
Hye in menatap sekeliling apartemen mewah tersebut. Jika dulu ketika dia masih dianggap putri oleh ayah nya, melihat apartemen seperti ini dia tidak akan seheran ini. Tapi setelah kejadian itu, dia merasa kagum melihatnya. Di satu sisi dia bahagia, tapi disisi lain dia juga merasa tidak pantas menerima kebaikan dari Daejung setelah apa yang dia lakukan pada laki-laki itu dulu, bahkan dia masih tidak bisa melupakan kejadian terakhir kali mereka bertemu, dimana dia memukul kepala Daejung dengan vas. Meskipun saat itu dia tidak sengaja, tapi tetap saja rasa bersalah itu terus bergelayut di hatinya, bahkan ingatannya tentang kejadian itu terus berputar bagaikan kaset rusak.
"Da-daejung-ah...ak-aku rasa ini terlalu berlebihan. Maksudku, aku bisa tinggal di flat sederhana ku dulu. Atau kalau tidak ak-aku bisa tinggal di apartemen lebih sederhana dari ini" ujar Hye in sedikit tergugup
Daejung menghampiri Hye in, ia raih lengan perempuan itu, dia tatap wajah Hye in
"Hye in-ah dengarkan aku, kau mungkin bisa tinggal di flat mu itu, kau mungkin juga bisa memilih untuk tinggal di apartemen yang lebih sederhana. Tapi Hye in-ah apa kau tidak memikirkan Hana eoh? Apa kau tidak merasa kasihan pada putrimu ini kalau kau lebih memilih tinggal di tempat-tempat itu? Dia butuh tempat yang lebih luas dan lebih nyaman untuknya tumbuh dan berkembang Hye in-ah. Bukan hanya dari segi tempat, tapi kita juga harus memikirkan sirkulasi udara yang baik juga untuknya. Hye in-ah bukan maksudku merendahkan ataupun meremehkan kedua tempat itu, aku hanya ingin kau lebih memikirkan tumbuh kembang dan kenyamanan Hana" jelas Daejung
Hye in menatap manik sekelam jelaga itu, mata yang dulu selalu dia rindukan, mata yang selalu dia tatap dengan penuh cinta, mata yang tidak pernah bosan dia tatap. Wanita itu menunduk, menarik nafas dalam lalu kembali mengangkat wajahnya
"Aku merasa tidak pantas menerima kebaikanmu Daejung-ah. Aku malu setelah apa yang dulu pernah aku lakukan padamu. Kau terlalu baik Daejung-ah, ak-aku...."
"Sssttt.... kau tidak perlu merasakan malu Hye in-ah. Hal itu sudah lama terjadi, aku sudah memaafkanmu dan aku pun juga sudah melupakannya. Jadi kau tidak perlu memikirkan dan meminta maaf lagi untuk hal itu. Sekarang yang harus kau pikirkan adalah bagaimana membesarkan Hana dengan baik, membesarkannya tanpa kekurangan satu hal apapun baik kasih sayang ataupun materi, dan yang paling penting adalah didik dia agar kau tumbuh menjadi gadis hebat dan tangguh seperti dirimu. Kau tidak sendiri dalam mendidik Hana, Hye in-ah ada aku, aku akan ada disini disampingmu dan selalu membantumu dalam merawat dan mendidik Hana" ujar Daejung dengan penuh ketulusan
Mata Hye in berembun dan setelahnya air matanya menghujani pipi wanita itu. Dia tidak menyangka bahwa ternyata hati Daejung selembut dan seluar biasa itu, dia bersyukur pada Tuhan karena telah mengirimkan laki-laki sebaik Daejung untuknya. Dia menyesal dulu pernah menyia-nyiakan laki-laki sebaik Daejung, kalau waktu bisa diputar kembali, dia akan memperbaiki semuanya, memperbaiki sikapnya dulu, memperbaiki hubungannya dengan Karina, serta menekan emosi serta keegoisannya dulu.
"Gomawo Daejung-ah, aku tidak tahu bagaimana aku harus membayar kebaikanmu ini" balas Hye in
Sekali lagi Daejung rengkuh tubuh Hye in, dia usap kepala wanita tersebut
"Kau tidak perlu membalasnya Hye in-ah, kau hanya cukup melakukan apa yang aku minta tadi" ujar Daejung
Bukannya mereda setelah mendengar penuturan Daejung, Hye in justru semakin tergugu dalam tangisnya. Dia tidak tahu harus berkata apa lagi pada laki-laki yang kini masih mendekapnya itu, tapi yang jelas dia berjanji mulai hari ini dia akan dia lakukan apapun untuk kebahagiaan Daejung.
Daejung lepas pelukan itu, lalu dia usap air mata wanita itu
"Sudah jangan menangis lagi, aku tidak ingin melihat air mata mu menetes lagi. Sekarang kau bisa menidurkan Hana, aku rasa dia sudah lelah. Kamarmu asa di lantai dua pintu berwarna coklat, aku sudah meminta seseorang untuk membersihkannya, dan untuk barang-barangmu akan aku bawakan nanti. Jadi setelah itu kau bersihkan diri, aku akan menunggumu disini. Ada hal yang ingin aku bicarakan padamu" ujar Daejung
Hye in tersenyum dan mengangguk, setelahnya wanita itu menaiki tangga dan melakukan apa yang Daejung katakan tadi.
.
.
.
Sementara itu dilain tempat Chunghee dan Karina sedang menatap layar televisi yang menampilkan sebuah film animasi yang Karina pilih. Di depan mereka terdapat dua kaleng minuman bersoda dan beberapa snack yang ada di meja.
Karina sandarkan kepalanya pada bahu Chunghee, sedangkan si empunya bahu masih fokus pada film tersebut
"Chunghee-ah" panggil Karina
"Kalau kau terlahir kembali nanti, kau ingin terlahir sebagai apa?" Tanya Karina dengan kepala yang masih ia sandarkan pada bahu Chunghee
"Burung" jawab Chunghee
Dahi Karina berkerut, wanita itu lalu menegakkan tubuhnya menghadap Chunghee
"Wae?" Tanyanya
"Kau tahu, para burung itu mereka bebas. Mereka bisa pergi kemana pun mereka mau. Tapi sejauh apapun mereka pergi, mereka akan tetap kembali pulang ke rumah mereka" jelas Chunghee dengan tubuh yang kini sudab menghadap Karina
Karina menganggukkan kepalanya
"Kau sendiri, kalau kau terlahir kembali. Kau memilih untuk menjadi apa?" Tanya Chunghee
"Pohon" jawab Karina
"Wae?" Tanya Chunghee
"Aku ingin berada disatu tempat yang sama, tempat dimana aku dilahirkan dan tumbuh. Aku ingin memayungi dan menjadi penyejuk sekaligus sandaran bagi orang yang berada didekatku. Aku juga ingin menjadi rumah bagi burung-burung itu kembali, sama seperti apa yang kau katakan tadi" jawab Karina dengan senyuman uang mengakibatkan lengkungan indah pada matanya
Detak jantung Chunghee berdetak lebih cepat dari biasanya setelah mendengar jawaban dari Karina. Apa maksud dari jawaban Karina itu, apakah gadis itu menyimpan rasa padanya? Apakah dia ingin menjadi rumah baginya untuk kembali?
Terlalu berkutat dengan berbagai pertanyaan dalam pikirannya, laki-laki itu sampai tidak menyadari bahwa Karina sedari tadi memanggilnya
"Yak Chunghee-ah!" Pekik Karina
Chunghee menggelengkan kepalanya mencoba mengusir pertanyaan-pertanyaan itu dari pikirannya. Laki-laki itu terkejut ketika mendapati wajah Karina yang begitu dekat dengannya, bahkan dapat dia rasakan hembusan nafas gadis itu.
Pandangan mata mereka terkunci, seolah terpesona dengan sepasang manik dari masing-masing. Begitupun dengan Karina degup jantung gadis itu juga berdegup tak beraturan, niatnya tadi mendekat untuk mengejutkan Chunghee, tapi kenapa malah berakhir dengan posisi yang seperti ini. Gadis itu memejamkan matanya, hidung mereka saling bersentuhan dan.....
.
.
.
TBC
See you next Chapture....😊