Just Us

Just Us
Chap 31



"Eomma....." pekik Karina riang begitu dia melihat sang ibu memasuki ruang inap Daejung. Gadis itu menghampiri ibunya lalu dia peluk wanita yang sudah melahirkannya itu


"Aigo...uri ttal. Kenapa kau berterika eoh, bagaimana kalau Daejung terganggu karena teriakanmu itu" ujar ibu Karina, wanita itu juga membalas pelukan putri kesayangannya itu


"Memang itu tujuannya Eomma. Kalau perlu aku akan terus menganggunya sampai laki-laki pemalas itu bangun dari tidur panjangnya" balas Karina


Gadis itu mengaitkan lengannya pada lengan sang ibu, lalu menuntun ibunya untuk duduk di sofa


"Aish kau ini, kenapa kau ingin menganggunya eoh? Bagaimana kalau dia tidak jadi bangun karena mendengar teriakanmu itu, dasar gadis nakal" ujar ibu Karina, dengan tangan mencubit pipi putrinya itu


"Yak kenapa Eomma berkata seperti itu. Apa Eomma tega kalau Daejung terus tidur seperti itu?" Sungut Karina, gadis itu melipat kedua tangannya didada


"Tentu saja tidak, bagaimana Eomma tega membiarkan salah satu putra Eomma terbaring seperti itu. Hah, sudahlah Eomma akan menyapanya dulu" balas ibu Karina. Wanita itu lalu berjalan menghampiri ranjang Daejung


"Daejung-ah annyeoung, Ige Ji eun Imo. Mianhe Imo baru mengunjungimu sekarang, apa kabarmu hari eoh? Imo yakin pasti saat ini kau sedang berusaha untuk membuka matamu kan. Daejung-ah, bangunlah... Imo merindukanmu, kau bilang ketika pulang nanti kau ingin makan nasi goreng kimchi buatan Imo kan. Imo akan membuatkannya untukmu Daejung-ah, kita akan makan malam bersama, sama seperti yang sering kau inginkan. Daejung-ah kembalilah" ujar Ji eun dengan tangis lirih


Karina yang melihat bahu ibunya bergetar, segera bangkit dan memeluk wanita itu dari belakang


"Eomma" lirih Karina


Ji eun menghapus airmatanya lalu berbalik dan memeluk sang putri. Dia kecup pucuk kepala sang putri beberapa kali


"Gwaenchana, Karina-ya. Eomma yakin Daejung pasti bisa melewati ini semua. Kau mendiaminya satu tahun saja dia bisa bertahan, apalagi kalau hanya seperti ini Eomma yakin dia pasti bisa melaluinya. Kau adalah hidupnya Karina-ya, jadi teruslah disampingnya, beri dia semangat dan selalu ajak dia untuk berbicara. Kau tau kan hal itu sangat baik untuk menstimulus perkembangannya, walaupun matanya terpejam tapi dia tetap bisa mendengarmu bukan" ujar Ji eun, ibu Karina


Karina mengangguk, gadis itu memegang kedua telapak tangan ibunya yang berada dipipinya


"Gomawo Eomma" ujar Karina, gadis itu kembali memeluk ibunya


"Sekarang berhentilah menangis changiya. Kalau kita terus bersedih seperti ini, Eomma yakin pasti Daejung juga ikut bersedih. Dan kau tau kan dia sangat tidak suka melihatmu menangis, karena kalau kau menangis pasti baju yang ia kenakan yang akan menjadi korbannya" ujar Ji eun, berusaha membuat putrinya tersenyum


Karina mempoutkan bibirnya, gadis itu kemudian merengek pada ibunya. Setelahnya mereka kembali berpelukan


"Yak Karina-ya kau mau mengerjaiku ya! Dasar gadis na...." Chunghee urung melanjutkan omelannya setelah melihat Karina dan ibunya sedang berpelukan


"Wae? Kenapa kau marah-marah eoh," tanya Karina


"Ah annyeoung Ahjumma" sapa Chunghee pada Ji eun


"Ck sudah sering aku bilang bukan, kau bisa memanggilku Ji eun Imo. Apakah sesulit itu kau memanggilku? Chunghee-ah kau kan sahabat Karina, jadi tidak perlu canggung begitu padaku. Kau dan Daejung sudah aku anggap seperti putraku sendiri"jelas Ji eun, sembari duduk di sofa ruangan itu


Karina dan Chunghee pun mengikuti Ji eun duduk di sofa


"Ah nde ahju... em maksudku Imo" balas Chunghee


"Nah bukankah seperti itu terdengar lebih menyenangkan. Ah ya, apa kalian selalu memekik seperti itu ketika berbicara di ruangan ini?" Tanya Ji eun pada Karina dan Chunghee


"Aniyo, hanya dia saja yang sering memekik kesal" jelas Chunghee, dengan tatapan mata yang tertuju pada Karina


"Ck mulutmu itu benar-benar tidak bisa diajak kompromi. Sekarang mana makanan yang aku pesan" ujar Karina


"Makanan? Yak kau mengerjaiku ya, kau tau kan kalau makanan itu hanya ada di Indonesia. Lalu kenapa kau masih memintaku untuk mencarinya eoh. Kau tau aku sudah berkeliling Seoul, dan tidak menemukannya. Dasar kau gadis menyebalkan" ujar Chunghee


Ji eun menoleh pada putrinya, wanita itu menjewer telinga Karina


"Yak kenapa kau nakal sekali eoh. Kenapa kau suka sekali mengerjai Daejung dan Chunghee eoh. Kau ini benar-benar, beruntung mereka menyayangimu dengan tulus jadi kau masih berada diantara mereka. Kau ini memang tidak pernah berubah, dulu kau mengerjai kakak-kakakmu, dan sekarang kau mengerjai kedua sahabat mu. Ya Tuhan Karina..." ujar Ji eun, wanita itu menyandarkan punggungnya lalu memijit pelipisnya. Kepalanya berdenyut nyeri menghadapi tingkah putrinya kali ini


Karina menunduk, bibirnya tidak berhenti komat-kamit. Belum lagi tangannya yang terus mengusap telinganya yang memerah


"Mianhe Eomma, aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Aku bosan tadi, jadi aku..." ucapan Karina terpotong


"Kau tetap salah Karina-ya, tidak seharusnya kau berbuat seperti itu. Sekarang minta maaf pada Chunghee, dan berjanjilah tidak akan mengulanginya lagi" balas ibu Karina


Karina mengangguk, gadis itu mengeser duduknya mendekati Chunghee. Gadis itu menunduk menarik nafas dalam lalu mengangkat jari kelingkingnya dan mengulurkannya pada Chunghee.


"Chunghee-ah, mianhe. Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Yakso" ujar Karina


Chunghee melongo melihat tingkah Karian. Gadis itu dia benar-benar sangat mengemaskan. Pantas saja Daejung tidak pernah marah pada gadis itu. Dia menggigit pipi dalamnya guna menahan tawa, lalu laki-laki itu menyambut kelingking Karina dengan kelingkingnya


"Em aku memaafkanmu. Aku tidak marah padamu Karina-ya, bukankah sering aku katakan kalau aku akan lakukan apapun agara kau kembali tersenyum" ujar Chunghee tulus


Karina tersenyum, gadis itu mengerakkan jari mereka yang masih terkait. Dia merasa bersyukur pada Tuhan karena telah mengirimkan Chunghee dan Daejung untuknya


"Gomawo Chunghee-ah" ujar Karina


Chunghee mengangguk lalu mengusap kepala Karina. Dan semua hal itu tidak pernah luput dari Ji eun, wanita itu bersyukur dalam hati, karena putrinya dikelilingi orang-orang yang begitu menyayangi Karina.


"Geurae karena masalah sudah selesai, sekarang saatnya kita makan siang. Eomma tadi sempat membuatkan makan siang untuk kalian" ujar Ji eun dengan tangan mulai menata makanan yang ia bawa


"Wah Daebak... ini semua makanan kesukaanku dan Daejung, Eomma. Geurae karena Daejung tidak bisa memakannya maka aku yang akan mewakilkannya" ujar Karina dengan tangan yang mulai menyumpit telur gulung kesukaannya


Ji eun dan Chunghee terkekeh melihat tingkah Karina, gadis itu benar-benar masih seperti anak kecil, atau mungkin lebih tepatnya anak kecil yang terkurung dalam tubuh gadis dewasa


.


.


.


TBC


See you next chapture...😊