
Chunghee berjongkok didepan Karina, laki-laki itu mengulurkkan tangannya lalu ia peluk tubuh bergetar tersebut, ia kecup berulang kali pucuk kepala Karina.
"Mianhe Karina-ya... mianhe" gumam Chunghee
"Wae? Ke-kenapa kau begitu baik padaku? Kenapa kau menyerah begitu saja? Da-dan kenapa kau begitu saja merelakan aku untuk laki-laki lain hiks..hiks" tanya Karina disela isakannya
"Karena aku mencintaimu, jadi apapun yang membuatmu bahagia aku pasti akan melakukannya meski pun itu akan menyakiti perasaanku. Kebahagiaanmu adalah segalanya untukku" ujar Chunghee dengan tangan yang masih setia mengusap punggung gadis itu
Karina memukul dada Chunghee berulang kali dengan terus mengatakan kalau laki-laki itu bodoh
"Pabbo, pabbo dasar laki-laki bodoh, bagaimana bisa hiks.... kau bisa merelakan perasaanmu hanya untuk kebahagiaanku, hiks... kau harusnya memikirkan dirimu juga, dasar bodoh hiks...."
Chunghee terkekeh mendengar ucapan Karina "Kadang cinta memang selalu membuat orang menjadi bodoh dan bersikap bodoh bukan. Aku rela menjadi bodoh asalkan semua kebodohanku itu karena dirimu" ujarnya santai
Karina semakin brutal memukul dada Chunghee, gadis itu meraih lengan Chunghee lalu menggigit lengan tersebut. Chunghee tidak menghentikannya ataupun menjauh dari Karina, terasa sakit memang tapi ia tidak menghentikannya karena menganggap bahwa itu merupakan salah satu bentuk pelampiasan emosi Karina, dan hal yang dapat laki-laki itu lakukan hanyalah meringis menahan sakit.
.
.
.
Karina duduk dengan bibir yang ia poutkan, tangan gadis itu dengan telaten mengopres lengan Chunghee dengan es batu, sesekali dia meringis melihat bekas gigitan tersebut
"Ck kenapa kau tidak menghindar tadi eoh? Kau sengaja melakukannya agar aku merasa besalahkan" ujar Karina dengan bibir yang ia poutkan
Chunghee terkekeh "Mana bisa aku menghindar kalau kau saja memegangi lenganku. Aku kira kau akan merubah kebiasaanmu itu ketika kesal, tapi ternyata tidak, ck benar-benar" lanjutnya
"Ah... jadi kau melakukannya hanya padaku eoh. Gweanchana aku menerimanya, setidaknya dengan ini kau bisa menyalurkan kekesalamu. Apa kau masih kesal padaku? Karina-ya maafkan aku, maaf karena sudah menempatkanmu dalam keadaan ini, maaf karena kebodohanku kau harus kehilangan cita-citamu. Karina-ya, Katakan padaku apa yang harus aku lakukan untuk menebus semuanya, ceritakan padaku tentang semua yang kau rasakan, lampiaskan semua emosimu padaku Karina. Lakukan apapun padaku jika itu bisa mengurangi bebanmu, kau bisa memukulku, kau bisa menggigitku, kau bahkan boleh menikamku dengan pisau, kau bisa menghukumku dengan semua itu, tapi tidak dengan keadaanmu yang seperti ini. Aku hancur ketika melihatmu begitu ketakutan ketika berhadapan denganku, hatiku begitu sakit ketika mendapati semua kenyataan tentang dirimu Karina-ya... Jeongmal jeosonghamnida... maafkan aku" ujar Chunghee dengan airmata yang sudah membanjiri pipinya, laki-laki itu bersimpuh didepan Karina dengan tangan yang dengan setia menggengam tangan lentik Karina
Karina memalingkan wajahnya, gadis itu lagi-lagi menangis mendengar semua penyesalan Chunghee.
Mungkin bagi sebagian orang menganggap hal yang Karina alami adalah sebuah hal biasa, tapi tidak bagi Karina yang harus ditinggalkan Chunghee begitu saja. Bayangkan saja, bagaimana ketergantungannya Karina yang setiap hari bahkan setiap saat selalu bersama Chunghee, tiba-tiba saja harus merasakan ditinggal laki-laki itu tanpa pamit dan tanpa ia tahu apa penyebab Chunghee meninggalkannya. Gadis itu dilanda depresi, separuh jiwanya pergi, ia tidak bisa menerima itu semua hingga akhirnya ia harus kembali mengalami depresi seperti dulu saat ia kehilangan ayahnya.
Menarik nafas dalam Karina menghapus airmatanya lalu berjongkok mensejajari Chunghee, ia tangkup kedua pipi laki-laki itu dan ia hapus airmata laki-laki terkasihnya itu
"Gweanchana... ini memang sulit, bahkan sangat sulit untuk aku lalui, tapi.... semua ini sudah terjadi dan mungkin ini memang garis Tuhan yang telah DIA buat untuk kita. Aku sudah memaafkanmu, jadi bangunlah dan mari kita perbaiki semuanya, mari kita memulai semuanya dari awal" ujar Karina dengan senyum manisnya.
Chunghee tersenyum, laki-laki itu kecup berulang kali punggung tangan Karina dengan terus mengucapkan kata terimakasih. Ia raih tubuh Karina, ia peluk erat tubuh gadis yang selama ini ia rindukan.
Mereka sama-sama menangis dalam pelukan tersebut, tangis itu bukan tangis kesedihan melainkan sebuah tangis kebahagiaan yang akan mengawali perjalanan mereka membuka lembar baru untuk memulai sebuah hubungan cinta, kini yang harus mereka lakukan adalah memulai semuanya dari awal, menjalin sebuah hubungan yang lebih dari sekedar sahabat. Mereka akan terus bergandeng tangan, saling menguatkan dan saling mendukung dalam meniti perjalanan cinta mereka.
.
.
.
TBC
See you next chapture....😊