Just Us

Just Us
Chap 90



Hari ini Karina sudah diperbolehkan untuk pulang gadis cantik itu memilih untuk menggunakan taxi untuk pulang. Karina kembali ke Apartemen seorang diri, sebenarnya Kwon Sun menawarkan diri untuk mengantar Karina, hanya saja gadis itu menolak dengan alasan Kwon Sun sudah menjaganya semalam dan lagi laki-laki itu juga sudah tidak berangkat bekerja kemarinkalau hatri ini dia tidak berangkat lagi, ia merasa kasihan pada Jobin dan Jhony. Alhasil Kwon Sun pun mengalah dan memilih untuk berangkat bekerja.


Karina baru saja sampai di gedung Apartemennya, ia menghembuskan nafas dalam sebelum memasuki gedung apartemen tersebut, sepertinya ini akan semakin berat untuk ia hadapi, ingin rasanya dia menyerah hanya saja dia tidak bisa, Karena kali ini bukan hanya dia tapi juga bayi yang ada di dalam perutnya. Dia harus bisa menghadapi ini semua apapun yang akan terjadi nantinya dengan ataupun adanya Chunghee di sampingnya.


“Faithing Karina-ya, kau pasti bisa” ujar Karina meyakinkan dirinya


Karina baru saja sampai pada lantai dimana unitnya berada, langkahnya terhenti saat mendapati seseorang duduk di depan unitnya, ia hafal betul siapa laki-laki itu, dia adalah Chunghee Ayah dari bayi yang saat ini ia kandung. Inginnya Karina berbalik arah untuk menghindari Chunghee, namun kembali ia teringat dengan apa yang Kwon Sun katakan kemarin, ia harus menyelesaikannya dengan Chunghee sebelum ia pergi meniggalkan Kota dan mungkin ini saat yang tepat untuk mereka menyelesaikan masalah mereka. 


Dengan langakah yang ia paksa, akhirnya ia berdiri di depan Chunghee . mendapati seseorang berdiri di depannya laki-laki itu mendongak untuk mengetahu siapa orang tersebut, senyumnya lagsung terbit ketika mendapati Karina lah yang kini berdiri di hadapannya. Segera saja ia berdiri dan beranjak untuk memeluk kekasihnya itu namun semua itu urung ia lakukan saat mendapati Karina justru mundursaat ia mencoba mendekat


“Karina-ya, aku….” Ucapan Chunghee terpotong 


“Masuklah, kita  bicara di dalam” ujar Karina, gadis itu melewati Chunghee begitu saja. Ia menekan pin dan memasuki apartemennya tanpa menunggu Chunghee


Mereka kini duduk di ruang tengah, kalau biasanya mereka akan duduk berdampingan dengan Karina yang bersandar pada dada Chunghee, maka kali ini berbeda, mereka duduk bersebrangan, sebenarnya Chunghee sudah duduk di samping Karina, hanya saja gadis itu lebih memilih untuk berpindah tempat


“Apa kau lama menunggu di luar?” Tanya Karins membuak obrolan


“em tidak terlalu lama, mungkin hanya semalaman” ujar Chunghee engan kekehan di akhir kalimatnya


“kenapa tidak masuk?” Tanya Karina lagi


Dalam hati ia merasa senang karena setidaknya Karina masih mau berbicara dengannya, “Aku menunggumu” Ujar Chunghee


“Wae?” Tanya Karina


Chunghee mengangkat satu alisnya, merasa heran dengan pertanyaan Karina, apa maksutnya kenapa


“Kenapa menungguku? Apa kau tidak bekerja?” Tanya Kaina


“Ani, aku mengambil ijin hari ini. Ada yang harus kita selesaikan Changiya. Sungguh tidak ada hubungan apa-apa antara aku dan Eunso, dai hanya mengada-ada. Memang benar aku mengenalnya karena dia adalah gadis yang Appa jodohkan denganku. Tapi sungguh Karina aku menolak perjodohan tersebut, aku tidak akan pernah menerimanya. Karina kumohon jangan seperti ini, jangan pernah berpikiran untuk mengakhiri hunungan kita apapun yang terjadi, dan kau ingat bukan apapun yang terjadi jangan pernah percaya apaun yang itu tidak keluar dari mulutku sendiri, Changiya sungguh aku tidak bisa  jika harus kembali berpisah denganmu” ujar Chunghee dengan penuh ketulusan yang terpancar dari kedua matanya


Hati Karina mencelos mendengar penuturan Chunghee tersebut, jujur saja ia juga tidak bisa jika harus kembali berpisah. Tapi mau bagaiman lagi ini yang terbaik bagi mereka, ingin rasanya ia menanggis saja sekarang, tapi ia tidak boleh, ia tidak boleh memperlihat kesedihannya di depan Chunghee atau laki-laki itu akan semakin sulit untuk melepaskannya nanti.


“Kau harus Chunghee-ah, mulai sekarang biasakan lah untuk hidup tanpa adanya aku di sisimu. Kau harus bisa menerima semua ini, karena aku akan tetap pada keputusanku untuk mengahiri hubungan kita dengan ataupun tanpa adanya persetujuan darimu. Maaf aku tidak bisa menepati janjiku, aku percaya padamu sangat percaya padamu, tapi ini keputusan terbaik yang harus kita lakukan. Hidup bahagialah dengan Eunso, dia gadis yang baik, aku yakin anak-anak kalian akan bahagia karena terlahir dari wanita baik seperti Eunso. Kalian pantas untuk bersama, kalian berasal dari keluarga yang terhormat, kau lebih pantas bersama dengannya aripada denganku. Jadi Chunghhe-ah mulai detik ini hubungankita berakhir., mungkin Tuhan memang menggariskan kita sebagai seorang sahabat dan tidak lebih dari itu” ujar Karina dengan nada yang ia buat sebiasa mungkin, padahal hal tersebut sangat berbanding terbalik dengan keadan hatinya yang kini hancur berkeping-keping, sejujurnya ia tidak sanggup jika harus berpisah dengan Chunghee


Karina menggelang “Ani, ini keputusanku sendiri dan aku harap kau bisa menerimannya?”


“Apa kau akan bahagia kalau kita berpisah? Apa kau pikir dengan kita berpisah aku akan bahagia begitu? Apa kau pernah mendengar aku membahas tentang kelas keluarga kita? Apa aku pernah mengatakan kalau aku akan bahagia dengan harta yang Ayahku miliki? Apa selama ini aku pernah memandang harta selama kita bersama?” cerca Chunghee lagi


Karina menggeleng dalam isak tangisnya, ia tahu bahwa Chunghee tidak akan pernah menilai dan memandang seseorang dari tingkat kekayaan mereka, hanya saja hal itu tidak berlaku bagi ayah dari Chunghee, laki-laki parh baya itu begitu memandang kelas social seseorang


“lalu kenapa kau berbicara seperti itu, aku yakin ini semua pasti ada hubungnnya dengan Appa. Dia pasti menemuimu dan mengancammu, benar begitu Karina?” ujar Chunghee dengan menekankan setiap kata di akhir kalimatnya


Dengan kaku Karina menggeleng. Chunghee terkekeh, dugaannya benar ternyata perubahan dari Karina adalah ulah dari Ayahnya


“Geurae, tanpa kau menjawab pun aku sudah tahu jawabannya. Kalau kau tetap pada keputusanmu, aku pun tetap pada keputusanu. Aku akan menganggap kalau ini semua tidak pernah terjadi, aku akan menganggap kalau kita masih sepasang kekasih. Aku pergi, akan menemui Appa” ujar Chunghee sembari berdiri dari duduknya


Mata Karina membulat, gadis itu juga ikut berdiri ia menggeleng rebut. Tidak, dia tidak boleh membiarkan Chunghee bertemu dengan Ayah dari laki-laki tersebut. 


“Andwae. Bukankah sudah aku katakana kalau ini semua tidak ada hubungannya denga Ayahmu? Ini semua murin keputusanku” ujar Karina


Chunghee berbalik “dan kau pikir aku akan percaya begitu saja? Aku tahu bagaimana sifatmu dan aku juga tahu bagaimana sifat Appa” ujar Chunghee dengan kembali melangkah menuju pintu


Karina masih mencoba mencegah Chunghee untuk pergi, tapi usahanya hanya sia-sia belaka. Sampai akhirnya ia menghentikan langkahnya dan kembali berujar “Geurae, kalau begitu pergilah dan kau tidak akan pernah melihatku lagi setelah ini”


Chunghee menghentikan langkahnya, laki-laki itu memoleh pada Karina, memandang gadis itu tepat pada matanya untuk kemudian berujar “dan saat itu juga kau juga akan melihat kehancuran dari hidupku” setah mengatakan hal tersebut, Chunghee benar-benar keluar dari apartemen Karina


.


.


.


Tbc


See you next chapture😊