
Malam semakin larut tapi Karina masih enggan untuk pulang, gadis itu beralasan masih ingin berbagi cerita dengan Hye In, jadi mau tidak mau Chunghee menuruti keinginan kekasih munggilnya itu, beruntung besok dia mendapat shift siang, jadi besok pagi ia bisa tidur lebih lama
Karina dan Hye In memilih untuk bercerita di dalam kamar sekalian menemani Hana tidur, bocah berusia dua tahun itu jatuh tertidur ketika sudah lelah menjadi bahan berebut antara Daddy dan Imo nya.
Sementara itu Daejung dan Chunghee memilih balkon untuk saling bertukar pikiran, sebatang rokok terapit diantara jari tengah dan tekunjuk mereka
"Kau sudah menemui gadis itu?" Tanya Daejung
"Em" jawab Chunghee dengan gumaman
"Lalu, apa gadis itu menerimanya?" Tanya Daejung kembali
"Seperti dugaanku, dia tidak bisa menerima penolakan dariku. Kau tahu gadis itu sama gilannya dengan Aboji" ujar Chunghee
Dahi Daejung mengerut "maksudmu?" Tanyanya
"Tadi dia datang ke rumah sakit dan membuat keributan. Aku mencoba menghindarinya, tapi kau tahu apa yang dia lakukan?" Ucapan Chunghee sengaja ia jeda
"Apa?" Tanya Daejung penasaran
"Dia berteriak dengan mengatakan kalau dia akan mengugurkan anak kami" lanjut Chunghee
"Y-ye? Bisa kau katakan sekali lagi" Tanya Daejung memastikan kalau dia tidak salah dengar
"Gila bukan" ujar Chunghee dengan mengeluarkan asap rokok dari bibirnya
"Dia benar-benar gila. Aku rasa dia benar-benar mencintaimu Chunghee-ah" ujar Daejung
"Eoh, dia juga berkata seperti itu pada Karina" ujar Chunghee dengan mata menerawang ke depan, ia kembali teringat saat Eunso dengan gilanya mengancam Karina, yah walaupun gadis itu tidak mengataknnya secara langsung
"Ye? Karina? Apa maksudmu? Bagaimana bisa dia bertemu Karina?" Cerca Daejung
Chunghee menarik nafas dalam kemudian menghembuskannya dengan pelan. Setelahnya ia menceritakan kejadian yang terjadi di aparetemen Karina
"Gadis itu benar-benar gila, Chunghee-ah aku tidak menyangka kalau Ayahmu menjodohkanmu dengan gadis segila itu" ujar Daejung setelah ia mendengar cerita Chunghee
"Hah molla, aku benar-benar bingung sekarang. Daejung-ah menurutmu apa yang harus aku lakukan?" Tanya Chunghee dengan menatap sahabatnya itu
"Seperti rencana awal, aku akan menemui Ayahmu besok dan mengajak dia untuk bekerja sama dengan syarat dia harus membatalkan perjodohan kalian"
Chunghee menghela nafas, ia kemudian kembali melempar pandangannya ke depan "aku tidak yakin, aku mengenal betul seperti apa Aboji, tidak akan mudah untuk mengubah keputusannya" ujarnya
Daejung menepuk bahu Chunghee " kita tidak akan tahu kalau kita belum mencoba, jadi biarkan aku mencoba bernegosiasi dengannya dulu besok"
Chunghee menatap sahabatnya itu "geurae semoga cara ini berhasil. Aku berharap banyak padamu Daejung-ah"
"Percayakan saja padaku, aku akan mencobanya besok" ujar Daejung
Setelahnya tidak ada lagi pembicaraan yang terjadi, mereka sibuk dengan pikiran masing. Hingga suara Karina memecahkan keheningan tersebut
"Chunghee-ah, aku mengantuk aku mau pulang sekarang" rengek Karina
Chunghee terkekeh begitupun dengan Daejung
"Tidak ingin menginap? Kau bilang masih merindukan Hana" tawar Daejung
"Em, tapi aku tidak ingin mengganggu waktumu dan Hye In yang sedang giat membuatkan adik untuk Hana" jawab Karina
Daejung memutar bola matanya malas, lagi-lagi hal itu Karina ungkit "ck siapa juga yang sedang membuatkan adik untuk Hana. Kami bahkan berencana menundannya sampai Hana berusia lima tahun nanti, aku dan Hye In masih menikmati masa-masa tumbuh kembang Hana, aku masih belum rela kalau perhatian kami terbagi"
"Baguslah kalau begitu, jadi jangan sering-sering melakukan 'itu' atau Hana akan segera memiliki adik tanpa kalian duga" peringat Karina dengan lirikan matanya
"Aish kau benar-benar, sudahlah aku sedang tidak ingin berdebat jadi pulanglah sebelum hari semakin malam" ujar Daejung
"Yak Kau mengusir kami" sungut Karina
"Molla" jawab Daejung
"Aish benar-benar" ujar Karina dengan berbalik arah, gadis itu berjalan dengan menghentakan kakinya karena kesal
"Dia tidak pernah berubah" ujar Daejung dengan kekehan
"Ya begitulah, kalau begitu kami pulang dulu, sekali lagi gomawo Daejung-ah" pamit Chunghee
"Em" jawab Daejung dengan gumaman, laki-laki itu mengantar kedua sahabatnya sampai depan pintu
...***** ...
"Pagi juga Eonni/Nunna" jawab jobin dan Jhonny bersamaan
"Eoh Jhonny-ya kau sudah kembali? Bagiaman kondisi Nenekmu apa sudah membaik?" Tanya Karina begitu mendapati Jhony berada disana
"Ne, Halmoni sudah lebih baik. Gomawo sudah mengirimkan beberap bahan makanan dan obat herbal untuk Halmoni Nunna. Aku tidak tahu lagi bagaimana harus membalas kebikanmu" ujar Jhony
"Aisy kau ini. Sudahlah, kalian sudah aku anggap seperti adikku sendiri jadi, keluarga kalian juga keluargaku" ujar Karina
"Gomawo Eonni/Nunna" sekali lagi Jobin dan Jhony menjawab secara bersamaan
Karina tertawa kecil "kalian cocok sekali kenapa tidak jadian saja, aku rasa kalian cocok"
"Andwae" lagi mereka menjawab secara bersamaan
Dan hal tersebut berhasil membuat Karina tertawa. Disela suasana hangat tersebut tiba-tiba pintu Caffe terbuka, menampilkan seorang laki-laki dengan perawakan tinggi tegap berdiri disana
"Annyeonghaseyo, maaf aku terlambat di hari pertamaku bekerja" ujar laki-laki tersebut
"Eoh Kwon Sun, kau sudah datang masuklah. Aniyo, kau tidak terlambat, kau lihat bukan kalau tanda itu masih belum berganti Open" ujar Karin
Kwon Sun tersenyum menampilkan lesung pipinya "Nde gomawo bujang..." ucapan Kwon Sun terputus
"Panggil aku Nunna, aku lebih suka dipanggil begitu" ujar Karina
Kwon Sun mengangguk "Nde Nunna"
"Nah, Jobin, Jhony kenalkan dia Kwon Sun pegawai baru disini" jelas Karina
Kwon Sun membungkuk sebentar sebelum memperkenalka diri "annyeounghaseyo Khwon Sun Imnida, mohon bimbingannya"
"Nde, annyoung Kwon Sun aku Jobin dan ini..." Jobin menatap Jhony
"Aku Jhony, senang kau bergabung bersama kami. Semoga kita bisa bisa bekerja sama dengan baik kedepannya" ujar Jhony
"Geurae karena kalian sudah berkenalan jadi ayo kita mulai bekerja" ujar Karina dengan semangat
"Kajja" jawab Jobin dan Jhony tak kalah semangat
"Baiklah Kwon Sun kau pasti bisa" Gumam Kwon Sun menyemangati dirinya
ya Khon Sun adik dari Chunghee itu kemarin datang ke Caffe Karina dengan tujuan untuk mencari kerja. Entah apa yang direncanakan laki-laki itu
...****...
Sementara itu dilain tempat Daejung sedang duduk berdua dengan Ayah Chunghee, sesuai dengan rencananya semalam untuk mengajak laki-laki paruh baya itu bekerja sama
"Jadi Tuan Oh, angin apa yang membawamu kesini. Aku yakin bukan hanya kerjasama yang ingin kau tawarkan padaku" ujar Tuan Park
Daejung terkekeh, ternyata ayah dari sahabatnya itu sudah tahu tujuannya datang kesini
"Saya benar-benar terkessan dengan anda Tuan Park, sepertinya anda dapat membaca apa yang ada dalam pikiran saya" ujarnya
"Tuan Oh, aku sudah cukup lama hidup di dunia ini, aku bisa membaca pikiranmu dari gerak-gerikmu. Aneh bukan kita belum pernah bertemu, tapi kau tiba-tiba datang ke kantorku dengan embel-embel untuk bekerja sama. Jadi Tuan Oh, katakan apa tujuanmu sebenarnya datang kemari"
"Saya rasa anda sudah tahu maksud dan tujuan saya datang kemari Tuan Park. Ini mengenai perjodohan yang anda lakukan untuk Chunghee, Tuan Park bisakah anda membatalkan perjodohan tersebut? Sebagai gantinya saya akan menanamkan saham pada perusahaan anda"
Tuan Park terkekeh, benar dugaannya pengusaha muda itu datang menemuinya pasti hal itu ada hubungannya dengan perjodohan putranya
"Sebenarnya aku tertarik dengan penawaran anda Tuan Oh, tapi sayang sekali aku tidak bisa membatalakan perjodohan tersebut" ujar Tuan Park
Daejung memejamkan matanya, benar apa yang Chunghee katakan, akan sulit membujuk laki-laki di depannya ini
"Aku bisa saja membatalkan perjodohan itu, tapi dengan satu syarat..." Tuan Park menjeda ucapannya
"Apa itu?" tanya Daejung penasaran
.
.
.
TBC
See you next chapture😊