
...Pengumuman...
...Mohon maaf karena terlalu lama gak up, karena akhir-akhir ini banyak hal penting yang harus author kerjakan....
...Author akan berusaha mengatur waktu luang agar bisa lebih cepat upload, maaf pula jika ada alur cerita yang kurang jelas dan membuat pembaca kecewa....
...Sekian terima kasih....
...**********...
Baru beberapa saat Darius berada di lingkungan istana wanita dan seketika itu juga ia menjadi sasaran dari rasa penasaran para ksatria wanita disana.
Sekelompok wanita memberanikan diri mereka untuk menghampirinya, mereka memberi salam kepada pimpinan Seis lalu mengutarakan apa yang mereka mau.
"Ratu, apakah dia orang yang dibicarakan itu? orang yang akan bergabung dengan kita."
"Bolehkah kami meminta izin untuk berkenalan dengan dia?"
Eruna melirik ke arah Darius seraya tersenyum.
"Apa-apaan tatapannya itu?" batin Darius, ia merasakan suatu firasat dari tatapan Eruna.
"Tentu kalian boleh berkenalan dengannya, buat dia merasa nyaman tapi tetap pada etika yang baik," ucap Eruna, memperbolehkan para wanita itu.
Sekelompok wanita itupun senang atas kemurahan hatinya.
"Terima kasih atas izinnya."
Mereka pun langsung mengerubungi Darius.
"Eh..?! t.. tunggu dulu."
Darius seketika kikuk setelah para wanita itu mengerubunginya, ini pertama kalinya dia dikerubungi wanita seperti ini.
Ditambah lagi mereka melontarkan banyak pertanyaan dengan mata berbinar, mereka semua sangat bersemangat.
Penyebabnya sendiri adalah Darius yang memiliki paras menawan serta tubuh tegap dan kekar, sungguh ciri laki-laki ideal yang sangat dikagumi kaum hawa, membuat para wanita itu mengangumi nya waktu singkat.
"Bolehkah aku mengetahui siapa namamu?"
"Kau berasal dari ras mana? naga kah? minotaurus kah? atau mungkin ras lain?"
"Wah..., kau tampan sekali, kau pasti dari kalangan bangsawan juga kan?"
Tanya para ksatria wanita, mereka terlalu bersemangat.
"Aduh..., mana dulu yang harus kujawab?"
Darius salah tingkah dan bingung, melihat hal itu Eruna pun mencoba menenangkan para bawahannya.
"Kalian semua tenanglah, jika kalian terlalu banyak melontarkan pertanyaan maka dia akan bingung untuk menjawabnya," ujar Eruna.
"Baik, ratu."
Balas mereka kompak.
Semuanya menjadi tenang dalam sekejap, sehingga Darius dapat memperkenalkan dirinya dengan baik.
"Namaku Darius Hunt, aku berasal dari kota ini, umurku 25 dan aku manusia."
Ia memperkenalkan diri juga berbohong tentang asal serta usianya.
"Seorang Hunt rupanya, aku tertipu sungguh dengan penampilan fisik mu."
"Sungguh diluar dugaan, kupikir dia dari "Ragnar" padahal tanduknya sangat mencolok."
Ragnar adalah salah satu marga terkenal dari ras naga, Hilda dan Agni termasuk anggotanya.
"Ratu sungguh akan memasukkan dia sebagai anggota kita? bukankah kita tidak boleh menampung seorang ahli sihir kecuali healer?"
Tanya salah satu dari mereka.
"Dia bukan seorang ahli sihir, dia seorang ksatria pedang," jawab Eruna dan itu membuat mereka semua terdiam sesaat.
"Seorang ahli pedang dari Hunt? mustahil, saya sungguh tidak bisa mempercayai ini."
"Ratu sedang tidak bercanda, kan?"
"Aku mengatakan kebenarannya, bawahan ku yang tekun," jawab Eruna.
"Bisakah kau tunjukkan kepada kami kemampuan pedang mu?"
Tanya salah satu wanita itu kepada Darius.
"Benar, aku sungguh ingin tahu bagaimana seorang Hunt memainkan pedang dengan tangannya, ini pasti menarik."
Darius memandang Eruna setelah mendengarkan kemauan dari salah seorang ksatria wanita.
"Kau boleh menunjukkannya jika kau mau," ujar Eruna.
"Kalau begitu aku akan menunjukkan sedikit kemampuan pedang ku kepada kalian."
Darius bersedia untuk menunjukkan kemampuannya, salah seorang ksatria wanita memberinya sebuah pedang berbilah lengkung bagai bulan sabit.
"Ini jenis senjata yang sama seperti yang digunakan jendral Sloanyt dulu," gumam Darius.
Seraya memperhatikan lekuk pedang yang digenggamnya, ia mencoba mengingat gerakan yang dilakukan oleh jendral Sloanyt ketika bertarung dengan menggunakan senjata ini.
Setelah beberapa detik, ia pun siap menunjukkan kemampuannya kepada para ksatria wanita.
Eruna menuntunnya ke tempat dimana ia bisa unjuk bakat yang dimilikinya, terdapat sebuah lapangan besar dibelakang istana utama.
Ditempat ini semua ksatria pria dan wanita melakukan latihan bertarung untuk mengukur seberapa tinggi kemampuan satu sama lain, semua ksatria yang berlatih langsung menghentikan latihan mereka ketika Eruna datang.
"Selamat pagi, pimpinan."
Salam kompak mereka semua.
"Selamat pagi, hari ini aku ingin kalian memberikan panggung untuk tamu kita yang ingin menunjukkan bakatnya, bisakah kalian melakukannya?" tanya Eruna.
"Tentu kami bisa," balas kompak mereka.
Lalu mereka semua menepi ke pinggir lapangan untuk memberi Darius ruang.
"Bukankah aku hanya perlu menunjukkannya kepada para wanita ini saja? tapi tak apalah," batin Darius.
Darius maju ke tengah lapangan.
Terdengar suara bisikan dari barisan para ksatria dan Darius tahu siapa yang menjadi bahan omongan mereka.
Orang baru memang selalu menjadi bahan omongan diawal kedatangannya, wanita bertato ular hadir diantara barisan ksatria.
Ia nampak tersenyum menyeringai memperhatikan Darius yang maju ke tengah lapangan.
"Hehe..., mari kita lihat seberapa hebat dirimu," umpatnya.
Darius memfokuskan diri pada senjata yang digenggamnya, berusaha menahan agar kekuatan misterius didalam tubuhnya tidak keluar secara berlebihan.
Lalu ia mulai mengayunkan pedang mengikuti gerakan jendral Sloanyt dulu namun dengan tenaga yang lebih optimal, ketika mengayunkan pedang itu kebawah, tanah nampak tergores padahal pedang itu tidak sampai menyentuhnya.
Darius memutar pedang dengan lihainya, gerakannya dalam memindah senjata sangat mengagumkan.
Semua orang takjub padanya, khususnya para ksatria wanita.
Bahkan salah satu komandan wanita yang berada di dalam barisan pun mematung tanpa berkedip sama sekali, disamping itu pula ada pria yang tengah duduk di atas kuda nampak tersenyum lebar menyaksikan Darius mengayunkan pedang tanpa kesalahan sama sekali.
"Pemuda ini sungguh menarik," batin pria itu.
Tibalah saatnya gerakan terakhir dari jurus pedang yang Darius mainkan, ia melakukan gerakan memutar ke udara dan mengarahkan tebasan nya ke langit.
Lalu mengakhirinya dengan menyarungkan kembali pedang yang ia genggam, tak berselang lama tiga ekor burung berjatuhan dari langit.
Masing-masing dari burung yang jatuh itu nampak terpotong menjadi dua bagian, itu menimbulkan kehebohan instan.
"Aduh..., aku terlalu bersemangat saat menebas ke udara tadi," batin Darius sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Kehebohan karena rasa kaget pun mereda dan berubah menjadi ramainya suara tepuk tangan, semuanya sangat terkesan atas penampilan nya.
Tak disangka bagi mereka, dapat menyaksikan permainan pedang yang sehebat ini bahkan tebasan mampu menggapai burung-burung yang sedang terbang.
Sorakan dan pujian pun menghujani Darius.
"Sungguh luar biasa, dari mana dia mempelajari ilmu pedang seperti itu?"
"Dia pasti dari marga D'crona, aku sangat yakin, karena bakat sehebat itu hanya mereka yang punya."
"Bukan, pasti dia dari Ragnar, lihat saja tanduknya."
"Siapapun dia, aku ingin berguru padanya sekarang."
Itulah suara dari para ksatria yang kagum.
Sementara itu wanita bertato ular tertawa girang, ia pun maju ke tengah lapangan lalu menodongkan senjata berupa long sword ke arah Darius.
"Eh...? apa-apaan wanita ini?" heran Darius sekaligus terkejut.
Sorakan para ksatria pun terhenti ketika melihat tindakan wanita bertato itu, termasuk Eruna.
Wanita itu tertawa senang sambil menatap tajam Darius.
"Hahahaha..., kau hebat, pantas saja Mara sampai celaka saat melawanmu," ujar wanita itu.
"Dia tahu mengenai kejadian yang menimpa Mara di K.A.O?" tanya Darius dalam hati.
Wanita itu menjilat pinggiran bilah pedangnya yang tajam dengan ekspresi yang amat menyeramkan.
"Aku menantang mu bertarung saat ini juga," ujar mendadak wanita itu.
"T..., tu..., tunggu dulu, siapa kau? mengapa mendadak menantang ku seperti ini?" tanya Darius, ia sangat bingung atas tindakan wanita ini.
"Komandan Divisi 0 bangsawan Seis, Aqynanta el'da Seis," jawab wanita itu.
Bersambung....