Hero From The Dark Dimension

Hero From The Dark Dimension
Chapter 82: Reuni



Peristiwa beberapa saat lalu membuat ruang pelatihan summon harus mendapatkan perbaikan pada bagian atapnya yang jebol, sosok Dewi yang Darius panggil telah mengecilkan tubuhnya dan duduk santai bersama Darius dan yang lain di kantor Mara.


Mara memberikan pakaian untuk Dewi, tentu itu karena Darius membujuknya, dengan begitu polos Sang Dewi meminta secangkir minuman hangat lalu duduk diatas kursi panas yang seharusnya di duduki oleh Mara.


"Hmmmm..., apa kau hanya akan diam tanpa menjelaskan apapun?" tanya Mara pada Darius.


Sementara Darius kebingungan untuk menjelaskan, disamping itu Mara mulai kesal terhadap Dewi yang semena-mena duduk di kursinya sambil meneguk sari buah yang hangat.


"Hei, jelaskan siapa wanita ini?" bisik Seirus.


"Baiklah..., dia adalah Dewi Pamela, penguasa dimensi gelap yang membantuku mencari jalan keluar ketika aku terjebak di dimensi nya," jelas Darius.


"Kau tidak gila kan? dia Dewi?"


Terlalu cepat 1000 tahun untuk Seirus dapat percaya pada omongan Darius.


"Apa kau tidak percaya?" sahut Dewi Pamela.


Dewi Pamela bangkit dari duduknya.


"Mungkin ini akan menjadi pembuktian," ucap Dewi.


Ia menciptakan sebuah artefak yang berisi ribuan mana (energi sihir), artefak berbentuk kristal bundar.


"Kau pasti bercanda," ujar Seirus.


"Ribuan mana dalam wadah sekecil ini? untuk puluhan mana saja, kita memerlukan sebuah tungku untuk menampungnya," ucap Mara.


"Aku masih punya lebih banyak di dimensi gelap, selain itu bagaimana caramu memanggil ku Darius? juga mengapa sekarang kau bertanduk, seperti itu? apa itu asli?"


Dewi memiliki banyak pertanyaan.


"Baiklah, harus ku mulai darimana dulu ya?"


Darius menjelaskan segala yang ia tahu, meski sulit untuk dimengerti namun Dewi berusaha mencerna situasi.


"Jadi ini adalah dunia mu, sangat terang dan silau," ujar Dewi, mengingat dia berasal dari dimensi gelap.


Nuansa pun terasa canggung antara heran, bingung, takjub semuanya bercampur aduk, apalagi sekarang semua orang sedang membicarakan kejadian di ruang pelatihan summon tadi.


"Aku tidak menyangka metode yang kau gunakan sanggup untuk memanggilku, meski kau memiliki kekuatan ku di tubuhmu namun memanggilku kemari sungguh mustahil," jelas Dewi.


"Benarkah? itu artinya sekarang aku sudah semakin kuat, tapi rasanya tidak sehebat yang kukira," ucap Darius.


Seirus memukul kepalanya hingga Darius merintih.


"Tidak sehebat apanya? kau nyaris membunuh kita semua," sahut Seirus.


Suasana yang awal mula canggung pun pecah seketika itu juga pecah, sihir yang didapat Darius sungguh diatas rata-rata disamping itu juga Mara menjelaskan bahwa tidak ada sihir summon yang mampu mengeluarkan aura yang memengaruhi orang-orang disekitarnya, karena pada dasarnya itu hanya sihir pemanggilan.


Aura itu pasti bukan bagian dari sihir melainkan memang berasal dari kemampuan tubuh Darius sendiri.


"Aku baru pertama kali melihat aura itu, ya terlepas dari itu sekarang aku mendapat wawasan karena dapat melihat dunia yang baru," ucap Dewi.


Mara menghela nafas sejenak.


"Bagaimana pun caranya, kita bereskan kekacauan ini, sebelum kakak ku datang."


Mara sudah mengirim beberapa unit petugas perbaikan untuk memperbaiki atap yang rusak juga lantai yang retak, sementara Ratu masih sibuk merencanakan susunan orang-orang yang akan mengikuti NGB nanti.


Karena kandidat peserta NGB saat ini banyak yang kurang meyakinkan, sehingga Ratu kesulitan untuk menentukan, menjadikan penyusunan calon peserta jadi terhambat.


Disamping itu, atap beserta lantai ruang pelatihan summon hampir selesai diperbaiki berkat banyaknya bantuan yang datang.


Mara pun menyudahi pengenalan lingkungan Casterial Mansion untuk Darius lalu menyarankannya untuk kembali ke ruangannya.


"Kita bincang kan ini lain waktu, untuk sekarang kembalilah ke kamar," ucapnya singkat.


Mara pun pergi ke arah ruangan singgasana Ratu, meninggalkan Darius.


"Kuharap dia tidak merencanakan hal buruk lagi," gumam Seirus.


"Komandan Seirus, bisakah kau membawaku ke tempat Raven? ada hal yang harus ku bahas dengan nya," mohon Darius.


"Maksudmu Direktur? dia berada di ruangan yang sama denganku, mari ikut aku jika begitu," balas Seirus.


"Baiklah."


Mereka pun pergi ke tempat Raven berada, di sepanjang jalan Dewi Pamela menoleh kesana-kemari, semua orang yang berlalu-lalang juga memperhatikan dia yang berpenampilan bak seorang bangsawan namun terlihat asing.


Dewi memperhatikan lingkungan disekitarnya, melihat orang-orang yang beraktivitas, mulai dari orang yang sibuk dengan urusan kerjanya, bersenda gurau, mengobrol ria dan lain sebagainya.


Begitu banyak cahaya terang sejauh mata memandang, dunia yang cerah seperti ini sungguh membuat nya merasa penasaran sekaligus asing.


Ia melirik kearah Darius seraya berkata...


"Tempat ini sangat menakjubkan, sudah lama sekali aku tidak melihat keramaian semenjak ras Nightmare punah," ucap Dewi.


(Penjelasan ras Nightmare Chapter 3).


"Ada banyak hal yang ingin kutanyakan padamu, tapi sepertinya ini bukan waktu yang tepat, selain itu nampaknya kekuatan ku yang ada di tubuhmu sekarang jauh lebih besar dibanding saat pertama kali kita bertemu," lanjut Dewi.


Refleks Darius langsung menatapnya.


"Tentu saja, itu kekuatan milik seorang Dewi, tapi kau pun juga sama mengerikannya, manusia namun sekarang memiliki tampang layaknya monster bahkan mengendalikan kekuatan yang kuberikan," balas Dewi.


Sejenak Dewi menghela nafas, menikmati segarnya udara yang tidak pernah ia dapatkan di dunia asalnya, kedua matanya terpejam sesaat bukti ia sangat menyukai tempat barunya ini.


Dalam batinnya, dewi berkata...


"Sudah lama semenjak aku diusir dari dunia langit, aku tidak pernah merasakan udara sebebas ini, mungkin aku ingin berada disini untuk waktu yang lama, lagi pula...."


Dewi kembali memandang Darius.


"Ada yang harus ku urus disini."


...****************...


POV Tiamara Hunt.


Mara memasuki ruang singgasana, dimana semua orang-orang penting sudah berkumpul, mereka sudah selesai merundingkan tentang pengganti perwakilan NGB yang terluka akibat serangan monster kemarin lusa.


Disana Mara menghadap kepada Ratu, disitu Ratu menyerahkan sebuah surat resmi yang berisi daftar orang Hunt yang akan dikirim untuk mewakili NGB besok dan Ratu ingin Mara mengumumkannya kepada semua Hunt.


"Apa kakak benar-benar sudah menentukan semuanya dengan baik?" batin Mara sambil menerima surat itu.


"Kumpulkan semua orang lalu umumkan itu," perintah Ratu.


Mara pun patuh, seluruh Hunt pun diperintahkan untuk berkumpul di ruang singgasana kecuali Darius yang masih menuju ke kamar Raven.


Dalam hitungan menit semua orang pun berkumpul, perlahan Mara membuka isi surat lalu menarik nafas panjang sebelum mengumumkan.


"Perhatian kepada semuanya! hari ini aku akan mengumumkan hasil keputusan Ratu terkait Kandidat yang akan mengikuti NGB besok sebagai perwakilan bangsawan Hunt, ini adalah keputusan absolute jadi suka ataupun tidak maka harus diterima, apakah semuanya paham?!"


"Baik!"


Jawab serempak semua orang.


Mara mulai membacakannya secara berurutan...


"Yang pertama adalah Lavionate' Rossa Hunt, dengan kemampuan sihir summon dan elemen panas yang sudah mencapai tingkat atas, dia terpilih untuk mewakili Hunt pada NGB ini, silahkan kalian bertepuk tangan untuk saudari kalian ini," jelas Mara.


Semua orang pun bertepuk tangan dengan senangnya atas pencapaian saudari mereka hingga ditunjuk sebagai perwakilan Hunt.


Sementara itu Rossa merasa lega atas dukungan mereka, ia masih merasa malu akibat kejadian di ruang pelatihan summon tadi, dia kabur seketika saat Darius memanggil Dewi Pamela dengan sihir summon nya.


Bahkan orang-orang yang berada disana tidak menyadari dia kabur karena fokus terhadap Darius dan makhluk yang dipanggilnya.


"Ini kesempatanku untuk memperbaiki nama baikku," batin Rossa.


Mara lanjut membaca urutan perwakilan...


"Yang kedua adalah Gaindakalf Hunt, dengan pencapaian sihir elemen angin tingkat expert dan elemen es tingkat menengah, kini telah terpilih menjadi perwakilan Hunt dalam NGB besok," jelas Mara.


Semua orang pun bertepuk tangan untuk nya, sama halnya seperti Rossa.


Gain, begitulah panggilan akrabnya, dia adalah seorang wanita meski penampilannya, cara dia berpakaian seperti laki-laki.


Ia adalah seorang murid dibawah bimbingan Caroline Hunt, penguasaannya terhadap sihir elemen tidaklah wajar, ia lebih cepat berkembang dibandingkan teman-temannya yang lain selain itu dia juga banyak berusaha mengkombinasikan elemen sebagai wujud eksperimen untuk menciptakan rangkaian sihir baru yang lebih baik.


Hanya saja sifatnya yang tidak menyukai keramaian, suka menyendiri dan lebih fokus terhadap keinginannya sendiri, membuat dia kurang komunikasi terhadap teman sebayanya.


Mara lanjut membaca urutan perwakilan, sejenak Mara agak tersentak ketika melihat isinya sebelum akhirnya ia membaca nya dengan lantang...


"Yang terakhir adalah Darius Hunt, dengan kemampuan sihir summon yang paling luar biasa sepanjang sejarah Hunt, ia berhasil memanggil entitu kehidupan yang tak dikenal yang memiliki kekuatan besar serta dinobatkan sebagai makhluk summon paling berpotensi dalam bangsawan Hunt! dengan begitu ia ditunjuk sebagai perwakilan Hunt dalam NGB besok!"


Seketika semua orang tercengang mendengarnya, mereka bertanya-tanya satu sama lain.


"Selain itu, dia juga memiliki kekuatan fisik yang besar dan berjasa besar dalam membantu Ratu ketika bertarung melawan monster yang mengamuk di kota Tideo, atas jasanya itu dia mendapatkan pengecualian khusus dimana dia diperbolehkan untuk membawa pedang dalam perannya sebagai perwakilan Hunt!"


Semua orang pun semakin tercengang, mereka sungguh tidak percaya bahwa Ratu mereka memperbolehkan seorang anak baru mewakili Hunt sambil membawa pedang yang sudah jelas dilarang dalam hukum Hunt itu sendiri.


"Ratu, mengapa anda memberikan hak ini kepada dia?"


"Mohon pikirkan baik-baik Ratu."


"Jika dia membawa pedang maka keluhuran Hunt akan tercoreng, Ratu."


Keributan pun terjadi.


Mara menghentakkan kakinya yang menimbulkan serpihan es, membuat suasana ricuh menjadi tenang seketika.


"Sudah kukatakan, ini adalah keputusan absolute, suka tidak suka kalian harus tetap menerimanya, paham?!" tegas Mara.


"Baik."


Jawab mereka serempak sambil tertunduk takut.


Mara memandang ke arah kakaknya, ia terkejut saat melihat kejadian Darius yang memanggil Dewi Pamela lewat summon rupanya tercatat dalam surat yang ia genggam, padahal Mara tidak pernah memberitahu Ratu tentang itu.


Sungguh tidak disangka, intelegence Ratu dalam mengawasi Darius sampai setinggi ini, hal ini pun semakin membuat Mata penasaran.


"Seberapa pentingkah Darius itu bagimu? kakak," batin Mara.


Bersambung....