Just Us

Just Us
Chap 42



Sang surya mulai kembali keperaduan, bias sinar jingganya begitu indah memayungi bumi, benar apa yang dikatakan orang-orang bahwa menikmati sunset di pinggir pantai benar-benar sesuatu yang luar biasa indah dan membahagiakan.


Tapi itu tidak berlaku untuk seorang laki-laki yang kini berdiri kaku dengan satu bolot air mineral dalam genggamnya. Hatinya serasa diremat begitu kuat, sakit ketika menyaksikan gadis yang ia cintai hampir berciuman dengan sahabatnya sendiri


"Eoh, mianhe aku tidak tau kalau kalian sedang memerlukan waktu berdua. Aku hanya ingin memberikan air ini pada Karina agar dia merasa lebih baik, tapi sepertinya sekarang dia sudah lebih baik. Jadi aku akan kembali lagi nanti. Sekali lagi mian karena aku mengganggu kalian" ujar Chunghee yang berusaha memberikan senyum terbaiknya meski hatinya sakit bukan main


Buru-buru laki-laki itu berbalik arah dan melangkah meninggalkan kedua sahabatnya. Tapi baru dua langkah dia berjalan, dia harus kembali terhenti ketika mendapati sepasang lengan memeluknya begitu erat dari belakang, punggungnya juga terasa sedikit basah. Dia berusah melepas lengan tersebut


"Kajima..." lirihnya


Genggaman pada botol yang ia pegang mengerat. Apa ini? Kenapa seperti ini? Apa yang ingin Tuhan tunjukkan padanya melalui semua ini? Tadi dia lihat Karina yang nyaris berciuman dengan Daejung, lalu sekarang dia harus dihadapkan dengan Karina yang memeluknya dan memintanya untuk tidak pergi. Kali ini alam benar-benar sedang mengajaknya bercanda melalui semua ini, dia dibuat begitu bodoh dengan perasaannya. Dia ditempatkan pada pilihan antara cintanya atau persahabatannya


"Mianhe... ta-tadi ak-aku dan Da-daejung kami..." ucapan Karina terputus karena kini Chunghee memutar tubuhnya dan kini mereka saling berhadapan, Chunghee pegang kedua bahu Karina. Dia memejamkan matanya, berusaha menekan semua rasa sesak yang sedari tadi mengelayuti hatinya


"Hey.. gweanchana. Kenapa kau menangis seperti ini eoh? Aku tidak apa sungguh, tadi aku hanya ingin memberikan air ini padamu. Uljima Karina-ya, kau tidak bersalah jadi untuk apa meminta maaf. Ah... atau jangan-jangan kau meminta maaf padaku karena kau mulai menyukaiku eoh..." ujar Chunghee dengan menaik turunkan alisnya


Karina terkekeh disela tangisannya, gadis itu lalu mengusap air matanya, lalu dia mengangkat wajahnya dan menatap Chunghee, gadis itu menjepit hidung Chunghee diantara jari telunjuk dan jari tengahnya


"Ck kau ini percaya diri sekali eoh, mana mungkin aku menyukai laki-laki menyebalkan sepertimu" jawab Karina, dengan tangan yang menggerakkan hidung Chunghee kekanan dan kiri


'Ya, benar Karina-ya jangan pernah mencintai atau pun meletakkan hatimu padaku, jangan pernah singgahkan hatimu padaku walaupun itu hanya untuk sebentar. Biarkan aku yang melakukannya, biarkan aku yang mencintaimu tanpa harus kau balas' jawab Chunghee dalam hati


Chunghee membalas cubitan Karina itu, dia juga mencubit hidung Karina dan mereka pun tertawa bersama. Daejung terkekeh melihat tingkah kedua sahabat itu, laki-laki tersebut lalu melangkahkan kakinya mendekati Chunghee dan karina


"Yak! Sudah hentikan, apa kalian akan melakukannya sampai hidung kalian sepanjang pinokio eoh" ujar Daejung


Chunghee dan Karina pun menghentikan aksi saling mencubit mereka, Karina menatap Daejung lalu dia kaitkan lengannya pada lengan laki-laki tersebut


"Kita belum berfoto bersama tadi, jadi kajja sekarang kita berfoto sebelum mataharinya benar-benar tenggelam" ujar Karina, tanpa menunggu balasan gadis itu meraih lengan Chunghee dan menarik laki-laki itu agar semakin mendekat padanya. Lalu dia berikan ponselnya pada Daejun untuk menggambil foto bersama


Ketiganya larut dalam kegiatan berfoto bersama, berbagai pose mereka lakukan dan itu benar-benar membuat tawa mereka berderai dan juga raut bahagia tergambar jelas diwajah ketiga sahabat itu


"Wah.. daebak, hasilnya sangat bagus, aku suka. Nanti malam kau harus mencetaknya Chunghee-ah" ujar Karina


"Ye? Kenapa harus aku?" Tanya Chunghee heran


"Karena tadi Daejung yang sudah mengambil fotonya,  jadi kau yang harus mencetaknya" jelas Karina


"Yak kenapa tidak kau saja?" protes Chunghee


"Karena aku lelah, seharian bermain. Ah sudahlah jangan terlalu banyak protes lakukan saja apa yang aku minta, pokoknya besok pagi sebelum Daejung berangkat foto itu harus sudah jadi,dan ingat cetak foto-foto tersebut masing-masing tiga picis" jelas Karina


Mendengar jawaban Karina, ingin rasanya dia melempar gadis itu kepantai atau paling tidak akan dia ikat mulut tipis gadis itu. Tapi mana mungkin dia melakukan hal itu pada gadis yang dia cintai. Tidak mendengar protes lagi dari Chunghee, Karina tersenyum dan kembali merangkul lengan Karina


"Daejung-ah seperti setelah ini dompet kita akan dikuras oleh gadis kecil ini" ujar Chunghee


"Ah... sepertinya aku harus meralat ucapanmu Chunghee-ah, bukan dompet kita tapi dompetmu. Kau ingat bukan kesepakatan kita" ujar Daejung dengan tatapan menyebalkannya pada Chunghee


Kesepakatan? Chunghee dibuat bertanya-tanya tentang kesepakatan apa yang Daejung katakan, apakah kesepakatan tentang memperjuangkan cinta mereka pada Karina, atau.... Mata Chunghee terpejam mengingat apa kesepakatan yang Daejung katakan. Kesepakatan tentang dia yang harus membayar semua makanan yang mereka makan hari ini. Laki-laki itu membuang nafasnya berat, ini lah hukuman yang harus dia tanggung setelah kalah dalam permainan batu gunting dengan kedua sahabatnya. Melihat reaksi Chunghee, membuat kedua sahabatnya tertawa begitu puas.


.


.


.


Mereka kini sedang menikmati berbagai olahan seafood yang tersedia di salah satu restoran dekat pantai tersebut. Daejung dengan telaten membuka cangkang kepiting untuk Karina, sedangkan Chunghee dia begitu larut dalam acara makannya


"Yak Daejung-ah makanlah, kau sedari tadi sibuk untuk membantu Karina. Cepatlah makan sebelum makananmu dingin, atau lebih parahnya makananmu akan berpindah kepiring gadis kecil itu" ujar Chunghee dengan diakhiri lirikan mata yang ia tujukan pada Karina


"Yak, kenapa kau mengatakan itu. Aku tidak mungkin mengambil makanan Daejung, kecuali kalau dia menyia-nyiakannya seperti sekarang ini" bela Karina pada dirinya sendiri


Chunghee memutar malas bola matanya,  sedangkan Daejung hanya terkekeh dan mulai menikmati hidangan yang tadi sudah dia pesan


"Ah Daejung-ah, Chunghee-ah aku rasa besok aku akan mewarnai rambutku menjadi warna merah. Aku rasa warna itu cocok untukku" ujar Karina memecahkan kehikmatan acara makan malam mereka


"Ya kau betul warna itu cocok sekali denganmu, kau seperti Anger" jawab Chunghee dengan kekehan disela usahanya membukakan kerang abalone untuk Karina


"Anger?nuguya?" Tanya Daejung tidak mengerti


"Si pemarah dalam film inside out, kau ingat buka karakter pendek dan kotak dalam film tersebut,film yang pernah kita tonton bersama" jelas Chunghee tanpa bisa menyembunyikan tawanya, laki-laki itu membayangkan katakter yang dia sebutkan tadi


Cukup lama Daejung dan Karina terdiam, mereka masih mengingat-ingat karakter yang Chunghee katakan. Lalu setelah Karina mengingatnya gadis itu memekik kesal dan melempar kulit kerang pada Chunghee yang masih tertawa terbahak-bahak. Setelah mengingatnya Daejung pun ikut tertawa bersama Chunghee, dia mengingatnya sekarang, salah satu karakter dalam film keluaran walt disney itu


.


.


.


TBC


See you next chapture....😊