Hero From The Dark Dimension

Hero From The Dark Dimension
Chapter 9: Kemunculan tak terduga



PERHATIAN BAGI PARA PEMBACA!


Silahkan beri saran apabila alur cerita kurang pas atau tidak nyambung. Ini demi kepuasan para pembaca, bila ada alur yang kurang pas akan segera saya perbaiki.


Selamat membaca 😁😁😁


...********************...


"Kakak sangat hebat!" Mona merangkul Darius penuh kegirangan.


Salah satu pihak keamanan memindahkan Darius dari tempat yang dikerumuni banyak orang ke tempat lain. Mona yang mengetahui hal itu langsung menyusup masuk ke tempat Darius berada.


"Kenapa mereka memaksaku pindah kemari? aku harus segera pergi dan menemui keluargaku" tanya Darius.


"Diluar sana, banyak wartawan yang datang untuk mewawancarai kakak. Barusan kakak lihat sendiri, kan?" balas Mona.


"Oh.., orang-orang yang membawa lentera tadi?" tanya Darius kedua kali.


Ucapan itu terdengar konyol ditelinga Mona.


"Berhentilah bercanda, kak. Itu kamera dan orang yang membawanya disebut juru kamera dan orang-orang yang menanyai kakak adalah wartawan. Kakak selalu saja tidak mengetahui sesuatu sederhana seperti itu, memang kakak berasal darimana?"


"Aku berasal dari kerajaan Ezius. Aku adalah anggota keluarga kerajaan, putra raja Reivan," jawab Darius.


"Kerajaan Ezius? itukan kerajaan yang sudah lama runtuh. Itupun sudah 400 tahun yang lalu," ujar Mona.


"Apa? Ezius runtuh?!" Sontak kaget Darius.


"Ada apa kak? kenapa kau sangat kaget? itu sejarah lama lo," balas Mona.


"L...lalu bagaimana dengan keluarga kerajaan Ezius? apa mereka baik-baik saja?" tanya lagi Darius.


"ayolah kak, jangan bertingkah bodoh seperti itu. Sudah jelas mereka semua telah lama meninggal. Itu sudah 400 tahun yang lalu," jawab Mona.


Darius lupa kalau beberapa puluh menit yang lalu, Mona sudah mengatakan kepadanya bahwa sekarang adalah tahun 2030. Kini ia kembali ingat. Dalam hatinya, mustahil bagi dirinya mempercayai bahwa ia telah terkurung selama 400 tahun.


Anehnya, tidak ada tanda penuaan pada Darius. Tampangnya masih sama seperti dulu. Jika memang benar ia terkurung selama empat ratus tahun, tidak mungkin wujud tampangnya masih semuda ini. Keriput pada wajah, renta pada tulang, rambut penuh uban, semua tanda penuaan tersebut pasti akan ia alami bila ia benar-benar terkurung selama empat ratus tahun. Tapi kenapa penampilannya masih tetap sama?


Apakah Pamella salah membukakan portal hingga tak sengaja melompati ruang waktu yang menyebabkan Darius terpental ke tahun 2030? atau mungkin dia memang terkurung selama 400 tahun? entah yang mana yang benar, Darius masih belum bisa memastikannya.


"Ini mustahil, aku bahkan tidak sempat bertemu dengan mereka. Ini tidak bisa kuterima," ucap Darius.


"Ini adalah kenyataan, Pangeran."


Seseorang orang berjas hitam dan rapi datang menghampiri mereka berdua. Tinggi dan berambut perak. Itulah ciri yang terlihat jelas dari sosok yang muncul dihadapan mereka. Darius sangat mengenali sosok itu.


"Kau..."


"Lama tak jumpa, Pangeran Darius," ucap sosok itu.


...—/—/—...


Kerajaan Ezius, saat perang kelima melawan pasukan Dark Lord....


"Kau sudah menyelesaikan tugas yang ku perintahkan?" tanya Darius kepada kaki tangan andalannya.


"Sudah Pangeran, semua tugas yang anda perintahkan telah selesai. Semua pasukan Dark Lord telah saya jebak ke hutan ilusi dan para penembak tersembunyi telah siap diposisi," jawab kaki tangan Darius.


"Kau punya banyak bakat yang tak kupunya Raven, aku sangat iri denganmu," ujar Darius.


"Tidak Pangeran, anda jauh lebih ahli daripada saya. Semua strategi perang yang jenius ini adalah ciptaan pangeran sendiri. Dibandingkan dengan saya, anda lebih pantas untuk dipuji," balas Raven, penuh bakti.


Darius menghela nafas sejenak....


"Aku hanya pintar soal menyusun strategi perang dan bela diri, diluar kedua hal itu aku tidak bisa apa-apa. Karena itu aku membutuhkanmu, kau adalah orang kepercayaan ku."


Raven tersanjung mendengar pujian yang disampaikan untuknya. Ia bertekuk lutut di hadapan atasannya, menunjukkan kebaktian dirinya sebagai kaki tangan terpercaya.


"Sebuah kehormatan bagi saya, mendapatkan pujian dari Pangeran. Raven NightHunter akan setia kepada anda dan kepada kerajaan Ezius," ucap Raven.


"Panggil saja aku Tuan atau Komandan saja, bagiku sebutan Pangeran hanya pantas untuk adikku saja."


"Baik, Tuan."


Salah satu prajurit datang kehadapan mereka. Tak lupa, prajurit itu memberi hormat kepada pemimpinnya.


"Semua persiapan sudah siap, Komandan. Kami tinggal menuggu keputusan dari anda," ucap prajurit itu.


Darius mengangkat pedang besarnya, sudah tiba waktu untuk menunjukkan keperkasaan ksatria Ezius kepada pasukan Dark Lord.


"Kita akan segera menyerang, sesuai dengan aba-aba yang kuberikan. Siapkan pasukan berkuda juga guna mendorong musuh masuk ke jalur buntu di hutan," perintah Darius.


"Baik."


Prajurit itu melaksanakan perintah pemimpinnya.


Raven bangkit dari posisi berlutut, bersiap untuk maju bersama Darius ke medan peperangan.


"Baik, Tuan."


Semua pasukan sudah terbaris rapi dengan perlengkapan lengkap. Darius maju ke barisan depan. Memberi perintah kepada para pasukan.


"Ayo maju! kita ratakan seluruh pasukan bengis itu hingga rata dengan tanah. Demi Ezius! dan demi Invandara!" teriak Darius penuh kobaran semangat.


"Demi Ezius! dan demi Invandara!" para pasukan mengikutinya.


Pintu mesan perang terbuka, Darius melaju kencang bersama pasukannya.


...—/—/—...


"Lama tak jumpa, Pangeran."


Sosok Raven hadir didepannya. Seperti biasa, Raven selalu berlutut setiap kali menghadap padanya. Hanya saja, Raven selalu memanggil Darius dengan sebutan Pangeran meski Darius sudah berulangkali mengingatkannya.


"Raven, itukah kau?" tanya Darius, melihat Raven yang sama sekali tidak berubah.


"Benar, ini saya. Senang sekali bisa melihat anda lagi," Raven tersenyum, matanya berlinang air mata. Sungguh dirinya merindukan sosok Darius Hunt yang begitu percaya padanya.


"Kau tidak berubah, kau selalu memanggil diriku dengan sebutan Pangeran. Panggil saja aku Tuan."


"Maafkan saya, saya selalu melupakan hal yang selalu anda ingatkan," Raven mengusap air matanya.


Darius mempersilakan pelayanannya untuk berdiri, lalu ia menanyakan beberapa hal kepada Raven. Jawaban atas semua pertanyaannya itupun terjawab.


"Kerajaan Ezius sudah lama runtuh, Tuan. Yang Mulia raja Reivan meninggal karena sakit dan adik anda Yang Mulia Drake telah meninggal di usianya yang ke-158."


Begitulah penjelasan dari Raven. Terkejut, itu sudah pasti menjadi reaksi Darius saat mendengar itu. Jadi Darius benar-benar terkurung selama 400 tahun lamanya. Sungguh sulit dipercaya, ada pula hal mengganjal yang ditanyakan oleh Darius. Yaitu tentang Raven yang tidak menua.


"Sebelumnya saya mohon maaf karena tidak memberi tahu Tuan, saya bukan seorang manusia. Saya berasal dari ras yang dipanggil The Unborn," ujar Raven.


"The Unborn? ras langka yang setara dengan iblis itu?" tanya Darius.


"Benar sekali, Tuan," balas Raven.


"Kalian ini bicara apa sih?! aku sama sekali tidak mengerti!" Mona agak sebal karena kehadirannya diacuhkan dan ia tidak mengerti tentang hal yang Darius dan Raven bicarakan.


Raven mengeluarkan sebuah pisau dari lengan bajunya...


"Tuan, izin saya membungkam mulut gadis lancang ini," mohon Raven.


"Eee!!" Mona langsung ketakutan dan bersembunyi di belakang Darius.


"Sembunyikan senjata mu, dia hanya gadis polos biasa. Lagi pula, di era ini tidak akan ada yang mengenali diriku," balas Darius.


Raven memasukkan pisaunya kembali...


"Kak Darius ini sebenarnya siapa? bagaimana kakak bisa mengenal orang berbahaya seperti dia?," tanya Mona, masih ketakutan.


Darius memberikan jawaban yang Mona inginkan. Seketika, Mona berada diantara percaya dan tak percaya setelah Darius memberi tahu siapa dirinya.


"Mana mungkin, kakak adalah kakak raja Drake!" Mona heboh bukan main.


"Mendengar ucapanmu barusan, aku jadi lega. Itu artinya adikku sudah berhasil menjadi seorang raja."


"Jangan bercanda, kak. Raja Drake itu adalah Master Sihir terkuat dan dialah yang berhasil menciptakan perdamaian antar semua ras," ucap Mona.


"Benarkah?! adikku melakukan itu," Darius terbelalak.


"Itu benar, Tuan. Anda pasti sudah melihat banyak sekali penduduk di kota ini yang memiliki ras berbeda, namun bisa hidup berdampingan dengan damai," sahut Raven.


Kedamaian bagi semua ras, jika dipikir hal ini mustahil. Tapi kenyataannya ini benar-benar terwujud. Ogre, Elf, Elementalia, Zoan dan segala ras termasuk manusia hidup berdampingan. Darius bangga dengan adiknya yang mampu menciptakan kedamaian seperti ini.


"Drake, kau sungguh luar biasa," batin Darius.


"Tuan, alangkah baiknya kita berpindah ke tempat yang lebih nyaman. Ada banyak hal yang ingin saya tanyakan," usul Raven.


"Aku pun juga sama," balas Darius.


"Saya akan tunjukkan jalan, tapi bagaimana dengan gadis itu?" Raven melirik Mona.


"Dia akan ikut, aku berhutang padanya. berkat dia aku bisa sampai kemari," jawab Darius.


"Tunggu dulu, kita mau kemana?" Mona kebingungan.


"Ikutlah denganku, siapa tahu aku bisa memberikan sesuatu sebagai wujud rasa terima kasih ku,"


Meskipun masih bingung, Mona ikut serta bersama Darius.


Raven menunjukkan jalan untuk menuju ke tempat lain yang lebih nyaman. Mereka semua pergi menghindari kerumunan wartawan. Darius sungguh ingin tahu penyebab keruntuhan Ezius dan apa saja yang terjadi disana selama ia tidak ada.


Bersambung.....