Hero From The Dark Dimension

Hero From The Dark Dimension
Chapter 53: Genting



Keramaian kota Tideo semakin riuh, hari libur ini menjadi lebih berwarna dengan berbagai senyumnya yang bertebaran mewarnai nuansa damai.


Begitu banyak aktivitas yang dapat ditemui di hari istimewa ini, banyak ibu yang bermain di taman buah persik bersama dengan anak-anak mereka dan terlihat para remaja sedang asyik berbelanja bersama dengan kawan-kawan mereka.


Ditengah padatnya kondisi kota saat ini, tak ada yang menyadari sekelebat bayangan hitam nampak berpindah dari gedung satu ke gedung yang lain dengan amat cepat.


Sementara itu di area mall besar yang berada di tengah kota...


Serius dan Deri nampak asyik menikmati liburan, mereka bergandeng tangan sambil membawa beberapa belanjaan yang baru mereka beli di mall beberapa saat lalu...


"Akhirnya aku bisa membeli make up baru, semua make up yang ku punya sudah benar-benar habis," ujar senang Serius.


"Bagaimana dengan mu?"


Tanya Seirus kepada Deri yang mendampinginya.


"Aku hanya membeli beberapa baju yang menurutku menarik, soal make up aku sudah membelinya kemarin malam," jawab Deri.


"Akan ku ajari cara menjadi wanita yang benar, ok?" ucap Serius dengan mulut manisnya, ia mengedipkan sebelah matanya.


"Iya..., iya."


Mereka berdua sangat menikmati waktu senggang mereka, ini menjadi kesempatan bagi Seirus untuk mengeksplorasi hal baru yang ada di kotanya.


"Lihat disana! ada menu baru di restoran Moon Shine, kita harus coba."


Seirus segera pergi dan menarik tangan Deri.


"Hei pelan-pelan."


Mereka berdua pergi menuju ke restoran yang dimaksud oleh Serius, menu baru di restoran langsung menjadi incaran mereka berdua. Menu yang berupa daging hiu banteng panggang carbonara langsung mereka pesan tanpa pikir panjang.


Menu yang mereka pesan langsung hadir dalam beberapa menit, dengan sepenuh hati mereka menikmatinya.


"Wah..., enak."


Seirus sangat terkesima dengan kelezatan makanan yang ia santap.


"Selama kita sibuk, rupanya sudah banyak hal baru yang bermunculan. Seluruh penduduk kota ini memang mengagumkan," ujar Deri lalu dia menyantap sepotong daging hiu.


"Kira-kira hal baru apa yang bisa kita temukan?" tanya Seirus seraya tersenyum lebar.


Deri yang mendengarkannya pun juga ikut tersenyum.


"Ayo kita cari tahu," balas Deri.


Nuansa kebersamaan begitu terasa di setiap detik yang mereka habiskan bersama, setelah puas menikmati menu baru, mereka berdua lanjut mencari hal-hal menyenangkan yang dapat mereka temukan.


Mereka pergi ke taman buah persik dan membeli manisan persik disana, lalu mereka duduk bersama di bangku taman yang tak jauh dari mereka.


Mereka pun mengobrol santai, menceritakan pengalaman lucu yang pernah mereka alami serta saling berbagi cerita suka duka satu sama lain. Mereka berdua tertawa bersama.


"Kau sungguh pernah menghancurkan televisi karena kaget?" tanya Seirus seraya menahan tawanya.


"Itu bukan salahku sepenuhnya, saat itu aku masih polos dan aku tidak tahu kalau acara yang ku tonton di televisi pada saat itu adalah film horor, jadi kupikir ada makhluk jahat yang masuk ke dalam TV dan itu membuatku refleks sehingga aku melempar TV ku dengan sepasang sendal kayu," jelas Deri.


Seirus tertawa lepas mendengar kekonyolan Deri semasa kecil.


"Sudah kuduga reaksimu akan seperti itu," wajah Deri sedikit merona merah.


"Aduh..., perutku sampai sakit, kau sungguh membuatku terpingkal-pingkal."


Keceriaan mereka berlangsung cukup lama, hingga Deri menyadari kehadiran sekelebat bayangan yang bergerak cepat melompati gedung-gedung.


"Apa itu?" tanya Deri seraya menunjuk ke arah bayangan itu.


Secara reflek Seirus pun menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Deri, ia pun juga mendapati kehadiran bayangan hitam itu.


"Jangan-jangan monster? lebih baik kita segera memeriksa nya," ujar Seirus.


Deri mengangguk paham, mereka menitipkan barang-barang belanjaan mereka ke tempat penitipan dekat sana dan langsung menghampiri bayangan hitam tersebut.


Seirus menguasai teleportasi sehingga mereka bisa sampai lebih cepat ke lokasi yang mereka tuju.


"Itu dia," ucap Deri sambil menunjuk ke arah bayangan hitam yang pergerakannya berhenti di atap sebuah toko baju.


Mereka berdua naik ke atap dengan sihir es yang teleportasi milik Seirus dan langsung menghampiri sosok hitam yang diduga adalah bayangan yang tadi mereka lihat.


Betapa kagetnya mereka mengetahui bahwa...


"P..., pak direktur," ucap Deri.


Sosok hitam itu merasa terpanggil ketika ia menyebutkan nama pak direktur.


"Kalian berdua, apa yang kalian lakukan disini?"


Sosok hitam itu adalah Raven.


"Jadi bayangan yang kami lihat tadi adalah bapak?" tanya Deri.


"Iya..., nampaknya kalian cukup kaget, wajar saja karena aku tidak pernah menunjukkan kemampuan ku ini kepada kalian," balas Raven sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Aku tahu ada banyak hal yang ingin kalian tanyakan kepadaku setelah melihat gerakan cepat ku itu, tapi ini bukan saatnya untuk itu, saat ini aku sangat butuh bantuan," lanjut jelas Raven.


"Bantuan apa pak?" tanya Deri.


Raven menarik nafas panjang.


"Bisakah kalian membantuku untuk menemui Mara?"


...*********...


Disisi lain, di sebuah restoran dekat tepi pantai.


Carol mengajak sahabatnya untuk menenangkan diri disana.


"Kukira kau akan membawaku kemana, rupanya kemari," ujar Mara.


"Kau ingat? disinilah tempat pertama kali kita bertemu, saat itu aku masih berjuang di jalan sepi tanpa adanya teman hingga kau datang," ucap Carol, ia bernostalgia.


Mengingat dirinya dulu hanyalah seorang gadis kecil yang berjuang sendirian, dia adalah darah campuran dari bangsawan Hunt dan orang pribumi, hal ini membuat dirinya menerima ledekan dari para Hunt yang murni darah bangsawan.


Dia berjuang sendirian tanpa adanya teman, hanya kedua orang tuanya saja yang sangat mendukung dirinya. Suatu hari ketika ia kalah bertarung melawan sesama Hunt, untuk pertama kalinya ada orang yang mau mengulurkan tangan kepadanya.


Carol cilik yang bermandikan debu dan pasir akibat dampak pertarungan langsung menatap kearah orang yang hendak menolongnya, sosok gadis cilik berkuncir dua tersenyum ke arahnya sambil mengulurkan tangan mungilnya.


"Kau tidak apa-apa?"


Gadis kecil yang menolongnya kala itu adalah adik dari Ratu Hunt, yakni Mara.


Momen itu tak pernah lupa, dimana pertama kalinya ia mendapatkan seorang teman.


"Kau tahu? setiap kali aku mengingat itu, rasanya aku seperti terbangun dari mimpi dan ketika aku telah bangun rupanya mimpi itu menjadi nyata," ucap Carol.


Mara tidak paham.


"Ketika aku masih kanak-kanak, aku berpikir bahwa aku tidak akan bisa memiliki teman, itulah mengapa semasa kecil aku berjuang sendirian untuk menjadi yang terbaik...,"


Carol menghentikan perkataannya sesaat.


"Segala beban dan masalah ku berusaha ku selesaikan dengan caraku sendiri, tapi solusi tak kunjung kudapatkan. Setiap hariku serasa sangat berat sampai pada akhirnya kau mengulurkan tangan kepadaku," jelas Carol.


"Kalau tidak salah, saat itu kita masih berumur 12 tahun, bukan?" tanya Mara.


Carol membalas dengan anggukan.


"Benar, ketika aku terlibat banyak masalah dengan Hunt lain dan semua masalah itu membuatku putus asa sampai-sampai aku merasa ingin keluar dari Hunt, beruntung aku dapat bertemu dengan mu sebelum rasa putus asa menelanku. "


Tangan Mara yang putih bersih digenggam erat oleh Carol, itu sedikit membuatnya kaget. Tatapan mata Carol nampak begitu bersungguh-sungguh.


"Mara, apapun masalah yang kau hadapi seberat apapun itu, aku tidak akan membiarkan mu menanggung itu sendiri, inilah balas budi ku untuk setiap jasa yang berikan kepadaku dulu," ungkapan Carol membuat Mara terdiam.


Ditengah nuansa seperti itu, seorang pelayan datang menanyakan menu yang ingin mereka pesan, disitu mereka memesan salad buah ukuran medium dan minuman yang mereka pesan juga sama, yaitu yogurt.


Setelah pesanan datang, mereka pun menikmati salad buah sambil berbincang kecil hingga pada akhirnya Carol menanyakan pertanyaan yang ia pendam sedari tadi.


"Jadi bagaimana cara mu curang dalam NGB tahun lalu?" tanya Carol.


Mara agak sedikit ragu untuk menjawab, pada akhirnya ia pun menjawabnya.


"Aku dan kakakku memiliki kemampuan yang bernama sinkronisasi ikatan, kemampuan ini memungkinkan kita berdua untuk saling berkomunikasi lewat telepati dan saling mengirim energi satu sama lain," jawabnya.


"Sinkronisasi? aku tidak pernah tahu Ratu dan kau memiliki kemampuan seperti itu."


"Itu karena kami merahasiakan ini dari yang lain termasuk sesama Hunt, yang mengetahui ini hanyalah aku, kakakku lalu kau."


Untuk sesaat Carol meneguk yogurt nya.


"Aku akan merahasiakan hal ini," ucap Carol.


Mara kembali melanjutkan penjelasannya.


"Kemampuan ini juga dapat saling mengetahui kondisi satu sama lain, jika kakakku sedang disakiti maka aku akan langsung tahu begitu juga sebaliknya....,"


"...... Pada saat NGB, kakak memberi ku energi selama jalannya pertarungan, itu membuat energi sihir didalam tubuhku terus meningkat dan tidak berkurang sama sekali, dengan cara curang itulah aku berhasil menang," jelas Mara, paras begitu ternodai rasa malu saat menjelaskannya.


Kini Carol paham pola cara curang yang dilakukan oleh Mara, itulah yang membuat Mara memimpin jalannya pertarungan pada NGB waktu itu, pantas saja ketika itu Mara begitu percaya diri meski sudah mengetahui bahwa lawannya adalah salah satu ksatria wanita terbaik bangsawan Seis.


"Begitu rupanya, mengapa kau melakukan itu? setahuku kau sudah sangat kuat meski tanpa bantuan Ratu," tanya Carol.


"I....., itu karena aku takut kalah," jawab Mara sambil menahan rasa malu.


"Ha? kau takut kalah? ini tidak seperti dirimu."


Carol tak menyangka Mara akan menjawab seperti itu, padahal Mara sendiri adalah ahli sihir tingkat atas yang memiliki daya saing tinggi tapi mengapa bisa takut kalah?


"Aku sudah melihat kemampuan lawan ku yang bernama Irana, dia terlalu kuat untuk ku lawan, sekitar 2 minggu sebelum NGB aku melihat dia mengalahkan 3 Pyroberus (Monster anjing api) seorang diri dan itu sudah membuktikan kalau dia lebih kuat dariku," jelas Mara.


"Sekuat apapun diriku, aku tidak bisa mengalahkan 3 monster raksasa yang memiliki ketahanan terhadap sihir tingkat atas, itulah yang membuatku takut kalah," lanjutnya.


Tangan Mara mulai gemetaran.


"Dengan cara curang, aku mengalahkannya dan melukainya dengan brutal karena terlalu berambisi untuk menjadi yang terbaik tanpa peduli apapun dan sekarang menerima balasan nya, hatiku digerogoti rasa bersalah yang semakin menekan ku," ungkap jelas Mara penuh rasa bersalah.


Perasaan itulah yang membuatnya berbeda belakangan ini, ia jarang berlatih, selalu menyendiri dan susah tidur. Semakin lama ini berlangsung maka aku berdampak buruk terhadap dirinya sendiri.


Sementara Caroline merasa kecewa setelah mendengar seluruh penjelasan itu, namun ia tidak tega melihat Mara tertekan seperti ini.


"Sejujurnya aku kecewa setelah mengetahui hal ini, namun aku tak mungkin membiarkan sahabat ku terpuruk, aku akan berusaha sekuat tenaga untuk membantumu," ucap Caroline sangat bersungguh-sungguh.


"Terima kasih, Carol."


Suasana hati Mara mulai membaik, namun ia merasakan sesuatu dari dalam dirinya, seakan itu adalah sebuah peringatan untuknya.


Deg!


Degup jantung Mara berdetak kencang.


"Perasaan ini, apa kakak sedang disakiti seseorang?"


Sinkronisasi ikatan didalam tubuhnya memberikan sebuah peringatan bahwa seseorang yang terhubung dengannya sedang mengalami rasa sakit.


Segera ia menghubungi kakaknya lewat telepati untuk mengetahui kondisi Sang kakak.


"Kakak, apa kau bisa mendengarku?"


Mara menunggu respon dari kakaknya.


"Iya, aku mendengar mu, ada apa? mengapa kau terdengar seperti orang panik?" tanya Ratu Oriery lewat telepati.


"Sekarang kakak dimana dan sedang apa? apa kakak dilukai seseorang?" tanya Mara terburu-buru.


"Tenanglah adikku, aku sedang mengurus berkas kelengkapan fasilitas sihir di Casteral Library dan disini aku ditemani Arnoldi serta Holmus, hanya orang gila saja yang berani menyakiti Ratu bangsawan Hunt yang terkenal akan kehebatan sihirnya," balas Ratu penuh percaya diri.


Mara dapat menghela nafas lega setelah tahu kakaknya baik-baik saja.


"Kau belum menjawab pertanyaan ku, mengapa kau panik begitu?" tanya Ratu.


"Tiba-tiba saja sinkronisasi ku memberi peringatan, jadi aku langsung menghubungi kakak," jawab Mara.


"Benarkah? tapi disini aku baik-baik saja, mungkin itu hanya perasaan mu saja."


"Begitu ya, maaf mengganggu kesibukan mu."


"Aku harus kembali bekerja, akan kutemui kau setelah selesai."


Ratu memutus kontak telepati nya.


"Mara, ada apa?" tanya Carol yang heran melihat Mara yang mulai banjir keringat.


"T..., t...., tidak apa-apa, aku hanya salah sangka, kukira kakak sedang diserang seseorang," jawab Mara sambil mengusap keringat di dahinya.


Deg!


Sinkronisasi kembali memberikan peringatan.


"Apa-apaan ini? mengapa sinkronisasi ku terus saja memberikan peringatan, padahal kakak baik-baik saja, ada apa ini sebenarnya?"


Mara sangat kebingungan, ia tidak tahu mengapa sinkronisasi terus menerus memberi peringatan. Ia sama sekali tidak mengerti, setelah beberapa saat ada suatu dugaan yang muncul di pikirannya.


"Jangan-jangan ada orang lain yang terhubung dengan sinkronisasi ku, tapi siapa?"


Bersambung....