
Chunghee baru saja memasuki Caffe saat jam menunjukkan pukul lima sore, begitu memasuki Caffe ia langsung disapa oleh Jhony
"Eoh kau sudah datang Hyung? Kau pasti mau menjemput Nunna kan" ujar Jhony
Chunghee tersenyum "Ne, apa Karina ada?"
"Eoh, Nunna ada di atas naiklah Hyung" ujar Jhony
"Geurae, Gomawo Jhony-ah. Semangatlah bekerja" ujar Chunghee
"Nde Hyung, siap"
Chunghee menepuk bahu Jhony lalu berjalan menaiki tangga.
Sementara itu di dalam ruangan Karina, gadis itu baru saja selesai diobati oleh Kwon Sun
"Selesai, baiklah Nunna aku keluar dulu." Ujar Kwon Sun
"Nde sekali lagi gomawo Kwon Sun-ah"
Kwon Sun mengangguk kemudian beranjak dari sana, baru saja ia akan membuka pintu, tapi belum sampai pintu itu terbuka, ia kembali menoleh ketika mendengar suara Karina
"Aaahhh"
"Nunna wae? Gweanchana?" Tanya Kwon Sun
"Bulu mataku masuk, ah..." ujar Karina. Gadis itu mengusap matanya
Kwon Sun meraih tangan Karina "biar aku tiup sebentar Nunna. Mianhae" setelahnya Kwon Sun meniup mata Karina
"Eotte? Apa lebih baik?" Tanya Kwon Sun
"Masih sedikit perih" ujar Karina
Kwon Sun kembali meniup mata Karina, lalu setelahnya ia kembali bertanya "sekarang?"
"Jauh lebih baik, gomawo Kwon Sun" ujar Karina
Baru saja Kwon Sun akan buka suara, tapi urung karena suara seseorang lebih dulu mengintrupsinya
"Apa yang kalian lakukan?" Ujar Chunghee dengan suara yang begitu dingin
Kwon Sun dan Karina menoleh bersamaan, mata Chunghee melebar begitu mendapati siapa laki-laki yang sedang berhadapan dengan Karina saat ini. Dengan langkah tegas laki-laki itu mendekati Kwon Sun, dia menarik kerah Kwon Sun
"Kau, apa yang kau lakukan hah? "tanya Chunghee dengan kilatan emosi dimatanya
"Chunghee-ah, lepaskan dia kau salah paham. Dengarkan penjelasanku dulu" ujar Karina berusaha melepas cengkraman Chunghee dari kerah Kwon Sun
"Kau membelanya? Kau tahu siapa dia hah" ujar Chunghee dengan suara meninggi
Karina memejamkan matanya, dapat ia rasakan bahwa kini kekasihnya itu sedang dalam keadaan emosi. Ia berbalik menghadap Kwon Sun
"Kwon Sun-ah, kau boleh kembali. Sekali lagi gomawo"ujar Karina dengan senyuman
"Nde, kalau begitu aku keluar Nunna" laki-laki itu membungkuk, sebelum keluar ia sempat bersitatap beberapa saat dengan Chunghee sebelum ia keluar
"Siapa dia?" Tanya Chunghee tanya Chunghee dengan begitu dingin
Karina menghela nafas "dia Kwon Sun, pegawai baruku"
"Kau menerima dia sebagai karyawan barumu dan kau tidak mengatakannya padaku? Apa kau tahu siapa dia? Darimana dia berasal? Seperti apa sifatnya? Apa kau sudah mengetahunya? Dan apa yang tadi kalian lakukan? Kenapa kalian begitu dekat, bahkan dia menyentuh wajahmu? Apa kalian....." ucapan Chunghee terpotong
"Stop, kau ini kenapa Chunghee-ah? Kami tidak melakukan seperti apa yang kau pikirkan, tadi dia hanya membantuku. Dan Dia baik, aku tahu darimana dia berasal. Apa kau mengenalnya? Tidak biasanya kau seperti ini pada karyawanku?" Tanya Karina
"Aku tidak mengenalnya dan tidak akan pernah mau mengenalnya. Aku tidak suka dia berada di Caffe ini, kau harus memecatnya Karina" ujar Chunghee
"Yak, kau ini kenapa hah? Aku tahu kau cemburu, tapi tidak harus sampai seperti ini Chunghee-ah. Tidak, aku tidak akan memecatnya hanya karena sikap kekanak-kanakanmu ini. Aku rasa obrolan ini berakhir sampai disini, lebih baik sekarang kita pergi sebelum hari semakin malam" putus Karina
"Kau lebih memilih dia dari pada aku? Apa kau sudah menaruh rasa padanya?" Ujar Chunghee masih dengan emosi
Karina geram, inginnya gadis itu menjawab apa yang Chunghee katakan, tapi ia urungkan. Ia tidak ingin ketika ia menjawab nanti justru hal tersebut malah akan semakin menyulut emosi Chunghee
"Benar? Jadi benar kau sudah memiliki rasa untuknya. Apa kau sudah tidak mencintaiku lagi? Hah baiklah sekarang apa mau mu? Kau ingin kita..."
"CUKUP Chunghee-ah, aku diam karena aku tidak ingin menyulut emosimu. Tapi kau justru semakin menjadi. Aku rasa kau sudah tidak percaya lagi padaku, kau bahkan mempertanyan perasaanku padamu, harusnya kau sudah tahu seberapa besar cintaku padamu. Kau... kau membuatku kecewa Chunghee-ah" ujar Karina dengan suara yang melirih di akhir kalimatnya. Gadis itu kini bahkan sudah menangis
Chunghee membeku di tempatnya saat mendapati Karina menangis. Ia merutuki perkatannya, bagaimana bisa ia terbawa emosi sampai-sampai ia kembali membuat Karina menangis.
"Karina-ya ak..aku, bu..bukan begitu maksutku, aku..."
"Ani, aniya Karina aku akan mengantarmu. Kita akan pergi ke rumah Eommanim bersama" ujar Cunghee, laki-laki itu berusaha meraih tangan Karina, namun gadis itu justru menepisnya
"Kau bisa turun dulu, ada yang harus aku sampaikan pada karyawanku" ujar Karina, setelahnya gadis itu lebih dulu keluar, meninggalkan Chunghee dengan segala penyesalannya
Sudut hati Chunghee berdenyut nyeri mendapati penolakan dari Karina.
Suasa dalam mobil begitu sepi, jika biasanya saat dalam perjalanan seperti ini, mereka akan saling melempar candaan, Chunghee akan menggoda Karina hingga gadis itu memekik kesal. Tapi kali ini berbeda, Karina hanya diam, gadis itu lebih memilih melempar pandangnya keluar jendela
"Karina-ya, aku minta..."
"Aku lelah, aku ingin tidur. Tolong bangunkan aku saat sudah sampai" ujar Karina memotong ucapan Chunghee
Mengehela nafas dalam, Chunghee lebih memilih mengalah kali ini "tidurlah, aku akan membangunkanmu begitu sudah sampai nanti"
Tanpa menjawab Karina langsung memejamkan matanya, jujur saja ia masih sakit hati dengan apa yang Chunghee katakan, bagaimana bisa kekasihnya itu mempertanyakan perasaannya? Tanpa permisi airmata gadis itu mengalir membasahi pipinya, dengan segera Karina menghapusnya
Dan hal tersebut tak luput dari perhatian Chunghee 'dasar Chunghee bodoh, lagi-lagi kau membuat Karina menangis' batinnya.
...****************...
"Eomma" pekik Karina begitu mendapati sang Ibu berdiri di depan pintu menyambutnya
Gadis itu berlari untuk kemudian menghambur dalam pelukan wanita yang sangat ia rindukan itu
"Eomma, nan bighosipo" rengek Karina
"Nado, Eomma juga sangat merindukanmu. Bagaimana dengan Caffe? Apa berjalan lancar?" Tanya Nyonya Kwon begitu ia melepas pelukan putrinya itu
"Semua berjalan lancar, dan semua itu berkat doa Eomma" ujar Karina dengan senyuman
"Aku kemari bersama Chunghee" tanya Ji Eun
"Nde" jawab singkat Karina
"Annyeoung Eommonim" sapa Chunghee membungkukkan badannya
"Chunghee-ah lama tak bertemu bagaimana kabarmu?" Tanya Ji Eun
"Baik Eommonim, bagaimana Kabar anda?" Tanya Chunghee
"Aku baik, apa pekerjaanmu berjalan lancar?" Tanya Ji Eun sekali lagi
Baru saja Chunghee akan menjawab, tapi Karina lebih dulu berujar
"Eomma, aku lelah. Aku akan masuk dulu" ujar Karina
"Eoh ne, naiklah lebih dulu Eomma sudah membereskan kamarmu" ujar Ji Eun
"Nde gomawo Eomma" setelahnya gadis itu memasuki rumah tanpa sedikitpun menoleh pada Chunghee
"Ah Chunghee-ah..." panggil Ji Eun ketika mendapati kekasih dari putrinya itu melamun
"Ah nde Eommonim, semua berjalan dengan lancar" jawab Chunghee merasa canggung
"Syukurlah, apa kau akan menginap malam ini?" Tanya Ji Eun sekali lagi
"Nde Eommonim, kebetulan besok saya libur"
"Ah baguslah, tapi Chunghee-ah apa kau tidak keberatan tidur dengan Karina? Mian tapi kamar di rumah ini sudah penuh. Kalau kau keberatan, aku akan meminta Karina untuk tidur denganku" ujar Ji Eun
"Aniyo Eommonim saya tidak keberatan sama sekali"
"Baiklah, kalau begitu masuklah, bersihkan dirimu dan kita makan malam bersama" titah Ji Eun
"Nde Eommanim" Chunghee membungkuk, setelahnya laki-laki itu mamasuki rumah Karina, dan segera menuju Kamar gadis itu, setelah tadi Ji Eun memberitahunya dimana letak kamar Karina
.
.
.
TBC
See you next chapture😊