi sepatu. Laki-laki itu mangatakan kalau sepatu itu sebagai ganti hilsnya yang patah. Dan Karina pun menerimanya dengan senang hati
Flashback Off
Karina tersenyum mengingat kejadian itu, dia angkat kepalanya lalu mentap Mina
"Chunghee, laki-laki itu Chunghee. Eonni salahkah aku, kalau aku mencintai sahabatku sendiri?" Tanya Karina
Mina yang mendengar jawaban Karina memejamkan matanya. Firasatnya benar, Chunnghee pasti salah paham. Wanita itu kemudian menatap Karina dalam.
"Kau tidak salah Karina-ya. Dalam cinta tidak ada yang namanya salah. Tapi yang menjadi masalah sekarang adalah, Chunghee yang salah paham padamu" ujar Mina
Karina mengernyit, salah paham? apa maksudnya? dan salah paham tentang apa?
"Ye?" Tanya Karina
"Ceritanya panjang Karina-ya, sekarang yang terpenting adalah kau cepatlah susul dia ke bandara, kau hanya punya waktu empat puluh menit saja Karina" ujar Mina dengan tangan yang menarik Karina untuk berdiri
"Ne? Tu-tunggu Eonni, bisa kau jelaskan dulu satu persatu, sungguh aku tidak mengerti" ujar Karina
Mina berkacak pingang
"Dengar, ceritanya panjang aku akan menceritakannya nanti. Sekarang yang terpenting adalah, kau harus segera menyusul Chunghee ke bandara. Dia menerima tawaran Kang Gyosungnim untuk menjadi dokter relawan di daerah konflik. Dan empat puluh menit lagi pesawat yang Chunghee tumapangi akan lepas landas. Jadi sekarang sebaiknya kau pergi menyusulnya sebelum terlambat dan kalian akan sama-sama menyesal nantinya" ujar Mina
Jantung Karina berdetak lebih cepat, gadis itu terpaku ditempatnya. Pikirannya tiba-tiba kosong, nafasnya memburu. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana nasib Chunghee, dia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada laki-laki itu. Ya Tuhan apa lagi ini.
Mina menguncang tubuh Karina, mencoba menarik kesadaran gadis itu
"Karina, yak Karina" panggilnya dengan suara sedikit meninggi di akhir kalimatnya
Karina tersadar dari lamunannya, dengan nafas memburu gadis itu segera berlari dari sana untuk segera turun dan bergegas menuju bandara.
.
.
.
TBC
See you next chapture....😊