Hero From The Dark Dimension

Hero From The Dark Dimension
Chapter 46: 28 hari sebelum NGB part 2



Wanita yang sebelumnya mengintai Darius terlihat memasuki kawasan hutan yang amat dalam, ia berhenti didepan sebuah pilar yang rupanya adalah jalan rahasia menuju ke suatu tempat yang tersembunyi.


Wujud wanita itu seakan lenyap saat menyentuh pilar tersebut, secara otomatis ia berpindah ke tempat yang berbeda. Sebuah tempat yang tidak pernah dijangkau oleh para penduduk maupun peneliti di Invandara.


Disebuah tempat dibalik jalan rahasia....


Sekarang, si wanita pengintai sudah berada di sebuah tempat yang berlainan dimensi, dimana ada sebuah istana yang berdiri kokoh tepat didepan mata nya. Sebuah istana hitam bertingkat, ukurannya lebih besar dari Grand Mansion milik Raven.


Pintu gerbang istana dijaga oleh para prajurit bertanduk dan berwajah garang, perawakan mereka yang amat besar dan kekar akan membuat para penyusup mengurungkan niat untuk menerobos masuk.


Si wanita pengintai ini pun melangkah menuju istana besar dihadapannya, para penjaga gerbang dengan senang hati membukakan pintu gerbang istana untuknya.


Terlihatlah halaman istana yang begitu luas dengan bebungaan harum yang menghiasi sekeliling istana itu, si wanita pengintai berjalan anggun memasuki istana. Terlihat penghuni dalam istana yang wujudnya begitu asing.


Mereka bukanlah makhluk yang biasa terlihat di kota Tideo, mereka bukanlah ras manusia, naga, beast, elementalia ataupun ras lain yang dapat ditemui di kota. Mereka semua adalah ras yang telah lama hilang, ras yang telah lama terlupakan, ras yang hanya diketahui namanya didalam buku sejarah.


"Apakah menurutmu Lord Gion akan percaya dengan informasi ini?" tanya makhluk yang berada didalam tubuh si wanita.


"Hmmm....., mungkin saja, lebih baik kita coba laporkan informasi ini, setelah itu kita tunggu keputusan dari Lord," balas si wanita.


Wanita pengintai itu memasuki sebuah ruangan berpintu megah, dibalik pintu megah itu terdapat ruangan luas dengan banyak penghuni didalamnya.


Didalam ruangan tersebut, ada sesosok makhluk merah kekar bertanduk tengah duduk di atas sebuah singgasana dengan begitu gagah, pakaian yang dikenakannya nampak mahal, kilauan aksesoris yang dipakainya begitu menghipnotis pandangan setiap pasang mata.


Wanita pengintai berjalan menghadap makhluk merah itu, lalu ia bertekuk lutut dihadapannya.


"Salam hormat, Lord," salam Si wanita pengintai kepada makhluk gagah dihadapannya.


"Castia, akhirnya kau kembali, sudah sebulan kau meninggalkan istana. Kukira kau kembali ke tempat asalmu," tukas Si makhluk merah.


"Istana ini sudah menjadi rumah bagi saya, kemanapun saya pergi, saya akan selalu kembali kesini," ucap Castia (wanita pengintai).


Makhluk merah itu meminum seteguk anggur yang baru saja dibawakan oleh pelayannya.


"Kau pergi tanpa mengabari ku terlebih dahulu," ujar Si makhluk merah dengan tatapan kecewa.


Castia tertunduk sesal dan memohon maaf atas kecerobohannya.


"Maafkan saya, Lord. Saya hanya ingin melihat dunia luar setelah sekian lama."


Si makhluk merah meneguk segelas anggur lagi, lalu kembali memperhatikan Castia.


"Aku memaafkan segala kesalahan mu, kau tidak mungkin kembali dengan tangan kosong, bukan? tunjukkan kepada ku apa yang kau dapatkan diluar sana," titah Si makhluk merah.


Castia berdiri tegap menghadap penguasanya.


"Saya tanpa sengaja bertemu dengan seorang ksatria saat saya sedang berkeliling untuk melihat-lihat area gunung, ksatria itu memiliki kekuatan yang sangat tinggi," jelas Castia.


"Ksatria? di area gunung?" tanya Lord.


"Benar, Lord dan menurut pengintaian saya ksatria itu nampaknya sedang berlatih. Dia menghanguskan area dekat kaki gunung dalam latihannya itu," balas Castia.


"Apakah dia berniat menyelidiki keberadaan kita?" tanya Lord kedua kali.


Castia menggelengkan kepala.


"Dia tidak terlihat sedang menyelidiki, ia hanya berada di dekat kaki gunung selama beberapa puluh menit sambil mengayunkan pedang besarnya ke segala arah," jawab Castia.


Lord terdiam sejenak, ia menyuruh pelayannya membawakan satu gentong anggur lagi untuknya, kemudian ia kembali fokus pada Castia yang sedang melapor.


"Selama dia tidak menyelidiki kita, maka tidak apa. Lalu apa keistimewaan ksatria ini sampai kau melaporkan dia kepada ku?" tanya Lord setengah mabuk, ia meneguk anggur yang baru saja datang.


"Ksatria itu sepertinya memiliki Demonic Rage pada dirinya," jawab Castia.


Lord yang sedang meneguk anggur langsung tersedak dan terbatuk-batuk setelah mendengar ucapan Castia, semua orang yang a


berada didalam ruangan pun tersentak.


Para pelayan langsung sigap membantu Lord mereka yang sedang tersedak itu. Lord langsung menatap serius Castia setelah batuknya reda.


"Apa kau sadar dengan apa yang kau ucapkan, Castia?"


Lord yang awalnya tenang langsung serius dalam sekejap.


"Tentu, awalnya saya sendiri meragukan apa yang saya lihat. Ketika ksatria itu mengayunkan pedangnya, terlihat aura hitam legam keluar dari tubuhnya. Aura yang begitu mengintimidasi."


Lord bangkit dari singgasananya.


"Apa kau bisa mempertanggung jawabkan apa yang kau laporkan padaku ini?" tanya Lord dengan tatapan tajam.


"Tentu, saya bisa mempertanggung jawabkan apa yang telah saya sampaikan," jawab Castia dengan mantap.


Lord tersenyum menyeringai lalu menyuruh pelayannya membawakan baju ganti untuknya.


Lord melangkah mendekati Castia, ia nampak begitu gagah dan kharismatik dihadapan pengikutnya.


Perlahan, wujud Lord yang awalnya sesosok makhluk merah kekar dan bertanduk berubah menjadi seorang pria rupawan berkulit putih dengan warna rambut merah kehitaman. Terlihat sebuah simbol misterius yang terukir di sekujur tubuhnya.


"Jika informasi mu benar, maka kau dan Mogreed akan mendapatkan hadiah besar dariku," ucap Lord.


Morgreed, makhluk yang berada didalam tubuh Castia.


"L... Lord, terima kasih...."


Castia merasa gugup dihadapan majikannya.


"Kau akan ikut dengan ku Castia, panggil juga tiga Jendral pasukan utama untuk ikut dengan ku, kita akan segera pergi ke dunia luar untuk investigasi," titah Lord dengan lantang.


"Baik, Lord Elvion."


Seluruh bawahan Lord langsung bergerak sesuai perintah.


Lord kembali ke ruangannya untuk bersiap-siap, beberapa pelayan mengikuti Lord bertujuan untuk membantu persiapannya.


Lord Elvion nampak sangat puas dengan informasi yang ia terima, seolah sesuatu yang ia nantikan telah tiba.


"Sudah berabad-abad lamanya, akhirnya kau kembali," ucap Lord dengan logat penuh kepuasan.


...**************...


Pukul 08:00.


Lapangan besar di taman buah persik, berjarak 500 meter dari Grand Mansion.


Hilda kembali menantang duel Darius, kali ini ia bersama kakaknya Agni dan untuk keduakalinya, sepasang kakak beradik ini kalah.


"Ada sedikit perkembangan, meskipun itu belum cukup," ujar Darius, ia membantu Hilda untuk berdiri.


Sementara Agni dibantu oleh Mona.


"Aduh, kakiku," rintih sakit Agni.


"Sepertinya latihan kita masih kurang," ucap Agni.


Adiknya Hilda tidak dapat mendengarnya dengan jelas karena sudah setengah sadar.


"A... apa?" tanya Hilda yang terhuyung-huyung.


Mereka berdua pun dibantu oleh para bawahan Raven, kedua naga bersaudara itupun dilarikan ke rumah sakit terdekat.


"Mereka tidak pernah menyerah," ujar Raven yang berada di samping Darius.


"Sama seperti dirimu dulu, bahkan dulu kau memaksa kan diri untuk bertarung selama 2 hari 2 malam," tukas Darius.


Raven tersenyum kecil merespon perkataan tuannya. Mona yang merasa bosan menarik lengan baju Darius, ia bersih keras ingin ditemani ke taman buah persik.


"Ayolah kak, temani aku kesana, hari ini sedang ada Rina Clascof akan mengadakan konser disana," bujuk Mona.


Darius menyerah pada kegigihan gadis cerewet ini.


"Baiklah, ayo kita kesana."


"Yeaay."


Mona seketika riang.


Raven membukakan pintu mobil untuk tuannya, Mona lebih dulu masuk kedalam mobil, kemudian disusul oleh Darius.


"Tunggu....!!!"


Teriakan lantang terdengar dari kejauhan.


Seorang pria ber-armor lengkap tiba-tiba saja datang entah darimana, ia menatap tajam ke arah Darius. Raven agak terkejut karena sosok pria itu sudah tidak asing lagi dimatanya.


"Komandan Torgia, apa yang kau lakukan disini?" tanya Raven.


Komandan Torgia memberi hormat kepada Raven, ia adalah Komandan ke-2 Divisi Sword Master.


"Sebelumnya mohon maaf karena mengganggu waktu luang anda, ada hal penting yang harus kusampaikan," jawab Komandan Torgia.


"Apakah ada serangan dari monster lagi?" tanya Raven kedua kali.


"Ini mengenai rasa keberatan terhadap keputusan di Divisi Sword Master yang langsung menobatkan ksatria pemula sebagai Sword Master, tanpa persetujuan dariku," jawabnya.


"Ksatria pemula?"


Raven tidak tahu siapa ksatria pemula yang dimaksud Komandan Torgia.


"Kudengar namanya adalah Darius," ucap Komandan Torgia.


Bersambung...