Hero From The Dark Dimension

Hero From The Dark Dimension
Chapter 72: Akhir dari kekacauan



Lokasi: Casterial Mansion.


Ratu kembali ke kediamannya dalam kondisi selamat bersama dengan para pengikutnya, para pengungsi mendapatkan kabar gembira dari kedatangannya.


Mara memberitahukan kepada mereka bahwa monster telah berhasil dibasmi, sorakan meriah pun memenuhi lingkup Casterial Mansion.


Segala rasa kagum dan pujian terhamburkan kepada Sang Ratu, sangat bangga mereka memiliki bangsawan Hunt yang singgah di kota ini.


"Hidup Ratu Hunt...!"


Sorak meriah disertai riuh tepuk tangan.


Ratu menyapa mereka dengan senyum anggun seraya melangkah masuk menuju Mansion, semua orang berterima kasih kepada nya.


Mereka yang mengungsi sangat bersyukur atas berhentinya bencana ini, beberapa jam kemudian para penduduk pun keluar dari Mansion karena keadaan sudah dinyatakan aman.


Disamping itu Ratu merebahkan diri di dalam kamarnya, setelah melepas zirah nya yang berat.


Ratu masih memikirkan Darius, momen aneh ketika bertarung bersamanya tak dapat terlupakan di benak Ratu.


Kekuatan besar yang muncul setelah Darius menyentuh nya bukanlah hal yang kebetulan, ini menjadi tanda tanya besar.


"Pemuda itu, sebenarnya siapa dia?" batin Ratu seraya meremas bantal empuk nya.


Kekuatan besar selepas pertarungan masih dapat Ratu rasakan, ia masih sulit mempercayai bahwa Darius lah penyebab meningkatnya kekuatan sihir didalam tubuh nya.


Membuat dia tenggelam dalam rasa penasaran sehingga ia mengambil keputusan langsung untuk mengundang Darius kedalam Mansion tanpa pikir panjang, meski sejujurnya itu adalah keputusan yang berat.


"Aku benar-benar harus menyelidiki ini, pemuda itu akan kuselidiki," batin Ratu.


...*********...


Selain itu di lokasi lain, dimana disana terdapat para arcmage (Petugas Sihir) yang berbondong-bondong menolong para korban luka dan membantu para petugas.


Darius pergi menghampiri kesana sambil membopong Hilda yang pingsan, sekelompok healer disana langsung membantunya untuk membawa Hilda ke ruang pengobatan sementara Darius menunggu di tempat lain.


Inilah tempat pengungsian yang berjarak lumayan jauh dari area tengah kota, seluruh petugas keamanan, medis dan yang lainnya berkumpul untuk melindungi para pengungsi.


Ada pula tim penyelamat yang ditebar untuk mencari para korban yang belum ditemukan, di tempat ini pun juga ada para anggota bangsawan Clascoff dan Seis yang membantu masyarakat, jumlah mereka pun banyak.


"Seis punya anggota sebanyak ini, mengapa yang hadir di medan pertempuran tak sampai seperempat dari mereka?" batin Darius.


Puk!


Disaat ia masih bertanya-tanya, secara mendadak Aqynanta menepuk pundaknya dari belakang.


Nanta duduk di salah satu kursi yang ada disana lalu melepaskan zirahnya tanpa pikir panjang dihadapan Darius, memperlihatkan tubuhnya yang hanya ditutupi pakaian berkain tipis.


"Astaga....," ucap Darius yang secara refleks menutup mata.


Sikapnya disadari oleh Nanta, sehingga Nanta pun menoleh dan tidak melepaskan pandangannya dalam waktu yang lama, ia terpaku heran saat Darius menutup matanya.


"Kau ini kenapa?" tanya Nanta polos.


"Mengapa masih bertanya? sudah jelas kau memberikan pemandangan yang tak pantas dilihat," balas Darius.


"Oh rupanya kau pemalu, maaf..., maaf..., aku tidak menyangka pria kekar berbadan besar seperti mu ternyata masih polos," ucap Nanta seraya tertawa kecil.


Darius sama sekali tidak paham dengan maksud ucapan Nanta, ia tidak habis pikir seorang bangsawan memperlihatkan lekuk tubuhnya di sembarang tempat tanpa ragu.


Yang lebih mengherankan lagi baginya adalah orang-orang di sekitar hanya diam, seolah menganggap itu adalah hal yang biasa.


Sungguh tidak masuk akal bagi Darius, dia semakin ragu jika era tempat singgah nya saat ini adalah era yang aman.


"Apa yang terjadi selama 400 tahun tanpa kehadiran ku? mengapa etika di era ini semakin turun?" tanya heran Darius, dalam batin.


Darius pun larut dalam bingung untuk waktu yang lama.


Healer (semuanya laki-laki) pun datang mengobati lukanya, dengan santainya mereka merapal mantra penyembuhan dan mulai menutup luka Nanta satu persatu tanpa mempedulikan keelokan tubuh pasien mereka.


Disinilah Darius semakin heran terhadap orang-orang di era ini, dalam batinnya yang terdalam ia berteriak keras...


"DIDEPAN MATA KALIAN ADA PEMANDANGAN KOTOR...! SEHARUSNYA KALIAN MENUTUP MATA...! ASTAGA PARA HEALER BODOH KALIAN SEBAGAI LAKI-LAKI TIDAK BOLEH MELIHATNYA...!"


Ini membuat Darius geram, karena pada zamannya dulu hal ini tidak diperbolehkan.


Para wanita dan pria sangat menjaga pandangan, perilaku dan penampilan agar martabat mereka terjaga, sedangkan untuk lekuk tubuh wanita hanya boleh diperlihatkan kepada suami dari wanita itu sendiri.


Begitulah aturan ketika kerajaan Ezius masih berdiri, berbeda jauh dengan era modern saat ini.


Karena tidak kuat, ia pun membalikkan badan dan memandang ke arah lain, tingkah lakunya yang geram tak karuan membuat Nanta geleng kepala sambil menertawakan ekspresi wajah Darius yang menurutnya lucu.


Perlahan Darius menghela nafas untuk menenangkan diri...


"Sebenarnya apa yang terjadi di Tideo selama 400 tahun tanpaku? ini membuatku pusing," gumam Darius.


Disaat yang sama, seorang wanita terlihat berlari dari arah belakang dengan terburu-buru.


Tak lain wanita itu adalah Cassanova adik dari Nanta, tujuan Nova menghampirinya adalah untuk memeriksa keadaan kakaknya yang baru kembali dari medan pertempuran.


"Kak Nanta...," teriaknya.


Ia langsung menghampiri kakak tercintanya yang sedang dirawat oleh Healer.


Namun untuk kedua kalinya Darius harus menutup mata, lantaran Nova memakai pakaian yang memperlihatkan bagian perutnya.


"Cobaan apalagi ini?" batin Darius.


Dia sudah tidak mengerti lagi dengan tingkah orang-orang di sekitarnya.


Sejujurnya cara berpakaian Nova tidak ada yang salah, dia memakai celana panjang dan pakaian yang nampak modis bagi masyarakat modern.


Hanya saja bagi Darius pakaian itu tidaklah wajar, dikarenakan pemuda ini masih terikat hukum masa lampau.


Perlahan Darius mundur dari tempatnya berdiri, ia berusaha mencari tempat lain dimana tidak ada polusi mata yang bertebaran.


Namun Nova langsung menggenggam erat tangannya secara mendadak...


"Astaga, apa mau mu?" tanya Darius.


"Aku hanya ingin berterima kasih, aku sudah dengar dari ksatria yang lain bahwa kau sudah membantu kakakku mengahadapi monster itu, kau sungguh murah hati," jawab Nova.


"Sama-sama, tapi bisakah kau melepaskan ku sekarang? aku ingin membersihkan mataku," tukas Darius.


"Apa matamu terluka? sini kuperiksa," ucap Nova.


"Eeeehhh..., tidak... tidak..., hanya terkena debu saja, lebih baik kau menghampiri kakakmu karena dia lebih membutuhkan mu," balas Darius gugup.


"Oh... begitu ya," terlintas keheranan di benak Nova, tingkah Darius yang berbeda nampak sangat jelas.


Ia juga mengetahui kalau Darius berusaha menghindari kontak pandang darinya.


"Ada sesuatu yang harus ku kerjakan, aku pergi dulu."


"Eh.., tunggu dul—"


Tanpa ucapan perpisahan sama sekali. Darius pergi meninggalkan tempat pengungsian.


Membiarkan Nova terdiam heran tanpa tahu alasan dibalik sikap anehnya, segera ia berlari menuju Grand Mansion dengan wajah merona merah.


Ada banyak hal yang harus ia tanyakan kepada Raven rekannya, terutama atas apa yang ia lihat tadi.


...BERSAMBUNG......