
2 Tahun Kemudian
Seorang wanita berjalan memasuki sebuah caffe dengan seorang bayi berusia dua tahun lebih dalam gendongannya. Wanita itu berusia sekitar dua puluh delapan tahun itu berjalan dengan anggunnya memasuki caffe yang sudah satu tahun ini dia dirikan. Senyumnya terkembang ketika mendapati caffenya ramai oleh pengunjung yang datang.
"Eonni..." pekikan seorang pegawai disana begitu melihat sang empunya caffe datang
"Ssstttt..... pelankan suaramu jobin-ah kau bisa membangunkannya" ujar wanita tersebut dengan mata yang menunjuk pada bayi perempuan yang ada di gendongannya
Gadis bernama Jobin itu menggaruk tengkuknya yang tak gatal, gadis itu kemudian meringis canggung. Jobin kecup pipi gembil bayi yang ada digendongan wanita tadi
"Dia benar-benar mirip denganmu Eonni" ujar Jobin
"Tentu saja dia kan putriku. Ah... apa Jhony sudah berangkat?" tanya wanita itu
"Dia bilang neneknya belum mau ditinggal, jadi dia akan pulang besok pagi" jawab Jobin
"Geurae kalau begitu aku akan menidurkan princess kecil ini dulu lalu aku akan menjaga kasir" ujar Wanita tadi
Jobin mengangguk sebagai jawaban, gadis itu kemudian berjalan menuju dapur untuk melanjutkan pekerjaannya.
Sedangkan wanita tadi melanjutkan langkah menuju ruangannya untuk menidurkan malaikat kecilnya pada box bayi yang tersedia di ruanga kerjanya. Setelah meletakkan bayi tersebut pada box bayi, wanita tadi kemudian mendudukkan diri di kursinya. wanita itu memeriksa beberapa berkas terlebih dulu sebelum membantu karyawannya dibawah. Saat menutup laptop, netranya menangkap sebuah foto yang selalu berada diatas mejanya. Ia raih foto tersebut, lalu ia mengusapnya
"Nan boghosipho, apakah.... kau akan kembali? apa... kau disana tidak merindukanku? apa... kau sudah membuka kembali hatimu untuk wanita lain?" monolognya
Wanita itu kemudian memejamkan matanya dan mendongakkan kepalanya keatas, mencoba menghalau agar air matanya tidak menetes. Menarik nafas dalam kemudian dia letakkan kembali foto tersebut. Ia menoleh pada box bayi di sudut ruangannya, kemudian dia langkahkan kakinya untuk menuruni tangga dan segera bergegas membantu Jobin karena hari ini gadis itu bekerja sendiri.
.
.
.
Semua relawan berkumpul di aula dimana dulu mereka disambut ketika pertama kali datang sebagai seorang relawan. Hari ini adalah hari terakhir mereka mengabdi sebagai relawan setelah dua tahun lamanya. Acara selesai dan mereka saling berpelukan untuk terakhir kalinya, karena setelah ini mereka akan kembali ke negara masing-masing dan mungkin mereka tidak akan bertemu lagi.
"Sampai berjumpa lagi Chunghee Seosangnim, senang bisa mengenal anda. Anda adalah seorang dokter hebat yang penuh dedikasi, dan sangat loyal pada pasien. Tapi sayangnya kenapa kau selalu menolakku" ujar seorang dokter wanita yang juga menjadi salah satu relawan disana.
Chunghee terkekeh mendengarnya, ia masih ingat betul kalau wanita didepannya ini menaruh hati padanya. Bahkan secara terang-terangan wanita tersebut selalu menyatakan cinta padanya dan selalu memintanya untuk menjadikan dia kekasih. Ia akui kalau dokter wanita itu cantik, tapi sayangnya sampai saat ini hatinya masih dan akan terus dimiliki oleh seorang wanita yang sedari dulu telah singgah di hatinya.
" I'm sorry" sesal Chunghee
"It's oke, aku tahu alasanmu mengapa kau selalu menolakku. Kau benar-benar istimewa Chunghee-ssi, Aku harap semoga saja saat kau kembali nanti gadis itu masih menunggumu dan mungkin ini akan terdengar sedikit jahat, tapi aku berdoa semoga dia belum memiliki kekasih" ujar wanita tersebut dengan bisikan diakhir kalimatnya
Lagi-lagi Chunghee terkekeh, dalam hati dia juga berharap bahwa apa yang dikatakan rekannya itu benar. Tapi kembali lagi dia teringat pada kejadian terakhir kali dia lihat, dimana Daejung yang sedang memasangkan cincin pada Karina.
"Hey are you oke?" tanya dokter wanita itu ketika mendapati Chunghee melamun
"Ah ya I'm oke. Terimakasih untuk dukunganmu, dan terimakasih karena selama ini sudah mau menjadi teman berbagi cerita. Aku harap suatu hari nanti kita bisa bertemu lagi" ujar Chunghee
Wanita itu mengangguk, lalu mereka berpisah untuk menuju pesawat masing-masing yang akan mengantarkan mereka kembali ke negara mereka.
Kembali ke Seoul dan kembali lagi menelisik kegiatan pada sebuah caffe yang kini mulai lengang karena hari memang sudah mulai malam. Karena tidak seramai tadi, wanita yang tak lain adalah pemilik caffe tersebut kini sedang bermain dengan bayinya
"Aigo kenapa kau semengemaska ini eoh? hah... kalau tidak ingat wajah menyebalkan Daddymu ketika marah itu, ingin rasanya Eomma mengigit pipi gembilmu ini Changi..." ujarnya dengan mencubit pipi bayi yang kini masih khusyuk menikmati makanannya
Gadis kecil itu terkiki lalu bertepuk tangan karena sedari Eommanya terus menciumi pipi cubbynya. Disela candaan yang mereka lakukan, seorang laki-laki dengan setelan jas kantornya mendekati kedua wanita beda usia itu
"Annyeoung little princes..." sapanya dengan melayangkan satu kecupan pada pipi gembil bayi tersebut
Laki-laki yang dipanggil Daddy itu kemudian mengangkat tubuh buntal itu dan melayangkan kecupan sayang pada seluruh wajah munggil putrinya itu
"Kalian baru selesai?" tanya wanita tadi
"Eoh, tadi pihak WO terlambat datang karena ban mereka bocor. Hari ini kau jadi mengunjungi Song Gyosungim?" tanya laki-laki tadi
"Hari ini caffe begitu ramai dan Jhony juga belum berangkat, jadi aku membantu Jobin" jelasnya
Laki-laki tadi menatap wanita didepannya dengan pandangan datar. Dan tentu saja hal itu membuat wanita tersebut sedikit gugup
"Wa-wae?" tanyanya
"Kenapa kau masih saja bebal eoh? kenapa kau masih saja tidak mendengar ucapanku? Apa kau ingin terus merasakan sakit itu eoh? apa belum cukup cita-citamu terkubur karena penyakit tersebut? Apa aku harus pergi jauh dulu darimu agar kau mau mendengarku? apa aku harus pergi darimu sama seperti dia?" cerca laki-laki itu dengan penuh penekanan dan nada sedikit meninggi
"Yak! kenapa kau berkata seperti itu eoh? tentu saja aku ingin sembuh, aku juga ingin kembali normal seperti semula. Aku ingin sembuh Daejung-ah...." jawab wanita itu dengan nada melemah diakhir kalimatnya
Daejung mendekati Karina, di peluk tubuh itu lalu ia layangkan sebuah kecupan pada pucuk kepala wanita itu. Dia menyesal karena sudah membuatnya bersedih. Sungguh bukan maksudnya untuk membuat Karina bersedih, tadi dia kelepasan. Dia begitu menghawatirkan kesehatan Karina hingga tanpa sadar dia sedikit membentak Karina
"Mianhe Karina-ya bukan maksudku untuk membentakmu, aku hanya menghawatirkan keadaanmu saja. Nanti Kalau sampai Chunghee pulang dan dia tahu kalau kau sakit, bagaimana aku menjelaskan semuanya padanya? dia pasti akan berpikir kalau aku tidak becus menjagamu" ujar Daejung
Karina tersenyum, wanita itu menjauhkan tubuhnya dari Daejung. Dia tatap wajah laki-laki itu
"Gomawo karena sudah menghawatirkanku. Kau tak perlu Khawatir kalau nanti Chunghee pulang, aku akan memarahinya terlebih dulu karena dia sudah menginggalkan kita." ujar Karina
Daejung terkekeh mendengarnya.
"Pulanglah, sepertinya putrimu sudah mengantuk" ujar Karina dengan kekehan diakhir kalimatnya karena melihat malaikat kecilnya yang terkantuk dibahu Daejung
Daejung menoleh pada putrinya, lalu ikut terkekeh bersama Karina setelah melihatnya.
"Ck bagaimana bisa dia bisa memiliki sifat yang mirip sepertimu eoh?" ujar Daejung
"Karena dia putriku" jawab Karina
Daejung terkekeh, mereka pun berjalan keluar Caffe. Karina berdiri disamping mobil Daejung.
"Aku pulang dulu, Nanti mau aku jemput?" tanya Daejung
"Shireo, aku berencana mengajak Jobin makan malam dulu" jelas Karina
Daejung menganggunk "Baiklah, kalau begitu berhati-hatilah. Jika terjadi sesuatu segera hubungi aku" Pesan Daejung
Karina mengangguk, setelahnya Daejung melajukan mobilnya meninggalkan Karina. Setelah mobil Daejung tidak terlihat lagi, wanita itu kembali memasuki caffe nya.
.
.
.
TBC
See you next chapture....😊