
Chunghee benar-benar pergi dari apartemen Karina, tujuan laki-laki itu adal rumah Ayahnya, ia harus segera menyelesaikan masalh ini. Chunghee benar-benar muak dengan segala tingkah sang Ayah yang selalu semena-mena, ia tidak habis pikir, apa selama ini yang ada dipikran Ayahnya itu hanya ada Unag, uang, dan uang saja? Apakah laki-laki yang brstatus sebagai Ayahnya itu tidak pernah memikirkan kebahagiannya? Hah, andai dia boleh memilih, ia tidak akan sudi terlahri dari sebagai pura dari Ayahnya, akan lebih baik jika sedari awal ia tidakpernah mengenal Ayanhya sekalian dari pada ia harus hidp dalam segala tekanan yang Ayahnya buat.
Sementara itu setelah kepergian Chunghee, tangis Karina semakin menjadi. Tubuh gadis itu luruh, tangannya ia arahkan untuk mengelus perut raya yang kini di dalamnya buah cintanya dengan Chunghee sedang tumbuh
“mainhae Aegi-ya, Mian karena Eomma tidak bisa mempertahankan Appa untuk terus berada disamping kita. Tapi Eomma janji akan selalu ada untukmu, Eomma akan menjadi Eomma sekaligus Appa untukmu, kau tidak akan pernah merasakan kekuranagn kasih saying, Eomma akan melimpahimu dengan segala kasih yang Eomma miliki. Aegi-ya, kita harus pergi dari sini, tempat ini bukan untuk kita, semakin kita bertahan maka akan semakin dalam luka yang mereka goreskan pada kita. Aegi-ya Mian karena Eomma harus egois lagi kali ini, mian karena harus memisahkanmu dengan Appa, bahkan sebelum dia mengetauhui kalau kau tumbuh disini. Aegi-ya tolong bertahan dan tumbuhlah baik di dalam sana, karena kini hanya kau yang menjadi pengguat untuk Eomma. Mari kita berjuang bersama, Eomma yakinkita bisa melewati semua ini” ujar Karina dengan mengusap perutnya yang masih rata
Dirasa sudah mulai tenang, Karina bergegas untuk membereskan semua barang yang akan ia bawa pergi, ia harus bergegas sebelum Chunghee kembali. Setelah dirasa cukup Karina menghubungi seseorang ntuk menjemputnya, setelah mendapat balasan bahwa orag tersebut sudah berada di depan gedung, ia segera turun denga membawa barang-barangnya. Tidak banyak barang yang ia bawa, ia hanya membawa pakaian, dan beberapa barang pentinglainnya. Ia meinggalkan semua benda yang Chunghee pernah berikan padanya, ia tidak ingin membawa kenangannya bersama Cgunghee ditempat barunya nanti.
Karina disambut pelukan hangat dari Hye In setelah ia sampai di depan gedung, sedangkan Daejung lebih memilih untuk memasukkan barang-barang Karina ke dalam mobil
“Appo. Ige appo Hye In-ah” ujar Karina dalam pelukan Hye In
“Nde aku tahu, dan aku yaikin kau pasti bisa melewati ini semua” balas Hye In
Setelah selesai memasukkan barang-barang Karina, Daejung menghampiri dua wanita yang sangat berarti dalam hidupnya itu “sebaiknya kita pergi sekarang sebelum kita tertinggal pesawat” ujarnya
“nde kajja Karina” ujar Hye In dengan menuntun Karina Masuk ke dalam mobil
Suasana di dalam mobilbegitu hening, tidak ada satupun dari mereka yang berniat untuk membuka percakapan sebelum tangisan Karina lolos begitu saja, tangis itu terdengar pilu dan sangat menyayat hati. Hye In yang duduk disamping Karina segera merengkuh tubuh ringkih gadis yang sudah ia anggap sebagai adik itu. Tanka banyak yang Hye In lakukan, ia hanya memeluk Karin dan menggusap lengan gadis cantik itu. Ia tahu bahwa sekarang ini Karin pasti sedang meluapkan segala perasaannya yang sedari tadi ia tahan
“Appo Hye In-ah. Ige Appoyo” ujar Karin dengan memukul dadanya
“Nde aku tahu, aku sangat tahu bagaimana perasaanmu. Menangislah Karina, keluarkan ayang menjadai beban dihatimu, keluarkan segala marah, sedih, serta kekecewaanmu” ujar Hye In yang masih setia mengusap lengan Karina
Dan setelah Hye In mengatakan itu, pecah sudah tangis Karina. Tangis gadis itu semaki keras terdengar, gadis itu benar-benar meluapkan segala perasaan yang ia tanggung belakangan ini. Banyak hal berat yang ia lalui beberapa hari trakir ini dan itu semua benar-benar menjungkir balikkan hidup Karina. Awalnya ia begitu bahagia saat mengetahui bahwa dirinya tengah mengandung buah cintanya dengan Chunghee, namun belum sempai ia mengatakannya pada laki-laki itu, ia justru sudah bertemu terlebih dahulu dengan Ayah Chunghee, dan mendapatai kenyatana pahit itu. Diarasa ia tak sanggup lagi menanggung semua beban tersebut, akhirnya Karin menceritakan euanya pada pada Daejung dan Hye In, awalnya Daejung begitu marah dn ingin menghajar habis-habisan Chunghee karena telah berani mengahmili Karina, namun semua itu urung karena Karina yang mencegahnya. Gadis itu juga mengatakan kalau buka hanya Chunghee yang bersalah dala kehamilan ini tapi dai juga ikut andil di dalamnya, alhasil Daejung harus menelan kembali semua sumpah serapah yang akan ia layangkan pada Chunghee.
Hye In kembali buka suara setelah tangis Karina mereda “Karina-ya dengarkan aku. Aku tahu ini berat dan pasti sangat berat, kalau akau berada diposisimu saat ini, aku belum tentu mampu menghadapi semuanya. Tapi percayalah Karina, Tuhan tidak akan pernah salah dalam meletakkan beban pada pundak seseorang, kalau Tuhan memberimu cobaan seperti ini, maka itu artinya Tuhan percaya hanya kau yang sanggup memikul beban tersebut. Tuhan tidak akan pernah memberikan cobaan di luar kemampuan hambanya. Percayalah Karina setelah kesusahan pasti ada kebagiaan, mungkin sata ini Tuhan sedang menyiapkan sesuatu yang indah untukmu, dan yang harus kau lakukan sekarang adalah bersabar, tetapa jalani hidupmu dengan penuh kebahagiian dan suka cita, jalani semua proses apapun yang akan kau hadapi nanti dan tunggulah saat kebahagiaan itu datng menyapamu. Ingat Karina kau tidak sendiri, ada aku dan Daejung disisni kami akan selalu ada untukmu kamapun pun dan dimanapun kau membutuhkan kami. Jadi Karina tetaplah tersenyum, lupakan semua kenangan buruk yang terjadi disini, mungkin butuh waktu untuk melupakan semua itu, tapi aku yakin kau bisa melakukannya. Tetaplah bahagia ingat sekarang kau tidak hanya memikirkan dirimu saja, tapi juga ada Aegi yang harus kau jaga di dalam sini”
Setelah menempuh beberapa saat perjalanan, kini mereka sudah sampai di bandara. Daejung membantu Karina menurunkan barangnya, setelah semuanya siap Hye In kembali memeluk Karina “gomawo Hye In-ah untuk semuanya, Daejung benar-benar beruntung memilikimu sebagai istri” ujar Karina
“Aku juga merasa beruntung karena Tuhan memberiku kesempatan kedua untuk bisa bertemu dan bersahabat denganmu. Jaga dirimu baik-baik disana, ingat pesanku untuk kembali tersenyum dan berbahagialah disana eoh” jawab Hye In
Karina mengangguk, gadis itu melepas pelukan Hye In. kini ia berjalan menghampiri Dejung, jujur saja setelah kejadian dimana ia mengatakan semuanya pada Daejung laki-laki itu selalau saja menghindarinya. Karina idak bisa marah ataupun mneyalahkan eajung karena ia sadar bahwa disini memang dial ah yang salah.
Dengan perasana ragu Karina memeluk tubuh sahabatnya itu “mianhae Daejung-ah, mian telah membuatmu lagi-lagi kecewa. Kau pasri marah padaku, kau pasti membenciku sekarang. Mian karena aku tidak bisa menjadi gadis yang baik, mian karena…karena…” Karin atidak bisa lagi melanjutkan kata-katanya
Daejung mempererat pelukannya pada Karina, jujur ia memang kecewa pada sabatnya itu, ingin marah tapi dia tidak sanggup untuk melakukannya “ssstttt, uljima Uri Karina-ya gweancana. Aku memang marah dan kecewa tapi percayalah sulit bagiku untuk membencimu. Kau tahu bukan seberapa sayangnya aku padamu, jujur aku tidak bisa melihatmu seperti ini, hatiku benar-benar sakit saat melihatmu menangis, ingin rasanya aku menghajar Chunghee sekarang juga jika tak ingat dia adalah Ayah dari calon keponakanku. Hah.. sudahlah tidak perlu kita membahas ini lagi, sekarang yang terpenting adalah tetaplah bahagia dan kembalilah tersenyum seperti Karina yang akau kenal selama ini. Jaga dirimu baik-baik disana, jika terjadi seseuatu segeralah hubungi aku ataupun Hye in. kami akan sering mengunjungimu, jaga kesehatan dan pola makanmu, jangan minum kopi arrachi?”
Karina terkekeh “Nde Sajangnim” jawab Karina dengan menundukkan kepalanya
Dan hal tersebut membuat Daejung dan Hye In ikut terkekeh, berat sebenarnya bagi mereka membiarkan Karina untuk pergi, tapi bagaimana lagi, mungkin inilah jalan yang terbaik bagi gadis cantik itu.
.
.
.
TBC
See you next chapture😊