Hero From The Dark Dimension

Hero From The Dark Dimension
Chapter 39: Badai amarah yang memuncak



...Terimakasih untuk semua reader yang tetap setia menunggu update cerita ini, meskipun author tidak bisa sering update....


...Meski telat, author ingin mengucapkan happy new year untuk kalian semua 🎉🎉🎉...


...Semoga di tahun yang baru ini, rezeki semakin lancar dan semakin banyak inspirasi yang dapat kita dapatkan....


...Selamat membaca dan selamat tahun baru 2021🎉🎉🎉...


...***************...


"Namaku Baltova Clascof, aku minta maaf atas perilaku adik ipar ku dan aku akan bertanggung jawab atas semua kerusakan yang ia perbuat," mohon pria besar itu sambil menundukkan kepala.


"Oh..., kukira kau dari Chariot Seis. Aku senang mengetahui kau tidak seperti dia (Iraken)," tukas Raven.


Sebuah mobil mewah tiba-tiba datang dan berhenti disamping Baltov, dari dalam mobil itu keluar seorang laki-laki yang nampak umurnya hampir kepala tiga. Itu terlihat dari penampilannya. Laki-laki itu menghampiri Baltov dengan lekas.


"Apa yang terjadi pada adik mu?" tanya laki-laki itu.


"Dia pingsan, pasti dia terlibat pertarungan yang membuat dirinya sampai seperti ini," jawab Baltov.


Baltov membopong tubuh adik iparnya masuk ke dalam mobil, lalu kembali memohon maaf dan menanggung ganti rugi akibat ulah Iraken. Baltov tersentak saat menyadari Tiamara Hunt ada dihadapannya dengan kondisi yang amat mengenaskan.


"Kau..., adik Ratu Hunt," ucap Baltov.


"Itu benar, dia yang menjadi korban kebrutalan adikmu, kurasa begitu," sahut Raven.


Baltov memandang wajah Mara yang terlihat amat terengah-engah.


"Benarkah itu?" tanya Baltov, terbelalak dan ia menelan ludah.


Mara hanya menganggukkan pelan sambil membuang wajah, ia merasa malu jika dilihat oleh orang lain dalam kondisi menyedihkan seperti ini.


"Tak kusangka, orang yang diincar Iraken adalah kau. Jadi kaulah yang membuat Irana terbaring di rumah sakit," ujar Baltov.


Mara diam dan tidak menghiraukan ucapan Baltov.


Tangan Baltov mulai gemetar, pikirannya seketika dipenuhi rasa cemas, ia tidak menyangka bahwa adik iparnya akan membuat masalah dengan bangsawan besar Hunt, sungguh besar nyalinya tapi tidak dengan kecerdasannya.


Berulangkali Baltov memohon maaf, meski ia tahu itu takkan cukup untuk mengetuk pintu hati Mara, agar ia memaafkan Iraken. Tindakan Iraken benar-benar sembarangan, ini akan memicu permusuhan antar bangsawan serta citra dari Chariot Seis pun akan luntur.


Ditambah lagi Hunt adalah bangsawan tegas, mereka tidak akan mengampuni Siapapun yang mencelakai salah seorang anggota mereka, apalagi dia adalah adik dari Ratu Hunt sendiri. Sudah pasti perbuatan ini takkan pernah termaafkan.


"Mara!"


Terdengar suara teriakan seseorang dari arah belakang, teriakan itu menyebut nama Mara. Baltov menoleh ke sumber suara itu, betapa shock dirinya melihat Ratu Oriery hadir bersama dengan seluruh anak buahnya. Ratu berlari menghampiri adiknya tanpa peduli sepatu hak nya akan patah karena melangkah terlalu cepat.


"Bagaimana bisa kakak tahu kalau aku ada disini?" batin Mara, melihat kehadiran kakaknya.


Sebelumnya, ketika Mara sibuk melarikan diri dari kejaran Iraken. Secara kebetulan, ada seorang informan bangsawan Hunt yang melihat dirinya berlari menuju K.A.O. Lekas informan itu langsung melaporkan hal ini kepada Ratu, sehingga Ratu langsung pergi menyusul adiknya.


Ratu begitu sedih melihat kondisi adik perempuannya, seketika rasa sedih itu bercampur dengan emosi yang meluap.


"Siapa yang berani melakukan ini kepada mu? katakan!"


Tanya Ratu yang kepalanya sudah amat mendidih.


"Kak, i... ini..., ini hanya...."


"Jangan bertele-tele, cepat jawab!"


Mona yang berada tepat disamping Mara merasa ketakutan sekaligus kaget, disamping kaget karena Ratu Hunt hadir dihadapannya, ia juga takut melihat wajah geram ratu yang amat menakutkan. Mara akhirnya buka mulut atas desakan kakaknya, ia menceritakan semuanya kepada kakaknya, itu semakin membuat amarah kakaknya memuncak.


"Sungguh pengecut! beraninya kalian menyerang adikku yang masih belum pulih, tidak malu kah kalian para ksatria Seis?!


Mendadak nuansa menjadi mencekam, langit biru yang cerah tiba-tiba menjadi kelam.


"Ratu, mohon tahan emosi anda," ucap Arnoldi Hunt yang mengawal Ratu, akan tetapi Ratu tidak menghiraukannya.


Langit semakin menghitam, angin yang sepoi-sepoi mendadak berhembus kencang. Kilatan cahaya halilintar mulai bermunculan meliputi seluruh kota, sorotan mata Ratu nampak menyala dengan api amarah. Seluruh Hunt berusaha untuk menenangkan Ratu mereka namun mereka gagal, kekhawatiran besar pun mulai terjadi.


"Ada apa ini? kenapa mendadak cuaca jadi seperti ini?" batin Baltov, ia tidak menyadari cuaca yang mendadak buruk ini adalah kemampuan sihir Ratu.


Dengan sihirnya, ia menyatukan setiap tetesan air hujan yang jatuh menjadi sebuah pusaran air disertai dengan gabungan elemen angin yang menambah kecepatan pusaran air tersebut. Ia melesat pusaran air itu ke arah Baltov.


"Arghh..!"


Baltov yang tidak siap, pada akhirnya terpental sejauh 40 meter akibat hantaman pusaran air itu. Tidak hanya sampai disitu, Ratu kembali membuat pusaran air dan menjebak Baltov kedalamnya, pusaran air yang dahsyat itu ia bekukan, sehingga Baltov tak berkutik dibuatnya.


"Kau harus membayar perbuatan mu dengan darah," ucap Ratu, lalu ia mulai menatap langit dan menghujani Baltov dengan ribuan anak panah dari air yang dibekukan hingga sekeras kristal.


Baltov yang terjebak di dalam es hanya dapat menerima semua serangan itu.


"Sial...., dia sungguh kuat," batin Baltov seraya menahan rasa sakit, beruntung fisiknya sangat kuat, sehingga panah es yang menghujani dirinya tak bisa dengan mudah melukai tubuhnya. Meskipun begitu, rasa sakit akibat serangan itu sangatlah terasa.


Terlihat kilatan besar mengerikan tengah menghiasi langit kelam, semua kilatan mengerikan itu berkumpul tepat di atas kepala Baltov. Mara yang menyaksikan itu, berusaha untuk menyadarkan kakaknya.


"Hentikan kak! bukan dia pelukannya!"


Tak ada gunanya, suara Mara seolah teredam oleh amarah dalam hati kakak. Sang kakak tidak mendengarkan dirinya sama sekali. Baltov melihat kilatan petir yang dahsyat tepat diatasnya, disini ia merasakan firasat buruk akan hal itu.


"Sial...., aku harus segera keluar dari sini."


Baltov berusaha membebaskan diri, sekuat tenaga ia berupaya menghancurkan es yang menjebak dirinya. Es yang amat keras membuat dirinya kesusahan, ia bahkan tidak bisa membuat satu retakan kecil pada es itu.


"Ku hancurkan kau, bersama dengan sifat pengecut mu itu!"


Bentak keras Ratu, ia mengumpulkan kilatan petir di langit menjadi sebuah Electrical Bom yang luar biasa besar, bahkan sampai seluruh penduduk kota Tideo dapat melihatnya. Para penduduk yang menyaksikan fenomena itupun panik dan langsung berlarian menjauhi area dekat Electrical Bom tersebut.


Arnoldi yang memiliki potensial sihir tipe pertahanan, berusaha untuk mendekati ratu melawan angin kencang yang menerpanya. Hujan yang amat deras membuat dirinya sulit untuk melihat. Arnoldi tidak dapat menemukan Ratu ditengah derasnya hujan badai itu.


"Aku tidak bisa... melihat dengan baik, bada ini terlalu kuat," batin Arnoldi, sebelum pada akhirnya terpental mundur kebelakang akibat terpaan angin.


Salah seorang Hunt berhasil menangkap Arnoldi yang terpental, ia pun terselamatkan.


"Seseorang tolong pikirkan cara untuk menenangkan Ratu!"


Teriak Arnoldi, suaranya nyaris tak terdengar lantaran bisingnya suara hujan badai.


"Kita harus cepat! sebelum dia menghabisi orang itu!"


Lanjut Arnoldi.


Tidak ada satupun yang punya untuk menenangkan Ratu, satu-satunya yang bisa menghentikan Ratu saat ini hanyalah Mara saja, namun saat ini kondisi Mara belum stabil. Sehingga ia tidak dapat banyak bergerak.


Electrical Bom sudah mencapai ukuran maksimalnya dan siap dihantamkan ke arah Baltov.


"Hancurlah!"


Ratu meluncurkan serangan terakhirnya, bola halilintar yang raksasa ia jatuhkan ke arah Baltov yang masih terjebak di dalam es. Tidak ada jalan keluar sama sekali untuk Baltov, ia hanya dapat menutup mata dan siap menerima serangan itu.


"KAKAK HENTIKAN....!!!!"


Teriak Mata, meski itu sia-sia saja. Electrical Bom sudah berada beberapa centi diatas kepala Baltov.


Ketika semua menjadi amat genting, mendadak sihir Ratu musnah hanya dalam sesaat. Bola halilintar raksasa itu tiba-tiba saja lenyap, derasnya hujan badai pun terhenti, cuaca kembali normal seperti sedia kala. Es yang menjebak Baltov langsung mencair, kembali ke wujud semulanya.


Semua orang yang menyaksikan kejadian itu, tak bisa berkata-kata selain menanyakan apa yang sudah terjadi. Sang Ratu yang emosi kini tersadar karena menyadari hilangnya kekuatan sihirnya.


Ratu berusaha mengaktifkan kembali sihirnya, tapi tetap tidak bisa.


"Ada apa ini? apa yang terjadi pada sihir ku?" tanya Ratu, amat terkejut.


Ia tidak mengerti mengapa hal ini bisa terjadi, sesaat kemudian ia menyadari satu hal. Sebuah rantai misterius tengah melilit kaki kanannya, rantai itu terhubung pada tangan kanan seorang pria yang sudah tidak asing di matanya, yaitu Direktur utama K.A.O.


Ratu menatap Raven dengan pandangan geram, karena Raven telah ikut campur dalam urusannya.


"Hentikan seni sihir menyihir mu itu, jika kau terus mengundang badai kemari, maka jemuran ku tidak akan kering," ucap Raven.


Bersambung....