Hero From The Dark Dimension

Hero From The Dark Dimension
Chapter 28: Kelulusan yang singkat part 2



Raven langsung berlari menyusuri lorong markas setelah turun dari mobil, mencari keberadaan tuannya. Dia baru saja mengambil keputusan yang sangat membahayakan keselamatan Darius. Namun itu karena terpaksa.


Saat itu K.A.O tengah kekurangan material sihir untuk fasilitas pelatihan. Pemasok material yang biasanya mengirimkan material sihir kepada K.A.O entah mengapa tidak mengirim bulan ini. Ini tidak biasa terjadi. Karena kebutuhan yang mendesak, dengan terpaksa Raven harus membeli material sihir dari bangsawan Hunt.


"Aku tahu tujuan mereka membuat kesepakatan ini. Sial, jika saja bukan karena kebutuhan yang mendesak. Aku takkan mau menyetujui kesepakatan ini," batin Raven sambil terus berlari.


K.A.O berhasil mendapatkan material dari bangsawan Hunt dan siap membayar harga yang sesuai dengan kualitas serta jumlah material yang telah dibeli. Akan tetapi, bangsawan Hunt menginginkan hal lain dari K.A.O sebagai ganti dari semua material yang telah mereka berikan. Mereka ingin K.A.O membuat kesepakatan dengan mereka.


Sebagai gantinya, mereka ingin K.AO mengontrak Tiamara Hunt sebagai pembimbing resmi selama 7 bulan. Mereka tidak menginginkan uang sama sekali, mereka hanya ingin Mara dikontrak. Raven sudah merasakan firasat buruk akan hal ini.


Mereka rela menukar 29 ton material sihir hanya dengan masa kontrak pembimbing resmi selama 7 bulan? bukankah ini tidak wajar?


Apa lagi mereka ingin Mara mendapatkan hak juga dalam menentukan nilai serta kelulusan para ksatria yang ia bimbing. Itu sungguh lancang. Mana mungkin pembimbing sementara mendapatkan hak semacam itu. Hanya para Komandan yang membimbing lah yang berhak menentukan nilai serta kelulusan ksatria.


Sudah sangat jelas, mereka menyembunyikan tujuan lain dibalik kesepakatan ini. Raven sudah merasakannya sejak awal, tetapi dia tidak dapat menolak hal itu.


K.A.O benar-benar butuh pasokan material sihir. Awalnya K.A.O berencana untuk mengimpor material dari luar negeri, namun mengingat kualitas material sihir diluar sana lebih rendah dan tak terjamin. Akhirnya niat untuk mengimpor pun diurungkan dan dengan terpaksa membeli material yang dijual oleh bangsawan Hunt.


Kesepakatan ini pun terpaksa diterima oleh Raven. Raven menandatangani surat kesepakatan serta memberikan surat izin membimbing resmi kepada Tiamara Hunt. Dengan demikian, kontrak Mara sebagai pembimbing resmi telah disepakati dan selama masa kontraknya, Mara punya hak atas ksatria yang berada dibawah pelatihannya.


"Hunt pasti punya maksud tujuan lain dibalik kesepakatan ini. Apalagi yang mereka kirim adalah adik dari Ratu sombong itu. Mereka pasti berencana mengincar tuan," amarah Raven semakin menggebu.


"Tiamara Hunt, dia pasti akan melakukan sesuatu terhadap tuan dengan hak resminya itu. Takkan kubiarkan dia bertindak seenaknya," batin Raven. Sebentar lagi ia akan sampai di tempat pelatihan Beginner.


...*************...


Sementara itu di tempat pelatihan tes jangkauan serangan (area latihan terluas di K.A.O).


Mara dan Darius sudah bersiap memulai ujian yang Mara minta.


"Baiklah, mari kita lihat seberapa jauh jangkauan serangan mu," ucap Mara.


Mara menyiapkan sihirnya untuk diadu dengan Darius. Yang akan dimulai pertama kali adalah uji/ tes jangkauan serangan. Dalam tes ini, ksatria harus bisa melampaui jangkauan serangan pembimbing nya. Sang pembimbing akan menunjukkan jauh jangkauan serangannya terlebih dahulu dan ksatria akan mengamati terlebih dahulu jauh jangkauan serangan pembimbingnya.


Setelah mengetahui jauh jangkauan serangan dari Sang pembimbing, maka yang harus dilakukan oleh ksatria adalah membuat serangan yang jangkauannya dapat mendekati atau menyamai jangkauan serangan sang pembimbing. Minimal harus mendekati.


Contohnya kecilnya seperti ini:


Jika Sang pembimbing memiliki jangkauan serangan sejauh 25 meter, maka untuk lulus dari tes ini. Jangkauan yang harus dicapai oleh ksatria minimal 24 atau 24.5 meter. Jika lebih dari itu, maka akan semakin bagus.


Dalam tes ini hanya boleh menggunakan sihir. Dilarang menggunakan senjata jarak jauh. Di sana pun terdapat alat pengukur jangkauan serangan yang berfungsi mengukur jauhnya jangkauan serangan secara otomatis ketika serangan itu dilesatkan. Alat ini jumlahnya lebih dari satu dan terbaris rapi tepat dibelakang Darius.


"Kau sudah siap?" tanya Mara dengan kumpulan energi sihir cahaya ditangannya.


Darius mengeluarkan lahar panas dari tangan kanannya.


"Aku siap," tukas Darius.


Mara menatap serius ketika Darius mengeluarkan kekuatannya.


"Sudah kuduga, aku tidak merasakan energi sihir pada kekuatannya. Ini aneh," batin Mara. Tapi ia mengacuhkan hal itu.


Mara mengambil ancang-ancang untuk melesatkan sihirnya.


"Lampaui ini jika kau bisa," ucap Mara seraya melesatkan serangan sihirnya.


Tembakan sihirnya melesat jauh. Menurut alat pengukur jangkauan, serangannya berhasil menjangkau jarak 290 meter jauhnya. Jarak yang sangat jauh.


Komandan Deri dan Seirus mengamati Mata secara diam-diam. Mereka berdua merasa kesal karena Mata telah melampaui aturan tes jangkauan serangan.


"Dia sangat kelewatan. Mana mungkin seorang Beginner mampu menjangkau jarak sejauh itu? lagi pula tes ini hanya ditunjukkan untuk kelas Reguler-Expert dan itu pun ada batasan untuk jarak yang akan ditentukan oleh pembimbing," ucap Komandan Seirus.


"Mungkin beginilah cara dia menghukum Darius," tukas Komandan Deri.


"Apa maksudmu?"


Komandan Seirus tak mengerti maksud perkataan Komandan Deri.


"Darius adalah seorang Hunt tapi dia sangat mahir menggunakan senjata tajam, khususnya pedang. Itu menurut data yang kubaca," jawab Komandan Deri.


"Apa?! itu artinya dia sudah melanggar aturan marganya sendiri," sontak kejut Komandan Seirus.


"Sejak awal aku sudah memperhatikan Mara. Tingkah lakunya terhadap Darius sangat berbeda dibandingkan dengan para Beginner yang lain. Itu sudah terlihat sejak pelatihan tadi pagi," jelas Komandan Deri.


"Jadi maksudmu, Mara sedang menghukum pemuda yang bernama Darius itu? tapi mengapa dengan cara seperti ini? jika memang dia hendak menghukum pemuda itu (Darius), mengapa dia tidak langsung menghajarnya dengan sihir dan menyeretnya kehadapan Ratu Hunt? bukankah dia itu sangat keras terhadap Hunt yang melanggar aturan?"


Komandan Seirus penasaran sekaligus curiga. Karena Mara bertindak seperti bukan Mara yang ia kenal.


Sementara itu, Mara begitu merasa bangga sesudah memamerkan kemampuannya. Ia menaikkan dagunya tinggi, dihadapan Darius.


"Ayo pemula, lampaui jangkauanku. Jika tidak, maka kau tidak bisa dianggap lulus," ucap Mara.


Darius membentuk sebuah baling-baling dari kekuatan lahar pada genggamannya. Dengan tingkat konsentrasi tinggi, ia berusaha mengontrol dan menstabilkan kekuatannya.


"Aku tidak boleh berlebihan. Kekuatan ini harus diseimbangkan," batin Darius.


Baling-baling lahar itu semakin memanas. Hingga membuat Mara menjauh beberapa meter jauhnya. Semua tumbuhan yang berada disekitar situ pun layu akibat panas yang menyengat. Darius mulai mengambil ancang-ancang untuk melesatkan serangannya.


"Akan ku lampaui jangkauan serangan mu itu," ujar Darius seraya melesatkan serangan.


WUOSHH..!!!!


Baling-baling itu melesat kencang. Panas nya begitu dahsyat, hingga menimbulkan bekas hangus pada tanah yang dilewatinya. Terlihat seekor tikus mondok keluar dari dalam tanah, ia berada tepat pada jalur yang akan dilewati oleh baling-baling lahar. Hasilnya, dalam sekejap mata tikus itupun terpanggang merata ketika baling-baling itu melewatinya.


Makin lama, serangan Darius semakin melesat jauh ke atas hingga pada akhirnya baling-baling itu pun terbang entah kemana. Komandan Deri dan Seirus yang terkejut setelah menyaksikan kejadian itu, langsung datang menghampirinya.


"Kemana baling-baling itu pergi?" tanya Komandan Seirus.


Darius hanya bisa menggelengkan kepala. Ia tidak tahu kemana perginya baling-baling itu. Mara langsung menghampiri alat pengukur jangkauan dan ternyata alat itu sudah rusak akibat panasnya suhu baling-baling yang Darius buat tadi. Ini membuat Mara kebingungan.


Ia pun mengukur jauh jangkauan serangan Darius dengan mengukur jauh tanah yang hangus akibat dilewati oleh serangan itu.


"I... ini pasti salah, tidak mungkin begini," ucap kesal Mara sambil menggigit bibir.


Jarak serangan itu jauh melampaui jangkauan serangan milik Mara. Bahkan sampai melewati dinding pembatas yang dibuat K.A.O. Mara tidak dapat mempercayai hal ini. Komandan Deri datang menghampiri Mara yang mulai histeris, ia membawa surat kelulusan milik Darius.


"Darius sudah berhasil melampaui jangkauan mu. Jadi cepat tanda tangani surat ini dan terima kelulusannya," ucap Komandan Deri.


"Tidak, masih belum."


Dengan angkuh, Mara mengarahkan jari telunjuknya ke arah Komandan. Raut wajahnya nampak begitu kesal.


"Masih ada satu ujian lagi, jadi jangan jangan berbangga dulu," ujar Mara dengan sombongnya.


"Seharusnya kau katakan itu padanya (Darius)," balas Komandan.


Beberapa menit kemudian....


DRRT..!!! DRRT..!!!


Ponsel Komandan Deri mendadak bergetar, seseorang tiba-tiba menelponnya. Ia pun mengangkat panggilan masuk itu. Panggilan itu berasal dari unit pengawas kota Desius, kota yang lumayan jauh dari Tideo, kebanyakan ksatria baru di K.A.O berasal dari sana.


"Izin melapor, Komandan. Disini ada masalah."


"Ada masalah apa?" tanya Komandan Deri.


"Ada sebuah baling-baling panas yang mendarat di sungai Morio (sungai terbesar di kota Desius), baling-baling itu menyala dan bersuhu tinggi. Seluruh air di sungai ini mendidih akibat suhu panas dari baling-baling itu. Kami membutuhkan bantuan secepatnya untuk memindahkan baling-baling ini, Komandan."


Komandan Deri langsung tersentak mendengar kabar itu. Jangan-jangan baling-baling yang dilaporkan oleh unit pengawas kota Desius adalah....


"Tidak mungkin, kota Desius berjarak sekitar 15 kilometer dari sini. Tidak mungkin serangannya dapat menempuh jarak sejauh itu," batin Komandan Deri.


Komandan kembali berbicara dengan unit pengawas kota Desius.


"Berikan gambaran lengkap dari baling-baling itu," perintah Komandan Deri.


"Siap Komandan."


Unit pengawas mengirimkan rekaman video baling-baling yang mereka laporkan. Komandan Deri mematung diam setelah melihat rekaman video dari unit pengawas kota Desius.


"Komandan ketiga, ada apa?" tanya Komandan Seirus yang sedari tadi memperhatikan raut wajah Komandan Deri yang berubah.


Melihat ada yang aneh pada rekannya. Komandan Serius bersama dengan Mara, datang menghampiri Komandan ketiga yang tengah terdiam meratapi ponselnya.


"Komandan ketiga? kau kenapa?" tanya Komandan Seirus untuk keduakalinya.


Komandan Deri memberikan ponselku kepada Komandan Seirus. Terlihat ekspresi tersentak pada raut wajahnya saat memberikan ponselnya.


"Kau takkan percaya dengan apa yang kulihat," ucap Komandan Deri.


Bersambung...