
Eunso mengepalkan tangannya, ucapan Chunghee benar-benar melukai perasaannya. Memang benar di sini dia lah yang hadir diantara Chunghee dan Karina, tapi tetap saja laki-laki itu tidak seharusnya berkata sekasar itu padanya
“Kau sudah keterlaluan Chunghee-ah, tidak kah kau berpikir bagaiman perasaanku saat kau mengatakan hal tersebut? Kau berkata bahwa kau diajarkan untuk selalu menghargai Wanita, tapi bagaiman bisa kau mengatakan hal sekejam itu padaku?” ujar Eunso dengan nafas yang memburu karena menahan emosi
“Aku hanya mengoreksi apa yang kau katakan Eunso-ya, dan bukankah apa yang aku katakan benar adanya? Menurutku akan lebih baik jika aku berkata demikian padamu, aku hanya tidak ingin kau terlalu berharap padaku. Jika aku berlaku lembut padamu, kau akan semakin berharap padaku. Aku takut jika nanti kau akan jatuh terlalu dalam karena perlakuan lembutku padamu. Aku hanya mencoba untuk tidak membuatmu terlalu berharap padaku Eunso-ya” jelas Chunghee
Eunso tidak bisa lagi menahan air matanya, air mata itu mulai jatuh berderai membasahi pipi Eunso, Chunghee memalingkan wajahnya, jujur saja ia tidak tega melihat air mata itu, melihat seorang Wanita menangis adalah salah satu kelemahannya. Inginnya dia menenangkan Eunso, tapi ia tidak bisa. Ia tidak ingin Eunso nantinya semakin berharap padanya, jadi biarlah seperti ini, biarlah Eunso menganggapnya sebagai laki-laki yang jahat
Cukup lama Eunso menangis, setelah dirasa mulai tenang gadis itu Kembali berucap “tapi aku sangat mencitaimu Chunghee-ah, bahkan cintaku ini lebih besar dari rasa cinta Karina padamu. Chunghee-ah, jebal berikan aku satu kesempatan, bukalah sedikit saja hatimu untukku, tidak masalah kalau aku hanya menjadi yang kedua, aku akan menerimannya. Tapi aku mohon, tolong ijinkan aku menempati sedikit saja ruang di hatimu. Aku tidak masalah jika aku harus berbagi dengan Karina asalkan kita bisa bersama”
Chunghee memejamkan matanya, ia tidak habis pikir dengan jalan pikiran Eunso, bagaimana bisa gadis itu mengatakan hal tersebut semudah itu. “Mian Eunso-ya kau tahu persisi bagaiman perasaanku pada Karina. Sampai kapanpun hal tersebut tidak akan pernah terjadi, dan apa kau tidak memikirkan bagaimana perasaanku saat kau memintaku untuk membuka hatiku disaat ada gadis lain yang sudah menempati tempat tersebut? Apa kau ingin menjadikanku sebagai laki-laki yang jahat dengan menduakan Karina dengan TEMAN nya sendiri? Dan sadarkah kau dengan yang kau katakana? Kau ingin menjadi Wanita yang jahat dengan merebut kekasih TEMANmu sendiri?” ujar Chunghee dengan nada yang begitu dingin, emosi laki-laki itu terpancing setelah mendengar apa yang Eunso katakan
“Aku rasa apa yang kau rasakan itu bukanlah sebuah perasaan cinta melainkan sebuah obsesi. Kalau kau memang mencintaiku, kau tidak akan berpikir sepicik itu, kalau kau memang mencintaiku kau akan mengalah dan menerima kenyataan bahwa aku sudah Bahagia dengan Wanita lain. Kau tahu, Ketika kau mencintai seseorang, kau tidak harus selalu memilikinya, karena cinta yang sesungguhnya adalah Ketika kau rela melepaskan orang yang kau cintai untuk meraih kebahagiannya meskipun itu bukan dengan dirimu” tandas Chunghee, laki-laki itu berdiri untuk kemudian keluar dari Restoran tersebut. Namun sebelum benar-benar pergi, kekasih Karina itu berhenti di samping Eunso, merundukkan tubuhnya untuk kemudain berbisik tepat di telinga Eunso
“Dan satu lagi, jangan pernah kau menganggu Karina lagi. Aku tahu apa yang kau lakukan pada KEKASIHku, dia mungkin bisa memaafkanmu. Tapi tidak denganku, aku tidak akan tinggal diam jika sekali lagi kau menyentuh Karina meskipun itu hanya seujung rambutnya” setelah mengatakan hal tersebut Chunghee Kembali merajut Langkah untuk keluar dari tempat tersebut
“Aku bahkan bisa melakukan hal yang lebih buruk dari itu Chunghee-ah. Akan aku lakukan apapun asalkan kau menjadi milikku, jika perlu aku akan menyingkirkan Karina dalam hidupmu untuk selamannya” ujar Eunso
Dan perkataan gadis itu menghentikan Langkah Chunghee sekaligus Kembali menyulut emosi laki-laki tersebut “Lakukanlah, saat kau melakukannya. Maka saat itu juga aku akan melakukan hal yang sama pada ANAK yang kau sembunyikan itu”
Eunso menegang mendengar penuturan Chunghee, bagaimana bisa laki-laki itu tahu perihal anaknya. Padahal hanya keluargannya saja yang tahu tentang keberadaan putranya itu.
“Wae? Kau terkejut? Eunso-ya jika kau memang mencintaiku, kau seharusnya tahu siapa dan seperti apa diriku. Jadi berpikirlah dua kali sebelum kau mengambil tindakan” ujar Chunghee dengan kekehan di akhir ucapannya.
...****************...
Sementara itu dilain tempat Kwon Sun sedang menemui Ibu nya. Wanita paruh baya yang masih terlihat cantik diusiannya yang menginjak kepala lima itu mendatangi Cafee tempat putranya bekerja, alhasil Kwon Sun meminta ijin pada Jobin selaku penanggung jawabnya itu untuk menemui sang Ibu, dan tentu saja dengan senang hati Jobin mengijinkan. Jadi di sini lah dia berada, duduk berhadapan dengan Ibu nya yang sedari tadi terus menangis.
Kwon Sun menggengam tangan Wanita yang telah melahirkannya itu “Eomma uljima, aku baik-baik saja sungguh. Jika Eomma terus menangis seperti ini, nanti orang-orang akan berpikir bahwa aku berbuat jahat pada Eomma”
Yuri menyeka air matanya, ia kemudian menatap putra nya itu
“Eomma hanya merindukamu Kwon Sun-ah, setiap malam Eomma tidak pernah nyenyak tidur karena memikirkanmu. Apakah kau makan dengan baik? Apakah kau tidur dengan nyaman? Apakah teman-temanmu menerimamu dengan baik? Dan berbagai kekhawatiran lain yang menganggu pikiran Eomma” ujar Yuri
Kwon Sun tersenyum mendengar kekhawatiran Ibu nya itu, ia begitu bersyukur mempunyai Ibu sebaik dan selembut Yuri. Dulu dia memang sempat membenci Wanita itu saat Ibu nya menikah dengan Yoo Joon, namun saat mengetahui alasan dibalik pernikahan tersebut Kwon Sun lambat laun dapat Kembali membuka hatinya untuk Wanita yang sudah melahirkannya itu
Yuri ahkirnya tersenyum mendengar penuturan Kwon Sun, setidaknya sekarang ini ia tidak perlu merasa khawatir yang berlebih pada putranya itu “syukurlah, Eomma senang mendengarnya”
“permisi, ini minuman untuk anda. Selamat menikmati” ujar Jobin, gadis itu meletakkan secangkir teh chamomile di depan Yuri, tak lupa gadis itu juga memberikan senyuman yang begitu manis
Yuri mengerutkan Keningnya, merasa bingung kenapa gadis itu memberikan teh padanya padahal ia belum memesan apapun “tapi aku tidak memesannya, apa kau yang memesankan untuk Eomma?” tanya Yuri pada Kwon Sun
Baru saja Kwon Sun akan menjawab, tapi Jobin lebih dulu bersuara
“Aniyo, Kwon Sun tidak memesannya Nyonya. Saya menyajikan ini untuk anda. Anda adalah Ibu dari Kwon Sun, jadi sudah sepatutnya saya menyajikan sesuatu untuk anda”jelas Jobin
“ah, seperti itu. Kau sebenarnya tidak perlu repot-repot seperti ini, tapi Gomawo untuk teh nya. Dan kalau boleh tahu siapa namamu?” tanya Yuri
Jobin tersenyum, gadis itu membungkuk sebentar sebelum memperkenalkan diri “Annyeong hasimnikka, ireumeun Jobin imnida”
Yuri tersenyum “nama yang cantik untuk gadis yang cantik juga. Benar bukan Kwon Sun-ah”
Kwon Sun tersadar dari lamunannya setelah mendengar penuturan Ibunya “Nde Eomma benar, nama yang cantik untuk gadis yang cantik”
Jobin tersipu mendengar pujian dari Kwon Sun dan Ibu nya. Wajahnya kini merona “Gomawo, kalau begitu saya akan Kembali ke dapur” ujar Jobin salah tingkah, gadis itu kemudian melangkah Kembali ke dapur
Kwon Sun masih menatap tubuh Jobin hingga tubuh gadis itu hilang tertelan pintu dapur. Dan semua itu tidak lepas dari perhatian Yuri, Wanita itu tersenyum penuh arti. Ia kemudian menyesap teh yang Jobin berikan, ia alihkan pandangannya pada luar jendela “sepertinya sebentar lagi aku akan mendengar kabar baik” gumam Yuri dengan senyuman penuh arti
.
.
.
TBc
See you next chapture😊