
Ratu dan Darius kembali kedalam acara, mereka telah memutuskan untuk merahasiakan kejadian yang mereka alami barusan dari siapapun, tentunya Darius takkan merahasiakan hal itu dari Raven.
Acara pengakuan atau pengesahan Darius sebagai anggota Hunt pun dimulai diatas sebuah altar, disana Ratu dan Darius bertatap muka lalu Ratu memberikan pengesahan berupa medal berbentuk bintang.
Selain itu ada pula seragam kebangsawanan dan surat pengesahan keanggotaan, dalam acara ini ada sesuatu yang berbeda dari biasanya, yakni.....
"Mengapa dia tidak bertekuk lutut kepada Ratu? sungguh tidak hormat," ucap kesal Rossa yang menyaksikan itu.
Seorang anggota baru harus bertekuk lutut kepada Ratu setelah penerimaan medal, tetapi Darius tidak melakukannya.
Yang membuat para Hunt semakin heran adalah Sang Ratu yang tidak mempermasalahkan hal itu, padahal sosok Ratu yang mereka kenal sangat tegas terhadap segala hal termasuk tata krama.
"Aku tau kalau seharusnya aku bertekuk lutut, tapi itu takkan kulakukan padamu," bisik Darius kepada Ratu.
"Cih..., tanpa kau beritahu aku pun sudah tahu itu, lakukan sesuka mu saja," balas lirih Ratu.
Perilaku Darius ini sejujurnya adalah contoh ketidaksopanan terhadap sosok pemimpin besar khususnya seorang Ratu, perilaku ini tidaklah sopan, namun akan lebih tidak sopan lagi jika seorang leluhur bertekuk lutut di kaki cicit nya.
"Aku harus bersabar, demi menyelidiki nya," batin Ratu.
Kemudian Ratu menghadap kepada para pengikutnya, lalu ia berkata....
"Para saudara-saudari ku yang setia, mulai detik ini Darius akan menjadi salah satu dari anggota kebangsawanan kita, aku berharap kalian bisa memperlakukan dia layaknya keluarga dan aku tidak ingin melihat adanya tindak ataupun perlakuan yang tidak pantas terhadapnya, paham?"
"Baik Ratu," jawab kompak mereka semua disertai ramai riuh suara tepuk tangan.
"Apa kau ingin menyampaikan sesuatu kepada para saudara-saudari mu?" tanya Ratu kepada Darius.
"Tidak ada, aku tidak punya apapun untuk disampaikan dan aku sudah cukup senang dengan apa yang kau berikan kepadaku," jawab Darius.
"Baguslah kalau begitu, kau pun sekarang juga harus mempelajari aturan disini," tukas Ratu.
"Bisakah aku meminta satu permintaan kepada mu?" tanya Darius.
"Apa itu?"
Disinilah Ratu mulai memprediksi satu kemungkinan permintaan yang akan Darius minta, permintaan satu-satunya yang akan diminta olehnya.
Darius mendekatkan bibirnya ke telinga Ratu lalu mengucapkan sebuah kalimat dengan nada lirih...
"Aku ingin tetap memegang pedang meskipun sudah berada disini."
Begitulah ucapnya.
Permintaannya itu sesuai dengan prediksi Ratu...
"Sudah kuduga, kau akan meminta hal itu," ucap Ratu.
"Jadi bagaimana?" tanya Darius meminta kepastian.
"Seperti yang ku ucapkan sebelumnya, lakukan sesuka mu saja, apakah ada permintaan lain yang ingin kau sampaikan?"
"Tidak, hanya itu saja."
Dengan begini Darius bisa merasa tenang.
"Baiklah, acara pengesahan mu sudah selesai, jadi silahkan kau nikmati jamuan yang sudah disediakan setelah itu aku akan menunjukkan beberapa hal kepadamu," ucap jelas Ratu.
"Terima kasih banyak,'' tukas Darius.
Acara pengesahan berlangsung mencengangkan hingga akhir, jamuan makan pun dimulai setelah selesainya acara itu.
Para tamu di suguhkan berbagai macam makanan, minuman dan segala manisan yang begitu mewah.
"Silahkan dinikmati," ucap salah satu pelayan kepada para tamu.
Disisi lain ada Seirus yang langsung mengambil arak kalajengking dari meja makan sebelum yang lain.
"Hei, apa tidak apa-apa langsung mengambil minuman berat begitu?" tanya heran Deri yang mendampingi Seirus.
"Aku sudah lama mencari minuman langka ini, jadi takkan ku sia-siakan kesempatan untuk meminumnya ahahahahaha...," jawabnya seraya tertawa senang.
"Kau ini, haemm... (*nyam *nyam)."
Deri meratapi tingkah sahabatnya sambil menyantap daging buaya bakar di dekatnya.
Sementara itu Raven sedang bercakap-cakap dengan tuannya, mereka membahas perilaku Ratu yang terkesan sangat lunak baru-baru ini.
"Tidak saya sangka, anda dapat masuk kedalam kebangsawanan ini dengan begitu mudahnya, lebih tepatnya Ratu yang mempermudah itu semua," ujar Raven.
"Sebelumnya kami sudah berbincang, dia tidak menjelaskan alasannya secara detail tapi dia bilang kehadiran ku disini akan memberinya sebuah jawaban," ucap Darius.
Ungkapan itu langsung membuat kening Raven mengerut.
"Jawaban?"
"Seperti yang kita duga, dia punya tujuan tersendiri tapi dia tidak sekalipun memiliki niat untuk mencelakai ku, juga aku tidak merasakan niat jahat sama sekali dari auranya, jadi kurasa semuanya aman untuk saat ini," ujar Darius.
"Tapi apa yang dia maksud dengan jawaban? apakah dia hendak menguak sesuatu dengan memanfaatkan anda?"
Raven mengutarakan prasangka terburuknya.
"Kemungkinan besar begitu, ketika aku berbincang dengannya sekilas terlihat rasa resah dari raut wajah serta logat saat dia berbicara, dia seperti orang yang sedang terburu-buru atau mungkin lebih tepatnya tidak sabaran, seakan dia ingin segera mendapatkan apa yang ia inginkan," jelas Darius.
Darius membaca gerak-gerik Ratu ketika ia di hujani banyak sekali pertanyaan ketika berbincang di ruang pribadi Ratu, terlihat dari cara Ratu bertanya secara beruntun yang mencerminkan seseorang yang tidak sabaran.
Ratu pun berusaha keras menekan Darius untuk segera menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ia lontarkan.
"Seluruh identitas ku," jawab Darius.
"Apakah anda memberikan jawaban yang jujur?" tanya nya lagi.
Darius menggaruk kepala sebelum menjawab.
"Iya."
Raven pun tersentak, dia nyaris menjatuhkan minuman yang ia genggam.
"Apa yang sebenarnya anda lakukan? dia bisa saja menyebarkan ini kepada media massa, apalagi kebenaran tentang anda takkan bisa dipercaya oleh masyarakat era ini, sehingga mereka akan menganggap anda sebagai orang gila, bagaimana jika itu terjadi?"
Raven menepuk dahi dibuatnya.
"Dia sudah berjanji akan merahasiakan itu," tukas Darius yang langsung terdiam.
"Kau pasti tahu bahwa seorang Ratu pantang ingkar terhadap janjinya," ujar Darius.
"Memang benar, tapi saya belum bisa sepenuhnya mempercayai dia," balas Raven.
"Aku sendiri pun juga sama, hanya saja dengan kondisi sekarang kita bisa memulai langkah untuk menyelidiki kebangsawanan ini, kita harus segera mencari tahu apa penyebab berubahnya sejarah serta tata aturan dalam Hunt," jelas Darius.
"Anda benar, sangat sulit mencari petunjuk valid mengenai Hunt tanpa memasukinya terlebih dahulu, kita harus menyelidikinya dari dalam agar dapat menemukan petunjuk yang tepat," ujar Raven.
"Aku akan berusaha mencari informasi yang kita butuhkan semampu yang kubisa, padahal ini bukan keahlian ku, kuharap aku tidak melakukan kesalahan."
Dapat masuk kedalam Hunt adalah keberuntungan tersendiri bagi ksatria era Ezius ini, tetapi mencari informasi layaknya informan bukanlah keahliannya.
Sebenarnya Raven lah orang yang tepat untuk tugas yang satu ini, sayangnya hanya Darius saja yang diizinkan untuk masuk keanggotaan bangsawan ini.
"Saya yakin anda bisa tuan, percayalah kepada diri anda."
Raven memberi dukungan.
"Terima kasih, aku akan berusaha keras."
...********...
POV Lavionate'Rossa Hunt.
Setelah cukup lama menahan malu karena harus menyambut tamu, akhirnya ada kesempatan bagi Rossa untuk meminum minuman favoritnya.
"Akhirnya aku bisa meneguk segelas anggur, aku lelah sekali," keluh nya.
Dia duduk di salah satu meja yang tidak jauh dari tempat Darius dan para tamu berada, disamping minum ia juga melahap beberapa manisan untuk menghilangkan keluh dipikirannya.
Tak berselang lama, seorang gadis berambut hijau pendek menghampiri nya seraya membawa beberapa permen bantal beraroma wangi
"Hai Rose, lihat apa yang kubawa kan untuk mu," sapanya dengan begitu senang.
Rossa pun menoleh ke arahnya dengan kondisi mulus penuh.
*Glek... (Rossa menelan manisan dimulut nya).
"Cientry, kau rupanya," balas sapa Rossa.
"Kau terlihat lelah, jadi kubawa kan beberapa permen bantal untuk mu," ucap Cientry seraya memberikan permen bantal di tangannya.
"Aku senang kau membawakan ini untukku, aroma nya sangat wangy, terima kasih banyak."
Pemberian Cientry berhasil membuat Rossa sahabatnya tersenyum lebar, ia sangat tahu kalau Rossa begitu menggemari manisan terutama permen.
Cientry Luna Hunt adalah seorang ahli sihir kristal yang di bimbing langsung oleh Ratu, dia juga salah seorang junior Arnoldi yang cukup bandel.
Tidak seperti Rossa yang mengekspresikan rasa kesal secara terang-terangan. Cientry menutupi segala perasaan kesal dan amarah dengan senyuman palsunya, membuat dia menjadi orang yang sulit di tebak nuansa hatinya.
Dia juga termasuk orang yang membenci Darius dikarenakan saat uji tanding dulu adiknya Evo telah dikalahkan dan menjalani hukuman akibat kegagalan misi, sekarang ia merasa semakin kesal karena satu tempat dengan orang yang dia benci.
"Ku perhatikan sedari tadi kau terlihat sedang kesal, apa karena dia?"
Cientry melirik ke arah Darius yang sedang beramah-tamah dengan para tamu.
"Benar, sekarang aku sedang mengusir rasa kesal dengan makan dan minum," jawab Rossa.
"Ingin mencoba mengerjai dia?" tanya Cientry dengan senyum menyeringai.
Pandangan Rossa seketika melotot ke arah sahabatnya itu, ia tidak mengira Cientry akan berkata seperti itu.
"Kau serius dengan ucapan mu? kalau ketahuan Ratu bagaimana?"
Cientry tersenyum licik mendengar nya.
"Aku tentu punya rencana, selama kita tidak ketahuan maka tidak apa-apa, kau sendiri juga kesal padanya, bukan?"
ucap licik Cientry.
Rossa yang sedang kesal pun terpancing oleh perkataannya dan pada akhirnya mau mendengarkan rencananya, mereka berdua berbisik satu sama lain.
"Jadi apa yang akan kita lakukan?" tanya Rossa.
"Ihihi~, kita akan membuat dia merasa tertekan selama berada disini," jawab Cientry.
Bersambung.....