Just Us

Just Us
Chap 32



Chunghee dan ibu Karina kini sudah duduk di bangku taman yang terdapat diluar rumah sakit. Tadi saat akan mengantar ibu Karina ke tempat parkir, tiba-tiba wanita paruh baya itu meminta Chunghee untuk berbicara berdua, dan tentu saja Chunghee tidak bisa menolaknya.


"Apa ada yang bisa saya bantu Imo?" Ujar Chunghee memecah keheningan


Ji eun manatap lurus pada indahnya hamparan bunga yang ada didepannya, waktu menjelang sore saat ini, menambah kesan syahdu di taman tersebut


"Gomawo Chunghee-ah" ujar Ji eun


Kernyitan tergambar didahi Chunghee, laki-laki itu bertanya-tanya untuk apa Ji eun mengucapkan terimakasih


"Nde?" Tanya Chunghee


"Untuk semua yang kau lakukan pada putriku, terimakasih kau sudah menjaganya selama Daejung berada di Jepang, dan untuk waktu-waktu yang lalu. Kau Pasti kerepotan saat menjaga gadis bebal itu" ujar Ji eun dengan kekehan di akhir kalimatnya


Chunghee ikut terkekeh mendengarnya, bayangan Karina melintas dikepalanya. Bayangan tentang bagaimana ekspresi gadis itu ketika kesal, ketika mendapat amarah dari Kang gyosungnim, bayangan bagaimana wajah gadis itu yang berubah menjadi merah padam ketika dia marah dan lagi yang selalu terngiang di bayangannya adalah ketika gadis itu tersenyum dengan mata yang melengkung bagai bulan sabit, sungguh sangat manis dan mengemaskan


"Kau menyukainya Chunghee-ah?" Tanya Ji eun


Mata Chunghee membola, tiba-tiba saja laki-laki itu tersedak mendengar pertanyaan tiba-tiba dari ibu Karina itu. Mendapati reaksi Chunghee, Ji eun terkekeh lalu dia berikan minuman yang tadi dia bawa.


"Kamsahamnida Imo" ujar Chunghee begitu dia selesai meneguk minuman yang Ji eun berikan


"Melihat dari reaksimu, sepertinya dugaanku benar" ujar Ji eun


Chunghee menunduk, laki-laki itu menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal. Inginnya dia membantah, tapi tidak mungkin juga kan dia berbohong pada ibu Karina disaat wanita itu sudah mengetahuinya. Chunghee menarik nafas berat


"Apa.... begitu terlihat Imo?" Tanya Chunghee


"Hanya orang bodoh saja yang tidak menyadarinya Chunghee-ah. Sikapmu pada Karina jelas menggambarkan sesuatu yang berbeda, seperti perasaan lebih padanya. Aku bersyukur pada Tuhan karena, Tuhan dengan baiknya mengirimkanmu dan Daejung untuk Karina. Putriku itu masih begitu polos, dan masih seperti anak kecil,  dia tidak akan menyadarinya kalau tidak diberitahu. Selain polos Karina juga memiliki ego yang begitu tinggi, gadis itu bebal dan keras kepala. Tapi dibalik semua sikapnya itu, dia adalah seorang pekerja keras, hatinya begitu lembut dan penuh kasih sayang. Terlahir sebagai anak terakhir dan dari dua kakak laki-lakinya membuat Karina begitu dimanja dan sangat disayangi oleh kedua Oppa nya, dan hal itu terpatri sampai sekarang. Aku tidak melarangmu untuk mencintainya, hanya saja kau masih ingatkan bagaimana sikap Karina pada Daejung satu tahun ini, kau juga pasti ingatkan penyebabnya. Chunghee-ah, aku sebagai seorang ibu tentu saja berharap yang terbaik untuk putriku. Aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi dengan persahabatan kalian hanya karena perasaan kalian berdua pada Karina" jelas Ji eun panjang lebar


Chunghee masih mencerna semua ucapan ibu dari Karina itu, apakah saat ini dia sedang ditolak secara halus? Atau justru dia sedang diberi kepercayaan oleh wanita didepannya ini?


Chunghee memahaminya sekarang. Apa yang dikatakan ibu Karina itu betul, dia harus memikirkan persahabatannya dibanding apapun. Dan kalau suatu saat nanti Karina ternyata mencintai Daejung, dia akan mencoba menerimanya karena memang Daejung yang lebih dulu bersama Karina. Sedangkan dia, dia baru dekat dan bersahabat dengan Karina satu tahun ini. Jadi kalau ada yang harus mengalah maka dia lah orangnya. Mungkin saat ini dia belum mampu untuk melakukannya, tapi setidaknya dia bisa berusaha untuk menakan perasaanya pada Karina agar tidak semakin tumbuh dan berkembang.


Chunghee mengenggam tangan Ji eun


"Aku paham Imo, dan aku akan mencoba untuk menerima semuanya jika suatu saat nanti ternyata Karina menambatkan hatinya pada Daejung. Tapi Imo, selama hal itu belum terjadi bolehkah aku mencintai putri Imo sampai saat itu datang? Aku berjanji kalau Karina memang mencintai Daejung, aku akan melepaskannya dan aku sendirilah yang akan mengantarkan Karina pada Daejung" ujar Chunghee dengan penuh ketulusan dan keseriusan


Ji eun tersenyum dan mengusap punggung tangan Chunghee


"Tentu saja boleh Chunghee-ah, kau boleh mencintainya. Aku tidak melarangmu untuk mencintai putriku bukan. Aku harap setelah ini kau masih mau untuk menjaga Karina, dan aku juga berharap semoga kau masih bersedia untuk selalu berada di samping Karina. Kau tau, aku juga mengatakan hal yang sama seperti itu pada Daejung, ketika kami sedang berbincang di telefon tepat satu bulan sebelum dia mengalami kecelakaan. Dan kau tau dia juga memberikan jawaban yang hampir sama seperti apa yang kau katakan tadi. Kita memang tidak tau apa yang akan terjadi kedepannya, tapi aku akan selalu berdoa yang terbaik untuk hubungan kalian bertiga. Aku harap kau tidak tersinggung dengan apa yang aku katakan tadi" ujar Ji eun


"Aniyo Imo, aku tidak akan tersinggung sama sekali. Gomawo Imo karena sudah memberikan kepercayaan pada kami untuk menjaga Karina. Kami berjanji akan selalu membuat Karina bahagia dan akan kami pastikan kebahagiaannya. Kalau pun suatu saat nanti ternyata Tuhan mengariskan Karina untuk menikah dengan laki-laki lain selain kami berdua, maka kami juga yang akan mengantarkan Karina pada laki-laki pilihannya itu"  ujar Chunghee dengan senyum tulusnya


Ji eun terharu mendengar ketulusan dari Chunghee, sekali lagi dia bersyukur pada Tuhan karena telah mengirimkan kedua laki-laki itu untuk putri kesayangannya. Tanpa sadar airmatanya mentes, segera wanita itu usap, lalu dia suguhkan senyuman hangat pada Chunghee


"Hah seprtinya sekarang Appa nya Karina bisa semakin tenang disana karena sekarang sudah ada yang menjaga putri kesayangan selain kedua putranya. Ah, sepertinya hari sudah semakin sore, Kajja sebaiknya kita segera kembali sebelum gadis nakal itu memekik kesal, dan membuat masalah lain. Dan aku juga tidak tega membiarkan Tuan Lee menunggu lama di mobil" ujar Ji eun, wanita itu teringat pada supir pribadinya yang sudah lama menunggunya didalam mobil


Chunghee tersenyum mendengarnya, mereka pun pergi meninggalkan taman. Setelah memastikan Ji eun berkendara dengan aman, Chunghee segera memasuki rumah sakit dan menuju ruang inap Daejung. Dia yakin pasti sekarang Karina sedang uring-uringan karena menunggunya yang terlalu lama


.


.


.


TBC


See you next Chapture....😊