Just Us

Just Us
Chap 61



Chunghee kembali melangkahkan kakinya untuk memasuki caffe Karina, setiap langkah yang ia ayunkan, dalam hati laki-laki itu selalu bertanya-tanya, setelah ia masuk kedalam caffe tersebut apa lagi yang akan dia dapatkan dari Karina.


Seminggu sudah sejak hari dimana dia pertama kali bertemu Karina, seminggu ini Chunghee juga selalu datang ke caffe Karina. Hari pertama dia melangkahkan kakinya disana dia mendapat siraman air dari Karina tepat diwajahnya, lalu di hari kedua dia mendapatkan pekikan serta pengusiran dari Karina, dan untuk hari-hari berikutnya ia harus puas hanya dengan menatap Karina dari luar caffe. Setiap kali dia masuk maka seorang karyawan Karina yang baru ia ketahui bernama Jobin, selalu menjaga di pintu masuk dan ketika melihatnya datang maka gadis itu akan langsung mengusirnya.


Tapi bukan Chunghee namanya kalau menyerah begitu saja, laki-laki itu tetap bersikeras untuk masuk kedalam caffe meski ia harus berakhir dengan mendapati pakaiannya yang basah karena terkena siraman air.


"Annyeongha....." ucapan Karina terputus ketika mendapati siapa yang memasuki caffe nya


Dadanya berdetak lebih cepat dari biasanya, tangannya saling meremat satu sama lain, lalu ketika orang tersebut mulai mendekat, Karina semakin gusar dalam duduknya, ia ingin menghindar tapi tidak bisa, sekarang dia sedang sendirian di caffe Jobin dan Jhony sudah pulang lebih awal karena suatu urusan.


Gadis itu memejamkan mata, ia teringat dengan apa yang Son Gyosu katakan. Ia harus tenang, ia juga harus berusaha untuk menyesuaikan diri dan harus mulai terbiasa akan kehadiran Chunghee, ia harus berusaha bersikap biasa dan menganggap bahwa Chunghee sama dengan pengunjung yang lain.


"Annyeoung Karina-ya..." sapa Chunghee dengan lembut


Karina membuka matanya, ia berdehem sebentar


"An-annyeoung... se-selamat datang, bi-bisa saya mencatat pesanan anda?" Tanya Karina dengan gugup


Senyum Chunghee merekah, sungguh dia begitu merindukan suara Karina. Seolah melihat setitik harapan didepannya, Chunghee mencoba untuk meraih tangan Karina. Dan reflek karina menghindar dan hal itu menyadarkan Chunghee, laki-laki itu menarik tangannya lalu berdehem, sepertinya ia terlalu terburu-buru dan terlalu bahagia karena Karina tidak menghindar lagi darinya


"Ah... it-itu aku pesan es americano dan... aku dengar lemon cake disini sangat lembut dan enak, jadi bisakah aku memesannya juga?" Jawab Chunghee gugup


"Baik, saya akan membuatkannya. Silahkan tunggu di meja anda" ujar Karina


Chunghee tersenyum, lalu dia melangkah menuju mejanya. Beberapa menit kemudian Karina mengantarkan pesanan Chunghee


"Silahkan, jika memerlukan yang lain anda bisa memanggil saya" ujar Karina


Chunghee tidak menjawab, laki-laki itu masih menatap lekat wajah Karina. Rasanya tidak percaya kalau dia bisa berada dekat dengan Karina seperti ini, senyum laki-laki itu tak pernah luntur dari wajah tampannya


"Gomawo Karina-ya" jawab Chunghee


Karina mengangguk kaku, gadis itu lalu kembali kebelakang. Gadis itu memegang dadanya yang berdetak lebih cepat


"Aish, ada dengan jantungku? Kenapa ini berdetak lebih cepat dari biasanya? Sepertinya besok aku harus memeriksakannya pada Mina Eonni, aku rasa jantungku bermasalah setiap melihat laki-laki menyebalkan itu" monolog Karina dengan melirik Chunghee yang kini tengah menikmati makanannya.


.


.


.


Waktu menunjukkan pukul sembilan malam, itu berarti saatnya caffe miliknya tutup. Karina menatap sekeliling, sudah tidak ada pelanggan lagi, gadis itu kemudian bersiap untuk menutup caffenya.


"Apa ini sudah waktunya tutup?" Tanya Chunghee


Karina berjengkit kaget, gadis itu tidak menyadari atensi Chunghee yang sedari tadi masih duduk disalah satu sudut caffe


"Yak!! Kau mengagetkanku dasar laki-laki menyebalkan" pekik Karina


Chunghee terkekeh, laki-laki itu kemudian berjalan menghampiri Karina


"Apa kau tidak menyadari kehadiranku? Ck.... padahal sedari tadi aku disana memperhatikanmu" ujar Chunghee


"Wae? Kenapa kau masih disini eoh? Kau tidak lihat caffe sudah tutup, bahka para pelanggan pun sudah pulang" ujar Karina


"Tentu saja untuk menunggumu apa lagi. Berikan lap itu padaku, biar aku bersihkan dan kau bisa mengemasi barangmu. Aku akan mengantarmu pulang" ujar Chunghee, laki-laki itu mulai mengusap meja yang tadi dibersihkan Karina


Pergerakan Chunghee terhenti ketika mendapat pertanyaan itu dari Karina, laki-laki itu kemudian menatap Karina dengan kerutan tergambar pada dahinya


"Apa maksudmu?" Tanya Chunghee tak mengerti


"Kenapa kau melakukan semua ini? Kenapa kau datang kembali padaku dan bersikap seolah semua baik-baik saja" jelas Karina


Chunghee mengerti sekarang kenapa Karina bertanya seperti itu, dia kemudian menegakkan tubuhnya dan menghadap Karina. Ketika dia melangkah mendekati Karina, gadis itu justru berjalan mundur.


"Aku mencintaimu, dulu sekarang dan selamanya. Maka dari itu aku kembali untukmu, aku ingin meminta maaf Karina. Sungguh aku benar-benar menyesal untuk semuannya, tidak seharusnya aku pergi meninggalkanmu seperti itu Karina. Karina-ya jebal maafkan aku, bi-bisakah kita kembali lagi seperti semula? aku-aku akan menebus semuannya, aku akan menerima apapun yang akan kau lakukan padaku" ujar Chunghee dengan penuh sesal


"Apa kau pikir dengan aku memaafkamu, keadaan akan kembali seperti semula?" Tanya Karina dengan nada dingin


"Aniyo, tapi setidaknya aku akan berusaha mengembalikannya seperti sedia kala, aku akan mencoba memperbaikinya apapun resikonya" jawab Chunghee mantap


"Bagaimana kalau kau tidak bisa memperbaikinya?" Lanjut Karina


"Maka aku akan berusaha lebih keras lagi, akan aku lakukan segala cara untuk memperbaikinya" ujar Chunghee


"Bagaimana kalau aku tidak bisa memaafkamu dan aku membencimu" tanya Karina kembali


"Itu hakmu untuk tidak memaafkanku dan membenciku. Kedua hal itu memang pantas untukku dapatkan" jawab Chunghee


"Aku membencimu" ujar Karina. Tenggorokan Karina bagaikan terganjal batu besar ketika mengatakannya, begitu menyakitkan dan menyesakkan


"Aku tahu dan aku menerimanya" jawab Chunghee


"Aku sudah tidak mencintaimu dan... aku sudah mempunyai kekasih" ujar Karina dengan nada sedikit bergetar


Gadis itu berbohong, karena nyatanya sampai detik ini pun dia belum mempunyai kekasih. Memang beberapa laki-laki mendekatinya dan mencoba meraih hati gadis itu, tapi sampai sekarang dia selalu menolak karena sedari dulu dan sampai kapan pun dia masih dan akan selalu mencintai Chunghee. Ia mengatakan kebohongan tersebut hanya untuk mengetahui bagaimana reaksi dari Chunghee


Chunghee menatap gadis didepannya itu, hatinya berdenyut nyeri ketika mendengar Karina mengatakan hal tersebut. Ia tidak bisa menerima kenyataan kalau Karina sudah mempunyai kekasih. Laki-laki itu menunduk, menarik nafas dalam lalu kembali ia menatap Karina dengan senyuman yang ia paksakan


"Apa kau mencintainya? Apa kau bahagia dengannya?" Tanya Chunghee


Mata Karina berembun, dan sebentar lagi pasti air mata akan menetes dari mata indah itu. Hatinya terasa sakit ketika Chunghee yang lagi-lagi memastikan dan menanyakan kebahagiaannya. Dengan nafas tercekat gadis itu menjawab pertanyaan Chunghee


"Ne, aku mencintainya dan aku bahagia bersamanya" ujar Karina


Chunghee tersenyum miris, lagi-lagi dia gagal mendapatkan cinta Karina


"Geurae, kalau kau memang mencintainya dan kau bahagia dengannya maka aku akan melepaskan dan merelakanmu untuknya. Aku akan selalu berdiri disini, ditempat dimana aku mulai mencintaimu, aku akan selalu berada disini menantimu dan menerimamu apapun keadaanmu nanti. Jadi Karina-ya, Kalau suatu saat nanti dia menyakitimu dan kau memerlukan pelampiasan ataupun sandaran untukmu menangis datanglah padaku karena aku akan selalu ada untukmu" ujar Chunghee dengan penuh ketulusan


Dan pecah sudah tangis Karina setelah mendengar ketulusan dari Chunghee, gadis itu berjongkok dan menyembunyikan wajahnya pada lipatan tangannya


.


.


.


TBC


See you next chapture....😊